PENGANTIN PENGGANTI (BAB 34 : AKHIRNYA SELAMAT)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 34 : AKHIRNYA SELAMAT)
Untuk menghilangkan kecanggungan, Khansa pun berpura-pura sedikit terbatuk, lalu Khansa menghindari tatapan Leon, seraya mengucapkan terima kasih sambil sedikit merapihkan rambutnya.
Dalam hati Khansa
merasa beruntung karena Leon datang tepat waktu, jika tidak entah apa yang akan
terjadi, bisa-bisa tadi Hendra yang akan mengambil malam pertamanya.
“Terima kasih banyak
karena tadi sudah datang tepat waktu dan menolong aku.”
“Tugas suami
melindungi istri,” jawab ringan Leon.
“Ya, kau betul! Tugas
suami memang seharusnya melindungi istrinya,” jawab Khansa membenarkan
perkataan Leon, namun di kepalanya malah berkelebat pemikirin sebaliknya.
Idealnya memang
seharusnya suami adalah pelindung bagi wanita yang sah menjadi istri mereka.
Tapi pada kenyataannya banyak dijumpai justru ada suami yan menjadi
sumber malapetaka bagi istri, menyakiti dan menyiksanya dengan kekerasan dalam
rumah tangga, dan berakhir dengan perceraian yang memberikan kenangan pahit
dalam hidup.
Merasa canggung dan
malu, Khansa pun mencoba mengalihakan perhatian pandangannya pada hal lain.
Leon pun
menyunggingkan senyum saat melihat Khansa menghindar seperti itu, “Masih ada
yang mau dikatakan padaku selain terima kasih?” Leon terus menggoda Khansa.
Khansa diam dan
menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Leon sambil menyilangkan kedua
tangannya berbentuk tanda huruf x. Leon merapikan pakaian Khansa yang
berantakan karena ulah Hendra tadi, Khansa salah paham dengan perbuatan Leon,
“kau mau apa?” tanya Khansa malu-malu, seraya mengeratkan kemejanya.
Leon berkata, “Kamu
ingin aku berbuat apa?" ujar Leon seraya menatapi wajah Khansa yang
memerah.
“Mobil goyang
bersamamu?” ujar Leon lagi menggodai Khansa lagi dengan sedikit tertawa.
“Mobil goyang?” gumam
Khansa mengulangi perkataan Leon.
“Itu lho …” jelas Leon
seraya membisikan penjelasannya kepad Khansa.
“Hissh … mana ada, kau
ini! Benar-benar deh” gumam kesal Khansa seraya memasang wajah cemberutnya.
Leon pun menyunggingkan
senyumannya lagi, karena merasa gemas dengan ekspresi malu-malu Khansa saat
ini.
Leon malah memandangi
wajah Khansa dengan intens, menelisik wajah rupa Khansa di balik cadar yang
Khansa pakai.
Membayangkan betapa
istri kecilnya ini pasti sangatlah cantik, sampai-sampai membuat tuan muda
Ugraha pun menginginkannya.
Ada rasa ngilu yang
tidak enak dihati Leon Ketika mengingat tadi waktu Hendra menempelkan kulitnya
di kulit putih istri kecilnya ini. Hati Leon pun seperti berdentum dengan
kencang lagi, Ketika mengingat waktu tadi Khansa di kamar Hendra.
Merasa sedang ditatapi
oleh Leon, Khansa pun merasa malu dan memillih untuk mengalihkan topik, “Aku
ingin ke rumah sakit untuk menjenguk bibi Fida!” pinta Khansa.
Leon tidak merespon,
Khansa ingin melepaskan diri lagi dari pelukan Leon, tapi Leon tidak
mengizinkan hal itu, Leon mencubit pinggang Khansa dan bertanya, “ Ingatkah
perkataanku dulu? Telepon aku kalau ada masalah yang tidak bisa kamu
selesaikan.”
“A-aku …” jawab Khansa
terbata.
“Aku hanya tidak mau merepotkanmu,”
ujar Khansa.
“Merepotakan? Apa kau
tidak menganggap aku ini suamimu?” tukas Leon.
“Hal yang masih bisa
kuselesaikan sendiri, maka aku akan selesaikan sendiri,”
“Lagipula hubungan
kita hanya sebatas kesepakatan saja, tidak perlu mencampuri urusan
masing-masing,” jelas Khansa.
Meski memang Leon yang
meminta tentang hal ini. Namun, tetap saja kalimat yang Khansa ucapkan
tadi tidak enak didengar di telinga Leon.
Ekspresi Leon pun
jadi kesal ketika mendengar jawaban Khansa. Leon memarahi Khansa tidak
berhati nurani, kemudian mengusir Khansa agar duduk di samping.
Khansa merasa sikap
Leon sangat aneh, tapi juga menuruti Leon, “kenapa dia terlihat jadi marah,
bukankah dia sendiri yang mengajukan kesepakatan pernikahan itu.”
Keduanya pun terdiam
sepanjang perjalanan dan sampai di rumah sakit tiga puluh menit kemudian.
Leon langsung membawa Khansa ke ruang rawat inap bibi Fida.
Leon menempatkan bibi
Fida di kamar VVIP dan memberikan team dokter terbaik untuk merawat bibi Fida,
karena Leon memahami jika bibi Fida adalah seoarang yang teramat penting di
dalam hidup Khansa. Karena itu Leon ingin membantu Khansa menjaga bibi Fida.
Tadinya Leon berharap
mendapat pujian dari istri kecilnya ini, namun siapa sangka malah istri
kecilnya ini mengatakan hal yang Leon anggap tidak berhati nurani.
Bibi Fida berada di
ruang inap VVIP dan masih dalam keadaan pingsan. Kondisinya terlihat
tidak begitu baik. Baru saja leon dan Khansa masuk, beberapa dokter dan perawat
datang masuk ke kamar rawat bibi Fida, lalu dokter mulai menerangkan tentang
keadaan bibi Fida.
Dokter menjelaskan
sudah memberi penanganan pada sakit bibi Fida, berupa Penanganan dengan
memberikan obat anti tuberkulosis yang harus terus diminum oleh
bibi Fida secara terus menerus selama enam bulan.
Dokter ahli penyakit
dalam itu pun menjelaskan lebih lanjut lagi jika obat anti tuberkulosis tidak
bisa langsung menghentikan gejala TB saat itu juga setelah diminum dalam arti
batuk darah yang bibi Fida derita ini tidak bisa langsung berhenti dengan
cepat.
Pada umumnya gejala TB
akan berkurang atau menghilang setelah dua bulan pengobatan, dan tidak boleh
putus meminum obatnya, karena jika putus, maka pengobatan harus dimulai dari
tahap awal lagi. Selain dengan pengobatan
menggunakan obat anti
tuberkolosis, pasien TB juga diberikan obat-obatan tambahan seperti penurun
demam, obat batuk, obat sesak.
“Kondisinya
benar-benar sudah sangat buruk,” jelas dokter ahli itu lagi.
“Jelaskan kepada aku!”
pinta Khansa dengan rasa penuh ingin tahu.
Dokter juga mengatakan
bahwa bibi Fida tengah mengalami sesak nafas yang sangat parah, Khansa
hampir-hampir menangis dengan keras ketika mendengar cerita dari dokter, dokter
juga mengatakan jika tadi bibi Fida sempat tersadar lalu dokter mengajukan
beberapa pertanyaan kepada Bibi Fida.
Dari hasil
pembicaraan tersebut bibi Fida mengatakan bahwa dirinya mengalami batuk darah
yang sangat parah, yang tak kunjung reda dalam beberapa bulan terakhir
ini.
Begitu parahnya
sehingga Ketika batuk ada darah segar yang keluar dari mulut bibi
Fida sebanyak 600ml,hari beberapa hari kemudian terjadi lagi hal yang sama. Dan
keesokan harinya terjadi lagi hal yang sama.
“Bibi!” panggil Khansa
dalam isak tangisnya.
Khansa menangis sambil
meletakan kepalanya di samping tubuh bibi Fida yang sedang tak sadarkan diri
itu, Khansa merasakan semua kesakitan yang bibi Fida harus alami, karena
keegoisan tuan muda Ugraha “Bibi! Jangan sakit, apa Bibi Fida sudah tidak
sayang lagi dengan aku,” gumam isak tangis Khansa.
Khansa duduk di tepi
ranjang sambil memegang tangan bibi Fida yang dingin. Khansa mengusap-usapnya
dengan lembut, mencoba menghangatkan tangan bibi Fida, tangan yang sudah
merawat ibunya dan juga dirinya.
“Bibi! Lekas sembuh,”
pinta Khansa menyedih.
“Tidakah kau
merindukan bermain Bersama aku,” ujar Khansa lagi dengan sesegukan.
Khansa merasa sangat sedih. Saat ini, Leon memberikan sebuah benda pada
Khansa.

Komentar
Posting Komentar