PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 37 : BERTENGKAR)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 37 : BERTENGKAR)
Khansa ketakutan saat mendengar ucapan Leon, mata Khansa nampak semakin memerah, karena sehabis menangis dan sekarang menahan tangis.
"A-aku … ini …?
ujar Khansa limbung karena saat ini dirinya dan Leon hanya berjarak beberapa
inchi saja.
“K-kau mau apakan
aku?” tanya Khansa terbata.
Leon melihat ekspresi Khansa dan merasa tidak akan mengasihani Khansa,
"“Menurutmu?”
Khansa, “…”
Leon tidak suka Khansa
membatasi hubungan mereka sampai sejelas itu, “Apa kau menganggap aku ini
adalah orang asing?”
“Kau ini memang
benar-benar polos atau bodoh?” tukas Leon lagi.
Mengajari orang lain
bagaimana cara berbisnis yang bagus adalah hal yang mudah bagi Leon. Namun,
nampaknya mengajari Khansa, apa dan bagaimana hubungan antara pria dan
wanita yang sudah menjadi pasangan harus terjalin, mengapa malah terasa menjadi
begitu sulit.
Sulit menangani
keluguan Khansa, dan sulit menghindari dari godaan lugu istrinya itu, yang
mampu memorak porandakan pertahanan hatinya dalam waktu sesaat saja, meski
Khansa tidak mengeluarkan rayuannya.
Leon merasa sebuah
foto yang salah kirim saja sudah bisa membuat dirinya bergegas tergesa untuk
pulang.
Membuatnya mengalahkan
jadwal kerjanya yang sangat padat itu hanya agar bisa segera bertemu dengan
istri kecilnya itu. Namun, sikap acuh tak acuh Khansa terhadapnya saat ini
benar-benar membuatnya stress dan kehilangan kendali. Leon bingung sejak kapan
Khansa mempengaruhi perasaannya, mempengaruhi moodnya.
Leon mencengkram dagu
Khansa yang tertutupi cadar, “Apa kau sedang menantang aku? Menguji batas
kesabaran aku?”
“Apa maksudmu?” tanya
Khansa bingung.
Khansa merasa dia
tidak pernah ingin menguji kesabaran Leon, meski mendapati wanita lain
menguasai ponsel suaminya itu. Namun, Khansa tidak ingin membahas dan
mempermasalahkannya.
Jelas ini membuat
Khansa bingung, tiba-tiba Leon menjadi marah seperti itu.
“Aku telah menolongmu!
Jadi bukankah aku layak mendapatkan terima kasih,” ujar Leon dengan tetap masih
menekan tubuh Khansa ke dinding.
Sebenarnya
tentang masalah Leon telah menolong Khansa ini, Leon hanya ingin Khansa
bersikap manis ketika mengungkapkan rasa terima kasihnya. Bukan hanya
sekedar ucapan verbal terima kasih saja.
Khansa menjawab dengan
lugu, “Bukankah sebelumnya aku sudah mengucapka terima kasih,” ujar
Khansa mengingatkan Leon.
“Kau ini yah
benar-benar,” ujar Leon seraya mengetuk-ngetuk kepala Khansa dengan sedikit
pelan.
“Masa tidak mengerti
juga,” gumam kesal Leon.
Maksud Leon bukanlah sebuah kata terima kasih.
Baru saja leon mau
mengatakan sesuatu, mengatakan maksudnya, tapi Khansa menutup mulut Leon agar
jangan sembarangan bicara. Saat ini, hanya bisa terdengar suara detak jantung
Khansa dan Leon.
Leon memandangi Khansa
dengan wajah serius, ingin menangkap isi hati Khansa melalui pandangan mata
berbinar Khansa.
Ketika sedang asyik
dalam situasi yang membuai, menikmati tiap denyut detakan jantung yang semakin
cepat, yang Khansa tabuh untuknya, tiba-tiba Khansa mengeluarkan pertanyaan
yang tidak terduga dengan lugunya.
" Mobil goyang?
Maksudmu?" tanya Khansa dengan tatapan lugu kepada Leon.
“Pfffh …” Leon menahan
tawa dengan keras.
“Kau ini benar-benar
yah,” gumam Leon sembari menahan rasa gemas dihati.
Leon merasa lucu,
karena Istri kecilnya ini masih mengingat lelucon yang dia katakan tadi
sebelumnya. Merasa ini sangat lucu maka Leon malah merasa ingin terus menggodai
istri kecilnya itu.
“Bukankah kita ini
suami istri, di mobil, di dapur, di ranjang, bukankah sudah diperbolehkan,”
ujar Leon menggodai Khansa.
“Mesum,” ujar Khansa
sekenanya.
“Jelas ini juga
diperbolehkan, aku kan suamimu,” ujar Leon merujuk kepada kata mesum yang
Khansa lemparkan untuknya.
“Hissh …” ujar Khansa
yang gantian mencubit pinggang kuat suaminya itu.
Leon segera saja
menangkap tangan halus mungil istrinya itu, lalu mulai menciumi jari-jari
mungil Khansa, seraya memandangi kedua mata indah Khansa.
Khansa merasa napasnya
menjadi tidak beraturan ketika Leon memasukan satu jarinya ke mulutnya. Dengan
satu tangan Khansa menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan *******
aneh.
Melihatnya Leon
semakin terus menghisap jari mungil Khansa yang lain. Sementara Khansa semakin
mengeratkan bekapan pada mulutnya sendiri sembari menggelengkan kepalanya.
"Hentikan …!
pinta Khansa.
Khansa melepaskan
bekapan tangannya, lalu segera memukul bahu Leon, “Hentikan!” gumam kesal
Khansa lagi, seraya menarik tangan yang satunya dari genggaman Leon.
Tak ingin memancing
keributan yang memekakan telinga, Leon pun melepaskan Khansa, “Kau ini Nyonya
Sebastian, jika lain kali tidak patuh maka aku akan benar-benar menghukummu di
atas ranjang,” ancam Leon dengan nada menggodai Khansa.
“Hissh mana ada …”
ujar kesal Khansa seraya mendorong tubuh Leon.
Namun Leon masih belum
mendapatkan jawaban yang memuaskan atas semua pertanyaan yang bergelayut di
kepalanya.
“Aku belum selesai!”
ungkap Leon.
“Tapi aku sudah!”
jawab Khansa.
“Di sini, akulah
bosnya, jika aku bilang belum selesai, maka itu artinya belum selesai,” terang
Leon.
Jika sebelumnya Leon
ingin tahu alasan mengapa sms dan telepon darinya diabaikan. Kali ini
Leon ingin tahu apa hubungan di antara Hendra dan Khansa.
“Katakan jujur kepada
aku! Ada hubungan apa kau dan tuan muda Ugraha?” tanya Leon dengan nada berat.
“Tidak ada!” jawab
yakin Khansa.
“Jangan Bohong,” ujar
Leon.
“Untuk apa aku
berbohong! Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa, dimulai di hari aku
memulangkan semua mahar yang dia berikan untuk perjodohan kami waktu
kecil dulu,” jelas Khansa kepada Leon, agar tidak mempersulit dirinya di
kemudian hari.
Entah sejak kapan Leon
tidak bisa menerima jika Khansa berdekatan dengan pria lain, Leon
mengingatkan Khansa agar paham dengan status Khansa sendiri.
“Ingatlah statusmu
adalah Nyonya Sebastian, bukan Nyonya Ugraha!” ungkap Leon dengan sedikit nada
kesal.
“Ya, ya bagaimana aku melupakan
tentang ini,” jawab Khansa.
Khansa tidak mungkin
lupa, karena menyandang gelar Nyonya sabastian adalah kunci untuk menyibak
semuanya. Jadi sampai semua belum terkuak, maka Khansa akan menjaga nama Nyonya
Sebastian yang melekat kepadanya.
Kemudian Leon
memperingati Khansa, tidak mengizinkan Khansa dekat dengan pria mana pun,
“Selain dengan aku, dilarang keras berdekatan dengan pria lain atau pergi
berduaan dengan pria lain, paham tidak?”
“Jika dengan Simon dan
Hansen, apakah kau akan melarangnya juga?” tanya Khansa.
“Jika aku tidak
mengijinkan, maka itu juga tidak boleh!” jawab enteng Leon.
“Apa aku ini anak
berusia lima tahun, mengapa kau begitu perhitungan sekali terhadap aku?” tanya
Khansa.
“Itu karena kau adalah
Nyonya sebastian, hanya aku yang berhak mengaturmu!”
“Apa kau paham?” tanya
Leon menekanan pengaturannya tadi.
Kali ini tatapan Leon
benar-benar menyiratkan intimidasi tingkat tinggi, sehingga langsung membuat
Khansa menurut bak anak yang berusia lima tahun, Khansa
mengangguk,"Tentu saja.”
Leon menurunkan
tatapannya yang semula menatap kedua mata lugu Khansa lalu pandangannya turun
ke wajah Khansa, lalu merasa penasaran dan mulai perlahan menjulurkan tangan
ingin menyibak cadar Khansa.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar