PENGANTIN PENGGANTI (BAB 40 : FLASH )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 40 : FLASH )
Kini Khansa telah menikah ke Vila Anggrek, baru tinggal sebentar di sini Khansa menyadari suatu hal yang tidak dirinya miliki dari hubungan Leon dan Nenek Sebastian, yaitu kehangatan keluarga yang sebenarnya, terbersit sedikir rasa iri di hati Khansa melihat cerminan beda antara keluarga Sebastian dan juga keluarga Isvara.
Setiap keluarga
memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah
yang berurai air mata.
Kisah tentang
orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang
bisa dipetik dari setiap kisah yang dimiliki dalam keluarga.
Khansa meski pun
terbilang muda sudah sangat baik belajar makna dari sebuah kisah keluarga yang
berurai air mata, “Tidak semua yang memiliki ikatan darah akan berlaku baik
kepadamu,” pikir Khansa.
Keluarga yang baik dimulai
dengan cinta, dibangun dengan kasih sayang, dan dipelihara dengan kesetiaan,
dan ayahnya sudah menghancurkan tatanan keluarga harmonis mereka ketika ayahnya
menjadikan Maharani sebagai selirnya, dan malah mengasingkannya untuk tinggal
di Desa, bukan hanya setahun dua tahun, bahkan sampai Khansa beranjak dewasa.
Barulah dipanggil
kembali, ini pun karena mereka ingin menjadikan Khansa sebagai pengantin
pengganti untuk keluarga Sebastian. Namun, Khansa tetap bersykur karena hal
itu, membuatnya menjadi lebih tangguh dibanding gadis-gadis seusianya, yang
hanya tahu berfoya-foya dan bersenang-senang, seperti Jihan dan juga Jane
Gautama.
Melihat Khansa masih
terlihat begitu lelah dan nampak bersedih hati, maka Nenek tidak ingin
memperpanjang diskusinya. Nenek Sebastian meminta Khansa untuk segera pergi
beristirahat.
“Jangan terlalu
lelah,” nasehat Nenek Sebastian sambil menepuk-nepuk tangan Khansa.
Khansa pun menganguk
dan beranjak pergi ke kamarnya. Khansa naik ke kamarnya di lantai atas. Nenek
Khansa memanggil Paman Indra.
“Bagaimana kabar
terbaru pasangan muda ini?”
Nenek Sebastian mencari informasi dari Paman Indra, dan mengetahui jika saat
ini Leon dan Khansa sedang bertengkar.
“Mereka baru saja
bertengkar,” jawab Paman Indra.
"Apa-apaan anak
itu, baru saja pulang dari
perjalanan bisnis,
tapi malah langsung bertengkar dengan istri," ujar kesal Nenek Sebastian
dengan nada sedikit gemas.
“Tuan Leon tidak
pulang bersama Nyonya pagi ini, dan masih ada di rumah sakit,” Paman Indra
menambahkan laporannya lagi.
Nenek Sebastian merasa
pusing karena Leon pandai dalam hal apa pun, kecuali berpacaran, “Hissh anak
itu!” gumam geram Nenek Sebastian sambil memijit-mijit kedua pelipisnya.
“Tidak! Tidak bisa
begini, jika yang satu kelelahan dan yang satunya bodoh dalam mendekati wanita,
lalu? Kapan aku akan menimang cicit,” ujarnya kesal.
“Astaga hatiku, astaga
kepalaku,” gumam nenek Sebastian melirih lagi.
“Aku harus mencari
cara jitu dalam hal ini, mengandalkan anak itu, sama saja seperti menunggu uang
jatuh dari langit,” gumam kesal Nenek Sebastian lagi.
Nenek Sebastian
berpikir sesaat, lalu Nenek Sebastian pun tersenyum karena telah menemukan
sebuah cara jitu. Nenek Sebastian lalu meminta paman Indra untuk membantu
agar Leon dan Khansa berhasil bermesraan malam ini.
“Cepat kalian
lakukan apa yang kupinta ini, sebelum Leon pulang!” perintah Nenek Sebastian.
“Baik!” jawab Paman
Indra dan segera bergegas menarik pelayan agar ikut membantunya mengeksekusi
misi penting yang baru saja diberikan oleh Nenek Sebastian.
