PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 14 : SELEMBAR CEK)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 14 : SELEMBAR CEK)
Simon merasa sangat aneh, kok bisa ada yang menyebut Leon sebagai sugar baby. Ini sama saja seperti sedang mencari mati, menyerahkan nyawanya dengan cuma-cuma.
Memang benar Leon
selama ini hampir tidak pernah menampilkan identitas dirinya di depan khalayak
umum, hanya sedikit saja yang mengetahui bagaimana rupa Leon ini.
Karena selama ini Leon
tinggal di Villa Anggrek, yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Tapi
baru kali ini Simon melihat, ada seseorang yang seperti baru saja kehilangan
setengah otaknya, dengan lantang beraninya merendahkan orang lain.
Simon memperhatikan
Jihan lagi, kira-kira apa yang akan dilakukan Jihan. Setelah Jihan
mengeluarkan secarik cek itu lalu dia berkata dengan malu-malu pada Leon kalau
dia akan menafkahinya, dan membujuknya lagi agar dia mau meninggalkan Khansa.
Simon benaran menahan
tawanya dan langsung saja mengacungkan dua jempol untuk keberanian Jihan ini,
sekaligus untuk kebodohan Jihan. Ketika mendengar janji Jihan yang akan
menafkahi Tuan Muda Leon.
Leon adalah Tuan Muda
dari keluarga Sebastian, cukup hanya dengan duduk saja sudah bisa menghasilakan
ratusan juta melalui transaksi yang dia lakukan yang cukup dia lakukan melalui
ponselnya, jadi sudah pasti hidupnya tidak perlu dijamin oleh orang lain.
Leon masih meletakkan
tangannya di dalam saku celana, dia lalu segera tertawa kecil dengan sinis
ketika mendengar tawaran Jihan lagi. Leon tidak menolak atau merasa
dipermalukan, tapi wajah Jihan malah memerah karena senyuman ini. Jihan juga
tidak tahu apa alasannya bisa malu di hadapan seorang sugar baby.
“A… Apa yang kamu
tertawakan?” tanya Jihan sambil menepuk-nepuk pipinya karena merasa wajahnya
menghangat.
Leon mengernyitkan
alis, “Tidak apa-apa, percaya diri itu bagus, tapi lebih baik kamu pulang dan
banyak berkaca.”
Dengan acuh tak acuh,
Leon membalikkan badan lalu melihat Khansa yang ternyata sedari tadi
menyaksikan jika saudara tirinya itu terlihat sedang merayui suaminya
ini.
Simon menyaksikan
tontonan ini dengan hati berdesir hebat, karena hal rayu merayu tadi terlihat oleh
kakak iparnya ini! Maka Simon berpikir jika akan ada kejadin seru selanjutnya.
“Kak! Bagaimana ini?
Kakak ipar sedari tadi memperhatikanmu lho?” bisik Simon kepada Leon.
Leon yang tadinya
masih arogan langsung mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana sambil
menjelaskan, “Aku tidak melakukan apa pun, kamu juga sudah lihat kalau Jihan
yang menggodaku,” ungkap Leon seraya mengangkat kedua tangannya, seperti posisi
orang yang sudah menyerah.
Sesaat kemudian, pria
yang dingin itu langsung berbicara dengan polosnya untuk mengadu pada Khansa.
“Tanyakan pada dia!”
ujar Leon lagi seraya menunjuk kepada Simon sebagai saksi untuk membenarkan
perkataannya.
“Ini benaran aku sama
sekali tidak menggoda saudara tirimu itu!” ujar lirih manja Leon.
Hal ini hampir membuat
Simon syok sampai seakan-akan kakinya terasa lunglai ringan bagai kapas.
Sementara itu, membuat Jihan semakin sakit hati.
Ibarat menabur garam
di atas luka, sungguh hati Jihan terasa perih ketika melihat Leon, sugar baby
yang diincarnya dengan susah payah malah memilih menja dengan gadis desa
sepertu Khansa.
“Hei! Itu sejak kapan
Kak Leon menjadi manja kepada wanita, cari perhatian sekali,” gumam Simon
dengan bingung seraya mengusap-usap tengkuknya sendiri karena merasa merinding.
“Iya! Apa yang kak Leon
katakan itu benar, dia yang menghalangi jalan Kak Leon dan malah merayunya
mati-matian,” jelas Simon kepada Khansa.
Khansa berdiri di
depan Jihan, lalu bersedekap, berdecak mengejek seraya menggelengkan kepalanya.
Khansa dan Jihan pun mulai berdebat dan bertengkar.
“Apa kau ini sedang
berebut sugar baby dengan aku?” tanya Khansa dengan nada menyindir.
“Kau … kau tidak
pantas berbicara sombong di depan aku. Bersama aku maka kehidupan sugar
baby ini akan terjamin,” jawab Jihan tak kalah sombongnya.
“Dan kau! urusi saja
suami penyakitanmu itu,” ujar Jihan meledek.
“Apa kau tahu? Khansa
ini sudah bersuami,” tukas Jihan sambil melihat ke arah Leon, seakaan ingin
memberitahu kebenaran yang telah Khansa sembunyikan.
“Kasihan suaminya!
Karena penyakitan malah membuat istrinya ini menjadi wanita liar lalu mencari
sugar baby,” ujar Jihan ingin meprovokasi Leon, namun malah tanpa diketahui
dirinya baru saja menghina Leon di depan wajahnya sendiri.
“Aku adalah wanita
lajang, bersama aku tidak akan ada masalah di kedepan hari,” bujuk Jihan lagi
kepada Leon.
“Hidupmu akan senang
dan penuh dengan kemewahan jika kau mengikuti aku,” tukas sombong Jihan
sambil menunjukam wajah arogannya.
Khansa pun tertawa
sedikit terbahak-bahak, sambil memegangi perutnya, “Ah! Kau ini sungguh lucu
sekali, benaran lucu,” ujar Khansa sambil melirik Leon yang wajahnya sudah
menghitam karena menahan marah karena dikatai penyakitan secara langsung.
Akhirnya Khansa
meminta Leon memberitahu pada Jihan tentang status kepemilikan diri Leon,
“Katakan kepadanya kau ini pria milik siapa?” ujar Khansa seraya bergelayut
manja kepada Leon.
Leon sangat senang
ketika Khansa berlaku manja kepadanya seperti ini, terlihat menyerupai seekor
kucing kecil yang sedang bermanja dengan tuannya, ditambah ketika Khansa
meminta kejelasan tentang hal status mereka dengan suara khas manja Khansa.
“Milik Sasa,” jawab
Leon sambil merangkulkan kedua tangannya ke pinggul ramping Khansa tersebut,
lalu mengecup ringan puncak kepala Khansa.
Lagi-lagi aroma wangi
Khansa benar-benar menguasai seluruh syaraf-syaraf di tubuh Leon. Dan itu tadi
benaran telah membuat Leon seperti mengalami kelumpuhan dalam sepersekian
detik. Sementara itu, Hati Khansa malah merasa berdebar ketika mendengar
Leon mengatakan jawabannya itu.
Khansa segera menarik
pandangannya dan mengarahkan kembali kepada Jihan untuk menyembunyikan
kegugupannya dan debaran jantungnya yang seakan ingin melompat keluar dari
tempatnya.
Khansa memperingati
Jihan lagi, “Jihan, aku akan lupakan tentang masalah hari ini. Tapi, lain
kali jangan salahkan aku kalau tidak sungkan padamu jika aku melihatmu menggoda
priaku lagi!
“Apa sampai sini kau
sudah paham!” ujar Khansa menegaskan kembali peringatan yang baru saja dia
katakan.
Khansa menarik
tangan Leon, “Ayo kita pergi.”
Jihan menatap nanar
sekaligus benci kepada Khansa yang pergi begitu saja meninggalkannya dalam
suasana malu, berpikir mengapa gadis kampung tersebut begitu beruntung bisa
membuat pria setampan Leon menjadi sangat menyukainya.
Tingkat kebencian
Jihan kepada Khansa pun menjadi meningkat, bukan hanya bertambah satu
tingkat, bahkan saat ini sudah menjadi lebih berlipat-lipat dari
sebelumnya.
Simon yang berada di
samping berkata, “Kakak iparku benar-benar keren!” pujinya.
Tiba-tiba saja Simon
menjadi pengagum berat Khansa, gadis kecil yang begitu cerdas, yang tidak goyah
meski keluarganya sendiri yang malah berlaku jahat dan menindas dirinya.
Jihan sangat emosi.
Dari awal dia sudah pernah melihat kehebatan bicara Khansa, tapi dia tidak
menyangka ucapan Khansa akan begitu kejam dan benar-benar mempermalukan harga
dirinya sebagai Nona Muda Isvara.
Novel PENGANTIN PENGGANTI bab 14 selesai

Komentar
Posting Komentar