PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 19 : SATU ... DUA ... TIGA)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 19 : SATU ... DUA ... TIGA)
Percakapan keduanya selesai, tapi Khansa malah tidak bisa tidur. Khansa menatapi langit-langit kamarnya sambil merentangkan kaki dan tangannya di atas ranjangnya yang besar itu, Khansa lalu iseng mencoba menghitung untaian kristal-kristal kecil yang ada di lampu kristal yang menempel di langit-langit kamar mereka.
Khansa melakukan itu
karena Pertanyaan Leon tadi masih terus saja terngiang di telinganya. Jadi berpikir
mungkin saja dengan menghitung manik-manik kristal lampu, maka pikirannya akan
teralihkan.
“Satu … dua … tiga…”
Khansa mulai menghitung sambil menunjuk-nunjukkan tangannya ke arah lampu
kristal yang tergantung.
Khansa menurunkan
tangannya, dia teringat akan pesan terakhir Leon bahwa Khansa bisa
menelponnya kapan saja jika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Mengingat
itu, Khansa pun merasa tenang perlahan-lahan dan mulai tertidur.
……
Keesokan harinya, ponsel Khansa berdering. Khansa melirik ke arah nakas, lalu
mengambil ponselnya.
Khansa melihat nama
yang tertera di layar ponselnya adalah nama Maharani. Dengan sedikit rasa
malas, Khansa pun membalas panggilan ponsel dari Maharani tersebut.
“Halo,” jawab Khansa.
“Sa! Jihan akan
mengadakan pesta ulang tahun, kau jangan sampai tidak datang ya,” undang
Maharani.
“Acaranya di Royal
hotel, ini bukan hotel sembarangan. Jadi acara ini sangatlah penting. Karena
itu kau harus datang,” pesan Maharani lagi.
Nada bicara Maharani
ketika mengundang terdengar sengaja menekanan jika Fauzan mementingkan
acara ulang tahun ini sehingga diadakan di Hotel Royal. Dan ingin memberitahu
secara samar kalau Khansa hanyalah anak buangan, yang dipinta pulang karena mau
dijadikan tumbal saja, jadi jangan banyak berharap bisa mendapatkan kedudukan
di dalam keluarga Isvara.
Di hari kepulangan
Khansa ke kota Palembang, dia pernah melihat Hotel Royal bintang 6 dari dalam
mobil, hotel itu terletak di wilayah paling ramai di kota Palembang, desain
gedungnya bagaikan piramida mewah yang menjulang tinggi ke dalam awan. Hotel
ini adalah milik pria terkaya di kota ini.
“Jika acara ini begitu
penting bagi keluarga, tentu saja dengan senang hati aku akan datang,” jawab
Khansa.
Acara ulang tahun ini
memang sangat penting, karena disini Maharani dan Fauzan ingin menunjukan
kecantikan Jihan, putri mereka.
Sekaligus memancing
siapa yang berminat menjadi besan, dan menjadi calon menantu keluarga Isvara.
Maharani jugalah yang
menekan Fauzan untuk melakukan ini, memberikan perhelatan pesta yang mewah, di
tempat yang mewah, hal ini semerta-merta demi memulihkan status sosialnya yang
kemarin baru saja tercoreng.
Karena itu mereka
perlu bebenah diri, memperlihatkan status sosial kekayaan keluarga Isvara
sehingga harga kedua putri mereka berdua kembali di harga yang tinggi.
“Kalian baik-baik saja
disana, dan tunggulah kedatanganku!Ok!,” jawab Khansa lagi, lalu menutup
sambungan ponselnya.
Mengetahui jika
undangan ini hanya sekedar kampanye meyombongkan diri maka Khansa pun
menerimanya, sementara itu, bagi Khansa karena lawan sudah menurunkan
surat perang, maka dia tidak mungkin menolaknya.
Dia menyetujui datang
ke undangan Maharani, dan juga mengabaikan hal-hal yang tadi Maharani pamerkan
selama percakapan mereka di ponsel.
Sedari awal hal-hal
mewah memang bukan tujuan Khansa, Khansa setuju untuk kembali dan menggantikan
peran pengganti sebagai pengantin pengganti untuk keluarga Sebastian, hanya
karena memang Khansa membutuhkan status ini untuk menguak rahasia puluhan tahun
yang lalu, yang membuatnya terusir dari rumahnya sendiri, dan malah dijauhkan
dari orang yang paling dia sayang dan yang paling menyanyaginya, yakni Kakek
Isvara.
Setelah Khansa
mengakhiri panggilan, Khansa berjalan membuka ruang pakaian yang ada di
kamarnya. Khansa membuka pintu ruang pakaian, detik selanjutnya dia tercengang,
“Apa ini benaran untuk aku semua,” gumam Khansa dengan nada terkagum.
“Wow … ini semuanya
terlihat indah,” puji kagum Khansa lagi.
Khansa pun
memilah-milah pakaian yang sudah di urut tata dengan rapih oleh pelayan, satu
deret kemeja, satu deret gaun, satu deret rok mini, satu deret tas bermerk
seharga puluhan juta dengan berbagai model, satu deret sepatu. Belum lagi
laci-laci transparan yang berisi ikat pinggang juga perhiasan.
“Paman Indra memang
benar-benar berbakat,” puji Khansa terhadap hasil kerjanya.
Ruang pakaian ini
cukup luas, Khansa berjalan pelan untuk memperhatikan secara detail satu
persatu apa yang terpampang, terpajang.
Kaki kecil imutnya
melangkah pelan. Sementara, tangan imutnya meraih tas-tas yang terjejer rapi
dan mengamati lekat-lekat lalu menaruhnya kembali di raknya.
“Benar-benar keluarga
kaya,” gumam Khansa.
Berteman dengan Emily
tentu saja membuat Khansa mengetahui tentang tas-tas mahal. Ruang pakaian ini
sudah disiapkan sejak dia menikah ke sini, Ruang pakaian ini benar-benar ruang
idaman semua wanita.
Khansa membuka sebuah
lemari kecil, dia melihat berbagai model baju tidur di dalamnya, ada yang
biasa, ada juga yang seksi.
Wajah Khansa langsung
merona karena malu. Emily pernah bilang, seorang pria yang terlihat semakin
baik di luar, dan pakaiannya selalu rapi, maka hatinya akan semakin bernafsu.
“Ya Tuhan, mengapa
pinggang kencang itu malah terbayang-bayang lagi?” gumam Khansa dengan gusar,
karena baru saja berpikir mesum lagi.
“Apa benaran? Jika dia
bernafsu tinggi,” pikir galau Khansa seraya memiringkan kepalanya.
“Hish … mengapa
berpikir tentang itu lagi seh,” gumamnya gusar seraya memukul pelan kepalanya.
Gerakan tangan Khansa
terhenti, “Ei tapi, dia itu kan suami aku. Jadi masih boleh jika berpikir mesum
dengannya, bahkan bertindak mesum dengannya juga diperbolehkan, sah”! gumam
Khansa lagi sambil tertawa kecil mentup mulutnya dengan kedua tangannya, karena
merasa antara senang dan lucu.
Khansa segera menutup
lemari tersebut, kemudian memilih sebuah gaun panjang untuk dikenakan, gaun
tersebut benaran membentuk lekukan tubuhnya. Khansa juga memilih tas dan sepatu
yang senada dengan gaunnya. Khansa duduk di meja riasnya yang besar itu.
Membuka laci meja riasnya, dan di dalam laci tersebut tersusun rapih peralatan
dan produk make up, meski tinggal di desa, namun selalu dikunjungi tamu
kelas atas seperti Emily maka Khansa terbiasa melihat alat dan produk make up
tersebut, dan bisa mengapplikasian cara memakainya di wajahnya. Khansa menyisir
rapi rambut hitamnya itu lalu setelah selesai dia pun pergi menuju ke Hotel
Royal, supir keluarga Sebastian mengantarkan Khansa pergi kesana.
Hotel Royal bintang 6.
Khansa memasuki lobi, saat hendak naik ke lantai atas dengan lift, dia bertemu
dengan Jane.
“Eh Khansa, udah
datang ya. Baguskan? Ini hotel bintang 6, Hotel Royal namanya, kalau bukan
karena Jihan ingin kamu hadir di pesta ulang tahunnya, gadis kampungan kayak
kamu mana mungkin bisa datang ke tempat berkelas seperti ini seumur hidup!”
Ejek Jane dengan sok-sok’an.
Khansa menekan tombol
lift, lalu pura-pura menghela nafas, “ Hmm … anjing siapa sih ini, bisa-bisanya
ngak diikat dan dibiarkan gigit orang sembarangan.”
Ekspresi wajah Jane
sektika berubah, “Hei kamu!”
Novel PENGANTIN PENGGANTI bab 19 selesai

Komentar
Posting Komentar