PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 16 : SKANDAL )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 16 : SKANDAL )
Jihan sangat tidak terima setelah ditolak, dia berjalan keluar dari Bar 1998 dengan hati yang sangat kesal, “Dasar gadis kampung, lihat saja nanti bagaimana aku akan merebut sugar babymu itu!” ancam Jihan.
Belum juga selesai
merutuki Khansa tapi malah sudah dikepung oleh beberapa orang pria asing yang
nampak seperti preman.
“Hai cantik!” panggil
salah satu pria seraya bersedekap berdiri di depan Jihan.
Jihan merasa terkejut
karena dikelilingi oleh pria tak dikenal, Jihan lalu mengeratkan pegangan
tasnya karena gugup.
“Kalian mau apa!?”
hardik Jihan sambil melangkah mundur menjauhi mereka.
“Awas, jangan
menghalangi jalan aku!” teriak Jihan merendahkan, Jihan berusaha lari namun di
belakangnya juga ternyata sudah ada preman yang berdiri.
“Hei! Biarkan kami
saja yang menemanimu hari ini,” jawab salah satu preman tersebut sambil
menghalangi jalan Jihan.
“Dasar rendahan, pergi
kalian!” Hardik keras jihan lagi karena merasa jijik.
" Huh! Mau
menemani aku, kalian pikir selevel dengan aku kah?" hina Jihan lagi.
Jihan pun menggunakan tasnya
untuk memukuli para preman itu, “Pergi kalian dasar tengik, jangan dekati aku,
pergi!” hardik marah Jihan lagi.
“Dasar sampah!” tukas
Jihan kepada mereka.
Merasa Jihan malah
melawan dan mengatai-ngatai mereka, maka para preman itu pun jadi marah, salah
satu dari mereka pun langsung saja menangkap tangan Jihan.
Supir yang melihatnya
ingin menolongnya, ketika supir itu mencoba menolong majikannya itu tapi malah
ditahan oleh anggota preman yang lainnya. Hanya dalam beberapa pukulan saja,
supir itu dapat ditumbangkan oleh mereka.
“Lemah!” cela mereka.
Ketua preman tersebut
memberi tanda kepada anak buahnya agar membawa Jihan ke tempat yang agak sepi.
Jihan pun di seret untuk berjalan mengikuti kemana preman itu membawanya.
Sekelompok preman
tersebut membawa Jihan ke jalan gang yang cukup sepi, lalu melemparkan jihan
begitu saja ke tanah.
Jihan memakai rok
pendek, jadi ketika terjatuh langsung saja lututnya sedikit berdarah karena
tergores.
“Hsssh … kurang ajar”
ujar Jihan mendengus sakit.
“Sialan!” hardik Jihan
mencoba untuk berdiri sembari menahan sakit.
“Siapa kalian,
beraninya menyentuh aku!” Teriak Jihan masih dengan penuh kesembongan.
Para preman itu justru
semakin mentertawai Jihan, semakin Jihan sombong bagi mereka itu semakin
terlihat sangat konyol.
Satu preman maju, lalu
mulai mengganggu Jihan lagi, “Kau ini cantik, tapi sombongya tak tertolong
lagi,” ujar preman tersebut menghina.
“Diatas langit itu
masih ada langit lho, masa kau tidak tahu kalu lapis langit itu ada sampai
langit ke-7,” ujar preman tersebut.
“Terlalu sombong
tinggi tak baik, nanti ketika jatuh terasa sakit lho,” ujar preman tersebut
malah menasehati dengan nada meledek.
Ketua preman tersebut,
menapuk dagu Jihan, Jihan pun meronta “Jangan sentuh! Tangan kotor kalian
itu tak layak menyentuh aku,” hardik marah Jihan.
“Siapa bilang? Cuma
kau saja yang bilang begitu,” jawab ketua preman itu sambil tertawa, lalu
disambut tawa oleh yang lainnya.
“Gadis macam kau ini
banyak! Murahan, mudah ditemukan di mana-mana, jadi sungguh kau tak pantas
bersombong diri,” ujarnya lagi sambil terkekeh.
Ketua preman itu malah
seenaknya saja menyentuh kulit Jihan, lalu memegangi kedua tangan Jihan,
“Bagaimana jika kita lepas rok mininya ini, lalu kita foto,” tukas si ketua
preman sambil tertawa sarkas.
Sontak saja anak
buahnya setuju dengan memberi tanda berupa tepuk tangan dan siulan. Hati Jihan
berdegup kencang, dirinya adalah Nona Muda Isvara yang terhormat, jadi mana
bisa kehormatannya berakhir tragis di tangan preman-preman ini. Jihan ketakutan
sehingga memohon ampun.
Jihan pun merasa takut
lalu memohon ampun, Jihan pun mulai memelas memohon untuk dikasihani “Tidak!
Jangan!” pekiknya.
“Tolong jangan lakukan
itu!” pintanya memelas.
“Aah … baru tau merasa
takut ya sekarang!” ledek si ketua preman.
“A-aku adalah Nona
Muda dari keluarga Isvara, jika kalian melepaskan aku, maka aku akan memberi
kalian uang,” janji Jihan.
“Aku akan memberi
kalian banyak uang, jadi aku mohon lepaskan aku ya!” pinta Jihan bernegosiasi.
Biasanya dia juga
adalah putri dari keluarga kaya, biasanya dia yang paling merendahkan dan
membenci orang-orang kalangan bawah seperti ini, tapi saat ini begitu ditakuti
oleh orang-orang ini dengan berbagai cara, dia berusaha meronta dan air matanya
pun mengalir deras.
Dia terus berdoa di
dalam hati dan berteriak “jangan”.
“Lepaskan dia!"
terdengar suara seorang pria
Jihan melihat ke arah
suara, Jihan berusaha menjernihkan pandangannya, buru-buru menghapus air
matanya.
Simon berjalan keluar
dari kegelapan. Simon datang ke hadapan Jihan sambil merokok, dia melihat Jihan
yang terduduk di tanah dengan begitu menyedihkan, lalu Simon berkata, “Nona
Jihan, ini hanyalah peringatan kecil untukmu, jangan singgung orang yang tak
seharusnya kau singgung, daripada bikin jijik.”
Jihan, “…”
Merasa bingung dengan
perkataan Simon, Jihan pun nampak seperti orang bodoh. Yang hanya linglung
sembari duduk di tanah.
Setelah itu, Simon
membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu menginjaknya, “Ayo pergi.”
Semua orang berlalu
pergi. Jihan terduduk di tanah dengan malang sambil terengah-engah, mengatur
nafasnya untuk normal kembali.
Setelah para preman
itu pergi barulah dia merasakan hidup kembali, dia tidak tahu kesalahan
apa yang diperbuatnya sehingga menyinggung Simon, si penguasa muda.
“Rasa-rasanya aku
tidak memiliki masalah dengan Simon,” gumam Jihan.
Jihan berusaha
berdiri, kemudian membersihkan tubuhnya dari debu yang menempel. Jihan
menepuk-nepuk bajunya. Pada saat ini, sebuah mobil melintas di jalanan, Jihan
menengadahkan kepalanya, di balik kaca jendela mobil yang perlahan terbuka, dia
melihat sebuah wajah yang sangat tampan, orang itu adalah…. Leon.
……
Setelah kembali ke Villa Anggrek, Khansa masuk ke dalam kamar, dia mengeluarkan
ponsel untuk mengirim sebuah pesan suara kepada Emily lewat WhatsApp.
“Thank you untuk bantuannya
hari ini.”
Khansa menggunakan
bantuan kawan lamanya, untuk menangani berita tentang Maharani, untuk meniupnya
sehingga menjadi kobaran api yang sangat besar, sehingga menarik perhatian
khalayak banyak.
“Kita ini bukan kenal
setahun dua tahun lho, ini hanya bantuan kecil saja jadi tak usah kau sebut
lagi,” Emliy menjawab pesan suara Khansa.
Khansa berpikir
bagaimana pun juga kawannya ini terlalu baik, melihat kesibukannya yang
segudang itu tapi masih mau meluangkan waktu untuknya, membantu mengurus hal
remeh temeh seperti Maharani itu.
Maharani adalah artis
senior di dalam dunia hiburan, dia punya banyak sekali koneksi, dan tim Humas
yang dia miliki juga sangat hebat.
Biasanya apabila ada
rumor atau skandal, tim Humas akan melakukan persuasi kepada masyarakat
terlebih dahulu sebelum topik-topik itu muncul, tapi masalah dirinya dan Pak
Arman bisa sampai menduduki trending topik secepat kilat itu semua berkat satu
orang. Orang ini adalah sahabat terbaik Khansa, Emily Kurniawan.
Novel PENGANTIN PENGGANTI bab 16 selesai

Komentar
Posting Komentar