PENGANTIN PENGGANTI (BAB 4 : CANTIK BERACUN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 4 : CANTIK BERACUN)
Tangan Leon segera
berhenti, dia tidak jadi membuka cadar itu. Leon malah menatapi Khansa dengan
tatapan serius.
Ketika tidur istrinya
ini terlihat imut dan patuh, sungguh tidak akan ada yang mengira jika istrinya
yang terlihat cantik dan lugu ini bisa menggunakan jarum perak dengan lihainya
dan malah membuat pria becodet di hari itu kalah dengan telak hanya dengan satu
tusukan jarum perak.
“Cantik! Beracun!”
gumam Leon seraya memperhatikan bekas merah di leher istrinya, bekas merah yang
dia tinggalkan ketika tadi mencekik leher Khansa ketika penyakitnya kambuh.
Leon kembali lagi ke
atas sofa, barusan dia memang tertidur selama sepuluh menit, tapi tidurnya
selama sepuluh menit itu sudah sangat berharga, penyakitnya sedang memburuk,
dan tidak bisa disembuhkan hanya dengan jarum Khansa, tapi itu sudah cukup
banyak membantunya. Leon memandangi gumpalan kecil di atas ranjangnya sambil
memikirkan betapa lembutnya Khansa.
Keesokan paginya di
ruang makan keluarga sebastian, Khansa duduk di sofa sambil memakan bubur
kacang hijau. Nenek Sebastian sangat menyukai cucu menantu barunya ini, dia
menggandeng Khansa dan terus mengatakan hal-hal baik dan tak henti-hentinya
tersenyum.
Tak lama kemudian Leon
turun dari lantai atas, dibelakangnya diikuti seorang pelayan yang cukup
berumur, di tangannya terdapat sebuah sapu tangan persegi berwarna putih, dan
di atas sapu tangan terdapat sebuah bercak merah, ini menunjukkan bahwa Khansa
dan Leon telah melakukannya semalam.
“Nyonya!” sapa pelayan
Tua tersebut dengan senyuman yang memenuhi wajah tuanya itu.
“Selamat Nyonya,”
tukasnya lagi.
Pelayan tua memberi
selamat pada Nenek Sebastian, lalu Nenek Sebastian memberikan sebuah amplop
berisi uang kepadanya.
“Kerja bagus!” puji
Nenek Sebastian.
Khansa merasa aneh,
memang ada wanita yang akan berdarah saat melakukannya pertama kali, tapi
mereka tidak melakukannya semalam, jadi bercak darah dari mana itu?
Melihat wajah aneh
Khansa yang terlihat sedang berpikir keras, Leon pun menyeringai. Leon
mendekatkan duduknya ke kursi Khansa. Leon berbisik di telinga Khansa.
“Skenario drama pernikahan kita.”
Dia mengatakan dia
yang melakukannya, lalu malah menanyakan secara terang-terangan hal yang masih
dianggap tabu oleh kebanyakan orang tua dulu atau pun sekarang, “apakah kau
masih perawan?”
Khansa, “…”
“Hissh pria ini
benaran deh, apa Tuhan menciptaknnya hanya untuk membuatku mengkesal di setiap
hari!” pikirnya sambil memasukan satu sendok bubur kacang hijau ke mulutnya.
Khansa bahkan tidak
pernah pacaran, wajahnya langsung saja memerah seketika ketika mendengar
pertanyaan ini.
Di mata Nenek
Sebastian, mereka berdua yang sedang berbisik ini, memanglah tampang
sepasang suami istri baru, Nenek Sebastian pun merasa senang.
Leon masih saja
menggodai Khansa, “kau belum genap berusia dua puluh tahun, baru
sembilan belas tahun kan ya? harusnya belum punya pacar dong ya?”
Leon berusia dua puluh
tujuh tahun, tampan dan gagah, usianya sekarang adalah usia produktif seorang
pria.
Khansa tidak ingin
Leon semakin mendekat, dia segera menyuapi bubur kacang hijau di tangannya ke
dalam mulut Leon agar Leon berhenti menggodainya.
Leon punya mysophobia,
ini adalah sebuah ketakutan patologis terhadap kuman, bakteri, mikroba,
kontaminasi, dan infeksi.
Pengidap mysophobia
cenderung mudah jijik terhadap hal-hal yang bersifat kotor, merasa apa yang
barusan disentuh itu bisa mengotori tubuh dengan virus atau bakteri. Tapi
yang dipakai adalah sendok bekas Khansa.
