PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 38 : CANGGUNG)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 38 : CANGGUNG)
Khansa menghindar, Leon pun menjadi canggung, tapi tidak memaksa Khansa, “Hendra pernah melihat wajahmu?” tanya Leon dengan penuh rasa ingin tahu.
Khansa
mengingat-ngingat Dalam sepengetahuan Khansa itu mungkin hanya ketika Khansa
masih bayi, itu pun hanya dari sebuah foto yang ibu Khansa tunjukan kepada
Hendra. Khansa menggeleng karena cadar ini tidak pernah dilepas sejak kecil
sampai sekarang
“Baguslah,” ujar Leon.
Leon berpikir, dia
saja yang berstatus suami, belum pernah melihat rupa istrinya dibalik cadarnya
itu. Memikirkan jika ada pria lain yang melihatnya lebih dulu, mana rela
hatinya, sungguh itu akan menjadi sesuatu yang akan Leon larang dengan sangat
keras.
Leon pun memaksakan
diri untuk puas, cadar itu malah membuat Khansa semakin misterius. Membuat
dirinya bahkan juga membuat orang lain sangat ingin melepaskan cadar itu
dari wajah Khansa.
Cadar itu juga membuat
Khansa terlihat untuk susah diraih, membuat diri Khansa ternilai seperti
sesuatu yang ekslusif, tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Dan dirinya
saat ini sebagai pemilik Khansa, tentu saja membuat dirinya merasa bangga
sekaligus sombong, karena memiliki harta berharga yang tidak dimiliki oleh
orang lain, Khansa hanya milik Leon dan harus menjadi milik Leon.
Leon memandangi Khansa
lagi dengan tatapan sayu menahan segala ingin untuk bisa langsung merengkuh
Khansa, tak bisa menahan hatinya untuk tidak mencium istrinya itu, Leon pun
menunduk dan ingin mencium Khansa.
Khansa tidak menduga Leon masih ingin melanjutkan, Khansa pun langsung
meminta Leon menghentikan perbuatannya.
“Hentikan!” gumam
Khansa seraya menahan pundak Leon.
Leon malah mengabaikan
permintaan Khansa, dan malah terus melanjutkan, menyambung tindakan yang
sebelumnya tadi.
Tiba-tiba terdengar
suara pintu dibuka seseorang. Leon menghentikan gerakannya dan menjauhi
tubuh Khansa. Situasinya jadi canggung, perawat jaga datang dan masuk untuk
mengecek keadaan bibi Fida.
“Saya akan mengecek
keadaan Nyonya Fida, dan menyuntikan obat,” jelas perawat itu yang merasa
sedikit tidak enak hati jika karena kedatangannya jadi mengganggu kedekatan
Leon dan Khansa tadi.
“Ah ya, silahkan,”
ujar Khansa seraya menjauhi Leon.
“Benar-benar mahluk
berbahaya,” gumam pelan Khansa yang ditujukan untuk Leon.
Leon mengernyitkan
alis dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, memandang ke arah Khansa
yang terlihat tak kalah canggungnya “Teruskan makanmu, istirahat lebih awal.”
Leon berjalan keluar,
Leon pergi menuju ke arah taman rumah sakit. Leon duduk di salah satu kursi
taman, sedikit mengacak-ngacak rambutnya lalu, mengeluarkan rokok dari sakunya
dan mulai menyalakannya.
……
Leon menghisap beberapa batang rokok barulah bisa menekan getaran panas di
hatinya. Rokok yang sudah menyala terselip di antara bibir Leon. Membiarkan
asap dari bara mengepul tipis tanpa diisap, menambah efek dramatis di sekitar
wajah Leon.
Leon memasang ekspresi
yang tenang dengan tatapan dingin dan senyum tipis berwibawa ketika mengingat
pertama kali bertemu dengan istri kecilnya itu di kereta pada malam itu.
Gaya merokok Leon yang
seperti ini benar -benar terlihat meningkatkan level ketampanan Leon hingga ke
tingkatan paling maksimal.
Leon tidak menyangka
jika kedatangan gadis kecil itu benar-benar merusak pertahanan kuat Leon selama
ini.
Hanya dengan
keluguannya saja sudah bisa membuat hatinya senang sekaligus kesal, selama ini
mana pernah Leon merasa seperti ini hanya karena seorang wanita. Namun,
sepertinya Khansa malah menganggap dirinya ini biasa saja, padahal berapa
banyak wanita yang penasaran dengan Tuan Muda Sebastian, berapa banyak rekan
bisnis yang menganggap dirinya ini sulit ditaklukan. Tapi, malah sekarang gadis
imut yang berstatus menjadi Nyonya Sebastian itu, tidak perlu menunggu waktu
tahunan, malah sudah mengambil semua kefokusannya.
Dengan mudahnya Khansa
meniupkan angin topan kedalam hatinya dan memorak porandakan benteng pertahanan
yang ada di dalam hatinya itu, " kecil-kecil beracun," gumam Leon.
Leon masih belum
pulang, duduk beberapa saat di bangku taman rumah sakit itu, menenangkan
degupan jantungnya yang tadi tidak beraturan karena ditabuh oleh Khansa. Leon
berdiri, menghela nafas, merentangkan tangannya lalu mematikan rokoknya dan
membuangnya ke tempat sampah.
Leon memutuskan
untuk menginap di rumah sakit, menemani Khansa. Leon membalikkan badan kembali
ke ruang pasien dan menyadari Khansa sudah tertidur, Leon memandangi gaya tidur
istrinya itu. Sedikit merasa lucu dengan cara tidur istrinya ini, Leon merasa
istrinya ini selalu saja memberinya kejutan-kejutam baru.
“Hmm … katanya bahasa
tubuh bisa menunjukkan ciri kepribadian seseorang,” pikir Leon seraya
memandangi posisi tidur Khansa sambil duduk di sisi ranjang mereka.
Leon berpikir lagi
jika tak hanya bahasa tubuh saat sadar, cara tubuh berkomunikasi
saat tidur pun bisa menunjukkan banyak hal mengenai kepribadian kita.
“Posisi tidur seperti
janin,” gumam pelan Leon.
“Benar-benar kepribadian yang cocok dengan posisi tidurmu,” gumam pelan Leon
lagi sambil tertawa kecil.
Mereka yang menyukai
posisi meringkuk ke samping seperti janin cenderung sensitif, namun berusaha
menunjukkan penampilan luar yang tangguh, ini cukup mencerminkan sikap Khansa
yang tidak ingin bergantung kepada orang lain, termasuk kepada Leon yang
berstatus suami.
Melihat gaya tidur imut istrinya itu, dan juga memandangi ruang rawat
VVIP yang nyaman dengan temaran sinaran lampu berwarna oranye, maka kantuk pun
mengundang mata Leon untuk terpejam. Leon memandangi Khansa lagi, terlihat
sepertinya Khansa sudah terbang ke awan dunia mimpi.
Leon munyungingkan
senyuman sederhana namun tetap tidak mengurangi ketampanannya, “Mimpi adalah
bagian terbaik dari hidup, jika melewatkan tidur maka akan melewatkan bagian
terbaik dari hidup. Sekarang saatnya ke tempat tidur dan kita tangkap mimpi
yang indah.” pikir Leon.
Leon pun ikut naik ke
ranjang besar itu, Leon berbaring dan memeluk Khansa. Kemudian mengecup
kening Khansa, tidak lama setelahnya Leon juga terlelap, karena menciumi aroma
tubuh Khansa yang bisa menenangkan hatinya.
Dalam tidur Khansa
memimpikan seseorang, kedua alis Khansa mengernyit. Khansa bermimpi, tiba-tiba berada
dalam sebuah perahu kecil, perahu yang berada di tengah laut, hujan
deras dan petir menggelegar di malam hari. Khansa pun merasa sangat ketakutan,
perahu kecil itu terombang-ambing di lautan. Lalu membuat Khansa kehilangan
keseimbangan, dan terhuyung terjatuh ke dalam laut.
Tiba-tiba Khansa
merasakan sebuah kain berwarna putih meliliti pinggulnya dan menariknya keluar
dari dalam laut, Khansa merasa tubuhnya sudah berada di tepi pantai yang
menenangkan dan nyaman. Samar-samar Khansa melihat wajah seorang pria yang
sedang tersenyum memandanginya.
“Ambil napas dan
pandangi bintang-bintang di langit. Lihat dua bintang itu? Mereka adalah mataku
yang berkedip ke arahmu, mengawasimu” ujar pria di dalam mimpi itu.
Mendengar ucapan pria di dalam mimpinya itu, membuat Khansa merasa aman dan
kembali tidur dengan nyenyak.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar