PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 11 : TARI TIANG )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 11 : TARI TIANG )
“Duduk!” perintah Leon kepada Simon.
“Tapi Kak!” gumam
Simon.
“Tidak usan ikut
campur, kita lihat saja!” ujar Leon.
Leon menahan Simon dan
meminta cukup melihat kejadian selanjutnya saja. Dia juga meminta Simon
menonton kejadian ini dengan tenang. Simon masih bingung, tapi akhirnya dia
duduk dan melihat ke seberang.
Kali ini Maharani
sendiri yang membawa Khansa ke Bar 1998, untuk memperbaiki hubungan dengan pak
Arman. Sebelumnya Khansa sudah mengacaukannya dan kali ini dia mau mengawasinya
agar permintaan maaf ini tidak dikacaukan lagi.
Keduanya meminta maaf
pada pak Arman, pak Arman merasa marah saat teringat kejadian dijadikan umpan
untuk anjing serigala itu.
“Apa kalian pikir
mudah untuk meminta maaf, kalian pikir siapa kalian?” ujar Pak Arman dengan
ketus.
Melihat Khansa yang
hanya diam saja malah semakin membuat pak Arman kesal hati, Maharani melihat
ini lalu menyenggol bahu Khansa, dan memberikan tatapan kepada Khansa agar
merayu Pak Arman.
Melihat Khansa yang
masih diam saja, maka Pak Arman pun memikirkan sebuah ide. Dia meminta Khansa
untuk meminum wine, tapi Khansa menolak.
Maharani jadi penengah
dan meminta pak Arman memikirkan ide baru yang lebih menarik agar Pak Arman
yang di depannya mau memaafkan keluarga Isvara.
“I-ini Pak Arman …
Khansa ini kan besar di desa dan baru saja datang ke Kota. Benaran lho dia ini
tidak terbiasa dengan meminum wine,” jelasnya seraya membujuk Pak Arman agar
tidak marah.
“Bagaimana jika dengan
cara lain saja?” usul Maharani.
Dari semula Pak Arman
melihat Khansa, memang sudah benaran sangat tertarik, pikiran mesumnya sudah
menari-nari di kepalanya.
Melihat mata Khanza
bagaikan kilau manik yang bercahaya, bulu mata yang lentik, kulit lembutnya
yang seputih salju, rambut hitamnya yang lembat dan alis seperti pohon Willow.
Pak Arman membayangkan
bibir Khansa yang ada di balik cadar kain yang tipis itu, memikirkan itu
pasti terlihat indah dan pasti akan sangat nikmat untuk dikecupi.
Pak Arman pun memiliki
sebuah ide, Pak Arman melihat kearah panggung, di sana ada tiang pole. Pak
Arman pun meminta Khansa menari di tiang pole.
Pada masa kini, tari
tiang sudah menjadi sebuah seni tari sekaligus sebuah olah raga yang bagus
untuk mengencangkan otot-otot dan sudah banyak diminati oleh khalayak umum,
terutama wanita muda baik yang sudah menikah mau pun yang belum menikah.
“Bagaimana?” Pak Arman
bertanya sekali lagi pada Khansa.
“Jika hanya menari,
maka aku akan melakukannya,” ujar Khansa yang akhirnya mengeluarkan suaranya.
Mendengar Khansa telah
bersedia menari tarian tiang, dalam hati Maharani senangnya bukan main.
Beranggapan ini adalah saat yang memang dia tunggu-tunggu untuk mempermalukan
Khansa, membalas perbuatannya kemari yang menpermalukan dirinya.
Senyuman licik
Maharani menggeliat, menghiasi wajahnya di saat Khansa mulai berjalan naik
keatas panggung.
Khansa melap tangannya
dengan salah satu serbet yang dia ambil tadi dari atas meja. Khansa mulai
memegang tiang pole dan bersiap menari.
Tangan Kanan
Khansa terjulur ke atas memegang tiang, kaki Khansa menjijit untuk
memudahkan saat berputar. Khansa menarik pinggul sedikit menjauhi tiang.
Dan siap melakukan putaran pada tiang.
Sejak kecil Khansa
terbiasa menjaga keseimbangan tubuhnya, tinggal di desa kerap kali membuat
Khansa memanjat pohon hanya karena ingin mengambil buah kesukaannya untuk
camilan.
Jadi ketika Khansa memutari
tiang pole ini dengan badannya, Khansa tidak mengalami kesulitan sama
sekali, bergelayutan pada tiang melawan gravitasi bumi.
Gerakan Khansa
terlihat semakin indah ketika Khansa, memposisikan satu tangannya menjulur di
atas kepala dengan memegang tiang.
Kemudian, tangan
satunya memegang tiang sejajar dengan dada. Khansa sedikit membuka kakinya,
Lalu melakukan putaran menurun.
Khansa melakukan
putaran. naik kembali dengan tangan dan kedua kakinya yang terlihat seperti
sedang memanjat tiang pole tersebut.
Gerakan Itu terlihat
indah, Kedua kakinya bisa berlama-lama menari gemulai tanpa menyentuh lantai.
Sesekali ia menyelipkan gerakan tari balet sambil terus berputar di tiang.
Khansa berputar lagi
dengan gerakan kaki yang seakaan seperti sedang melakukan gerakan bejalan di
udara.
Sebagai gerakan
penutup, Khansa menyatukan kedua tangannya dan juga kakinya, lalu perlahan
berputar turun dan mendarat dengan sempurna indah di lantai panggung.
Khansa memakai gaun
putih. Tariannya indah sekali sampai pandangan seluruh orang di ruangan itu
tertuju padanya.
Leon dan beberapa
temannya yang melihat dari ruangan juga merasa terpukau, mereka lalu mengejek
Leon tentang pernikahan pengantin pengganti ini, dan terakhir bertanya pada
Leon apakah mau pergi menghajar pak Arman atau tidak.
Pak Arman kembali jadi
mesum setelah melihat tarian itu dan mau menarik Khansa ke dalam ruangan, air
liur pak Arman terasa seprti akan menetes-netes melihat tarian indah Khansa
tadi.
Setelah ini mungkin
saja tidak akan ada lagi wanita yang berani menari tiang di Bar 1998, karena
dewi tari tiang baru saja turun ke kota.
Pak Arman dengan
senyuman mesumnya mencoba membujuk Khansa agar kali ini bernaran rela ikut
dengan pengaturannya.
“Aku akan memberikanmu
saham jika kau mau turut apa kata aku,” janji Pak Arman.
Maharani mencubit
lengan Khansa, memberi tanda agar Khansa mau menuruti kemauan Pak Arman. Tujuan
Maharani adalah agar Pak Arman berinvestasi pada bisnis keluarga Isvara. Namun,
ketika mendengar Pak Arman akan memberikan sedikit saham pada Khansa maka
Maharani pun semakin rakus serakah.
Khansa pun setuju dan
ikut ke dalam ruangan bersama pak Arman. Leon berdiri dan melangkah pergi,
Simon dan yang lainnya juga mengikutinya.
Di depan pintu ruangan
yang mewah, Maharani memperingati Khansa agar tidak macam-macam lagi kali ini.
Maharani juga berjaga
di depan pintu kamar suite VVIP tersebut, “Hah! Kita lihat, aku berjaga disini
kau bisa melarikan diri kemana lagi,” gumam Maharani yang berpikir jika Khansa
tidak bisa pergi seperti sebelumnya karena ini ada di lantai yang cukup tinggi.
Pak Arman sedikit
buru-buru dan langsung menerjang begitu pintu ditutup, Khansa menghentikannya
dengan berkata kalau ingin mandi dulu. Khansa masuk ke kamar.
Pak Arman sudah tidak
sabar dan menerjang kemari, “Cantik, ayo biarkan aku menciummu.”
Khansa berhasil
menghindar, “Pak Arman, jangan buru-buru, lagian aku juga tidak bisa pergi lho.
Aku mau mandi dulu.”
“Mandi bersama, ya?”
ujar pak Arman seraya mengikuti langkah Khansa.
Saat pak Arman
mengikutinya, Khansa langsung mengunci pintu kamar mandi begitu masuk ke dalam.
Tapi, sesaat kemudian Khansa bergerak dengan cepat karena ada orang di dalam
kamar mandi ini! Khansa memegang sebuah jarum perak dan berbalik untuk
menusukkannya ke badan orang itu.
Saat ini ada sebuah tangan
besar yang otot-otot tangannya terlihat jelas langsung segera menahan
pergelangan Khansa yang ramping, kemudian menekannya ke dinding.
“Nyonya Sebastian,
kamu sungguh ramah padaku.”
Novel PENGANTIN PENGGANTI bab 11 selesai

Komentar
Posting Komentar