PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 35 : MENCECARNYA )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 35 : MENCECARNYA )
Khansa mendongak dan melihat Leon membawa makanan untuknya. Khansa tak menyangka jika Leon masih belum pulang, Leon masih ada di rumah sakit untuk menemaninya, khansa juga melihat Hansen dan Simon juga ikut datang bersama Leon, mereka berdua berdiri di depan pintu sambil menyapa Khansa, “Kakak Ipar,” sapa Simon.
“kalian datang
juga?" ujar Khansa.
Mengingat ketika tadi
Simon dan Hansen ikut menolongnya dari jeratan Hendra, maka Khansa juga
mengucapkan terima kasih kepada keduanya, "Terima kasih untuk yang tadi
ya,” ujar Khansa kepada Simon dan Hansen.
“Santai saja! Menjaga
kakak ipar, sudah tentu menjadi kewajiban aku juga sekarang,” jawab Simon
sambil tertawa senang.
“Tenang saja Kak, ada
kami kelak tidak akan ada yang berani membuli kakak ipar lagi,” celoteh Simon.
“Jika butuh bantuan
kami, telepon dan panggil saja kami,” ujar Hansen.
“Berikan nomor ponsel
Kakak ke aku, biar aku simpan!” Tukas Simon.
Belum juga menyebutkan
nomor ponsslnya, Leon langsung menarik Khansa duduk di meja makan yang ada di
kamar rawat inap VVIP tersebut, lalu meminta Khansa makan dulu. “Makanlah,
menjaga orang sakit juga membutuhkan tenaga, Nasehat Leon."
“Apa kau sudah makan?”
tanya Khansa kepada Leon.
“Emm …” jawab Leon
seraya mengangguk.
Khansa menatapi Leon
sebentar, lalu melirik kepada dua teman akrab suaminya yang sedang ikut
menatapi dirinya itu. Khansa mengambil makanan dari tangan Leon.
“Terima kasih,” ucap
Khansa lagi.
Malam ini, Khansa
memang belum makan apa-apa, dan tidak disangka Leon malah akan begitu perhatian
dengan dirinya. Ada sedikit denyutan aneh di dalam hati Khansa.
Ketika merasakan sikap
manis Leon ini. Sebenarnya hal-hal yang seperti ini adalah hal yang paling
ingin Khansa hindari, namun pada kenyataanya sulit untuk mengontrol detak
jantungnya itu yang berdetak kencang di luar kuasa inginnya.
“Aku makan ya,” ujar
Khansa dengan wajah memerah.
Khansa pun membuka
kotak bekal makanan yang Leon bawa tadi, hatinya terasa manis lagi ketika
melihat bekal makanan yang Leon bawakan ternyata adalah makanan kesukaan
Khansa, sekali lagi Khansa menatapi suaminya itu.
Tiba-tiba saja secara
reflek Khansa terharu, dan memberikan senyuman terima kasih tanpa berucap kata
kepada Leon.
“Kenapa?” tanya Leon
balik menatap kepada Khansa.
“Tidak, tidak
apa-apa,” jawab Khansa langsung berpura-pura sibuk.
“I-ini enak sekali,”
puji Khansa pada makanan yang baru saja dia cicipi tadi.
Khansa pun segera memakan
banyak-banyak makanan yang tadi Leon bawakan itu, sambil berpikir kira-kira
sikap manis Leon yang seperti ini akan bertahan berapa lama, apakah jika sudah
bosan dengan pernikahan ini, nanti Leon juga akan membuang dirinya sama seperti
pria-pria sebelumnya, seperti ayahnya dan juga Hendra.
Khansa mulai memasukan
makanannya kedalam mulutnya, merasa makanan ini sangat enak, Khansa pun
tersenyum senang. Namun, masih saja Khansa tetap berpikir dan belum percaya
jika cinta yang tulus antara pria dan wanita itu ada.
Mengingat
pengalamannya dengan ayah kandungnya sendiri yang membuangnya,
bahkan Hendra yang dia kenal dengan baik malah menghianatinya, juga pengalaman
yang baru saja dia alami dengan tuan muda Hendra Ugraha, maka sangat
terpampang dengan jelas bagi khansa jika cinta masa kini hanya sebatas di bibir
saja tidak akan pernah masuk sampai ke hati.
Khansa memberitahu
Leon kalau malam ini ingin menginap di rumah sakit untuk menjaga bibi Fida, dan
meminta Leon agar pulang istirahat dulu.
“Pulanglah, aku bisa
menjaga diriku sendiri di sini dan juga bisa menjaga bibi Fida” ujar Khansa
meminta Leon untuk pulang lebih dulu. Namun, Leon malah terus
bertanya alasan kenapa Khansa tidak mau menjawab telepon dan membalas pesan
darinya.
“Kenapa kau
mengabaikan aku?” tanya Leon.
“Itu … karena aku
sedang sedikit sibuk saja dan juga tidak mendengar suara ada pesan masuk ,”
jawab Khansa sekenanya.
“Sedang sibuk?"
jawab Leon dengan tidak suka sambil menarik kursi lalu duduk menatapi Khansa
dengan tatapan serius.
"Sedang sibuk
apa? Apakah pekerjaanmu lebih sibuk dari aku?” tanya sarkas Leon.
“Eh ! itu … emm,”
Khansa bingung mencari alasan lain lagi.
Khansa mencoba keras
mencari alasan lain lagi. Namun kesulitan mencari alasan yang tepat, karena
memang dirinya pada saat itu sedang mengabaikan Leon.
Simon yang berada di
samping pintu langsung memberitahu Khansa kalau di Whatsapp Leon hanya
ada kontak Khansa seorang saja. Mendengar perkataan Simon pun, membuat Khansa
tercengang sambil menaikan satu alisnya, merasa tidak percaya jika Leon hanya
menyimpan nomor Khansa saja, lalu siapa wanita tempo hari, yang diijinkan
untuk memegang dan menjawab panggilan masuk di telepon Leon.
Leon memandangi Simon,
menaikan satu alisnya, karena baru saja membocorkan rahasianya. kemudian Simon
merasa situasinya canggung dan berbahaya bagi dirinya langsung saja Simon
segera keluar sambil menutup pintu kamar rawat inap bibi Fida.
“hissh, dia itu begitu
menyeramkan jika sedang kumat galaknya,” gumam Simon sambil mengelus-ngelus
dadanya.
“kakak Ipar!
Berjuanglah,” Simon menyemangati Khansa tanpa sepengetahuannya.
……
Di dalam ruang inap, Khansa masih mengingat perkataan Simon, dirinya masih
sulit percaya kalau hanya ada kontaknya seorang di Whatsapp Leon.
“Hah! Itu sungguh
sesuatu yang tidak mungkin,” gumam Khansa masih dengan tidak percaya.
Leon masih tidak puas
dengan jawaban sembarang Khansa tadi, Leon masih ingin memperpanjang
perdebatannya dengan Khansa.
Merasa tidak puas,
karena ini adalah momen langka yang pernah terjadi dalam hidupnya. Diabaikan
oleh seseorang, dan itu adalah orang terdekatnya, orang yang berstatus dan
menyandang nama Sebastian di belakang namanya, Nyonya Sebastian. Leon
menjulurkan tangan dan langsung mengambil ponsel di saku celana Khansa.
“Hei! Kau mau apa?”
pekik Khansa dengan masih menjaga intonasi suaranya agar tidak meninggi.
Melihat ponsel Khansa
yang sudah berpindah tangan, maka Khansa pun berjinjit, berusaha mau
merebut kembali ponsel miliknya, tapi Leon malah memegangnya tinggi-tinggi dan
meminta penjelasan dari Khansa tentang mengapa Khansa mengabaikan telpon dan
juga pesannya.
“Kembalikan ponselku!
Ini namanya pencurian kalau begini, pencuri!” tukas kesal Khansa.
“Coba! Katakan sekali
lagi,” ujar Leon.
Khansa merasa
merinding dan suasana pun jadi dingin sekali, Khansa ingin menghindar jauh dari
Leon, “sudahlah! Aku sedang tidak ingin bertengkar, terlalu malas membuang
energi untuk bertengkar,” ujar Khansa.
“Tolong kembalikan
saja ponselku!” pinta Khansa sambil menadangkan tangannya di depan Leon.
“Ayo! Cepat, kembalikan,”
ujarnya Khansa lagi sambil menatap kesal kepada Leon.
Mendengar perkataan
yang tidak enak di dengar lagi dari Khansa, saat ini Leon malahan menahan
pundak Khansa dan mendorong Khansa ke dinding agar Khansa tidak bisa kabur.
Leon merasa
jelas-jelas Khansa yang lebih dulu mencari masalah dengannya, lalu Leon
berkata, “Lihat bagaimana aku membuat perhitungan denganmu!”

Komentar
Posting Komentar