……
Di kamar Khansa pergi mandi air hangat, merilekskan tubuh dan pikirannya di
bath up besarnya dengan sabun beraroma wangi vanilla. Membenamkan dirinya
sesaat menikmati mandi mewah ini sejenak sambil menyalakan musik klasik yang
menenangkan.
Air hangat di bath up itu
terasa seperti sedang memijit-mijit tubuhnya yang terasa pegal di sana
sini. Merasa sudah cukup segar, Khansa pun menyudahi ritual mandi
mewahnya itu.
Khansa mengambil
handuk di sisi bath up, lalu mengeringkan rambut dan juga mengeringkan
tubuhnya. Khansa meletakan handuk itu dan berganti dengan handuk kimono.
Selesai mandi Khansa membuka lemari di kamarnya. Tapi, malah melihat tidak ada
baju ganti.
“Eh ini … kemana
perginya semua baju,” pikir Khansa.
Khansa mencoba mencari
di lemari yang lain. Di lemari ini Khansa melihat ada banyak baju tidur, banyak
sekali baju tidur dengan bahan sutra asli dengan berbagai model.
Khansa memandangi satu
persatu, lalu Khansa sembarang memilih satu set. Tadi sebelum ke kamarnya,
Khansa meminta kepada salah satu pelayan agar membawakan bayi harimau yang dia
lihat sebelumnya.
Khansa ingin bermain
dengannya. Melihat bayi harimau tersebut sudah berada di ranjang dalam bentuk
keranjang rotan, maka Khansa pun segera bermain sebentar dengan hewan
peliharaannya itu.
Khansa membelai bulu
halus harimau benggala itu, wajah imut bayi harimau benggala ini benar-benar
langsung memikat hati Khansa.
“Lucu dan gemas
melihat harimau putih yang masih kecil seperti ini,” gumam senang, gemas
Khansa.
Harimau benggala itu
masih berusia beberapa bulan, “Aku beri kamu nama Flash, suka tidak?” tanya
Khansa sambil tertawa senang.
Khansa menciumi-ciumi
Flash dan juga terus membelai bulu halus Flash. Terlihat Flash juga sepertinya
menyukai usapan lembut tangan Khansa. Mata Flash terlihat sebentar terpejam,
sebentar terbuka.
“Kau sangat
menyukainya, ya?” ujar Khansa.
Flash ini dimata
Khansa bagaikan anak kucing besar, gigitan Flash pun masih belum berbahaya,
karena itu Khansa berani memeluk-memeluk Flash dan menciumnya, bahkan
malah menggelitikinya sesekali. Terdengar suara tawa renyah Khansa karena
terlalu senang bermain dengan Flash.
Tiba-tiba saja Khansa
teringat Leon, karena Nenek Sebastian mengatakan bayi harimau menggala ini
adalah hadiah dari Leon untuknya, “Baik juga ternyata dia,” gumam Khansa.
Harimau putih
merupakan predator tertinggi di hutan liar sehingga tidak ada satu pun hewan
yang akan memburunya.
Satu-satunya yang bisa
memburu harimau putih hanyalah manusia. Jadi Khansa berpikir jika Leon sangat
baik mau mengadopsi bayi harimau ini, karena secara tidak langsung membantu
pemerintah untuk menjaga kelangsungan harimau putih ini dari kepunahan.
Khansa melihat botol
susu yang telah disiapkan untuk Flash, lalu memangku Flash dan memegangi botol
susu itu agar Flash lebih mudah untuk meminumnya.
“Pasti kau haus, ini!
Minum dulu,” ujarnya.
“Nah … nah pelan-pelan
saja, tidak ada yang mau merebut botol susumu ini,” ujar Khansa sambil
mengelus-elus kepala Flash.
“Jika masih haus,
nanti akan aku buatkan lagi,” janji Khansa.
Sesaat kemudian, Leon
pulang. Khansa menyapa seperti biasa saat Leon masuk ke kamar, “Sudah pulang,”
ujar Khansa tanpa memandang ke arah Leon karena sedang serius menatapi Flash.
Leon terpaku melihat
Khansa, Leon tiba-tiba bertanya dengan terkejut pada Khansa, “Astaga, apa yang
kamu pakai?”
Khansa merasa aneh,
Khansa meletakan Flash di ranjang rotannya. Khansa melangkah ke arah kaca.
Kemudian baru tersadar setelah berkaca. Rupanya Khansa bukan memakai baju tidur
biasa.
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar