PENGANTIN PENGGANTI (BAB 29 : TAK RELA)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 29 : TAK RELA)
Hendra menekan nomor yang akan menyambungkan ke bibi Fida, Panggilan dengan cepat tersambung, Setelah mendengar sautan jawaban di ponselnnya, tanpa mengatakan halo, Hendra segera saja memberikan ponselnya pada Khansa, Khansa mendengar suara bibi Fida yang familiar.
Menyangka jika itu
adalah Hendra yang akan berbicara kepadanya, langsung saja Bibi Fida bertanya
pada Hendra, “kapan bibi, bisa bertemu Khansa, nona kecil Isvara.”
Hati Khansa gemetar
mendengar suara dan pertanyaan Bibi Fida. Mata Khansa langsung memerah karena
sedih, air mata pun terjatuh, semua orang berubah, tapi bibi Fida masih
mencintai Khansa seperti dulu, dan masih begitu merindukannya.
Dalam hati Khansa
harus bisa melindungi Bibi Fida dari semua orang yang berniat jahat. Khansa
harus bisa membebaskan bibi Fida dari jeratan penjara yang Hendra
ciptakan.
“Bibi Fida …” panggil
Khansa dengan suara terbata bercampur isak tangis.
“Ini aku … Khansa,”
ujarnya dengan suara Manja.
“Nona kecil … ini
benaran nona kecil Bibi” ujar Bibi Fida senang bercampur terkejut dan langsung
saja menangis haru.
“Iya Bibi, ini aku
benaran Khansa,” jawab Khansa meyakinkan lagi.
“Nona kecil! Akhirnya,
syukurlah, aku bisa mendengar suara nona kecil lagi…” ujar Bibi Fida lagi.
“Bibi! Sekarang aku
sudah besar lho,” ujar Khansa dengan tetap sambil menahan tangis.
“iya, iya pasti sudah
besar dan cantik,” puji bibi Fida kepada Khansa.
Tak ingin membuang
kesempatan, maka Khansa langsung saja berpikir untuk menanyakan lokasi bibi
Fida, “Sekarang Bibi dimana?” tanya Khansa dengan cepat.
Mendengar Khansa yang
mencoba mencari tahu lokasi Bibi Fida, Hendra segera saja merebut ponselnya
dari tangan Khansa kemudian memutus panggilan itu, “Sudah konfirmasi, kan? Aku
tidak bohong padamu."
“Jadi mari kita
bersepekat untuk sepakat,” ujar Hendra.
“bersepakat,” ulang
kata Khansa
“Kau nampaknya masih
belum mengerti juga ya!?” ujar Hendra
“K-kau …” ujar Khansa
menahan marah.
“Katakan di mana bibi
Fida!” pekik Khansa
.
“Kita bertransaksi dulu, baru aku akan
menyerahkan bibi Fida kepadamu!” jawab Hendra.
Khansa diminta Hendra
datang kemari dengan sebuah kesepakatan, yaitu Hendra menyerahkan bibi Fida
pada Khansa, Khansa baru menemani Hendra tidur semalam. Tapi, Hendra merasa
Khansa tidak paham dengan situasinya.
“Ini bukankah, kau harus baik-baik dengan aku, jika ingin aku menyerahkan bibi
Fida kepadamu?” ujar Hendra licik.
“Mengapa kau melakukan
ini?” tanya sarkas Khansa.
“Apakah Tuan Muda
Ugraha sudah benar-benar tidak punya pekerjaan lain, dan sekarang hanya bisa
membuli seorang wanita.”
“Apa kau sedang
menghina aku,” ujar Hendra seraya menapuk dagu Khansa yang tertutupi cadar
halus.
“Kau ini benaran tidak
tahu malu ya, tak perlu menghinamu. Bagi aku kau sudah sangat hina dalam
pandangan aku,” jawab sarkas Khansa.
“katakan sekali lagi,
jika kau berani!” ujar Hendra dengan nada marah.
Sekali lagi Khansa
mendorong tubuh Hendra, agar menjauh darinya, “Sejak kapan Tuan muda Ugraha
menjadi lemah seperti ini,” sindir sarkas Khansa lagi.
Hendra pun tertawa,
dan berjalan mendekat ke arah Khansa lagi, “lemah katamu?”
“Apa kau ini seekor
lalat, kenapa suka sekali menempel sembarangan,” hina Khansa.
Hendra pun tertawa
dengan nada mengejek, “Apa kau ingin membuktikan jika aku tidak lemah?” tanya
Hendra seraya menunjuk ke arah ranjang besar di kamar hotel itu.
“Ha ha ha, jangan
bermimpi,” ujar Khansa sambil tertawa dan menepis tangan Hendra yang mencoba
membelai rambut panjangnya.
“Bahkan kau pun tidak
pantas memimpikan aku,” ujar sombong Khansa dengan nada menghina.
Khansa berkata sarkas
pada Hendra kalau Hendra meminta Khansa kemari karena ada alasan lain, “Kau
memanggil aku ke sini, karena tidak puas setelah tidur dengan Jihan semalam
kan?”
“Jaga bicaramu!” ujar
Hendra seraya menarik lengan Khansa dengan keras.
“Brengsek! Lepas,”
pekik Khansa seraya mendorong tubuh Hendra.
Khansa mau pergi,
“Transaksi batal, jika tidak ada bibi Fida!” jelas Khansa.
“Khansa, jangan
mendesakku!” bentak Hendra sambil mau menarik tangan Khansa lagi.
Khansa punya
persiapan, “Hendra, siapa yang mendesak siapa?"
“Apa kau sudah lupa!
Sepuluh tahun lalu kau memfitnahku!” hardik Khansa.
"Sepuluh tahun
kemudian kau datang Kembali hanya untuk memaksa aku tidur denganmu dengan
memanfaatkan bibi Fida.”
“ Apa Kau tidak malu
padaku dan ibuku?” Hardik Khansa lagi dengan lebih keras.
“Kau ini! Benar-benar
menjijikan sekali!” bentak Khansa tak kalah sengitnya.
Hendra langsung terpaku, Khansa menatapnya dengan mata yang memerah seperti
binatang buas.
Terdiam sesaat karena
sepersekian detik tadi hati Hendra merasa menciut melihat tatapan Khansa yang
seperti itu, lalu Hendra mengembalikan kesadarannya dan
bertanya,“kenapa kau mau tidur dengan pria lain selain dengan aku?”
“Katakan!” ujar Hendra
marah, dan
menggenggam tangan Khansa keras-keras sampai memerah.
“Apa kau berpikir aku
tidak mampu melakukan hal itu denganmu, karena itu kau berpetualang dari
pelukan satu pria ke pria lainnya?”
“Katakan dengan
jelas!” ujar Hendra dengan meluapkan semua emosinya di depan Khansa.
“kau benaran sudah
gila, aku benar-benar sudah tidak dapat mengenalimu lagi, kau sudah sangat
asing bagikku,” jelas Khansa.
Hendra membanting
gelas yang ada di dekatnya sampai pecah berkeping-keping, amarah di hatinya
sudah benar-benar memuncak ingin keluar dari ubun-ubun kepalanya.
Saat itu Hendra
mencari Khansa di desa sampai hampir gila karena tidak menemukan Khansa,
akhirnya Jihan memberitahu Hendra kalau Khansa bermalam dengan seorang pria
liar.
Akhirnya Khansa tahu
alasan dibalik ucapan Hendra kalau dirinya adalah playgirl. Itu semua karena
hasutan Jihan, padahal saat itu Khansa sedang menolong seorang pria yang
memang tidak di kenalnya.
Khansa tertawa sampai
menangis, karena Hendra percaya semudah itu pada ucapan Jihan, “Jadi kau lebih
mempercayai perkataan Jihan!”
“Apa yang kau pikirkan
saat itu, sampai-sampai sangat mempercai Jihan dari pada aku,” tukas khansa.
“Ternyata aku benaran
salah menilaimu ketika dulu kita tumbuh bersama, ternyata kau benaran tidak
mengenal aku seperti apa,” tukas Khansa.
“Kenangan tentang masa
itu, memang sungguh layak aku hapus,” Hardik pelan Khansa kepada Hendra.
“Kau mau kemana?”
tahan Hendra kepada Khansa.
“Jangan membuat aku
lebih benci kepadamu, jadi jangan halangin jalan aku,” tukas Khansa.
Hendra berusaha keras
membuat Khansa tinggal, tapi Khansa mengulang ucapannya tadi, “Hanya ada
transaksi jika bibi Fida ada, apa kau paham?” menatap marah, Khansa
kemudian pergi.
Hendra hanya bisa
menatapi kepergian Khansa yang menghilang di balik pintu kamar hotel itu.
Nampak kesal, Hendra menghancurkan beberapa barang yang ada di dekatnya.
"Arrgh …! Teriak
Hendra seraya menendang kursi yanh ada di dekatnya sampai terpental.
Sepulangnya ke Vila
Anggrek, Emily dan Khansa mengobrol dengan chat, Emily bertanya apakah Khansa
masih ingat pria yang ditolongnya saat itu.
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 29 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar