PENGANTIN PENGGANTI (BAB 21 : SERANGAN BALIK)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 21 : SERANGAN BALIK)
Jihan senang karena Maharani sangat baik terhadapnya. Mereka menunggu Khansa turun karena adegan fantastis akan segera dimulai.
Jihan kembali ke
teman-temannya, saat ini, ada seorang teman yang bertanya kenapa Jihan tidak
memakai gaun NT, Jihan tersenyum dan berkata akan segera pergi mengganti
pakaiannya. Jane menarik tangan Jihan dan memberitahu kalau Khansa sudah turun.
“Lihat! Itu Khansa
sedang turun ke sini,” ujar Jane seraya menunjuk ke arah Khansa.
Semua mata memandang
ke arah Khansa yang turun dengan memakai gaun NT, gaun NT itu bernuansa perak.
Bermodelkan bahu
terbuka sehingga mengekspos kulit Khansa yang putih halus dan bahunya yang
indah.
Gaun NT ini juga
memakai kristal Swarovski dan berlian yang menghiasinya. bertahtakan 50
berlian dan juga 50 Swarovski, Gaun NT yang dipakai Khansa juga memiliki
aplikasi sulaman sederhana. Akan tetapi, pengaplikasian sulaman tersebut malah
membuat gaun tampak menjadi lebih manis dan anggun.
Pengerjaan gaun yang
diberi nama “Stardust” tersebut membutuhkan ketelatenan, khususnya saat proses
pengaplikasian berlian.
Adapun waktu yang
dibutuhkan desainer untuk merampungkan gaun tersebut mencapai enam bulan
lamanya.
Untuk membuat model
gaun pesta tersebut semakin cantik, sang desainer juga mengkombinasikan
kain taffeta, sutra, serta satin.
Orang-orang yang ramai
di aula jadi terdiam, seluruh pandangan tertuju pada tubuh Khansa. Bertaburan
berlian, tentu saja membuat long dress yang dikenakan Khansa terlihat
berkilauan di bawah sorotan cahaya.
Tak ayal jika
selebritis papan atas dunia rela mengucurkan dana hingga puluhan bahkan ratusan
miliar rupiah hanya untuk sebuah gaun yang akan dikenakan pada event penting,
karena pemilihan gaun yang tepat maka akan membuat penampilan semakin
mempertinggi gengsi dan posisi juga tentu saja meningkatkan kepopuleran.
Jihan mengepalkan
tangan ketika melihat Khansa begitu anggun memakai model gaun yang seperti itu,
walaupun memang merencanakan agar Khansa memakai gaun itu, tapi Jihan merasa
sangat iri dengan pandangan orang-orang terhadap Khansa sampai ingin
melenyapkan Khansa dari muka bumi.
Maharani menatap
Khansa dengan kejam, Berkat kejadian di keluarga Isvara sepuluh tahun
yang lalu, kini putrinya Jihan yang menjadi nomor satu di Palembang, bukan
Khansa! Namun Maharani masih belumlah puas dengan posisi itu.
Maharani maju kedepan
dan menarik tangan Khansa dengan akrab, “Khansa, kamu sudah selesai ganti
gaunnya, ya?" Ujar Maharani dengan anggun dan dengan nada suara yang penuh
dengan kelembutan berbalut kepalsuan.
“Ayo! Aku kenalkan
beberapa teman-teman padamu … eh tunggu, kenapa gaun yang kamu pakai ini
terlihat familiar?” tanya Maharani seraya memutar-mutar tubuh Khansa,
memperhatikan.
"Bukankah ini
gaun NT yang akan dipakai Jihan malam ini?” ujarnya dengan pura-pura terkejut.
Meski Maharani
memasang wajah terkejut. Namun, Khansa terlihat biasa saja karena tahu tontonan
heboh akan segera dimulai.
Jihan pun mulai
beraksi, menatap Khansa dan mulai memberikan pertanyaan yang menyerang dan
ingin mempermalukan Khansa dengan sangat dalam.
Jihan sengaja
melantangkan suaranya, agar orang-orang yang sedang menatap kagum kepada Khansa
dapat mendengarnya, “Kenapa kau memakai gaun NT yang merupakan hadiah ulang
tahun untukku?”
“Kenapa kau
mengambilnya tanpa ijin dari aku?” Jihan semakin mengeraskan suaranya.
Jane pun ikut maju
membela suara temannya itu, bertindak seperti alat pengeras suara yang
memberikan efek suara menggema keras, “Kau ini sungguh keterlaluan sekali.”
“Pencuri!” hardik
Jane.
Mendengar suara keras
Jane, orang-orang di sekeliling mulai membincangkan Khansa, dan menghina
Khansa.
[Issh … tidak tahu
malu sekali]
[Bukankah dia baru
saja datang dari desa, tak disangka begitu inginnya memakai baju mahal,
sampai-sampai mengambil baju adiknya]
[Benar-benar tak punya
malu]
Saat ini Fauzan
berjalan kearah Khansa, dia tidak ingin kejadian memalukan terulang lagi dan
memperingati Khansa, " Jangan membuat hal memalukan! Apa kau ingin membuat
nama keluarga Isvara tercoreng,"
“Mengapa kau mencuri
baju Jihan?” tanya Fauzan memendam kesal.
Khansa, “…”
“Kau segera naik ke
atas, tidak perlu turun!” bentak Fauzan.
Fauzan langsung
men-cap Khansa kurang ajar dan memintanya jangan turun karena membuat malu.
Tentu saja Ini membuat Maharani dan Jihan sangat senang.
Ibu dan anak itu
saling memberi senyum dalam samar. Masing-masing bibir mereka menyunggingkan
senyum nyinyir kepada Khansa dan senyum kemenangan memuji otak licik mereka.
Jihan pura-pura sedih
dan juga pura-pura menjadi orang baik dengan mau memberikan gaun itu pada
Khansa, Jihan dengan sengaja membesarkan suaranya lagi.
“Aku tahu kamu dari
desa, jika kau memintanya baik-baik dengan aku. Maka aku pasti akan
memberikanya kepadamu,” ujar Jihan sembari terisak dan mengeluarkan air mata
buaya, dan pura-pura menghapus dengan sapu tangannya.
Mendengar suara Jihan
yang melirih, semua tante kaya dan putri mereka memandang Khansa dengan hina.
[Sungguh terlihat
mencolok sekali perbedaan kedua putri Isvara ini. Satu tuan putri, satunya
ketua perampok]
[Begitulah sikap orang
kaya baru, terkadang tamak dan serakah]
[Benar-benar tidak
tahu diri]
[Sungguh tak patut,
menyandang nama keluarga Isvara jika perilakunya seperti ini, benar-benar
memalukan]
[Dasar! Anak liar]
Maharani sangat puas
karena berpikir sudah mengendalikan keadaan dan Khansa sudah memakai gaun NT
itu. Namun Maharani masih belum puas dan masih mau mempersulit Khansa dengan
memintanya naik ke atas.
“Ayo! kita bicarakan
ini baik-baik ya,” ujar Maharani berpura-pura terpukul namun ingin masih
terlihat manis dan penyayang.
“Jika kau tidak
leluasa mengaku di depan umum, maka ayo! Kita bicarakan tentang ini semua di
atas,” ujar Maharani lagi, dengan kesan sebagai ibu tiri yang baik, yang ingin
mendamaikan perselisihan kedua putrinya itu, dan tidak pilih kasih.
Khansa diam sedari
tadi dan saat ini mengerutkan alis sambil berkata pelan, “Gaunku ini bukan
milik Jihan!”
Semua orang jadi
heboh, Maharani jadi berprasangka buruk dan segera berujar, “Khansa, aku bisa
mengerti dirimu, tapi akan sangat keterlaluan kalau kamu masih mencari alasan.”
“Mengaku saja! Kami
tidak akan memarahimu karena ini,” ujar Maharani meyakinkan.
“Ya lagipula kita ini
kan memang saudara,” Jihan menimpali perkataan Maharani.
Maharani melanjutkan
akting dan perkataanya lagi, “Asalkan mengaku dan meminta maaf, maka kami akan
memaafkanmu.”
“Kelak nanti, ingin
baju yang seperti apa, maka cukup meminta saja kepada kami, Jihan pasti akan
mau membantumu memilihkan model yang sedang trend,” jelas Maharani.
Khansa malah
berjalan ke arah Jihan. Melihat hal ini, Maharani memancarkan senyuman
namun sudah mulai terlihat panik, berpikir kira-kira langkah apa yang akan
dilakukan oleh Khansa untuk menghindari jeratan dari mereka untuk kali ini.
Mengingat beberapa
kali lalu, Khansa berhasil mengelabuinya berkali-kali, dan melepaskan diri
dengan begitu mudahnya dari rencana licik mereka yang ingin menjatuhkan Khansa.
Khansa terlihat sedih
dan lemah, tapi terus mengulang ucapannya, “Gaun NT ini bukan milik Jihan,
tapi… tiruan premium.”
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 21 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar