PENGANTIN PENGGANTI (BAB 2 : PENGANTIN BARU )
PENGANTIN PENGGANTI BAB 2 : PENGANTIN BARU
Dalam pernikahan ini, Maharani ingin tampil sebagai ibu yang baik, meski hanya sebagai ibu tiri. Mengingat statusnya yang pernah menyandang ratu film terpopuler.
Jelas dia harus
membuat pesta pernikahan ini sangat bagus, agar dirinya tetap dipandang dan
dipuji oleh semua orang.
Di hari pernikahan,
tempat resepsi pernikahan Palace Garden. Di dalam ruang istirahat pengantin
wanita, Jihan masuk lalu duduk di sofa dengan malas tapi arogan.
“Jangan bangga hati,
menikah dengan keluarga sebastian bukan berati kau naik pangkat!” sindir Jihan.
“Kau tak lain hanyalah
hewan peliharaan kami yang sudah diberi makan selama bertahun-tahun. Jadi ingat
kau harus sadar diri.”
“Kau sebut aku apa!?”
hardik sekaligus tanya Khansa.
Jihan menangkap aura
yang sedikit aneh, raut wajahnya pun berubah menjadi canggung. Jihan menatap
sepasang mata Khansa yang indah, sejak kedatangannya Khansa selalu memakai
cadar. Tapi hanya dengan melihat matanya saja sudah bisa diketahui jika dia
sangat cantik. Ini benaran membuat Jihan merasa iri, jelas-jelas dia hanya anak
kampungan tapi malah sok serius.
“Sa! Waktunya sudah
tiba, ayo keluar!” Fauzan Isvara dan Maharani membawa rombongam tamu penting ke
dalam.
Saat duduk didalam
mobil, Khansa malah bertanya dengan nada rendah, waktunya sudah tiba. “Kenapa …
mempelai pria tidak datang menjemputku?”
Fauzan merasa
sangat bersalah, hal ini membuat banyak sekali orang yang menarahi Maharani.
Semuanya tahu jika kondisi mempelai pria tidak baik, tapi malah memperhelatkan
resepsi mewah.
Tindakan Maharani
antara lain karena gengsi dan juga karena tidak mau kedua putrinya menikahi
pria penyakitan, jadi dia meminta Khansa sebagai penggantinya.
Raut wajah Maharani
seakan menggelap, hatinya merasa tidak baik. Dia memperhatikan Khansa, tiba-tiba
dia merasa telah meremehkan Khansa, sehingga membuatnya malu.
Waktu masih panjang,
dia pasti akan memikirkan cara untuk membereskan Khansa di lain waktu.
Khansa tiba di Villa
Anggrek, lalu langsung memasuki kamar barunya. Dari semenjak masuk ke rumah barunya,
hampir-hampir tidak ada cahaya di dalam rumah baru, begitu pun di kamar
barunya ini, suasana yang gelap gulita dan juga sepi.
Khansa berjalan
perlahan kearah ranjang, samar-samar dia melihat seorang pria tengah terbaring
di sana. “Itu seharusnya suami aku bukan?”
Perlahan Khansa duduk
di sisi ranjang besar mereka, mencoba menarik tangan suaminya itu. Khansa hanya
ingin memeriksa keadaan Leon namun siapa sangka Leon malah berbalik badan,
menarik Khansa dan menindih tubuh Khansa di ranjang mereka yang besar itu.
Seketika saja Khansa
merasa ada yang aneh, ada yang tidak beres. Katanya pria ini adalah seorang
yang penyakitan. Sedangkan pria yang sedang menindihnya ini adalah benaran pria
yang kuat dan sehat.
Merasa curiga dengan
pria yang sedang menindihnya ini, langsung saja Khansa menendang ************
pria itu. Dengan lihai pria itu menghindari lalu menekukan lututnya dan
menindih Khansa kembali.
“Siapa kamu! Lepaskan
aku!”
Khansa memberontak
hebat, tubuh mereka bergesekan di kain tipis.
Leon menggodanya.
“Pengantin baruku ramah banget? Mau naik ranjang ya”
“Dasar mesum!” hardik
Khansa kepada Leon.
Dia pun segera
memahami kenyataan bahwa pria ini adalah suami yang baru saja dinikahinya ini
tapi tidak sesuai dengan rumor yang dia dengar. Suaminya ini ternyata tidaklah
lemah.
Melihat Khansa yang
tertegun memandanginya, Leon mulai membuka baju Khansa. Tak terima Khansa pun
memberontak.
“Berkerjasamalah! Ada
yang menguping,” jelas Leon.
“Di luar ada Nenek,”
jelas Leon seraya menunjuk kearah pintu.
“Tidak! Tidak mau!”
gumam Khansa seraya menggelengkan kepalanya.
Leon tidak
memperdulikan penolakan Khansa, tapi malah melakukan pemanasan
benaran pada tubuh Khansa. Kansa tidak bisa membuat Leon berhenti.
“Jika kau bekerjsama
maka ini hanya akan memakan waktu selama satu jam, jika menolak maka ini bisa
menjadi dua jam,” bisik parau Leon di telinga Khansa.
“Dua jam, apa dia ini
pendekar. Sakit! Apanya yang sakit,” gumam Khansa merutuki pria yang sedang
menciumi daun telinganya, lalu turun ke tulang selangka dan sedikti lebih lama
ketika turun ke bagian dada.
Suara rutukan Khansa
pun berganti menjadi suara lenguhan gemetar menahan sesuatu agar tidak meledak.
Hati dan kepalanya seakaan mau meledak di tiap kali Leon mengecupinya.
Ini adalah pertama
kalinya Khansa dekat dengan pria, dan baru pertama kali tapi Leon malah
memberikannya dinamit di mulutnya yang siap meledak kapan saja jika dia sudah
tidak bisa menahannya lagi.
Nenek Leon yang berada
di luar mendengarnya, tentu sangat merasa senang karena ternyata cucunya tidak
impoten. Nenek Leon segera pergi ke aula leluhur dan berdoa.
Khansa seketika
mendorong Leon, dan Leon juga bangkit dari atas tubuh Khansa. Saat lampu
dinyalakan Khansa terkejut melihat wajah pria yang baru saja menciuminya tadi
dengan serakah. Rupanya dia adalah pria yang ada di dalam kereta tersebut.
Leon berkata sambil
tersenyum, “sudah kubilang bukan! Kalau kita akan bertemu kembali.”
Tatapan mata leon
menikmati wajah Khansa yang sedikit terlihat limbung itu. Sebelumnya kepala
pelayan telah memberitahunya kalau keluarga Isvara menggunakan seorang gadis
desa sebagai pengantin pengganti.
Awalnya dia tidak
terlalu memikirkannya, asalkan neneknya senang, namun siapa sangka jika gadis
desa itu adalah ternyata wanita yang di dalam kereta. Leon pernah menyaksikan
bagaimana gadis ini membuat pria bercodet terjatuh di dalam pelukannya.
Keesokan paginya
Kepala pelayan, Paman Indra mengetuk pintu kamar utama, “Masuk,” ujar Leon.
“Tuan Muda, Nyonya
Muda … harus diapakan?” tanya Paman Indra.
“Biarkan saja,” jawab
Leon seraya memandangi pintu kamar mandi mereka.
“Siapakan sarapan!
Makanan kesukaan Nyonya,” ujar Leon.
Setelah Keduanya rapih
berpakaian, mereka pun pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan Nenek.
Nenek masih merasa
puas hati karena mengetahui bahwa cucunya ini tidak impoten, jadi
sedikit-sedikit menasehati Leon agar memperlakukan Khansa dengan baik.
Nenek Leon
mengeluarkan sebuah kotak, “Ambilah! Ini adalah cincin ketika Nenek bertunangan
dulu.”
“Berpikir ini adalah
cincin yang membawa Nenek Leon masuk ke dalam keluarga sebastian, maka Khansa
pun menolak.”
“Nenek bagaimana
mungkin aku menerima cincin sebagus ini dan seberharga ini,” tukas Khansa.
“Hish kau adalah
menantu sah keluarga Sebastian, jadi ambil dan pakai,” tukas Nenek Leon.
Khansa mau tak mau pun
mengambil cincin itu dan memakainya. Konon katanya di dunia, model cincin
tersebut hanya di miliki oleh tiga orang saja.
Mengetahui hal ini
jelas saja membuat Khansa merasa gemetaran. Berat cincinya yang bahkan tidak
ada satu kilogram, tapi itu terasa beratnya ampun-ampun.
Selesai makan pagi,
Nenek meminta Leon untuk mengajak Khansa berkeliling, Nenek meninggalkan mereka
berdua. Tapi Leon malah menakuti Khansa, mengatakan bahwa di halaman belakang
dia memelihara dua ekor serigala.
“Dengar gadis kecil,
pernikahan kita karena sebuah kesepakatan keluaarga. Namun tetap saja kau harus
patuh kepada aku.”
“Jika tidak!?” jawab
sekaligus tanya Khansa.
“Itu … bisa saja
sewaktu-waktu aku akan melemparkanmu kepada dua serigala tersebut sebagai
makanan,” Jawab Leon sambil menyeringai.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar