PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 41: COSPLAY)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 41: COSPLAY)
“Untuk diperlihatkan padaku, ya?” ujar Leon.
Khansa masih
tercengang, “Astaga, apa ini yang sedang aku pakai,” gumam pelan Khansa
seraya manepuk pipinya dengan kedua tangannya.
Rupanya dirinya tanpa
sadar memilih pakaian cosplay, yang biasanya dipakai untuk tema-tema
dalam berhubungan intim.
Khansa menoleh lagi ke
arah Leon, masih melihat Leon sedang menatapinya. Wajah Khansa pun memerah
padam, rasanya ingin sekali membenamkan diri di dalam bath up lagi.
Jika Khansa tidak suka
dengan apa yang dipakainya, maka Leon sebaliknya. Sangat menyukai apa yang
sedang ditatapnya itu.
Bahkan jika memandangi
Khansa tanpa sehelai benang kain pun itu sangat dianjurkan dan diperbolehkan.
“I-ini … kau sengaja
ya memilihkan ini kan? Dan meletakannya di dalam lemari?” tanya Khansa dengan
serius.
“Tinggi sekali percaya
dirimu itu,” jawab Leon sambil menyeringai.
“Jika bukan kau lalu
siapa?” tanya kesal Khansa.
“Menurutmu?” tanya
balik Leon sambil bersedekap.
“Oh ya Tuhan! Nenek,”
ungkap Khansa.
Khansa mengira Leon
sengaja menyiapkan pakaian ini di dalam lemari, rupanya isi lemari disiapkan
oleh Nenek Sebastian. Khansa pun menghela nafas berat.
Saat tadi Nenek
Sebastian tahu Leon belum pulang dan segera saja meminta paman
Indra menjalankan rencananya dengan cepat.
Paman Indra
mengerahkan lebih dari satu pelayan untuk mengosongkan isi lemari dan
menggantinya dengan pakaian tidur bermodel seksi itu.
Sedang bertengkar dengan Khansa, dan baru saja sampai rumah, Leon mana ada
waktu untuk curiga pada nenek sebastian dan Paman Indra.
Leon langsung saja
pergi menuju kamarnya ketika sampai di Villa Anggrek. Dan akhirnya rencana
Nenek Sebastian berhasil dijalankan, Khansa memakai baju tidur seksi di depan
Leon.
“kau berhenti di situ,
jangan lihat!” pekik Khansa.
“Cepat berbalik!” ujar
Khansa lagi.
“Dasar gadis aneh,”
gumam Leon.
“Hissh, nenek ini ya.
Benar-benar berjiwa muda lebih dari aku,” gumam Khansa masih dengan sedikit
tidak percaya.
…
Tidak lama kemudian, Leon pergi masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Lalu Leon duduk di sofa untuk membaca file pekerjaannya, namun sulit
berkonsentrasi.
Khansa masih sibuk
dengan Flash yang tidak ingin turun dari pangkuannya, Khansa membelai lembut
Flash agar segera tertidur.
Karena sudah merasa
kenyang dan juga karena tangan dewi Khansa yang membelai begitu lembut, maka
Flash pun tertidur dengan pulas.
Khansa berpikir untuk
segera mencari pakaian lain. Mana mungkin memakai baju ini lalu tidur seranjang
dengan Leon, itu sama saja seperti tidur seranjang dengan
harimau benggala dewasa, predator paling tinggi dan berbahaya.
Leon mendongak dan
melihat Khansa sedang mau pergi mengganti pakaian, tiba-tiba Leon merasa setiap
gerakan Khansa menjadi sangat indah, Leon pun menelan salivanya, napasnya sudah
mulai tidak beraturan.
Leon memejamkan
matanya dan menggigit ujung bibirnya, Leon berusah mengembalikan kefokusannya
dan Leon menarik pandangannya kembali. Memaksakan diri untuk fokus dengan file
ditangannya, tapi Leon tidak bisa fokus dengan satu huruf pun.
“Ah aku payah sekali,”
pikir Leon.
“Astaga …” gumam pelan
Leon yang sudah
mencoba menahan namun sungguh tingkat kesulitan kali ini terasa berlipat-lipat
kesukarannya.
“Sial …” gumam Leon
sambil meletakan berkas-berkas pekerjaannya di meja.
Khansa masih belum
sampai di lemari untuk mengambil baju ganti, Leon sudah sampai di punggung
Khansa dan menarik tangan Khansa.
Melihat kulit putih
mulus Khansa, benar-benar membuat Leon seperti baru saja melepaskan otaknya dan
meninggalkannya entah di mana. Yang jelas Leon adalah laki-laki normal.
“Kau mau apa?” tanya
Khansa terkejut, karena melihat kedua tangan kekar Leon sudah ada di
pinggulnya.
Hati Khansa juga
merasa berdegup kencang, karena berdekatan dengan pinggang kekar milik Leon.
Keduanya terlihat sedang saling menggoda.
Merasakan embusan
nafas Leon lagi, maka itu seperti melumpuhkan sendi-sendi syaraf di seluruh
tubuh Khansa.
“Bisa lepaskan aku
tidak!” pinta Khansa dengan suara lembut.
Namun Leon tidak
bergerak sama sekali, terlihat tidak ingin melepaskan tubuh Khansa. Melihat
istri sedang begitu menggemaskan seperti ini, benar-benar mematahkan sayap
malaikat Leon yang selama ini menaungi dirinya untuk bisa bertahan dari godaan
imut Khansa.
“Kenapa? Masih belum
terbiasa dengan aku?” tanya Leon.
“Aku memikirkanmu
berkali-kali dalam sehari, ketika aku sedang sendiri, ketika aku sedang bersama
orang lain. Namun sepertinya kau tidak merasakan hal yang sama,” pikir Leon.
Karena gerakan
sederhana tadi, Benar-benar membangkitkan semangat Leon menjadi berlipat-lipat
untuk berani seperti itu kepada Khansa.
Padahal gerakan Khansa
itu sederhana sekali. Namun, karena Khansa memakai warna merah, ini sungguh
langsung menarik kefokusan Leon.
Pria cenderung
mengajak wanita berbaju merah untuk berkencan, dibandingkan dengan wanita
berbaju putih.
Karena pria telah
terbiasa mengasosiasikan warna merah dengan ketertarikan seksual sejak 10.000
tahun sebelum masehi. Warna merah pada saat itu berkaitan dengan warna bibir
dan warna wajah ketika senang atau bergairah.
“Aku merasa tidak
nyaman!” Jelas Khansa.
Leon masih terdiam dan
berpikir lagi, “kita berdua memiliki satu kesamaan, saat ini kita sama-sama
sedang berlari. Aku berlari mengejarmu dan kau berlari menjauhi aku.”
“Apa kau selalu
berpikir ingin lari dari aku, selalu menolak aku,” bisik Leon di telinga
Khansa.
“I-ni kau kenapa? Hari ini bersikap aneh?” tanya Khansa.
Leon hanya terdiam,
karena merasakan sentuhan antar kulit dan menciumi wangi aroma tubuh Khansa,
aroma yang sangat Leon sukai.
Leon merasa ingin bisa menghentikan waktu, ingin terus memeluk Khansa seperti
saat ini.
“Aku ingin kau merindu
aku, aku ingin kau kejar aku, lalu aku akan acuh tak acuh, agar kau tahu
rasanya menjadi aku,” ingin Leon dalam hati.
“Kenapa kau selalu
saja berpikir untuk jauh dari aku?” tanya Leon dengan suara baritonnya.
“Sebenarnya aku tidak
ingin menghindarimu,” jawab Khansa dalam hati.
Pertanyaan Leon,
sukses membuat Khansa tidak bergerak lagi untuk melawan. Merasakan Khansa
terdiam
Leon meneruskan
perkataannya, “Aku hanya ingin kau mengingat lagi perkataanku ini! Jika kau
membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, aku ada di sini.”
“Jika kau memerlukan
bantuan, maka aku ada di sini,” jelas Leon lagi.
Mendengar perkataan
Leon, hati Khansa seperti baru saja melewati puncak gunung dan membuat jiwanya
seperti membumbung ke cakrawala. Merasa tersanjung, tapi juga masih merasa
enggan untuk dekat.
Apa yang telah
dilakukan Fauzan Isvara dan juga Hendra benar-benar meninggalkan bekas yang
mematikan bagi hati Khansa. Membuat Khansa enggan membuka hati kepada pria.
Leon merasa semakin
tergila gila Rambut Khansa yang hitam juga nampak berkilau ketika dipadu
padankan dengan warna merah, juga kulit putih Khansa semakin terlihat putih.
Ditambah lagi melihat
mimik wajah dan gerakan Khansa saat ini, benar-benar sebuah godaan besar bagi
Leon.

Komentar
Posting Komentar