PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 26 : KAMAR SUITE)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 26 : KAMAR SUITE)
Hendra menghentikan gerakan memutar gelas winenya saat mendengar topik ini, pandangannya jadi sangat dingin, mendengar cerita Jihan tentang pernikahan Khansa dan tuan muda keluarga Sebastian.
“Sudah bagus ada pria
kaya yang menikahi dia, si pembawa sial,” ujar Jihan.
“Tapi bukannya
bersyukur, malah dia bermain-main dengan banyak pria. Ciih … dasar murahan,”
tukas Jihan.
“Aku bahkan pernah
bertemu dengan sugar baby nya, dia bahkan membawanya ke Bar 1998 lho, dan entah
apa yang sudah mereka lalukan disana. Sungguh kasihan yang menjadi suaminya,”
cerita Jihan lagi
Hendra terdiam namun
memasang telinganya baik-baik mendengarkan cerita Jihan, meski pria yang
dinikahi Khansa adalah pria yang memiliki penyakit parah, namun tetap saja itu
adalah seorang pria, tetap terhitung mahluk yang memiliki kebutuhan biologis.
Mengingat bagaimana
mata indah Khansa, kulitnya yang putih mulus, malah membuat hati Hendra terasa
semakin dingin membayangkan jika tuan muda sebastian yang menjadi suami
Khansa itu seandainya nanti sedang menatapi mata indah Khansa, bisa jadi
tidak akan tahan untuk merengkuh Khansa. Pemikiran ini benar-benar menyiksa
Hendra.
“Hissh …” gumamnya seraya
mengusap wajahnya.
Sebagai salah satu
dari empat keluarga terkaya di Palembang, tentu saja Hendra mengenal keluarga
Sebastian, tapi sayangnya dia hanya tahu sedikit dibandingkan orang lain, tak
peduli seberapa keras Hendra ingin mencari tahu namun sepertinya ada kekuasaan
yang sangat besar yang menghalangi, menutup informasi tentang tuan muda
Sebastian yang misterius itu.
“Tuan muda Sebastian,”
gumamnya dengan sedikit nada penasaran seraya mengehela nafas panjang.
Hendra sudah pernah
mencoba mencari tahu tentang Tuan muda keluarga Sebastian yang sangat
misterius itu, dan tidak pernah muncul di publik, Hendra pernah mengutus
orang untuk menyelidikinya, tapi Leon baru pulang ke Palembang baru-baru ini,
sebenarnya Leon berasal dari … Jakarta. Jadi Hendra benaran tidak mendapatkan
petunjuk yang banyak.
Jakarta adalah kota
financial yang paling metropolitan, di sana bisa menemui anak orang kaya di
mana saja, orang kaya biasa tidak bisa berada di pusat kota Jakarta.
Tentu saja, juga ada
keluarga peringkat atas di kota Jakarta sendiri, orang kaya itulah yang
menguasai perekonomian penting di seluruh Asia.
Pesta-pesta satu malam
tapi menelan biaya puluh jutaan sudah biasa bagi para sosialita dan kaum
menengah ke atas.
Bahkan ada kelompok
sosialita yang hanya untuk kumpul-kumpul mengocok arisan saja, sampai harus
menyewa pesawat jet pribadi dan terbang di ketinggian 27.000 kaki, hanya untuk
mengocok arisan dengan memakai gelas dari kristal.
Mereka melakulan ini
hanya karena arisan yang didapat sebesar satu miliar, jadi karena itulah semua
harus disesuaikan.
Jakarta juga identik
dengan kemegahan dan kemewahan . Sebutan kota yang tak pernah tidur sangat pas
menggambarkan bagaimana rutinitas di Jakarta tak pernah berakhir, bahkan
semakin bergeliat ketika malam hari.
Pusat-pusat hiburan
malam sampai kafe dan resto dua puluh empat jam terus mengudara sehingga
rasanya kota Jakarta jauh dari kata sepi dan senyap.
Berbicara tentang
wisata malam dan para sosialita, banyak cerita bagaimana kocek jutaan dengan
mudah lenyap karena biaya pesta atau karena menikmati sajian hiburan malam
saja.
Angka sepuluh sampai
dua puluh juta yang bagi beberapa kalangan masih wujud angka yang besar,
maka bagi para sosialita itu, hanyalah sekedar jumlah saja yang terlihat
biasa atau terbilang receh.
Hendra pernah
mendengar kalau keluarga terkaya di dunia bisnis di Jakarta juga bermarga
Sebastian. Semua ini sungguh kebetulan. Keluarga Sebastian termasuk dalam
hitungan keluarga elit.
Elit sendiri memiliki
dua makna, yang pertama adalah orang-orang terbaik atau pilihan suatu kelompok.
Yang kedua adalah kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi
[bangsawan, cendekiawan, dan sebagainya]. Dan keluarga sebastian adalah
keluarga elit dengan menyandang dua makna itu.
Mengetahui tentang hal
ini, tentu saja menambah kegelapan di hati Hendra, Khansa saat ini ada di
tangan tuan muda sebastian, dan ini sedikit menggangu hatinya, apalagi dia
tidak memiliki petunjuk yang banyak tentang tuan muda Sebastian yanh menikahi
Khansa, jodoh masa kecilnya itu.
Jihan merasakan
suasana hati Hendra yang berubah, tapi terus saja berbicara, “Kak Hendra, jadi
jangan sampai tertarik pada khansa lho, wanita liar. Jelas beda dengan aku
lho,” puji Jihan pada dirinya sendiri.
Hendra meminum habis
wine di gelasnya dan mendorong Jihan pergi, karena telinganya sudah tidak tahan
lagi mendengarkan cerita tentang Khansa.
“Menurut Kak Handra,
wanita seperti itu tidak pantas dicintai bukan?” hasut Jihan kepada
Hendra.
“Terlalu murah! Wanita
seperti Khansa itu,” hina dan hasut Jihan lagi.
Hendra meletakan gelas
winenya di meja, karena hatinya merasa tidak suka mendengar apa yang
Jihan katakan.
Jihan sadar kalau
Hendra akan kehilangan kendali setiap membahas Khansa, lalu mencari cara lain
untuk menengangkan dan memenangkan hati Hendra.
Jihan berkata, “Kak
Hendra, aku mencintaimu, kamulah satu-satunya pria bagiku, kehormatanku juga
kuberikan padamu.”
Saat ini, Hendra
bertekad melupakan Khansa! Hendra memejamkan mata, mengenang bagaimana dirinya
bisa dijodohkan dengan Khansa saat kecil dulu, kenangan indah saat bersama
Khansa kecil pun berlompatan di kedua pelupuk matanya. Leon memanggil nama
Khansa, “Sasa…”
Jihan merasa rasa
cinta dan bayangan kebahagiaannya terhadap Hendra langsung hilang seketika
ketika mendengar Hendra memanggil nama Khansa.
Jihan mana terima,
saat ini yang sedang bersama dengannya adalah dirinya namun, saat ini yang
sedang menemani dan memberikan hiburan adalah dirinya, namun malah nama yang
disebut dengan nada penuh rindu adalah nama Khansa.
Jihan mulai menggoda
Hendra lagi dengan tubuhnya, mencoba membuat Hendra mengingat bahwa wanita yang
sedang dalam pangkuan dan pelukannya adalah Jihan bukan Khansa.
“Kak Hendra, apa kau
tidak menginginkanku lagi!?” rayu Jihan sambil menggeliatkan tubuhnya semakin
masuk ke dalam pelukan Hendra.
Hendra memegang
pinggul ramping Jihan, wangi aroma sabun Jihan menyeruak di penciuman Hendra.
Tangan Hendra
memegang tali kimono handuk Jihan, Hendra pun melepaskan ikatannya dan
menanggalkan kimono handuk Jihan. Melihat kimono telah terjatuh ke lantai,
Hendra pun menyeringai.
“Ada daging segar di
depan mata, mengapa harus ditolak,” gumam Hendra.
Hendra pun mulai
menciumi tulang selangka Jihan, lalu memeluk erat Jihan. Jihan pun melingkarkan
kedua kakinya di tubuh Hendra.
Hendra berdiri sambil
memegangi pinggul Jihan, lalu melemparkan tubuh Jihan di atas ranjang besar di
kamar suite hotel tempat mereka menginap.
Jihan sudah tertidur,
Hendra memandanginya, lalu Hendra berdiri, mengambil rokoknya dari atas
nakas. Sambil merokok kemudian Hendra mengambil ponselnya dan
menekan nomor Khansa untuk meneleponnya. Hendra ingin mengatur pertemuan
pribadi dengan Khansa.
Hendra meminta Khansa
datang mencarinya besok malam di kamar hotel, “Nomor 8206, kita bertemu besok!
Jangan tidak datang!”
Khansa berkata,
“Hendra, kamu gila, ya?”
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 26 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar