PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 10 : BAR 1998)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 10 : BAR 1998)
Awalnya Khansa sudah
tidak banyak berharap pada ayahnya satu ini. Tapi tindakan hari ini tetap
membuatnya merasa sedih. Bahkan ketika dia pikir pernikahan ini bisa
menyelamatkannya dari kelicikan keluarganya sendiri. Namun, tetap saja ternyata
pemikiran Khansa salah besar.
Dirinya dipaksa lagi
untuk menjadi tokoh yang dikorbankan, dan Ayah kandungnya malahan menjadi algojonya
sementara membiarkan Maharani memperalatnya, menjadikan ayahnya itu
sebagai boneka yang bisa di suruh-suruh.
Khansa hanya bisa
menghela nafas panjang, siapa suruh Ayahnya begitu lemah, bodoh dan mudah
diperdayai. Khansa selalu meyakini jika kepintaran dan keberanian dirinya
adalah darah dan gen bawaan dari ibu kandungnya.
Seperti biasa, Fauzan
terobsesi dengan ilmu pengobatan, munafik dan sangat mementingkan reputasinya,
yang ada di otaknya hanya memajukan bisnis Grup Isvara dan menghasilkan
keuntungan yang besar juga berlipat-lipat.
Jadi
menyenangkan Pak Arman adalah sesuatu yang wajib dia lakukan.
kemarin Pak Arman menjanjikan investasi yang jumalahnya tidak sedikit
kepada Grup Isvara, asalkan bisa menghabiskan satu malam dengan Khansa Isvara.
Merasa tak mau
kehilangan peluang untuk menjadi lebih tenar dan sukses, lagi-lagi Fauzan
memilih mengorbankan Khansa. Selama ini Fauzan menganggap keberadaan Khansa
hanyalah seperti sebuah udara. Ada dan tiada. Ada jika mau dimanfaaatkan,
tidak ada jika sudah tidak berguna lagi bagi keluarga Isvara.
Bagi Fauzan, putri
yang dibanggakan adalah Yenny, sedangkan dia yang dijemput dari desa tidak lain
hanya digunakan untuk membantu keluarga Isvara untuk mengatasi perjanjian
pernikahan.
Bahkan demi membujuk
Khansa agar patuh lagi pada pengaturan keluarga Isvara, maka Kemudian Fauzan
menghibur Khansa lewat telepon, dia mengatakan akan membantu Khansa mencari
suami baru yang baik setelah suami penyakitannya ini meninggal.
“Nanti Ayah akan,
mengumpulkan pria-pria yang sehat untuk mendampingimu. Kau tinggal pilih saja.
Jika suami penyakitanmu itu meninggal, maka tidak ada larangan bagimu untik
menikah lagi,” ujar Fauzan.
Khansa mengiyakan
perkataan Fauzan dan mengakhiri panggilan. Dalam hati Khansa mengutuki ayah
kandungnya itu karena baru saja mendoakan menantu pertamanya mati, bahkan
berharap anaknya ini segera menjadi janda.
Khansa menatapi Leon,
lalu berbaring di dalam pelukan Leon. Dia merasa sangat sedih. Dia adalah anak
buangan yang tidak disayang orang tua. Detak jantung Leon membuatnya merasa
lumayan tenang, Khansa pun tidur nyenyak sepanjang malam.
……
Keesokan paginya, Leon terbangun dan tidak mendapati Khansa ada di sebelahnya.
Leon mencari Khansa ke seluruh penjuru rumah karena tidak melihat Khansa saat
bangun.
Kepala pelayan
terkejut bahwa Tuan Mudanya ini bisa tidur semalaman dengan nyeyak, lagi-lagi
kepala pelayan dibuat terpukau oleh kemampuan Nyonya Muda.
“Dimana Nyonya?” tanya
Leon kepada kepala pelayan.
“Nyonya pagi-pagi
sekali sudah keluar rumah, mengatakan ada keperluan di rumahnya,” jelas kepala
pelayan tersebut.
“Oh ya sudah,” jawab
Leon yang sedikit kecewa, karena Khansa tidak memberitahukan tentang
kepergianya hari ini.
Leon pun bergegas
masuk ke kamarnya, pergi mandi ke toilet besar dikamarnya itu. Saat mandi
Leon melihat bekas gigitan di tubuhnya, dia merasa agak senang dengan bekas
gigitan yang ditinggalkan Khansa di tubuhnya, ini terasa seperti Khansa sedang
menandainya bahwa dirinya adalah properti milik Khansa.
Hingga jam menunjukkan
jam delapan malam, Leon melihat ponselnya dan Khansa tidak juga menghubunginya
sepanjang hari.
Leon tidak senang,
Simon Kawindra menelpon Leon untuk mengajaknya keluar, Simon menertawai Leon
apakah sudah nyaman jadi bapak rumah tangga setelah menikah, sehingga hanya
ingin di rumah sepanjang hari tanpa bersenang-senang di luar.
“Kak! Apa sekerang
kakak sudah ikut komunitas baru?” tanya Simon.
“Komunitas apa?” Jawab
dan tanya balik Leon.
“Itu lho … ISSTI …”
jawab Simmon.
"ISSTI …? jawab
Leon bingung.
“Iya, ISSTI …. i-itu
lho … Ikatan Suami Suami Takut Istri,” jelas Simon dengan suara tawa yang
meledak dan renyah.
Leon, “…”
Leon kesal dan hendak
menutup telepon. Namun, Simon tidak berhenti sampai di situ, dia segera
membujuknya lagi, “Eh jangan dong, Kak, ayo keluar! Aku sama Kak Hansen tunggu
kamu di Bar 1998 ya.”
“jangan tidak datang,
jangan kecewakan kami lho,” bujuk Simon lagi.
Leon, “…”
Berpikir memang sudah
agak lama dia tidak bermain di luar, maka Leon memutuskan untuk pergi ke Bar
1998.
….
Di dalam Bar 1998.
Bar 1998 selalu
menjadi tempat berfoya-foya para pria kaya , yang paling tidak kekurangan di
dalamnya adalah wanita cantik, pria yang datang bersenang-senang sepanjang
malam di sini akan menghabiskan banyak uang, dan bar ini adalah salah satu aset
milik keluarga Kawindra.
Empat keluarga besar
di kota Palembang, Sebastian, Mahendra, Kawindra, Ugraha, hari ini ada tiga
orang yang berkumpul, mereka bertiga tumbuh besar bersama sejak kecil.
Suasana hati Leon
sedang kurang baik hari ini sampai-sampai dia bahkan tidak mempedulikan wanita
cantik nomor satu yang baru datang, dia menyuruh wanita itu pergi begitu
mencium aroma parfum di tubuhnya.
Leon mulai terbiasa
dengan wangi haruk Khansa, sehingga ketika ada wangi lain yang mencoba
mendekat, maka syaraf-syaraf Leon akan secara otomatis akan menolak.
Melihat ini maka tiga
sekawanan tersebut pin meledeki Leon, kembali mengejeknya.
Simon segera mengusir wanita itu, “Kak Leon, kamu kan udah lama ngak main,
beneran tak berminat sama wanita?"
Nenek saja sudah tidak
memperbolehkanku mencarimu, dia takut kita macam-macam," tambah Simon
lagi.
Di saat ini, Hansen
Mahendra yang duduk di samping berbicara, “Leon, dengar-dengar keluarga Isvara
nikahin satu putri mereka sebagai pengganti untukmu ya, namanya Khansa.”
Leon menengadahkan
kepala menatap Hansen saat mendengar nama itu.
“Lalu, masalahmu apa?”
tanya malas Leon.
Hansen pun menyerigai
sedikit dengan sedikit meledek Leon. Hansen sangat tampan, dia memakai
sebuah kacamata berbingkai emas, dia menyerumput seteguk anggur merah di
tangannya dan melihat ke arah depan.
“Coba lihat, siapa
itu?” ujat Hansen seraya menunjuk ke salah satu arah.
Leon menengadahkan
kepalanya dan segera menangkap sebuah sosok ramping, pemilik sosok itu adalah
Khansa. Di samping Khansa ada seorang pria, orang itu tak lain adalah Pak Arman
yang punya perut buncit.
Leon membenarkan
duduknya yang tadi dalam pose malas, Leon berpikir apa karena pria gendut,
jelek itu, maka istri kecilnya ini malah mengabaikannya seharian. Dan apakah
karena pria itu, telah membuat Khansa tidak sabar untuk segera pergi pagi-pagi
sekali dari rumah hanya supaya bisa berkencan dengan pria jelek itu.
Leon, “…”
“Buset,” Simon menepuk
meja dan berdiri.
“Kak, kok si Khansa
malah nemanin pria tua minum-minum di sini? Beraninya dia selingkuh di
belakangmu!”
Simon mengambil
sebotol anggur dan hendak menerjang ke sana, Tuan Muda keluarga Kawindra adalah
penguasa muda di kota Palembang. “Kak, biar aku hajar mereka untukmu!”

Komentar
Posting Komentar