PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 42: KLONTANG-KLONTANG)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 42: KLONTANG-KLONTANG)
Klontang! klontang! Terdengar diluar ada suara ribut-ribut bunyi benda berjatuhan, itu adalah boneka kayu pajangan ala jepang konde yang terjatuh.
Nenek Sebastian tidak
sengaja menyenggolnya ketika sedang mencoba menguping, menginspeksi apakah
rencana yang telah disusunnya telah berhasil atau tidak. Karena merasa tidak
sabar, maka hal tidak terduga pun malah terjadi, Nenek Sebastian malah tidak
sengaja menyenggol meja.
Karena mendengar suara boneka-boneka kayu yang terjatuh dari salah satu meja
pajangan yang ada di dekat pintu kamar Leon, maka kali ini Leon menangkap basah
Nenek Sebastian yang sedang menguping dari luar pintu.
Leon melepaskan
Khansa, lalu melangkah kearah pintu dan membukanya, dan nampaklah wajah kaku
Nenek Sebastian.
“Nenek sedang apa?”
tanya Sebastian menyelidik.
“Aah itu … itu,” jawab
Nenek Sebastian terbata.
“kau … k-kau apakah
sudah selesai?” tanya gugup
Nenek Sebastian berbalut senyum gugup.
“Apakah Nenek sedari
tadi mengintip kami?” tanya Leon sembari bersedekap dan menaikan satu alisnya.
“Ah tidak …. tentu
saja tidak, jangan mengada-ada,” jawab Nenek Sebastian seraya menepuk-nepuk
bahu cucunya itu.
“Ini lho! Paman indra
laporan ke Nenek, mengatakan jika kunci kamar kalian rusak. Jadi Nenek hanya
membantu Paman Indra untuk mengeceknya saja,” jawab Asal Nenek Khansa.
Leon pun bersedekap
seraya berkata, “Sejak kapan Nenek menjadi ahli kunci?”
“Ini hanya karena
Paman Indra meminta bantuan kepada nenek saja,” jawab sembarang nenek Sebastian
lagi.
Nenek Sebastian
menjadikan Paman Indra sebagai kambing hitam, “Ya Tuhan, Nyonya! Kau baru saja
mendorong aku ke kandang singa yang sedang kelaparan,” pikir Paman Indra.
Nenek Sebastian
mengedip samar kepada Paman Indra, memberi tanda agar Paman Indra mengaminkan
perkataannya dan membantunya berakting di depan Leon.
“Ah iya! Tuan,
ternyata setelah diperiksa semua baik-baik saja, tidak ada yang rusak,” ujar
Paman Indra mengamini padu akting dari Nenek Sebastian.
“Jadi tidak ada yang
perlu di khawatirkan,” jelas Paman Indra.
Leon melirik ke arah
Paman Indra sambil mengernyitkan kedua alisnya. Paman Indra ketakutan sampai
kakinya lemas, tidak disangka dirinya akan disalahkan oleh Nenek Sebastian.
Melihat wajah Paman Indra yang sudah ketakutan setengah mati, maka Leon pun
melepaskan Paman Indra. Bagaimana pun juga Leon mengetahui ini semua memang
ulah neneknya. Paman Indra hanyalah seorang kaki tangan yang dipaksa untuk
menurut.
Leon mengerti, rupanya
Nenek Sebastian hanya tidak sabar ingin menggendong cicit. Karena itu sangat
bersusah payah menyusun rencana tentang pakaian seksi Khansa, dan juga tentang
persoalan kuping menguping ini. Leon pun tak berdaya dan menutup pintu kamar
kembali.
“Hish …. mengapa tidak
berhati-hati!” ujar Nenek Sebastian memarahi Paman Indra.
Paman Indra, “…”
Dalam benak Paman
Indra, sungguh Nenek dan cucu ini memiliki hubungan akur yang memang unik.
Betapa pun terkadang Nenek Sebastian bersikap konyol, namun Leon tidak
mempermasalahkannya, selama itu membuat Nenek sebastian senang dan tidak
merugikan orang lain.
Jika hanya membuat
dirinya menjadi sedikit repot, maka bagi Leon itu tidaklah mengapa, karena Leon
sudah membuktikan jika rasa sayang Nenek Sebastian kepadanya sangatlah besar,
tak heran karena hal itulah maka Leon sangat patuh dengan keinginan Nenek
Sebastian.
Nenek Sebastian adalah
orang yang selalu menemani Leon melawan sakitnya selama ini. Jadi mana bisa
Leon marah dengan Nenek Sebastian.
…
Leon menuju ke tepi ranjang, Khansa sudah tahu situasi saat ini dan jadi tegang.
Leon berdiri di tepi ranjang, berusaha mencari kata-kata yang tepat agar
Khansa mau menurut kepadanya.
Leon naik ke atas
ranjang besar mereka, lalu Leon meminta Khansa bekerja sama dengannya karena
Nenek Sebastian masih ada di luar.
“Kau hanya perlu
mengeluarkan suara d*sahan saja,” ujar Leon.
“T-tapi aku tidak
bisa,” jelas Khansa.
Khansa tidak tahu
bagaimana bisa mendesah karena teringat pengalaman yang dulu, malam pertama
yang ajaib bersama Leon di waktu pertemuan pertama mereka.
“Baiklah, jika begitu
aku akan mengingatkan bagaimana suara d*sahanmu ketika waktu malam pertama,
pertemuan kita waktu itu,” ungkap Leon.
"K-kau mau apa?
tanya panik Khansa sambil menahan dada Leon dengan kedua tangan mungilnya itu.
Khansa teringat
pemanasan sungguhan yang Leon lakukan waktu, di malam pertama mereka, hanya
karena demi bersandiwara, karena malam itu juga Nenek Sebastian sedang
menguping.
“Ah jangan! Jangan
yang itu!” ujar pelan Khansa seraya menggigit bawah ujung bibirnya sendiri,
ketika mengingat
pemanasan sungguhan kala itu.
Leon terpaksa bertindak agar Khansa akhirnya mend*sah, “ikuti gerakan aku
saja!” bisik Leon dengan suara baritonnya.
Khansa bertambah
panik, “Gerakan apa?”
“Ini …” jawab Leon
lalu mulai mencium telinga Khansa dengan gemas lalu melembut.
Leon meletakan tangan
Khansa untuk melingkar di pinggang kuatnya itu. Lalu Leon menggigit telinga
Khansa.
“Aaw …” desis Khansa
seraya menarik tangannya dari genggaman Leon yang memaksa agar tangan mungil
Khansa tersebut tetap berada di pinggang kuatnya itu.
“Kau …” ujar Khansa
seraya memukul dada Leon, lalu mengusap-usap telinganya, yang tadi baru saja di
gigit oleh Leon.
Nenek Sebastian
tersenyum ketika mendengar suara d*sah teriak khansa, lalu Nenek Sebastian
pergi dengan puas.
Khansa meminta Leon
menghentikan perbuatannya. Namun, malah Leon seperti tidak mau berhenti, bukan
hanya menggigit telinga Khansa, namun malah sedikit menjilatinya.
“Hei! Kau sadarlah!”
ujar Khansa yang merasa aneh dengan Leon yang bertindak tidak seperti biasanya.
Wajah Leon memerah,
napasnya terdengar berat. Terlihat seperti sedang bertempur melawan sesuatu
yang keras. Meski wajahnya sedang tidak enak dipandang. Namun, itu tidak
membuat guratan ketampanan Leon hilang dari wajahnya.
“Ini …. tidak bisa
begini bukan? Kita hanya menikah diatas kertas saja,” Khansa mencoba
mengingatkan Leon.
“Tapi kau adalah
istriku,” jawab Leon yang terlihat semakin kesulitan untuk mengatur
napasnya.
“Tapi tetap saja kita
hanya menjalani pernikahan yang disepakati,” jelas Khansa lagi.
Mendengar perkataan
Khansa membuat Hati Leon terasa seperti baru saja tertimpa batu yang sangat
besar, dan itu membuatnya menjadi marah dan tidak nyaman.
“Gadis ini hanya
benar-benar menganggap aku sebagai seorang suami di atas kertas saja kah?”
pikir Leon.
Leon pun menjauhkan
tubuhnya dari tubuh Khansa, lalu beranjak dari atas ranjang. Leon masuk ke
dalam kamar mandi.
Khansa menggulung diri
dalam selimut, Khansa tidak mengantuk. Perasaan Khansa berkecamuk. Tadi itu
benar-benar seperti bukan Leon yang selama ini Khansa kenal, Leon yang memiliki
tingkat pengendalian yang sangat tinggi tapi malam ini seperti benar-benar
kehilangan seluruh pengendalian dirinya.
Malam ini Leon seperti
akan melepaskan pengendaliannya, terlihat seperti ingin melahap Khansa
hidup-hidup. Gerakan Leon tadi terasa begitu intim, sehingga membuat Khansa
gemetaran.
Khansa tidak tahu
bagaimana dirinya tertidur, Khansa terbangun dan masih belum sadar sepenuhnya,
dia melihat Leon tidak ada di sofa.
Leon pergi ke mana?

Komentar
Posting Komentar