PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 31 : MISI PENYELAMATAN)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 31 : MISI PENYELAMATAN)
Khansa menatapi ponselnya lama sekali, menimbang-nimbang apakah mau membalas pesan Leon atau tidak. Berpikir sedikit lama, tapi pada akhirnya tak kunjung membalas pesan itu.
“Tidak usah,” gumam
Khansa sedikit kesal, karena masih terngiang-ngiang suara wanita yang waktu itu
mengangkat panggilan telpon darinya.
“Saat ini membalas
pesanmu tidak penting, Menyelamatkan bibi Fida, itu lebih penting,” ujar Khansa
seraya memasukan ponselnya ke dalam tas slempangnya dan mulai bergegas
meninggalkan rumah utama keluara Sebastian.
Khansa ingin
membentengi hatinya agar tidak tergoda oleh Leon dan juga tidak ingin
memberi kesempatan bagi Leon untuk menyakiti dirinya.
Karena itu tidak ingin
membuka hati untuk Leon. Menepis semua rasa ketergantungannya terhadap pria
yang bernama Leon itu.
Khansa tidak ingin
mengulang rasa sakit yang selama ini menggelayut di hatinya, rasa sakit
terbuang dan terkhianati.
Dua hal yang sudah
cukup kenyang Khansa rasakan selama sepuluh tahun ini. Jadi bagi Khansa tidak
menempatkan Leon dalam sudut hatinya adalah sudah sikap yang paling benar dan bagus.
Teringat akan bibi
Fida lagi, maka Khansa pun keluar menuju ke perumahan penduduk di area luar
kota Palembang, menuju ke lokasi yang sudah Emily kirimkan ke ponselnya. Khansa
hanya tinggal megikuti arah peta ini maka dirinya akan segera bertemu dengan
bibi Fida.
……
Leon sudah pulang ke Palembang, Hansen dan Simon menjemput Leon di bandara
dengan mobil mewah bermodel panjang.
Leon menatapi ponsel
di tangannya, isi pesan, [Sudah tidur?] tidak dibalas sejak tadi, Leon
sudah mengernyitkan alis.
“Gadis itu benar-benar
deh,” gumamnya.
Dalam dunia bisnis,
Leon adalah rajanya. Mana ada yang berani bersaing, menolak dan membantahnya.
Jika pun ada yang berani bersaing jelas pasti akan menelan kekalahan.
Lihat saja supercar
yang Leon kirim untuk menjemput Khansa, itu adalah supercar seharga
ratusan milliar.
Jadi ketika melihat
Khansa, gadis kecil yang telah menjadi istrinya ini malah mengabaikannya, sudah
tentu membuat wajah Leon mendingin.
Wajah Leon terlihat
semakin mendingin, Khansa adalah satu-satunya nomor yang dia simpan secara
pribadi di ponselnya, dah sekarang bahkan pesan WhatsApp nya pun tidak
dijawabnya.
“Kau ini
sungguh-sungguh memiliki keberanian yang tinggi, Hah! Berani sekali mengabaikan
aku,” gumam Leon.
Simon dan Hansen yang
duduk di baris depan memperhatikan raut wajah Leon. Ini adalah sebuah
ekpresi yang tidak pernah mereka temui sepanjang kedekatan mereka selama ini.
Hansen dan Simon saling bertatapan, lalu kompak menertawai Leon.
“Hei! Ini kenapa kau
jadi pulang lebih awal,” tanya Hansen.
“Kak! dari tadi
menatapi ponsel terus?” tanya Simon sedikit menggodai Leon.
Mereka terus menggodai
Leon dan terus bertanya, karena mereka menebak ini pasti ada hubungannya dengan
pengantin penggantinya.
“Apa kau sedang rindu
dengan istri kecilmu itu? Sehingga memangkas semua jadwal kerjamu dan langsung
kembali terbang ke Palembang?” tanya Hansen untuk mengkonfirmasi situasi Leon.
“Wuaah … Kakak ipar
benar-benar hebat! Bisa mengendalikan Kak Leon,” puji Simon kepada Khansa.
Leon hanya mengulum
bibirnya sendiri dalam diam, dengan sedikit menyeringai. Merasa sudah tak sabar
hati, karena Khansa sedari tadi tidak membalas pasannya, maka Leon pun segera
menelepon Paman Indra di Vila Anggrek untuk menanyakan apa Khansa sudah tidur,
Paman Indra
memberitahu kalau Khansa baru keluar, “Nyonya pergi keluar seorang diri,”
jawabnya.
Mendengar keterangan
dari Paman Indra, Leon merasa sedikit tidak puas, mengapa setiap kali ada
sesuatu Khansa seperti tidak membutuhkan bantuannya, dan selalu memilih
menyelesaikannya sendiri.
Leon menutup sambungan
teleponnya dengan Paman Indra dan meminta Gerry asisten pribadinya untuk
melacak keberadaan Khansa, “Temukan Nyonya!”
Sementara Gerry
mencari keberadaan Khansa, orang yang di cari malah sudah sampai ke tempat yang
dituju. Khansa sampai di luar kota dan menemukan perumahan itu.
Khansa mengeluarkan
lagi ponselnya, dan mengecek titik berhenti dari map website yang ada di
ponselnya, “ketemu,” ujarnya.
Khansa mengendap-endap
lalu membuka pintu rumah itu dengan perlahan dan segera melihat Bibi Fida yang
terbaring di atas ranjang. Khansa segera ke sana dan membangunkan bibi
Fida dengan lembut, “Bi Fida, bukalah matamu. Ini aku.”
“Bibi!” Panggil Khansa
lagi.
Bibi Fida pun
terbangun, Bibi Fida membuka matanya dengan lemah, pandangannya langsung berbinar
saat melihat Khansa yang sudah bersimupuh di sisi ranjangnya.
Khansa memperhatikan
Bibi Fida, yang sudah tak semuda dalam ingatannya dulu. Guratan kerutan di
wajahnya terlihat jelas, terutama gari-garis di samping bagian matanya.
“Nona kecil,” panggil
Bibi Fida.
“Iya Bi! Ini khansa,”
tukas haru Khansa seraya menggenggam kedua tangan Bibi Fida.
Bibi Fida masih sulit
percaya jika saat ini Khansa muncul di hadapannya. Bibi Fida terharu sampai
menangis dan segera batuk keras yang mengeluarkan darah.
Melihatnya tentu saja
membuat Khansa khawatir “Bibi!”
“Bibi! Sakit,” ujar
Khawatir Khansa lagi.
Khansa menilai gejala
ini bisa menandai adanya penyakit saluran pernapasan yang bersifat serius.
Berpikir jika ada kerusakan pada pembuluh darah di saluran pernapasan,
“tuberkulosis,” gumam pelan Khansa.
khansa memikirkan
Fakta penyebab batuk berdarah Bibi Fida. Ini berarti ada Lesi atau area
jaringan yang rusak.
Kalau lesinya mengenai
paru-parunya dan pembuluh darah di sekitarnya, membuat hal tersebut menjadi rapuh
yang menimbulkan batuk darah, Kebanyakan lesi paru-paru disebabkan oleh
penyakit bakteri atau virus atau kanker.
Mengetahui tentang
Fakta ini, membuat khansa menangis, Khansa pun memeluk Bibi Fida. Khansa segera
mengecek nadi Bibi Fida.
Khansa meraba nadi di
pergelangan lengan Bibi Fida, Khansa memposisikan tangan kirinya dibawah dan
meletakan tiga jari tangan kanan di pergelangan lengan Bibi Fida.
Khansa menekan dengan
lembut, Khansa mencari ‘lokasi’ yang pas sampai benar-benar merasakan
denyut nadi Bibi Fida, lalu Khansa mulai menghitung denyut nadi.
Khansa menghitung
denyut nadi dalam waktu sepuluh detik, kemudian dikalikan dengan enam untuk
mendapat angka denyut nadi per menit. Khansa menghitung denyut nadi
sebanyak tiga kali, kemudian mengambil rata-rata dari ketiganya untuk
benar-benar yakin.
Khansa pun memandang
sedih kepada Bibi Fida, “Ini kemungkinan denyut nadi dan irama jantung tak
sesuai hingga mengganggu kenyamanan tubuh,” pikir Khansa.
“Hendra, kenapa kau
begitu jahat!” gumam Khansa merutuki Hendra.
Hendra tahu betul
kedudukan Bibi Fida di dalam hatinya. Namun, malah dengan mudahnya menjadikan
Bibi Fida sebagai Tahanannya. Tapi, mengabaikan kesehatannya.
Tubuh Bibi Fida sudah
lemah sekali dan bisa bertahan sejauh ini karena kerinduannya untuk bertemu
dengan Khansa.
“Bibi! Tenanglah,
nanti aku akan mengobatimu,” janji Khansa.
“Sekarang Bibi, harus
kuat dulu. Kita pergi dari tempat ini ya,” tukas Khansa.
Bibi Fida mengangguk
tanda memahami dan mempercayai nona kecilnya ini. Khansa segera membantu
Bibi Fida berdiri dan keduanya keluar dari perumahan. Saat ini Hendra tiba-tiba
muncul.

Komentar
Posting Komentar