Kepala pelayan merasa
sangat ketakutan, dia bergegas mengambilkan sendok baru untuk Tuan Mudanya.
Tapi tak disangka Leon tidak hanya tidak marah, dia bahkan mulai makan
menggunakan sendok bekas Nyonya Muda, dan terakhir dia mengembalikan sendok itu
kepada Khansa.
Khansa tidak ingin
ciuman tak langsung dengan Leon, karena menggunakan satu sendok yang sama
dengan Leon, dia segera saja menghabiskan buburnya dengan cepat, lalu berkata,
“Nek, aku sudah kenyang.”
Leon mengangkat sudut
bibirnya saat melihat tampang lucu Khansa karena ditindas, moodnya hari ini
lumayan bagus. Setelah selesai sarapan, Khansa perlu pulang ke rumah orang
tuanya sebentar.
Nenek meminta Leon
untuk mengantar Khansa pulang, di dalam mobil, keduanya kembali menegaskan
perjanjian pernikahan yang bertujuan untuk saling menolong.
“Tidak ada kontak
fisik selama pernikahan!” tukas Khansa.
“Kau menikah karena
nenek, dan aku menikah karena memiliki tujuan sendiri,” jelasnya lagi.
“Tidak bisa!” protes
Leon.
“Dalam keadaan
tertentu! Memeluk, mencium dan hal-hal sejenis yang aku sebutkan tadi masih
diperbolehkan,” tukas Leon.
“Dasar mesum, kau ini
suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan,” ujar Khansa yang masih
kesal mengingat malam pertama mereka itu.
“Jika ingin
memanfaatkan statusku untuk mencapai tujuanmu, maka ikuti skenario aku,” ujar
Leon memberikan penawaran dengan nada acuh tak acuh.
“Hissh …” gumam kesal
Khansa seraya menggembungkan kedua pipinya itu karena mengkesal dengan suaminya
ini.
Awalnya Leon berpikir
pernikahan yang diaturkan untuknya ini, akan sangat membosankan. Namun, siapa
sangka wanita yang dinikahinya ini malah seperti landak. Menebar duri di
seluruh tubuh, untuk melindungi diri sendiri.
Biasanya, ketika
menghadapi musuh, landak akan langsung meringkukkan tubuhnya menjadi bola
sehingga duri tajamnya semakin tegak berdiri.
Setelah itu, landak
akan masukkan kepala, ekor, dan kaki mereka, lalu berguling untuk melindungi
diri dari musuh. Beginilah Khansa di mata Leon Sebastian.
Leon merasa ada
bagusnya juga memiliki istri seperti ini, sedikit meringankan tugasnya untuk
menjaga Khansa dari musuh-musuh bisnis yang selalu mengintai dan ingin
menjatuhkannya.
Kesepakatan lisan pun
terjadi didalam mobil mini cooper berwarna merah yang atapnya bisa dilipat itu.
Ditaksir harga untuk satu mobol ini mencapai satu milyar lebih.
Leon dengan tampannya
mengemudikan mobil konvertibel yang sangat bagus, mentereng ini di jalan
raya.
Terdapat aroma cinta
sepasang kekasih dalam embusan angin sepoi-sepoi, karena Leon melipat atap
mobilnya itu.
Keduanya tiba di depan
pintu rumah keluarga Isvara. Khansa terkunci oleh sabuk pengaman. Leon
mendekat untuk membantunya melepaskan sabuk pengaman, hidungnya dipenuhi aroma
feminin di tubuh Khansa.
Sedikit membuat Leon
termenung, wangi ini mengapa hatinya jadi sangat menyukai wangi ini. Leon
menaikan satu alisnya karena merasa heran.
Biasanya Leon sangat
membenci aroma parfum yang tercium tapi kali ini dia malah tidak membenci
aroma pada tubuh Khansa. Dia membantu Khansa melepaskan sabuk pengaman dan
menanyakan pada Khansa parfum apa yang ia pakai. Khansa mengatakan dia tidak
menggunakan parfum.
Leon, “…”
Leon mencabut lepas
sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuh Khansa. “Nah sudah.”
Leon mengenai bibir
Khansa pada saat menengadahkan kepalanya. Meskipun terhalangi oleh sebuah
cadar, tapi ini adalah ciuman pertama Khansa.
Khansa, “…”
Tatapan mata pengantin
baru itu saling bertemu, dan menatap dalam canggung. Keduanya terdiam dalam
posisi tersebut. Sama-sama terlihat sedang mensinkronkan otak dan hati mereka.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar