PENGANTIN PENGGANTI (BAB 33 : PAHLAWAN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 33 : PAHLAWAN)
Hendra melihat Leon berdiri dengan angkuhnya di depan pintu kamarnya. Leon berjalan dengan kaki panjangnya, itu terlihat elegan, arogan. Aura ingin membunuh pun terasa keluar dari seluruh tubuh Leon.
Khansa terdiam sesaat,
melihat suaminya itu mendobrak pintu kamar Hendra yang besar itu, “Dia terlihat
sedang tidak sakit, jika sedang sekuat ini,” pikir Khansa.
Melihat Khansa dalam
rangkulan Hendra, Leon pun melangkah maju, “nampaknya sedang ada yang mau
berebut dengan aku,” gumam pelan Leon.
“Siapa kau! Beraninya
menerobos masuk ke area pribadi Ugraha,” hardik Hendra dengan nada tinggi,
marah.
Wajar saja jika
Hendra tidak kenal dengan Leon, karena memang Hendra belum
pernah bertemu dengan Leon sebelumnya.
Hendra tetap tidak
ingin melepaskan Khansa dari pelukannya, tubuh mungil Khansa berontak keras,
Hendra memeluki dari belakang tubuh Khansa dengan sedikit mengangkat tubuh
Khansa, sehingga ketika Khansa berontak ingin melepaskan diri dari jeratan
Hendra, maka kaki-kaki mungil Khansa itu seperti melayang di udara karena
gerakan menendang-nendangnya.
“Kau ini … mengapa tidak
mau melepaskan aku, hah!” hardik marah Khansa dengan masih terus bergerak
serampangan.
Leon yang melihat
Khansa saat ini sedang ada di pelukan pria lain, jelas tidak bisa menerima,
jika tadi hati Hendra seperti terhujani jarum pentul, maka beda lagi dengan
hati Leon yang saat ini tengah merasa hatinya seperti sedang ditembaki
oleh meriam berukuran besar lalu meledakan hatinya berkali-kali lipat.
Leon berpikir jika
malam pertama mereka kala itu, jika bukan karena ada nenek Sebastian yang
menguping, maka Leon tidak akan bersandiwara untuk sedikit menyentuh Khansa.
Setelah hari itu, Leon
benar-benar menahan diri untuk tidak menyentuh Khansa, jika Khansa tidak
menginginkan untuk disentuh olehnya, maka Leon tidak akan sembarang menyentuh.
Tapi, sekarang apa yang dilihat di depan matanya ini, benar-benar merusak
pandangan matanya dan juga merusak hatinya. Leon pun memberikan tatapan
membunuh kepada Hendra.
Dari pandangan mata
Leon, itu seakan keluar kata-kata, “singkirkan tangan kotormu dari
kepemilikan aku.”
Pandangan Leon yang
dingin dan menusuk membuat Hendra merinding dan tanpa sadar melepaskan
tangannya dari tubuh Khansa, “pria ini mengapa terlihat begitu menyeramkan.”
“Hanya dengan
memandang saja, sudah terasa aura ingin membunuh yang keluar dari seluruh tubuhnya,
membuat lawan merasa bergidik” pikir Hendra lagi.
Khansa pun terhuyung
jatuh ke lantai, karena Hendra melepaskan pelukannya. Khansa menatap ke arah
Leon yang sudah terlihat diliputi oleh kesangaran. Khansa terkejut ketika
melihat ada Simon dan Hansen juga datang.
“Kalian …” ujar Khansa
bingung, seraya berusaha untuk bangun.
Hendra lebih terkejut
lagi, ketika melihat Simon dan Hansen masuk ke kamar utama. Kedatangan Simon
dan Hansen membuat Hendra terdiam, karena mereka berdua adalah salah satu dari
empat keluarga teratas di Palembang.
Ketika melihat Khansa
ingin melarikan diri, Hendra segera ingin menangkapnya lagi, tak rela jika
Khansa hilang lagi dari jangkauannya lagi. Simon dan Hansen memperingati
Hendra untuk melepaskan Khansa ketika melihat Hendra ingin menarik Khansa lagi.
“Tuan ugraha,” panggil
Simon.
“Jangan main-main
dengan wanita ini, jika kau tidak ingin menerima akibatnya,” ujar Simon dengan
nada sedikit menghina.
“Wanita ini sudah ada
yang punya, jadi sedikit pun kau tidak memiliki hak atas dirinya” ujar Hansen
menambahi.
Leon mengacuhkan
Hendra, dan malah mendorong tubuh Hendra sampai terhuyung menjauhi Khansa. Leon
mendekati Khansa sambil bertanya, “Kamu tidak beritahu padanya kamu ini milik
siapa?”
“A-aku …” jawab Khansa
yang tiba-tiba masuk dalam kelimbungan yang lebih dalam lagi.
Leon lalu menggendong
Khansa di bahunya lalu berjalan keluar, “lain kali! Jika nakal seperti
ini lagi, akan aku patahkan kakimu,” ancam Leon sambil memukul bokong Khansa.
Khansa merasa sangat
malu, “pria ini! Mengapa menggendong aku seperti sedang memanggul sekarung
beras!” pikir Khansa.
Melihat Leon telah
membawa Khansa, maka Simon dan Hansen pun ikut melangkah pergi meninggalakan
kediaman Ugraha.
Hendra tidak tahan
saat melihat punggung Leon yang menuju keluar dari rumahnya sambil membawa
Khansa.
Hendra bertanya siapa
Leon itu sebenarnya, “Hei! Kau ini siapa? Berani menerabas masuk ke kediaman
Ugraha,” pekik Hendra masih dengan nada sombongnya.
“Siapa yang memberimu
keberanian untuk itu Hah!?”
“Hei! Apa kau tuli?
Aku sedang bicara kepadamu?” teriak Hendra kepada Leon.
“Dasar sial,” hardik
Hendra kepada Leon.
Leon tidak
menghentikan langkahnya, hanya tersenyum dingin sambil memperingati Hendra,
“Nanti kamu akan tahu aku siapa! Kalau kejadian ini terulang lagi.”
Leon dan Khansa
langsung menghilang dari pandangan Hendra. Hendra mencoba menyeimbangkan
pikirannya tentang khansa dan pria yang baru saja membawanya pergi itu, lalu
mengaitkannya dengan Simon dan Hansen, dua tuan muda dari keluarga besar yang
berkuasa di Palembang juga.
Hendra segera
terpikirkan sebuah kemungkinan, di Palembang ini hanya ada empat keluarga besar
yang memiliki kekuasaan. Yaitu keluarganya, keluarga Ugraha, lalu keluarga
Mahendra, dan Keluarga Kawindra dan berarti seharusnya pria yang Hendra lihat
tadi adalah tuan muda dari keluarga Sebastian.
Melihat tuan muda
Mahendra, tuan muda Kawindra tadi datang bersama pria yang membawa Khansa
pergi, Handra pun semakin yakin dengan kesimpulannya.
“Mungkinkah pria ini
Leon Sebastian?” gumamnya.
“Kenapa Khansa bisa
berhubungan dengan orang sehebat Leon Sebastian?”
“Apakah Leon Sebastian
adalah sugar baby yang pernah Jihan ceritakan waktu itu.”
“Kenapa bisa ada
kebetulan seperti ini di dunia?” gumam Hendra lagi meski masih sedikit
menyangsikan kesimpulannya itu.
……
Khansa digendong Leon, degan langkah panjanhnya, Leon membawa Khansa masuk ke
dalam mobil mewah yang bermodel panjang itu. Leon duduk di barisan belakang dan
Khansa masih berada di dalam pelukan Leon, duduk di antara kedua paha Leon
dalam diam.
Khansa tidak berani
banyak bergerak, melihat wajah Leon yang mendingin, membuat hati Khansa menciut
juga, ini lebih menyeramnkan dari waktu ketika Khansa bermain dengan
harimau-harimau kecil dulu.
Wajah Khansa memerah,
karena sepertinya Leon enggan melepaskannya, karena ketika Khansa ingin
bergerak, Leon malah mengeratkan rangkulan kedua tangannya di pinggul
Khansa.
“Jangan bergerak
sembarangan!” Leon mengingatkan Khansa.
“Jika tidak ingin aku
makan kau disini, maka diamlah,” ujar Leon memperingatkan.
Khansa pun menciut
kembali seperti putri malu yang baru saja disentuh, langsung saja mengkuncup.
Khansa tiba-tiba
teringat pada bibi Fida, Khansa pun dengan canggung menatap wajah Leon, “Bibi
Fida, pengasuh aku dulu sedang sakit. Tadi orangnya Hendra membawa bibi Fida ke
rumah sakit,”
kedua mata Khansa dan
Leon saling beradu temu tatap. Khansa merasa semakin canggung saat bertatapan
dengan Leon.
Apalagi dalam situasi
seperti ini, Wajah Leon meski tampan namun tetap saja itu tidak sedap
dipandang, “Apa pria ini sedang marah ke aku,” pikir Khansa.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar