PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 43 : KALIAN)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 43 : KALIAN)
“Apakah dia sangat marah kepadaku?” pikir Khansa yang melihat Leon tidak ada di kamar mereka.
Khansa menyingkirkan selimutnya dan beranjak dari ranjangnya, ingin mencari Leon karena Khansa mengkhawatirkan kondisi badan Leon, khawatir jika saja sakit Leon kambuh. Tapi, malah tidak menemukan Leon di kamar.
“Pergi kemana dia?”
Gumam Khansa seraya menatapi jam di dinding kamarnya.
Tiba-tiba pintu kamar
mandi terbuka, Leon menarik Khansa masuk. Khansa terkejut, melihat rambut
dan tubuh basah Leon dan masih berbalut kimono handuknya. Dari balik
kimono itu Khansa melihat dada bidang Leon, kesan maskulin sangat kentara
terlihat di sekujur tubuh Leon.
Khansa mendongak ke
wajah Leon,
Dan langsung saja bertemu dengan tatapan mata yang indah dan tajam seakaan itu
adalah pandangan yang ingin membuat Khansa jatuh hati dan terlena kepada Leon.
Keduanya seperti
terpaku di bumi, dan saling menikmati memandangi satu sama lain, seakaan dunia
hanya milik mereka berdua.
Khansa memandangi
bibir Leon, yang tadi dengan lembut menciumi telinganya. Tubuh Khansa pun
sedikit gemetar karena mengingat hal tadi.
Khansa sedikit merasa bibir itu terasa seperti magnet yang sudah menarik
perhatiannya.
Pandangan Khansa lalu
turun ke bahu Leon.
Bahu Leon menggambarkan kekuatan serta maskulinitas kekuatan seorang pria. Di
mata Khansa itu terlihat indah dan menarik.
Apalagi jika sudah bicara soal punggung Leon, ini adalah salah satu bagian
tubuh Leon yang melambangkan kekuatan.
Loen Memiliki punggung
yang kekar dan berbentuk V lebar membuat Leon terlihat lebih menarik di mata
Khansa.
“Wajahmu! Mengapa
sangat memerah?” ujar Khansa sedikit bingung dan canggung.
“Emm …” Leon hanya
menjawab dengan deheman.
Khansa memegang dahi
Leon dan demamnya lebih tinggi, “Ya Tuhan!”
“Sepertinya kau
terkenan demam,”
“Kenapa bisa tiba-tiba
demam? Bukankah tadi baik-baik saja?” ujar Khansa lagi.
kali ini nenek
Sebastian menggunakan trik yang kejam sampai Leon menderita begini. Bukan hanya
Khansa yang di dandani seksi, namun Nenek Sebastian juga meminta Paman Indra
mencampurkan obat yang memberi efek kuat kepada Leon.
Melihat Leon hanya
terdiam, Khansa pun memutuskan ingin membantu Leon dengan jarum peraknya.
“Tunggulah, aku akan
membantumu dengan jarum perak aku.”
Khansa ingin membantu
Leon dengan akupuntur, baru saja ingin melepaskan diri dari pelukan Leon untuk
mengambil jarum peraknya, tapi malah Leon memeluk Khansa lagi dan berkata.
“Sasa! Aku sangat
menderita."
Leon terus saja
memeluki Khansa, sampai-sampai seakan Khansa seperti ingin kehabisan napas,
karena Leon memeluknya dengan erat, tak ingin melepaskannya.
“K-kau …” ujar Khansa
yang tidak bisa meneruskan perkataannya.
Detak jantung Khansa
berdebar tak beraturan, tidak disangka pria sekuat Leon juga bisa manja pada
dirinya, meski dalam hati sedikit menyukai namun Khansa masih belum siap dengan
apa yang Leon inginkan. Wajah Khansa nampak memerah, tubuhnya pun seperti ikut
terpaku lagi.
“Tuan Leon! Aku mohon
jangan begini!” pinta Khansa dengan lembut, ketika merasakan ada suatu yang
berubah di bagian bawah tubuh Leon.
“Sasa! Aku sangat
menderita,” ulang ucap Leon lagi dengan suara mend*sahnya.
Sebelumnya Leon sudah
berusaha mandi air dingin berkali-kali, berendam di Bath Up dengan air dingin.
Namun, masih tidak bisa memadamkan api gairah di dalam tubuhnya.
Gadis kecilnya itu
seperti telah merasuki raga Leon, dan sangat sulit untuk diusir pergi. Seperti
racun yang sudah menjalari seluruh sendi-sendi syaraf tubuh Leon dan belum ada
penawarnya.
“Aku menginginkanmu!”
bisik Leon dengan lembut di telinga Khansa sambil memeluki tubuh Khansa dengan
sembarang bergerak-gerak.
Leon sudah kehabisan
tenaga untuk meredam inginnya sedari tadi. Dan hanya bisa menyerah di depan
gadis kecilnya itu.
“Menginginkan aku,”
gumam Khansa.
“Tidak!” Jawab Khansa
dengan terkejut.
Berpikir jika itu adalah hal yang intim, maka Khansa segera mendorong tubuh
Leon, meski mereka menikah namun itu hanyalah sebuah pernikahan kesepakatan
yang saling membutuhkan dalam hal yang berbeda tujuan.
“Tuan muda Leon,
bukankah kau sudah memiliki wanita yang bisa kau ajak bersenang-senang,”
ungkap Khansa.
Leon, “…”
“Jadi mengapa kau
meminta ini kepada aku?” tanya sarkas Khansa.
Mendengar perkataan
Khansa langsung saja membuat Leon melepaskan rangkulan tangannya yang sedari
tadi mendekap pinggang langsing Khansa. Letupan tabuh genderang di dalam
hatinya terdengar seperti sedang memainkan okestra musik klasik yang
menegangkan.
“Apa kau bilang tadi!
…. mencari wanita lain?” Leon mengulang perkataan Khansa.
“Aku tidak salah
bicara kan? Mengapa dia nampak menjadi marah,” pikir Khansa.
Leon menginginkan
Khansa, tapi Khansa meminta Leon mencari wanita lain untuk membantunya
menuntaskan hal itu. Badan Leon yang tegap langsung terpaku.
Perkataan Khansa
benar-benar mematik kemarahan yang menjalar seperti api, kobaran yang besar,
yang membakar hati.
Kedua mata Leon
menjadi merah membara dan memandangi Khansa dengan kejam, pandangannya sangat
dingin dan terasa menusuk Leon pun memarahi Khansa. Suhu di kamar mereka
pun terasa seperti menurun ke suhu 0 derajat.
“Apa kau sedang
meminta aku untuk tidur dengan wanita lain?” tanya Leon dengan nada marah.
Khansa, “…”
Jika itu orang lain
yang mendapatkan pandangan seperti itu, maka itu sudah cukup untuk membuat kaki
mereka menjadi lemas seperti tak bertulang. Namun, Khansa malah sebaliknya
masih bisa kuat berdiri dan mampu menjawab Leon.
“Dalam kesepakatan
kita, jelas disebutkan tidak ada kontak fisik seperti yang kau mau itu,” jawab
Khansa mengingatkan, Khansa masih sedikit teringat dengan kejadian panggilan
telepon waktu itu.
“Apa kau lupa? Aku
juga pernah bilang, di sini Bos nya adalah aku!” ujar Leon dengan menahan
segala macam letupan-letupan petasan kecil yang ada di hatinya.
“Apa kau pikir aku
adalah boneka kalian! Yang bisa kalian atur dan mainkan sesuka hati kalian?”
hardik Khansa.
“Kalian semua! Mengapa
selalu ingin mengendalikan aku!” ujar Khansa lagi dengan mata memerah menahan
agar tidak menangis.
Kalian yang Khansa
rujuk adalah, Fauzan isvara, Hendra dan pak Arman. Pria-pria yang menganggap
jika wanita adalah mahluk yang mudah dikendalikan seperti boneka. Dan Khansa
benar-benar membenci pria yang seperti itu. Dan sekerang dia mendengar suaminya
berlaku arogan seperti mereka, dan itu mematik kemarahan tersendiri di hati
Khansa.
Khansa dan Leon pun
bertengkar. Leon sudah tidak bisa menahan diri lagi, menahan ingin dan menahan
marah dalam waktu yang bersamaan, sungguh itu bukanlah suatu hal yang mudah
untuk dilakukan. Dan berdebat dengan Khansa seperti ini adalah hal yang tidak
ingin Leon lakukan.
Leon berusaha berdamai
dengan amarahnya. Namun, detik selanjutnya, Leon malah mengacungkan tinju dan
Khansa tidak menghindari lesatan tinju yang kencang itu, Khansa hanya
memejamkan mata, tanpa bergerak lari.
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 43 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar