PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 44 : TINJU LEON )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 44 : TINJU LEON )
Tinju Leon tidak mengenai Khansa. Tapi, Leon malah menghantamkan tangannya ke kaca yang tergantung di dinding yang ada di dekat mereka.
Khansa membuka kedua matanya, lalu melirik ke arah tangan Leon yang tepat ada di sebelah wajahnya. Khansa melihat tangan Leon terluka dan juga mengeluarkan darah Khansa terkejut sekali melihat hal ini.
“Tanganmu berdarah!”
ujar Khansa dengan nada gemetaran, karena melihat darah yang mengalir di antara
sela-sela jari tangan Leon.
Leon hanya tetap
terdiam seperti tidak merasakan jika tangannya sedang terluka dan sedang
mengeluarkan darah, malah Leon menatapi Khansa dengan tatapan yang tak bisa
Khansa mengerti.
Khansa mendorong tubuh
Leon, lalu meraih tangan Leon, “Ini harus diobati,” tukas Khansa sambil
menatapi dengan rasa khawatir.
Leon melepaskan tangan
Khansa, dan malah memilih pergi keluar menghempaskan pintu, Leon tidak bicara
sama sekali. Sementara, Khansa hanya bisa menatapi punggung suaminya yang
menghilang di balik pintu kamar mereka masih dengan napas yang seperti ingin
terputus.
Apa yang terjadi dalam
beberapa hari ini benar-benar menguras emosi dan juga energi Khansa.
Kondisi Khansa
saat ini sangat menyedihkan, dia kelelahan karena menjaga bibi Fida yang masih
belum tersadar, lalu menghadapi suami yang memiliki keinginan yang bertentangan
dengannya, dan nampaknya harus ditambah dengan menanangani kemarahan Leon
terhadap dirinya.
Khansa jatuh terduduk,
dan menyandarkan tubuhnya ke dinding, seraya memejamkan matanya, dalam hati
Khansa bergumam jika Leon adalah satu-satunya pria yang tidak ingin Khansa
benci namun juga enggan untuk dekat.
Leon sedikit memahami
tentang ini, mengingat apa yang Khansa alami, penghianatan dari pria-pria
terdekatnya di sepanjang hidupnya, ini sedikit membuat Leon mengerti. Namun,
Leon tidak bisa menerima jika Khansa menyamakan dirinya seperti dua pria
penghianat yang ada di dalam kehidupan Khansa itu.
Sejak hari
pertengkaran mereka itu, Leon tidak pernah pulang lagi, Nenek Sebastian
memberitahu Khansa jika Leon kembali pergi dinas dan tidak akan tidur di rumah
dalam beberapa hari kedepan.
Khansa tahu itu hanya alasan Leon untuk membohongi Nenek Sebastian untuk
menutupi situasi mereka yang sedang bertengkar itu. Karena ketika Nenek
Sebastian menguping, mereka terdengar harmonis, romantis. Jadi Nenek sebastian
tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, pertengkaran antara Leon dan Khansa
setelah Nenek Khansa pergi.
“Jangan salah paham
dengan Leon ya! Leon memang sudah sangat sibuk mengurus bisnis jauh sebelum dia
belum menikah. Jadi bukan karena dia tidak menyukaimu,” hibur Nenek Sebastian.
“Aku mengerti Nek,”
jawab Khansa dengan tersenyum manis sambil memasukan sesuap bubur kacang hijaunya.
“Suami aku itu memang
pebisnis handal, jadi pasti akan sangat sibuk,” puji Khansa di depan Nenek
Sebastian.
Nenek Sebastian pun
tersenyum puas dengan cucu menantunya ini yang memiliki pengertian yang tinggi
dan ketangguhan yang luar biasa di dalam menghadapi cucunya yang satu itu,
dirinya saja terkadang dibuat pusing oleh Leon, jadi Nenek Sebastian selalu
berdoa agar Khansa bisa tahan menghadapi Leon.
Sorenya, Jihan
menelepon dan menantang Khansa pergi ke Bar 1949, “Ada hal yang ingin aku
bicarakan denganmu, apa kau bisa datang?”
“Ada hal apa?” tanya
Khansa sedikit malas meladeni.
“Apakah aku tidak
boleh bermain dan sedikit berbincang dengan saudara sendiri?” tanya Jihan.
“Baiklah, di mana
tempatnya?” Jawab Khansa.
Jihan pun tersenyum
senang, “Bar 1949, dan jangan sampai tidak datang.”
Khansa masih punya
banyak urusan yang harus diselesaikan, “Baik, aku akan datang tepat waktu malam
ini.”
Khansa memutuskan
sambungan teleponnya, merasa tidak ingin tenggelam dalam suasana hati
ini, dan karena Khansa tidak ingin melupakan tujuan awalnya kembali, maka
Khansa pada akhirnya memutuskan datang ke tempat yang Jihan pinta.
Jika Jihan ingin
mengajak Khansa bermain licik lagi, maka ini adalah waktu yang tepat, karena
Khansa membutuhkan tempat pelampiasan kemarahan.
……
Bar 1949
Khansa pun sampai, dan
langsung menuju masuk ke dalam ruangan, Jihan sudah datang dan juga ada Jane di
sana. Jihan memamerkan perhiasan mahal yang diberikan Hendra padanya.
“Duduklah! Aku sudah
memesankan jus jeruk untukmu?” ujar Jihan.
Sebenarnya Jihan
mengundang Khansa bermain, bukan karena merindu dan ingin bermain dengan
Khansa. Tapi, hanya karena ingin pamer perhiasan yang baru saja Hendra berikan
untuknya. Ingin membuat hati Khansa sakit mengiri.
Jihan ingin
memperlihatkan bahwa ada perbedaan perlakuan yang jelas antara dirinya dan
Khansa. Namun Khansa tidak tertarik sama sekali.
“Owh, bagus
perhiasannya,” puji Khansa dengan nada malas.
Hanya perhiasan saja,
bagi Khansa itu adalah hal biasa saja, jika menemukan tanaman obat baru, hal itu
barulah akan membuat mata Khansa berbinar bahagia.
Jihan dan Jane
menyindir Khansa, karena melihat reaksinya yang datar, " jangan sedih
begitu dong, jika kau mau minta saja kepada Jihan, beberapa perhiasan yang
sudah tidak dipakainya lagi!" ujar Jane.
“Emm … memang sih aku
ada beberapa yang sudah lama tidak aku pakai, karena modelnya sudah ketinggalan
jaman,” jelas Jihan.
“Kalau kau mau! Aku
bisa saja memberikannya kepadamu,” ujar basa-basi Jihan.
Khansa hanya
menyeringaikan senyum sarkasnya kepada kedua sahabat yang terlihat akur dan
kompak di setiap kali sedang membuli orang. Ponsel khansa berbunyi, ada
notifikasi sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
Saat ini Hendra
mengirim pesan pada Khansa, “Datanglah ke Bar 1949, ada sesuatu yang ingin
kuperlihatkan padamu.”
“Kebetulan sekali,”
pikir Khansa semakin menyeringai sarkas.
Khansa melihat Jihan
dan Jane di hadapannya, kemudian terpikirkan cara untuk membalas ejekan dan
buli mereka yang kompak tadi itu.
Khansa pun membalas
pesan Hendra kalau dirinya sudah ada di Bar 1949. Khansa meminta Hendra
mencarinya ke ruangan yang saat ini sedang didatanginya bersama Jane dan Jihan.
Nampak kedua teman
baik itu masih saja sibuk mengejek Khansa dengan menyebutkan aneka jenis-jenis
barang mewah yang dimiliki oleh Jihan.
Khansa acuh tak acuh mendengarkan semua bualan memuakan kedua wanita
dihadapannya itu. Lalu, Khansa mengajak Jihan keluar untuk bicara.
Merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Khansa, maka Jihan pun
menuruti kemauan Khansa untuk berbicara diluar ruangan.
Jihan menyangka
mungkin saja Khansa ingin mengatakan jika dia sudah tidak sanggup membiayai
hidup sugar babby miliknya yang tampan itu, dan meminta Jihan untuk
memeliharanya dan menjamin hidup sugar babby-nya itu.
Jihan pun mengikuti
langkah Khansa keluar dari ruangan VIP tersebut. Di dalam hanya ada Jane
seorang di dalam ruangan.
Jane bosan dan minum
anggur putih beberap teguk, dan itu sudah sedikit membuat Jane limbung. Pintu
ruangan terbuka saat Jane mabuk dan wajahnya memerah ketika Hendra masuk ke
dalam ruangan VIP itu.

Komentar
Posting Komentar