PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 12 : SUAMI CEMBURU )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 12 : SUAMI CEMBURU )
Leon menekan tubuh Khansa dengan posisi wajah Khansa yang menghadap ke dinding, Khansa mengenali suara itu adalah milik Leon, suaminya. Dia memutar kepala dan memang itu benaran Leon.
Keduanya mulai saling
bertanya dalam hati. Khansa penasaran kenapa dia bisa ada di sini. Dan Leon
juga sama penasarannya seperti Khansa, ada hubungan apa dia dengan pak Arman
dan tarian tiang pole yang tadi dia lihat itu tadi tentang kesepakatan apa.
“Apa Nyonya Sebastian
sedang bermain rahasia denganku?” bisik Leon di telinga sebelah kanan Khansa.
Khansa mendorong tubuh
Leon, “Masalah aku! Maka aku akan menyelesaikannya sendiri,” jawab Khansa tak
mau dibantah dan dengan tatapan tegasnya.
Khansa tidak ingin
jika Leon ikut campur dalam urusannya. Khansa berkata, mengingatkan kalau
mereka punya perjanjian dan tidak saling ikut campur urusan masing-masing, dan
lain-lain.
Sebelum selesai bicara
untuk mengingatkan, Leon malah menciumnnya dan setelahnya dia berkata, “Dalam
perjanjian tertulis kalau aku tidak boleh menciummu dan kini aku sudah
menciummu, memang kamu bisa berbuat apa padaku?”
Khansa yakin orang ini
hanya mau mencari alasan saja. Saat ini pak Arman mendesak sambil mengetuk
pintu kamar mandi karena sudah merasa tidak sabar, pak Arman berbicara dengan
Khansa.
“cantik mengapa lama
sekali, apa sudah selesai?”
Pak Arman terus saja
mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu. Saat mau bicara lagi, Khansa
merasa Leon menciumi bibirnya tanpa halangan cadar. Beberapa kali sebelumnya,
Leon mencium Khansa dengan dibatasi cadar, kali ini Leon menciumnya dengan
langsung.
Khansa yang awalnya
sudah tegang, pikirannya langsung jadi kosong dalam sejenak, dia sepertinya
mencium aroma badan pria yang bersih itu. Leon merokok dan menyisakan aroma
tembakau yang ringan.
Leon tidak memejamkan
mata, dia melihat sepasang mata indah milik gadis itu. Khansa menarik
pandangannya dan terlihat kekacauan dalam bola mata yang berbinar itu, sangat
polos sekali.
Leon teringat tarian
tiang Khansa yang hot barusan malah semakin memperkuat ciumannya itu dan
membuat Khansa menjadi sulit untuk bernapas. Tangan kecil Khansa mulai
meronta-ronta, memukul kecil ke dada Leon.
Sambil mencium Khansa
Leon berpikir, kadang kala Khansa-nya ini lucu terkadang juga licik, mirip
seperti seekor rubah kecil sekaligus mirip seperti landak.Tapi, Khansa polos
sekali ibarat selembar kertas putih dalam hal percintaan. Saat Leon memikirkan
hal ini, Khansa tiba-tiba menggigit bibir Leon dengan kuat.
Sshhh… Leon menjauh
dari Khansa dan merasa bibirnya terluka karena digigit, dia sudah merasakan
darah yang berbau anyir itu.
“Kamu ini anjing
kecil, ya? Suka sekali menggigit orang.” Leon mengusap bibirnya yang terluka
akibat gigitan Khansa.
Khansa sedikit marah,
“Kau jangan keterlaluan!” ujar Khansa menekankan nada suara marahnya.
Melihat siratan mata
Khansa yang memang memancarkan kemarahan Leon pun meminta maaf.Khansa berkata
pada Leon kalau dia tidak akan berlaku sembarangan selama menyandang status
nyonya Sebastian. Tapi, bukan salah Khansa kalau pria lain menyukai dirinya dan
meminta Leon jangan menindasnya karena hal itu. Leon secara tak sengaja jujur
kalau dirinya cemburu.
Khansa sedikit
terkejut. Namun, kesadaranya kembali ketika Pak Arman yang berada di luar
kembali mendesak, dia berkata mau mandi bersama dengan Khansa, itu terdengar
sangat menjijikkan bagi telinga Leon.
Leon pun jadi terlihat
kejam. Leon tertawa menyeringai, “Aku saja tidak pernah berpikir untuk mandi
bersamamu, apa hak dia?”
Nada suara Leon
terdengar cemburu lagi, wajah Khansa memerah, Khansa menarik Leon lebih dekat
kepadanya lalu menghiburnya dengan suara pelan.
“Tuan Leon jangan
marah, nanti aku akan membantumu melampiaskan amarahmu.”
“Serahkan orang ini
padaku!” tukas Leon yang dengan serampangan segera ingin membuka pintu yang
sedari tadi diketuk oleh Pak Arman.
“Issh … kau ini!”
tukas Khansa lagi seraya nanarik lengan Leon lagi.
“Tidak bisa! Tuan
Leon, dulu aku pernah bilang kalau aku tidak ingin mengandalkan orang lain dan
membuat diri sendiri jadi lemah dan pengecut. Oleh karena itu, aku akan
menyelesaikan urusanku sendiri, kau jangan ikut campur.” Khansa bersikeras
seraya menahan gerakan Leon.
Leon melihatnya
sekilas dalam diam. Berpikir jika duri landak istrinya saat ini benar-benar
telah dimunculkan semua di seluruh tubuhnya, karena itu Leon patuh pada Khansa,
dirunya juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh istri kecilnya ini.
Melihat Leon telah
patuh, maka Khansa pun melanjutkan rencananya, “Kau di sini saja dulu, aku
keluar dulu.” Khansa membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar.
……
khansa segera saja menutup pintu kamar mandi, melihat Khansa keluar Pak Arman
nampak sedikit bingung.“Tidak jadi mandi?”
“Tidak, itu bisa nanti
saja,” jawab sembarang Khansa.
Pak Arman yang sedari
tadi sudah menyimpan gerakan-gerakan mesum di kepalanya, halusinasi tentang
bagaimana cara meniduri Khansa, dengan impulsifnya Pak Arman menerjang ke arah
Khansa yang baru keluar itu.
“Tunggu dulu! aku
ingin dalam suasana gelap!” pinta Khansa.
“I-ini adalah pertama
kalinya buat aku!” ujar Khansa manja.
Pak Arman pun
mengikuti kemauan Khansa, karena pikiran mesumnya sudah mau meledak keluar dari
ubun-ubun kepalanya itu.
Tepat ketika ruangan
menjadi remang- remang, Khansa mengeluarkan jarum peraknya dan langsung saja
menancapkan di atas puncak kepala Pak Arman, puncak tengah kepala termasuk
salah satu titik yang bisa memicu menaikan libido atau gairah.
Maharani merasa tidak
tenang, dan jadi dia menguping dari luar pintu, yang dia dengar hanya beberapa
suara aneh, kemudian kembali hening.
Awalnya Maharani
merasa aneh karena Khansa mengiyakan hal ini dengan mudah. Saat ini dia jadi
lebih khawatir dan segera masuk ke dalam.
"Pak Arman, apa
yang terjadi?”
Tidak ada orang di
dalam kamar. Juga tidak ada orang di atas ranjang. Maharani merasa kebingungan,
saat dia berbalik, pak Arman yang sudah melepaskan bajunya tiba-tiba menerjang
dan memeluk Maharani.
“Cantik, ayo temani
aku bersenang-senang.”
Cahaya remang-remang
membuat samar antara Maharani dan Khansa, dengan gairah libido yang memuncak
Pak Arman semakin tidak bisa membedakan mana Khansa mana Maharani.
Pak Arman dengan tidak
sabarnya malah mendorong Maharani ke ranjang besar dikamar itu, sudah tak tahan
lagi.
“Lepas, ini aku!
Nyonya Isvara!?” teriak Maharani.
“Kenapa jadi tidak
kenal?” ujar Maharani dengan suara takut gemetar.
Maharani mencoba lepas
dari jeratan Pak Arman, namun ditangkap lagi oleh Pak Arman yang kekuatan
tenaganya menjadi seperti kekuatan kuda berlari itu.
Pak Arman melemparkan kembali
tubuh Maharani ke atas ranjang besar itu lagi, rambut dan pakaian Maharani
sudah tidak beraturan lagi.
Maharani yang masih
kebingungan ditindih ke atas ranjang, pak Arman sudah membuka kancing pakaian
Maharani dan menjempitkan kedua kakinya seperti binatang buas di atas tubuh
Maharani.
Novel PENGANTIN PENGGANTI bab 12 selesai

Komentar
Posting Komentar