PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 32 : TERTANGKAP BASAH )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 32 : TERTANGKAP BASAH )
“K-kau …” ujar Khansa terkejut.
Hendra menyeringai
tersenyum sambil bersedekap. Hendra datang dengan membawa sekelompok pengawal
berbaju hitam, bertanya Khansa mau membawa Bibi Fida kemana.
“Mau pergi tanpa pamit
dengan Tuan rumah?”
“Ah! Kau sudah pasti
tidak akan pamit, kan tamu tidak di undang,” ujar Hendra seraya mengambil bibi
Fida dari papahan tangan Khansa.
Khansa penasaran kenapa
Hendra bisa tahu dirinya kemari, “Ini kenapa dia bisa tahu?” gumam pelan
Khansa.
Seakaan mengetahui apa
yang ada di pikiran Khansa, Hendra berjalan mendekati Khansa, “kenapa? Bingung
karena aku bisa tahu gerak-gerikmu?” tanya Hendra.
Khansa, “…”
“Aku terlalu
mengenalmu dengan baik sayang!” ujar Hendra seraya menyelipkan rambut Khansa ke
balik telingganya.
“Karena itu, hanya
akulah yang pantas menjadi priamu, hanya aku yang pantas memilikimu,” jelas
Hendra.
Hendra selalu tahu
kalau Khansa sangat cerdik, maka membawa anggota kesini untuk mencegah hal yang
tidak diinginkan adalah sudah tepat.
Memiliki bibi Fida di
tangannya, itu sama saja seperti memiliki tiket emas, tanpa meminta Khansa
datang, maka Khansa akan datang dengan sendirinya, begitu Khansa mengetahui
lokasi bibi Fida.
Akhirnya Khansa
benar-benar sungguh datang, untuk menyelamatkan bibi Fida. Hendra sudah menebak
langkah Khansa yang ini, karena Khansa begitu menyayangi bibi Fida.
Khansa menjelaskan
keadaan bibi Fida yang sudah gawat, “Bibi Fida sakit parah, aku mohon bawa Bibi
Fida ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.”
Khansa berusaha
mengambil bibi Fida dari pegangan salah satu pengawal Hendra, Khansa memang
bisa memakai jarum perak, namun melawan begitu banyak orang sendirian dan
dengan bibi Fida di jadikan sandera, sungguh itu bukan situasi yang memihak
kepada Khansa.
Khansa benar-benar
memohon kepada Hendra agar mau membawa dan mengantar bibi Fida berobat ke rumah
sakit dulu.
“Aku mohon!” pinta
Khansa sekali lagi seraya memegang lengan Hendra.
“Tidakkah kau lihat,
keadaannya sudah sangat parah,” ujar Khansa.
Hendra melihat tangan
putih Khansa, jari-jarinya yang terlihat imut manis itu yang tengah memegangi
lengannya, merasa seketika saja hatinya terhujani oleh jarum-jarum pentul yang
menusuk hatinya dan memberikan sensasi menggelitik geli sampai menjalar ke
sekujur tubuh.
Hendra mengalihkan
pandangannya ke arah bibi Fida, Hendra melihat ada bercak darah di daster putih
bibi Fida.
Hendra berpikir
sejenak, lalu mengijinkan bibi Fida dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa,
asalkan Khansa harus tinggal untuk menyelesaikan transaksi mereka yang tertunda
di hotel waktu itu.
“Asal kau tinggal
disini untuk menemani aku, maka aku akan mengatur perawatan terbaik untuk Bibi
Fida,” Hendra memberikan penawarannya.
Khansa mengerutkan
alis, jelas sekali kali ini Khansa tidak punya kuasa untuk menolak, terdiam
sesaat akhirnya Khansa mengangguk setuju.
“Baik! Setuju, kau
segera bawa Bibi Fida ke rumah sakit terbaik dengan penanganan dokter terbaik.”
Bagi Khansa prioritas
utama saat ini adalah memberi pertolongan pertama pada bibi Fida, batuk bibi
Fida sudah sampai mengeluarkan darah, tidak ingin kerusakan pada area jaringan
paru-paru bibi Fida semakin parah dan menjalar, maka bini Fida harus segera
mendapatkan pertolongan medis.
Karena kondisi bibi
Fida ini, membuat Khansa mau tak mau sedikit mengalah dulu terhadap kemauan
Hendra.
Begitu melihat Khansa
mengangguk Hendra menjentikan jarinya, memberikan tanda kepada
pengawalnya untuk membawa bibi Fida ke rumah sakit. Dua pengawal maju ke depan
dan membawa bibi Fida naik ke mobil.
Hendra mencengkram
bahu Khansa dan menyeretnya ke dalam rumah, “saatnya memenuhi janji yang
tertunda,” bisik parau Hendra yang terdengar sudah sangat tidak sabar.
Senyuman Hendra
terlihat begitu sumringah, setelah menutup pintu rumah, Hendra langsung membawa
Khansa ke kamar utama.
Hendra segera
mendorong Khansa ke atas ranjang besar bergaya Eropa miliknya itu. Hendra
memperingati Khansa agar jangan macam-macam.
“Jangan pernah mencoba
melawan aku, jadilah Khansa kecilku yang penurut! Ok,” ujar Hendra mengingatkan
betapa dulu Khansa sangat patuh kepadanya ketika di masa kecil.
“Kau bertumbuh dewasa
dengan sangat sempurna, sangat cantik,” puji Hendra.
“Apa saat ini kau
tidak ingat dengan Jihan?” tanya Khansa.
“Apa kau tak punya
rasa malu, kemarin tidur dengannya dan sekarang berniat meniduriku?” tanya
sarkas Khansa lagi.
“Apa dalam otakmu itu
hanya berisi tentang hal ini saja?” ujar Khansa sambil mentertawai Hendra
“Jangan menguji batas
kesabaran aku,” ujar Hendra marah lalu ingin membuka cadar di wajah Khansa.
Hendra tak sabar ingin
melihat rupa sempurna Khansa dari balik cadar itu, mata dan alisnya saja sudah
begitu indah, hidung mancung yang Hendra ingat ketika melihat foto Khansa bayi
dulu, bibir merah ranum. Sekarang ketika Khansa dewasa itu pasti akan sangat
enak ketika dinikmati, dikecup, direngkuh dalam-dalam. Hendra berencana malam
ini akan membuat Khansa merasakan sesak nafas karena nikmat surga dunia.
“Akan aku tunjukan apa
itu surga dunia,” tukas Hendra sambil tertawa mesum.
Saat tangan Hendra
hampir menyentuh cadar itu, pandangan Khansa jadi dingin dan langsung
saja mengeluarkan jarum perak yang sudah dia persiapkan sebagai senjata.
Khansa mengarahkan
jarum ke bagian belakang leher Hendra. Namun, kecepatan tangan Khansa masih
bisa ditangkis oleh Hendra dengan mudah.
Hendra mencengkram
pergelangan tangan Khansa, “Sasa, aku terlalu mengerti dirimu, trik kecilmu ini
tidak akan bisa membuatmu lolos dariku!”
Khansa menyeringai
dingin, “Oh ya?”
“Trik kecilku ini
mungkin bisa kau tangkis!” ujar Khansa sedikit meledek.
“Namun trik yang satu
ini, pria mana pun akan kesulitan untuk menangkisnya!” tukas Khansa seraya
menendang bagian bawah Hendra dengan gerakan cepat.
Khansa mendorong tubuh
Hendra, yang sedang menahan sakit karena tendangan dari Khansa. Mencoba
melarikan diri dari jeratan Hendra.
Hendra paling benci
ditipu dan dikhianati oleh Khansa, Hendra bergegas maju ke depan dan menarik
Khansa ke dalam pelukannya lagi.
Hendra menunduk ingin
mencium Khansa, “Sasa, kamu tidak seharusnya membuatku marah! Aku sudah bilang
kalau kamu ini milikku, hati dan ragamu semuanya milikku!”
“Priamu hanya aku, dan
hanya boleh aku. Tempatmu adalah di sini, di sisiku, hanya aku yang boleh
bersamamu,” ungkap Hendra.
“Apa kau paham?”
Hendra mempertegas perkataannya tadi.
Hendra masih berusaha
untuk mencium Khansa, wanita yang dicari-cari sudah berada di depan mata dan
dalam pelukan. Jadi mana mungkin ketika waktu berharga ini datang, tidak dia
manfaatkan dengan baik.
Khansa berusaha keras
berontak karena tidak ingin dicium oleh Hendra, Khansa sadar pria ini sudah
bukan kak Hendra yang dulu dikenalnya lagi.
“Brengsek, mana boleh
kau sentuh aku sesukamu,” pekik Khansa dengan tidak rela.
“Lepaskan aku!” pekik
marah Khansa lagi.
“Brengsek!” hardik
Khansa.
Saat ini tiba-tiba
terdengar suara yang keras, pintu rumah ditendang dan terdengar suara bariton,
“Lepaskan tangan kotormu darinya!”
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar