PENGANTIN PENGGANTI (BAB 27 : JALINAN DULU )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 27 : JALINAN DULU )
Hendra mulai menghina Khansa, berkata kalau pria lain boleh bermain dengannya, maka dirinya juga boleh.
“Gila …?” Hendra
mengulangi perkataan Khansa.
“Hah! Jangan sok jual
mahal. Ayolah jika yang lain boleh mendekatimu? Maka kenapa tidak dengan aku?”
“Jika kau bisa tidur
dengan pria lain, lalu mengapa dengan aku tidak bisa?” tanya sekaligus sindir
Hendra.
“Hendra! Jangan
menambah rusak kesanmu di mata aku!” pinta Khansa.
Khansa tidak ingin
terlalu benci dengan Hendra, namun juga tidak ingin dekat dengan Hendra lagi
seperti dulu.
Seperi ketika
masa-masa kecil mereka dulu. Khansa menghela nafas panjang, lalu duduk di
ranjangnya dan mengatakan niat hatinya dengan lebih jelas lagi kepada Hendra.
“Hendra dengarkan aku,
aku akan menutup telpon ini, dan aku harap kau jangan lagi menghubungi aku!”
bentak Khansa kepada Hendra.
“Aku benaran tidak
ingin berhubungan lagi denganmu, jalani saja hidup masing-masing tanpa perlu
mencampuri hidupku,” jelas ingin Khansa.
“Aku tidak ada waktu
meladeni pria gila sepertimu, benaran ini hanya membuang waktu aku,” ujar
Khansa lagi.
“Sampai di sini, aku
harap kau dapat memahaminya,” tukas Khansa.
Khansa berniat menutup
telepon dan setelahnya akan memasukan nomor Hendra ke dalam daftar nomor yang
di blokir, tapi Hendra segera berkata.
“Bukankah kamu terus
menyelidiki penyebab kematian ibumu?”
“Misteri tentang
kematian ibumu?” ulang tanya Hendra lagi sekaligus ingin meyakinkan Khansa agar
mau bertemu dengannya.
Mendengar di sana
hening, maka Hendra pun menyeringai senang, berharap perkataannya akan
menggoyahkan hati Khansa agar bersedia bertemu dengannya di hotel yang telah
dia pilih.
Gerakan tangan Khansa
terhenti, mendengar Hendra mengungkit tentang kematian ibunya itu. Hatinya
terasa perih lagi ketika mengingat betapa cepatnya kebahagiannya hancur dalam
sekejap.
Kehilangan ibu,
kehilangan ayah kandung yang lebih mempercayai perkataan orang luar, dan
kakeknya yang telah koma dalam jangka waktu lama.
Khansa menggigit-gigit
bibir bawahnya dan berpikir sebentar, Khansa mengambil napas dalam-dalam
lalu menghembuskannya. Dia pulang kali ini dengan dua alasan. Yang pertama
adalah untuk menyembuhkan kakeknya dan yang kedua mencari penyebab kematian
ibunya.
Dia bersedia
dinikahkan mengikuti pengaturan pernikahan dari tetua keluarga juga karena
Khansa membutuhkan identitas ini untuk bisa menyelidiki tentang kematian ibunya
itu yang begitu misterius, jika menolak maka selamanya dia tidak akan bisa
memasuki Kota Palembang lagi.
Pikiran Khansa
melayang pada saat itu, saat dimana secara tiba-tiba Khansa diberitahu kalau
ibunya meninggal karena sakit, tapi sebelumnya, ibunya terlihat sehat-sehat
saja dan kenapa bisa tiba-tiba sakit lalu mati? Khansa curiga ada orang yang
mencelakai ibunya. Namun, kala itu Khansa masih terlalu kecil untuk mencari
tahu kebenarannya. Namun, ketika sudah beranjak besar, Khansa juga malah tidak
bisa menemukan petunjuk apa pun.
Penyelidikan Khansa
tidak terlihat jejaknya, tidak membuahkan hasil, semua data tentang ibunya
semasa hidup tidak ada jejak sama sekali.
Meski pun Khansa sudah
meminta bantuan kepada Emily, menggunakan semua sumber koneksi Emily namun
tetap saja itu hasilnya nihil.
Khansa selalu merasa
ada konspirasi besar di balik semua ini, sepuluh tahun yang lalu ibunya
meninggal, kakeknya koma. Dalam semalam, semua orang yang Khansa cintai seperti
mau mencelakai dirinya, mereka semua sudah berubah, memperlakukan Khansa
seperti orang asing hanya karena satu perkataan peramal yang mengatakan bahwa
dirinya adalah seorang anak pembawa sial bagi kelangsungan keluarga Isvara.
Tiba-tiba saja dirinya
menyandang status anak buangan, seperti tidak memiliki ikatan darah dengan
keluarga Isvara.
“Apa kau tidak ingin
bertemu dengan, pelayan pribadi ibumu, bibi Fida?” tanya Hendra sekaligus
membunjuk Khansa.
“Maksudmu …?” tanya
Khansa.
“Bibi Fida, ada
bersama aku. Tinggal di tempat yang aku sediakan,” terang Hendra.
“Bibi Fida bersamamu?”
tanya Khansa terbata.
Mendengar pengakuan
Hendra tentang Bibi Fida, membuahkan rasa senang juga rasa gundah di hati
Khansa. Selama ini dirinya sudah benar-benar mencari bibi Fida kemana-mana,
namun tetap saja tidak dapat menemukan jejaknya.
Khansa berpikir,
pantas saja selama ini Khansa sudah berusaha mencarinya. Namun, tidak dapat
menemukannya. Semua ini karena Bibi Fida berada di bawah kekuasaan salah satu
keluarga berkuasa di Palembang.
“Hei! Aku sedang
bertanya kepadamu!” tukas Khansa.
“Ya! Jadi jika kau
ingin bertemu dengannya maka kau tidak bisa menolak permintaan aku!”
ujar Hendra lagi.
Rupanya bibi Fida ada
ditangan Hendra, bibi Fida adalah pelayan ibunya sejak Khansa kecil, bibi Fida
bukan anggota keluarga Isvara, tapi pembantu yang ikut dengan ibunya sejak
dulu, jadi sudah sangat kenal dan tahu bagaimana keadaan ibunya Khansa, dan
Khansa meyakini jika bibi Fida pasti mengetahui sedikit banyak tentang
teka-teki kematian ibunya Khansa yang selama ini menggelayuti pikiran dan
hatinya.
Bibi Fida menghilang
sejak kematian ibu Khansa dan Khansa tidak bisa menemukannya, ketika ingin
menanyakan apakah bibi Fida mengetahui tentang kematian ibunya yang
secara tiba-tiba itu.
Hendra sengaja
menampung bibi Fida, karena yakin, jika sewaktu-waktu Khansa kembali ke Kota
Palembang, maka dia bisa menggunakan Bibi Fida untuk bisa menahan Khansa agar
mau tak mau bertemu dengannya.
“Khansa, datanglah ke
kamar hotel nomor 8206 besok malam, aku tunggu!” perintah Hendra dan langsung
menutup sambungan teleponya.
Hendra meletakan
ponselnya, dan merasa yakin jika Khansa akan datang pergi menemuinya, karena
dia memagang kartu kemenangan di tangannya, ya bibi Fida adalah kartu utama
bagi Hendra untuk memaksa Khansa datang kepadanya.
Khansa meletakkan
ponselnya dan bertekad mau bertemu bibi Fida, tapi Khansa ragu mau pergi atau
tidak karena tahu Hendra akan berniat buruk.
“Haish … bagaimana
ini!?” gumam gusar Khansa.
Khansa memukul-mukul
kepalanya pelan, “Ayolah! Berpikir … harus apa!” gumamnya lagi.
Khansa tiba-tiba
teringat ucapan Leon waktu itu sebelum Leon pergi dinas luar, “Carilah aku
kalau ada sesuatu hal yang tidak bisa kamu selesaikan.”
Khansa ragu sebentar
dan hanya menatapi layar ponselnya, memandangi nama Leon yang tertera di penyimpanan
memori ponselnya itu, lalu pada akhirnya Khansa menelepon Leon.
Panggilan lama sekali
baru tersambung dan terdengar suara wanita di seberang yang bertanya Khansa ini
siapa.
“Halo …?” Jawab wanita
di sebrang sana.
Khansa diam saja, lalu
berdiri dari ranjangnya. Namun, tubuhnya malah membeku, karena bukan suaminya
yang menjawab panggilan telponnya. Namun, malah seorang wanita yang memegang
ponsel suaminya itu.
Wanita di seberang
telepon merasa sangat aneh, “Halo, apa kamu mencari Presdir Leon?"
Khansa masih saja
terdiam, tak tahu mau menjawab apa, masih menata hati. Sudah bingung dengan
ajakan Hendra, sekarang malah mendapati ponsel suaminya di tangan wanita lain.
“Halo …” sapa wanita
itu lagi.
"Dia sedang mandi
dan tidak bisa menerima telepon…” Khansa langsung menutup telepon.
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 27 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar