Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

PENGANTIN PENGGANTI BAB 190 : AKU SUDAH MENJADI IBU

Gambar
PENGANTIN PENGGANTI BAB 190 : AKU SUDAH MENJADI IBU “Hu hu hu … ini sakit,” teriak Khansa lagi. “Oh Ya Tuhan, sayang … aw … aw …” teriak Leon sambil menahan sakit tapi tidak menepis tangan Khansa. “Pelan sedikit, sayang!” pinta Leon agar Khansa tidak terlalu keras menarik rambutnya. Meski mobil mereka ber-AC dengan suhu dingin, namun Khansa tetap merasa panas, dia menarik kerah piyama yang Leon pakai, “Tuan Sebastian, huuu huu huu … jika bayi ini lahir, yang boleh memarahi dia hanya aku … hanya aku … Arrgh, ini sakit sekali.” Leon langsung memeluk istrinya itu, berkata dalam hati ‘jika rasa sakit melahirkan ini bisa di pindah, maka dia bersedia untuk menerimanya. Leon menitikan air mata, ikut menangis juga karena melihat kesayangannya ini sedang merasakan sakit yang luar biasa. Leon melepaskan pelukannya, lalu berkata dengan lembut, “Ambil napas dalam-dalam, lalu lepaskan,” ujarnya sembari memberikan contoh. Khansa mengikuti saran suaminya itu, barulah mulai sedikit tenang, “Nah, begit...

PENGANTIN PENGGANTI BAB 189 : INI SEMUA SALAHMU

Gambar
PENGANTIN PENGGANTI BAB 189 : INI SEMUA SALAHMU “Papa,” panggil Khansa dengan lembut. Leon merangkulkan lengannya ke bahu Khansa, “Pa … sebentar lagi Papa akan menjadi seorang Kakek, Dan Mama akan segera menjadi Nenek.” Mendengar Leon memanggil dirinya Mama, Professor Lexa semakin menangis. Hari ini dua kebahagian menghampiri dirinya. Suaminya tersadar, dan Leon sudah bersedia memanggilnya Mama. Tuan Besar Sebastian mengangkat satu tangannya kearah Professor Lexa, dengan sigap dia pun segera bersimpuh di sisi ranjang suaminya itu. Dengan lembut dan masih dengan gemetaran, Tuan besar Sebastian mengusap air mata di pipi istrinya itu. Professor Lexa memegang tangan yang sedang memegang pipinya itu, lalu menciuminya dengan lembut dan penuh rindu. Leon segera memberitahu Nenek Sebastian jika putranya itu telah tersadar. Reaksi Nenek Sebastian pun sama seperti yang lain, menangis haru Bahagia. “Aku akan segera kesana,” ujar Nenek. Professor Lexa dan Carl sepakat, jika setelah sadar ini maka ...

PENGANTIN PENGGANTI BAB 188 : KANEBO KERING

Gambar
PENGANTIN PENGGANTI BAB 188 : KANEBO KERING Carl benar-benar serius untuk menyembuhkan papanya, dia berpikir jika kisah cintanya bergantung banyak kepada kesembuhan Papanya ini. Professor Lexa juga sama seriusnya di dalam menjaga suaminya itu sekaligus menjaga kandungan Khansa. Dalam seminggu  sekali Leon mengatur Khansa menginap di Villa Anggrek dan juga kediaman Quin. Professor Lexa menasehati Leon agar tidak egois, karena itulah Leon membuat pengaturan ini. Hari ini Leon mengantarkan Khansa ke  kediaman Kawindra. Dia datang karena masih memberikan terapi akupuntur kepada Nyonya kawindra. Hari masih pagi, Namun, Khansa sudah meminta ke rumah Emily. Begitu sampai Khansa langsung saja memeluk Emily dan menangis, “Sayangku, mengapa kau menangis,” ujar Emily sambil memandangi Leon. Merasa tidak berbuat salah, Leon mengangkat tangannya seperti gaya orang menyerah. Rendra juga menatapi Leon dengan tetapan curiga, lalu leon berkata, “Bukan aku … aku tidak tahu apa-apa,” jawabnya me...

PENGANTIN PENGGANTI BAB 187 : HADIAH LAGI

Gambar
PENGANTIN PENGGANTI BAB 187 : HADIAH LAGI Khansa membuka lemari, mengambil sebuah kotak kecil lalu memasukan kaos kaki mungil abstrak itu, dan menyimpannya baik-baik sampai bayi mereka lahir nanti. Leon menarik Khansa duduk di sisi ranjang mereka, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu?’ “Ada apa?” tanya Khansa. “Aku memiliki hadiah lain untukmu,” ujar Leon. “Hadiah lagi?” ujar Khansa. Leon mengambil berkas yang ada diatas nakas mereka, lalu memeberikannya ke tangan Khansa, “Ini adalah akta kepemilikan Farmasi Isvara.” “Farmasi Isvara,” ujar khansa sembari membaca berkas itu. “Lalu … Bagaimana dengan Fauzan?” tanya Khansa. “Tentu saja dia sekarang hanya seorang karyawan biasa, dan kau adalah bosnya,” jawab ringan Leon. Khansa tidak menginginkan ini. Tapi mengingat ini adalah seharusnya warisan dari ibunya  maka akhirnya dia pun menerimanya. “Dan satu lagi, nanti malam kita ada janji makan malam dengan Nenek Quin,” jelas Leon. “Apa Nenek Quin akan menyukai aku?” tanya Khansa s...

PENGANTIN PENGGANTI BAB 186 : SEPATU RAJUT

Gambar
PENGANTIN PENGGANTI BAB 186 : SEPATU RAJUT Bab 179 Carl dan leon terbatuk-batuk, saling memandang dalam limbung, seraya berpikir apakah Mama mereka ini sedang bersekutu dengan bayi yang ada di dalam perut Khansa. Leon Meletakan gelas tehnya lalu berkata, “Bisa tidak itu di letakan di kamar saja.” “Mengapa begitu?” tanya Khansa. “Ah itu … itu …” Leon langsung menciut ketika landak kecilnya mengeluarkan suara protesnya juga. “Ini terlihat indah, unik, estetik,” Khansa memberikan penilainnya kepada foto itu. ‘Unik darimananya … jika Gery melihat ini pasti dia akan mentertawaiku dalam hati’ pikir Leon. Leon tidak banyak protes lagi, karena landak kecilnya menyukai foto yang di bingkai dan terpampang di dinding itu. Carl yang melihat Kakaknya diam saja juga akhirnya terdiam tanpa kata. Kakaknya saja yang memiliki kekuasan di seluruh keluarga Sebastian sudah terdiam, lalu apa daya dia jika ikut bicara, sungguh itu hanyalah akan bagai butiran debu saja. “Jangan lupa nanti, Emily mengundang ki...

PENGANTIN PENGGANTI BAB 185 : BENANG WOL

Gambar
PENGANTIN PENGGANTI BAB 185 : BENANG WOL Leon dan Carl tersenyum mendengar pujian manis Khansa, meski terasa pedas di lidah mereka. Leon memasukan sesuap demi sesuap pempek itu sampai tetes kuah terakhir. Ketika selesai, keduanya langsung menyesap susu yang telah disediakan, susu bisa menghilangkan pedas, jadi tentu saja mereka menyesapnya dengan tanpa jeda. ‘Oh ya Tuhan anakku, ketika Papa bilang kau hanya boleh merepotkan Papa, tapi bukan dengan cara seperti ini’ pikir Leon. ‘Lain kali harus menjaga perkataan’ pikir Leon lagi sambil menahan pedas. Keringat becucuran di wajah dan tubuh tegap Leon dan Carl. Khansa mendekat lalu mencium pipi Leon dan berkata, “Terima kasih karena kau begitu mencintai kami.” Leon hanya bisa menjawab dengan senyuman, karena tak sanggup menjawab. Lidahnya benar-benar terasa terbakar. Sementara Carl yang terbiasa memakan menu masakan Eropa. lansung saja duduk di lantai sambil bersandar dan berpikir, mengapa calon keponakannya itu senang sekali menjahilinya....