PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 28 : NONA KECIL )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 28 : NONA KECIL )
Khansa terduduk di ranjangnya lagi, sedang berpikir, “Siapakah wanita itu? Apakah pacarnya Leon? Apakah hanya sekedar simpanan, sejenis Maharani.”
Hati Khansa mulai
tidak senang dan mulai menggerutu “Hah! Dasar pria!”
“Pria kaya, mana cukup
satu wanita,” gumam marah Khansa.
“Dasar playboy.”
“Apa-apaan mereka
berdua itu!” gerutu Khansa lagi merutuki keduanya.
Tiba-tiba saja
kemarahan Khansa menjadi panjang. Khansa merasa marah, karena berpikir
jika suaminya itu mirip sekali dengan Ayahnya, meyimpan selir.
Hati Khansa seketika
saja merasa ngilu, merasa tidak suka ketika mendengar ada suara wanita lain
yang memegang ponselnya suaminya itu. Dirinya saja yang istri sah tidak mau
memegang ponsel Leon, tapi ini malah ada wanita lain yang dengan mudahnya
memegang ponsel suaminya dan menjawabnya dengan tenang.
Tiba-tiba saja Khansa
merasa kesal kepada Leon, mengapa mengijinkan wanita lain untuk memegang
ponselnya dan malah membebaskan untuk menggunakannya.
“Hish benar-benar
deh,” gumam Khansa Mengkesal.
“Haish … bodoh! Apa
yang baru saja merasuki pikiranku tadi, sehingga ingin meminta tolong
kepadanya,” gumam kesal Khansa memarahi dirinya sendiri karena sudah
mulai bergantung kepada orang lain, hal yang paling dia hindari dari dulu.
“Otakku tadi pasti
benaran habis kesepak bola,” Khansa mengatai diri sendiri lagi sekaligus
mentertawai dirinya sendiri.
“Aku ini hanya
pengantin pengganti, aku dan dia tidak menjalin hubungan serius, jadi
kenapa kenapa dia harus dan
mau membantu aku?” tambah pikir Khansa lagi.
“Ingat Khansa! Kau dan
Leon itu hanya bertransaki berbalut pernikahan,” gumam Khansa mengingatkan
kenyataan dalam hubungan pernikahan mereka.
Khansa berpikir jika
mereka hanya menjalani pernikahan kontrak, maka dilarang dekat-dekat, apalagi
sampai bergantung kepadanya, yang siapa tahu nanti bisa saja jadi
berujung menjadi jatuh cinta.
Entah mengapa hati
Khansa merasa perih ketika tadi dia membayangnkan, jika jatuh cinta lalu
malah bertepuk sebelah tangan, bukankah itu sangat menyakitkan, mencintai orang
yang tidak pernah kau cintai.
“Karena hanya
pengganti, jadi wajar saja jika Leon memiliki pacar,” gumam Khansa menghibur
dirinya sendiri dan menepis rasa kesal tadi, sembari menggigit bibir bawahnya.
Khansa merebahkan
dirinya di ranjang besar bergaya Eropa yang ada di kamarnya itu, lalu mengambil
bantal disampingnya dan menutupi wajahnya dengan bantal itu.
Pikiran dan hatinya
saat ini benar-benar tengah dibuat kacau oleh dua pria yang sedang hadir
bersamaan di dalam hidupnya itu. Bagi Khansa keduanya itu adalah biang
kerusuhan.
“Hufh …” desahnya
dalam limbung.
“Menyebalkan sekali,”
gumam Khansa lagi dengan nada malas berbalut manja.
“Hmm …” desah
limbungnya.
Khansa menyingkirkan
bantal yang ada di wajahnya, menatapi lampu-lampu kristal indah yang
menggantung di kamarnya. Tapi kali ini enggan untuk menghitung manik-manik
kristal yang menggantung di langit-langit kamarnya itu. Khansa benar- benar
sedang memikirkan tentang apa-apa saja yang baru dan yang sudah terjadi
kepadanya.
Butiran-butiran
bening pun terjatuh ke pipi, Khansa pun segera menghapusnya. Khansa
berkeringat dingin, hidupnya berubah saat dirinya berusia sembilan tahun,
dibuang oleh semua orang dan ini membuat Khansa belajar mandiri selama sepuluh
tahun ini.
Khansa sudah terbiasa
tegar dalam kesendiriannya selama ini dan juga hanya percaya pada Emily
seorang, sahabat baiknya.
Khansa tidak ingin
dikhianati lagi oleh orang terdekat yang disayanginya. Khansa hanya percaya
kepada Emily, Karena hanya Emily yang memahami rasa sakit yang Khansa rasakan
selama sepuluh tahun ini.
Tapi, Leon pria yang
arogan ini dengan tak terduga datang dan dengan cepat memasuki hidup
Khansa lalu membuat Khansa mengandalkannya, merasa membutuhkannya, Khansa
merasa dirinya telah menjadi lemah. Setelah berpikir dalam-dalam, maka Khansa
pun telah mengambilkan keputusan.
Khansa menenangkan
diri lalu mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada Hendra, “Baiklah, besok
kita bertemu!”
Hendra dengan cepat
membuka pesan dari Khansa, lalu menyeringai puas. Karena telah berhasil
meyakinkan Khansa untuk bertemu dengannya.
“Aku akan menunggumu!
Sa,” balas pesan Hendra kepada Khansa.
……
Di luar negeri, di dalam kamar presiden suite, chief PR (public relation)
bernama Susan sedang memegang ponsel dan merasa aneh, “Mengapa tak dijawab?
Malah di putus sambungannya.”
Saat ini, Gerry
berjalan kemari, “Chief Susan, siapa yang izinkan kamu memasuki kamar
presdir?"
Gery menatapi Susan
sambil bersedekap, "Dan kamu masih berani menjawab telepon di ponselnya!”
“Ah itu tadi …” jawab
Susan terbata.
“Ini … hanya karena
aku mendengarnya berdering berkali-kali, jadi aku pikir mana tahu itu adalah
panggilan telpon yang penting darurat,” jelas Susan.
“Karena itu aku
mencoba membantu menjawabnya,” ungkap Susan
“Aku! Ke sini, karena
dokumen ini,” jelas Susan lagi.
Susan datang
mengantarkan dokumen yang sangat urgent, asisten Gery berkata kalau Leon tidak
suka orang lain menyentuh barang pribadinya, “lain kali dilarang menyentuh
barang-barang Presdir.”
“Tidakkah kau sudah
tahu, jika Presdir kita tidak suka jika barang-barangnya disentuh sembarangan
oleh orang lain!?” tukas Gery mengingatkan.
“Telpon dari siapa
tadi?”
“Seorang wanita,”
jawab Susan sambil berusaha menyembunyikan senyuman gugupnya.
Gery kemudian meminta
Susan pergi. Leon sedang bersiap mau pulang lebih cepat, Gery diam-diam
berpikir mungkin Leon sudah jatuh cinta atau malah mungkin sudah mencintai
Khansa dan barulah bisa tergoda oleh sebuah foto saja.
“Hanya foto salah
kirim, tapi malah sudah cepat ingin pulang, bagaimana jika benaran berniat
mengirim kepadanya,” gumam Gery.
“Sepertinya dia akan
langsung menjungkir balikan dunia. Melewati negara api, hanya untuk bisa sampai
dengan cepat ke rumah,” gumamnya lagi sambil tertawa menahan lucu dengan apa
yang baru saja dipikirkannya.
……
Keesokan harinya, Khansa menepati janjinya dan sudah berdiri di depan pintu
kamar 8206. Khansa mengulurkan tangannya untuk menekan pintu bel kamar, lalu
menariknya kembali. Khansa mengehela napas panjang-panjang. Lalu menepuk-nepuk
pipinya.
Khansa menyemangati
dirinya sendiri “Demi beretemu Bibi Fida.”
Khansa pun membunyikan
bel kamar 8206 itu, Hendra bergegas ke arah pintu, dan melihat dari video
ponsel interkom pintu, jika itu adalah Khansa, dan segera membukakan pintu
untuk Khansa.
Pintu kamar telah
dibuka, Khansa pun masuk dan Hendra segera menutup pintu kamar. Khansa melihat
ke seluruh arah kamar. Namun, malah tidak melihat orang yang dicari. Khansa
langsung saja menarik lengan Hendra dengan emosi marah di hatinya.
“Hendra, mana bibi
Fida?" bentak Khansa.
Tidak ada lagi jejak
kelembutan dari nada suara dan wajah Khansa, semua emosi yang dilemparkan kepada
Hendra oleh Khansa adalah emosi benci dan marah. Bahkan Khansa menatapi Hendra
dengan mata yang sedikit melotot.
“Bagaimana aku bisa
yakin kamu tidak bohong padaku?” Hardik Khansa lagi.
"Telepon bibi
Fida , aku ingin mendengar suaranya.” ujar Khansa langsung pada intinya.
“Cepat! Telpon
sekarang!” Khansa mengulangi perintahnya.
Hendra mengangguk,
lalu mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 28 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.

Komentar
Posting Komentar