PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 15 : ISTRI CEMBURU )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 15 : ISTRI CEMBURU )
Khansa menggandeng Leon pergi, Leon ingin balik menggenggam tangan Khansa, tapi malah dihempaskan oleh Khansa, lalu Khansa berkata dengan nada yang terdengar sedikit merajuk.
“Tuan Leon, tadi itu
aku hanya penonton dan kau malah sengaja melibatkanku. Apa kau puas melihat
tontonan heboh perebutan pria oleh dua wanita?”
Dengan cepat Leon
menjawab sambil menaikan satu alisnya, “Tidak.”
“Hah! Apanya yang
tidak. Jelas-jelas Kuperhatikan tadi sepertinya kau sangat senang dirayu oleh
Jihan,” tukas Khansa.
"Mana ada!’ jawab
cepat Leon lagi.
“Jika tidak senang,
lalu? Mengapa tadi kau melempar senyum kepadanya dengan sangat manis?” ujar
ketus Khansa seraya bertelak pinggang.
Leon menarik lengan
Khansa, “Ini kau sedang cemburukah?” tanya Leon sembari sedikit tertawa senang.
Khansa menghempaskan
tangan Leon lagi. Detik selanjutnya Khansa tersadar kalau Leon sedang bilang
dirinya cemburu, “Dasar penyuka sinetron!” ledek Khansa sambil memutar kedua
bola matanya dan bersedekap.
“Susah sekali ya!
Untuk mengaku!” balas ledek Leon.
“Cemburu! Ya tinggal
bilang cemburu saja,” tukas kekeh Leon lagi.
“Hah! Cemburu?” Jawab
sarkas Khansa terhadap tuduhan Leon.
“Cemburu! Kepalamu!”
ujar Khansa yang merasa geregetan pada suaminya ini dengan sambil bertelak
pinggang.
Leon pun tertawa lagi,
biasanya ketika wanita sedang merasa cemburu, maka wanita akan melakukan
beberapa hal aneh tanpa disadari. Ketika cemburu wanita juga tak akan mau
mengatakannya.
Karena memang Wanita
tak pernah mau mengatakan bahwa dirinya sedang cemburu, wanita memang salah
satu mahluk yang pandai menyembunyikan emosi mereka, wanita juga memang mahluk
yang sangat istimewa
Dan tak berbeda juga
dengan Khansa, dia ini adalah gadis yang memiliki gengsi tinggi sehingga ketika
cemburu, mana mau dia mengaku, Leon sudah memahami perangai istrinya ini.
Istri kecilnya ini
sudah merasakan patah hati semenjak kecil, semenjak dirinya dibuang
ke desa.
Itu adalah awal mula Khansa belajar bagaimana bangkit kembali dan tidak pernah
bergantung pada siapa pun.
Beberapa perempuan
dibangun dari itu, dari kesulitan-kesulitan yang mendera dan menjadikannya
membangun tembok pertahanan yang tinggi.
Karena perangai Khansa
yang seperti itu maka Leon juga setengah mati akan membuat Khansa mengakui jika
memang benaran cemburu.
Leon sangat yakin jika
Khansa sedang cemburu, melihat sikap Khansa yang tadi menunjukkan kemesraan
dengan dirinya, karena dengan hal itu dia bisa memukul mundur Jihan yang
mencoba mendekatinya.
Jadi karena tadi
dengan tiba-tiba Khansa lebih mendekat dan mulai manja ketika di depan Jihan, maka
kesimpulan Leon adalah, 100% benar jika khansa sedang merasa cemburu.
“Ini sedari tadi kau
menyindir aku, mentertawakan aku lho. Apa kau tidak tahu kalau itu ciri-ciri
orang cemburu,” jelas Leon.
Khansa memang sedari
tadi menyindir Leon dan juga meledek menertawakan, seolah seperti ingin
menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan sikap Leon tadi dengan Jihan.
Khansa, “…”
Perkataan Leon benaran
telah memukul dengan telak, Khansa melotot pada Leon, lalu bertelak pinggang.
“Tuan Leon, tadi itu
aku sudah membantumu lho, jadi kau seharusnya bersyukur dan berterima kasih
kepada aku.”
Tak senang hati dengan
perkataan Khansa, Leon dengan cepat menekan bahu Khansa yang indah itu ke
dinding, lalu memukulkan tangannya di samping badan Khansa untuk menghalanginya
dan menguncinya agar tidak lari, “Beraninya kamu bicara begitu padaku? Kamu
sungguh menganggapku sugar babymu? Berani sekali! Hm?”
“A-aku … tidak …?”
jawab Khansa terbata.
Khansa langsung
dipeluk Leon, pria ini langsung main hantam dan cepat sekali menghempakan
tubuh Khansa ke dinding kalau sedang berdebat, sungguh CEO yang arogan sekali.
Dalam samar, Khansa bisa merasakan aura di malam itu, malam ketika mereka
bertemu pertama kali di kereta.
Berpikir tentang ini,
mana mungkin Khansa berani menjadikan Leon sebagai sugar babynya? Khansa
memelankan suaranya dan menjawab, “Tidak.”
Leon merasa puas dan
senang ketika suara lembut Khansa menjawab dengan nada seperti berbisik itu.
Namun, tak ingin terlihat terlalu senang.
“Tidak? Lalu kenapa
bilang tadi sudah membantuku? Nyonya Sebastian, kamu tidak sadar akan
statusmu sebagai seorang istri ya! Bukankah mengusir wanita yang mengganggu
suamimu ini sudah jadi tugasmu?”
Khansa merasa
perkataan Leon sangat benar, “Tapi, bagaimana aku bisa tahu kamu suka padanya
atau tidak? Lagipula, harusnya Jihan yang menikah denganmu, bukan aku! Ini
a-aku hanya pengantin pengganti untukmu saja.”
Leon, “…”
Merasa tak pernah
menyebut dirinya mengetahui tentang pertukaran pengantin tersebut, Leon pun
sekali lagi dibuat terkejut karena kejujuran Khansa yang berani dengan lantang
mengakui jika dia adalah hanya pengantin pengganti untuk dirinya.
Melihat Leon yang
terdiam sesaat, Khansa pun mencoba mendorong-dorong Leon dengan tangan mungil
dan jari-jari lentiknya itu.
Leon menaikan satu
alisnya sambil memajukan wajahnya, “Masih bilang kamu tidak cemburu?” tanya
Leon lagi dengan penuh rasa ingin tahu.
“Tidak…” jawab ketus
Khansa
“Katanya gadis yang
cemburu itu perlu dihibur. Mau aku hibur?”
Khansa, “…”
“Hm?” Leon menunduk
dan mencium pelan bibir merah Khansa dengan dibatasi cadar.
Tangan Khansa bergetar, ada apa dengan Leon … ini … tiba-tiba saja memberikan
ciuman terus menerus sedari tadi.
Leon menggerakkan
kepala dan menunduk sambil bertanya, “Masih cemburu?”
Khansa terkejut dan
segera menggeleng. Leon tertawa pelan, “Ah baiklah, dasar tukang cemburu,"
tukasnya seraya mengacak-ngacak rambut Khansa karena merasa gemas.
Tentu saja Leon
langsung saja tersenyum tampan, dirinya sudah berhasil membuat Khansa mengakui
cemburu, setelah melalui interogasi hati yang cukup rumit itu.
Ya mengulik hati
wanita, untuk bisa mengeluarkan isi hatinya memang susah-susah gampang. Namun
bagi Leon interogasi tadi malah terasa lucu dan menyenangkan.
Leon berpikir
kehidupannya pun semakin berwarna dengan kehadiran Khansa yang selalu saja
memberinya kejutan-kejutan baru.
Memilik Khansa sebagai
istri, itu seperti kau selalu membawa petasan di dalam kantong baju, yang
sewaktu-waktu bisa mengagetkan hati jika itu sudah meledak.
Khansa baru sadar
dirinya sudah terjebak oleh trik Leon agar mau mengaku jika dirinya itu sedang
cemburu, tindakannya menggelengkan kepala tadi sama saja dengan mengaku
kalau dia tadi merasa cemburu. Khansa tidak pernah kalah berdebat, tapi kini
malah kalah pada Leon.
Jika Leon tidak banyak
akal dan tidak pandai berdebat, maka mana bisa dia bisa sesukses sekarang
menjalankan semua lini-lini bisnisnya dan telah banyak membuat orang iri hati
kepadanya.
“Jika cemburumu
semenggemaskan ini, maka aku ijinkan kau untuk sering-sering cemburu,” ungkap
Leon terselip sedikit meledek Khansa.
“Hissh …” gumam
Khansa.
“Kau ini benar-benar
deh …” gumam Khansa lagi.
Khansa menggigit
bibirnya sendiri dengan pelan, mengatur nafasnya agar stabil, lalu menunduk
untuk keluar dari pelukan lengan Leon dan berlari pergi. Leon kembali
meletakkan tangan ke dalam saku celana dan mengikuti Khansa sambil tersenyum.
Novel PENGANTIN PENGGANTI bab 15 selesai

Komentar
Posting Komentar