PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 18 : PINGGANG YANG KUAT)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 18 : PINGGANG YANG KUAT)
Khansa memandangi Leon, pria berkaki panjang itu berdiri membelakangi cahaya, kontur wajahnya yang tampan seolah dibingkai dengan bingkai emas, pria yang memakai kemeja hitam ini terlihat sedikit lebih misterius dan dingin dari biasanya.
Terkadang Khansa masih
tidak mempercayai takdir yang mengikat dirinya dengan pria ningrat nan tampan
ini.
Khansa berpikir jika
ibunya pasti sudah banyak berdoa ketika sedang mengandung dirinya, sampai-sampai
Tuhan menghadiahi suami seperti Leon, mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna bagi
mata Khansa.
Khansa mengalihkan
pandangannya ke bawah secepat kilat, Khansa menahan nafasnya sambil
menunduk. Sebuah ikat pinggang mahal berwarna hitam melilit di pinggang
pria itu sehingga menampakkan lingkar pinggang yang kencang, ya… inilah
pinggang kuat… yang dibilang Emliy dan yang tadi mereka diskusikan
melalui pesan suara whatsApp.
Setelah sadar bahwa
dirinya sudah terpengaruh oleh ucapan Emliy. Wajah Khansa bersemu merah karena
lagi-lagi memikirkan dengan serius perkataan Emliy tadi.
“Issh … ini lagi
berpikir apa seh!” gumam Khansa, yang sedikit tidak mempercayai dirinya tengah
berpikir mesum tentang suaminya sendiri, pria dengan pinggang yang kencang.
Khansa pun bergegas
menghentikan pemikirannya, dan sedikit memukul-mukul pelan keningnya
dengan kedua tangannya agar perkataan Emliy tadi pergi dari pikirannya.
Khansa mengatur
nafasnya lalu bertanya seperti biasa, “Tuan Leon, untuk apa kamu berdiri di
sana?”
Khansa berbicara
dengan nada yang terdengar berusaha biasa saja sambil sedikit menyengir, tapi
Leon dapat melihat jika saat ini jantung Khansa sedang bertalu-talu dengan
kencang.
Leon mengernyitkan
alisnya sambil menatap gadis itu, “Sepertinya aku melihat seekor kucing sedang
mengeong.”
Khansa, “A… apa?”
bertanya dengan bingung.
Leon, “Minta kawin.”
Wajah Khansa seperti
merah seperti udang rebus saat mendengar Leon mengucapkan kedua kata itu,
Khansa langsung saja melemparkan handuk di tangannya dengan kuat ke wajah
tampan suaminya itu.
“Ish … kau ini, apa
meledek aku sekarang sudah menjadi hobimu kah?” Khansa bersungut.
Leon tidak menghindari
lemparan handuk dari Khansa, Leon menangkap handuk yang Khansa lemparkan dan
malah membuat moodnya tampak menjadi sangat baik.
Khansa mengulurkan
tangan hendak menutup pintu kamar mandi dan bersiap mendorong tubuh Leon agar
menjauh. Namun, lutut Leon sedikit menekuk dan menahan pintu, “Marah?” tanya
Leon.
Khansa mendengus tanpa
menjawabnya. Dengan lembut Leon mengusap-usap puncak kepala Khansa.
Leon memberi tahu
Khansa bahwa dirinya akan pergi beberapa saat, pergi dinas ke luar kota, “jika
ingin ada yang dibicarakan maka katakan saja sebelum aku pergi.”
Khansa berpikir
sejenak sambil menggigit pelan jari kelingkingnya, lalu menggelengkan kepalanya
dengan maksud memberi tanda jika tidak ada.
“Tidak ada! Tidak ada
hal yang ingin aku bicarakan,” ujarnya kepada Leon.
Melihat memang
sepertinya tidak ada yang mau dibicarakan oleh Khansa, Leon malah menarik
Khansa ke dalam pelukannya.
Khansa ingin
melepaskan diri, “Tuan Leon, apa yang kamu laku…”
Belum juga Khansa
menyelesaikan kalimatnya, Leon malah sudah menarik tangan mungilnya dan
diletakan di atas pinggang kencangnya.
Telapak tangan yang
lembut segera menyentuh otot-otot kekarnya di balik pakaian tipis, Khansa
merasa ujung jarinya seperti disengat oleh aliran listrik, dan membuatnya
terkejut hingga menarik kembali tangannya.
“Tuan Leon jangan
seperti ini!” pinta Khansa dengan suara sedikit terbata dan terdengar
malu-malu.
Namun, Leon
menahannya, tidak membiarkannya mundur. Leon sangat menyukai situasi ini,
menggoda istri kecilnya ini tiba-tiba saja sudah menjadi hobi yang tak bisa dia
lepaskan.
Leon sedikit menunduk
ke Khansa, bibirnya yang tipis menempel di daun telinga Khansa yang sudah
memerah, lalu berkata dengan suara berat, “Begini sudah sama seperti yang
kau mau tidak?”
Khansa merasa sangat
malu, dia berkata, “Tuan Leon, tentang itu … kami itu tadi hanya bercanda lho,
lepaskan aku dulu!”
“Eh … itu! Tadi kami
benaran hanya iseng, kok” jelas Khansa meyakinkan Leon.
“Kami tadi hanya
mengenang candaan masa lalu saja, jadi jangan dianggap serius lho,” jelas
Khansa lagi.
Tepat disaat keduanya
saling memandang dengan canggung, Paman Indra mengetuk pintu kamar mereka dari
luar dan menyampaikan bahwa pesawat pribadi telah siap. Leon melepaskan pelukan
tangannya dari Khansa.
“Lain kali
dilarang keras untuk menonton film-film action itu lagi,” bisik Leon,
mengecup satu pipi Khansa dari balik cadar, Kemudian dia bergegas pergi.
Leon meninggalkan
Khansa dalam sedikit kelimbungan, “Ei … itu tadi dia memelukku hanya untuk
mengatakan itu kah?” gumam Khansa.
Khansa merasa sedikit
lucu dan romantis, ketika Leon mengatakan larangan tentang itu. Tapi, melalui
sebuah cara pelukan.
….
Selesai mandi Khansa naik ke atas ranjang, dia mengeluarkan ponselnya dan mulai
mengirim pesan WhatsApp lagi pada Emily, tapi kali ini Khansa mengalihkan
topik sugar baby dengan Emily.
Jika tidak begitu,
maka pembahasannya bisa akan sangat panjang. Mulai dari usia, tinggal dimana,
apa pekerjaannya, siapa teman-temannya, apakah kaya atau tidak dan tentang
kapan akan membawa dirinya untuk bertemu dengannya.
“Apa kau sudah tidak
Syuting lagi, karena sepertinya kau memiliki banyak waktu untuk mencari gosip
tentang aku?” tanya Khansa.
Emily pun mengirim
pesan untuk memberi tahu Khansa kalau dia akan syuting film selama beberapa
waktu, “Esok aku akan pergi untuk beberapa lama untuk Syuting.”
“kau baik-baik ya,
selama tidak ada aku! Ingat jangan menangis,”
“Ish … apanya yang menangis,”
tukas Khansa.
Membaca pesan Emily
tentu saja membuat Khansa tertawa, ini yang sering menangis siapa ? Di
tiap kali akan berpisah. Ketika tiap kali Emily datang berkunjung bermain ke
tempat Khansa, maka di setiap kali jika sudah saatnya pulang maka Emily akan
menangis tersedu-sedu lagi, tak rela berpisah, tak mau pergi meninggalkan
Khansa di desa.
Bahkan ada sekali
waktu, Emily sudah menarik-narik Khansa agar ikut bersamanya kembali ke kota.
Sampai-sampai Khansa harus membentak Emily untuk menyadarkan tindakan
impulsifnya itu.
Sampai sekarang jika
mengingat itu Khansa selalu tertawa, karena bukan hanya sekedar membentak
Emily, namun juga menyabetnya dengan sapu lidi. Khansa satu-satunya orang yang
berani menyabet calon ratu film dengan sapu lidi. Jika ini tersebar di media,
pastilah Khansa akan menjadi Viral.
“Kau berhati-hatilah,”
isi balasan pesan Khansa.
“Ting” terdengar lagi
nada balasan cepat dari Emily, “Tapi kau tenang saja, meski jauh namun, dekat
dihati,” tambah Emily.
“Lagipula aku juga sudah
memerintahkan orang untuk menggali skandal Maharani, jadi kau sudah bisa
tenang,”
Untuk soal setia
kawan, maka Emily sudah tidak perlu diragukan lagi, sedari kecil sudah terlihat
sungguh peduli dengan Khansa, apalagi sekarang. Ketika Emily memiliki kepopuleran
yang bisa menolongnya, sudanh tentu Emily akan berdiri paling depan untuk
menolong kawan baiknya itu.
“Tunggu kepulanganku,
nanti kita kuliti bersama-sama,” isi pesan Emily.
Novel PENGANTIN PENGGANTI bab 18 selesai
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 18 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar