PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 45 : SIASAT KHANSA)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 45 : SIASAT KHANSA)
Latar belakang keluarga Jane tidak begitu kaya, Jane mendapat keuntungan dengan berteman baik dengan Jihan. Itu bisa membuat Jane bertemu dengan para sosialita kaum mewah, dan diterima bermain dengan mereka, meski ada beberapa yang memandang rendah kepada Jane.
Berteman dengan Jihan
juga membawa keuntungan tersendiri bagi Jane untuk bisa dengan lebih mudah memenuhi
gaya ala sosialitanya itu.
Jika ada barang-barang mewah seperti tas, sepatu, baju, kosmetik, ponsel yang
sudah tidak dipakai Jihan lagi karena merasa bosan atau sudah tidak modis lagi,
maka Jihan akan memberikannya kepada Jane.
Jadi tanpa mengeluarkan
uang sebanyak puluhan juta atau ratusan juta dirinya sudah bisa bergaya seperti
Jihan dan kaum sosialita lainnya dan ikut bergabung ke komunitas mereka.
Sebenarnya Jane tidak
menyukai Jihan, apalagi Khansa. Jane merasa Khansa lebih murahan dari Jihan,
tapi hidup Khansa malah begitu sempurna, bisa memasuki Keluarga Sebastian, dan
dilahirkan dari keluarga kaya seperti keluarga Isvara ini, dan
memilik sugar baby yang tampan.
“Kak Hendra, kau
datang kesini juga!” sapa Jane sembari menyembunyikan rasa senanganya karena
bisa melihat kedatangan Hendra malam ini.
Hendra datang untuk
mencari dan bertemu dengan Khansa, Jane tidak berani melihat Hendra
berlama-lama karena Hendra adalah pujaan hati Jane sedari dulu.
Namun, Jane tidak memiliki kepercayaan diri untuk mendekatinya. Dirinya
hanya dari keluarga biasa dan Hendra dari keluarga berkuasa, Jane sedikit sadar
diri dalam hal ini, meski menaruh harap.
Hendra adalah salah
satu putra tampan dari empat keluarga terhormat di Palembang, bagi Jane
Hendra seperti pangeran berkuda putih.
“Apakah Khansa ada di
sini?” tanya Hendra dengan heran karena melihat tidak ada Khansa. Tapi
malah ada Jane.
Mendengar pria
idamannya menanyakan wanita lain, apalagi wanita itu adalah Khansa, itu
benar-benar membuat hati Jane meradang. Jane mencoba mengalihkan perhatian
Hendra dengan mengajaknya minum.
“Kak! Minumlah dulu,
rasa anggur di sini tidak buruk lho.” ungkap Jane
Saat ini, Jane menuju
ke arah Hendra dan menawarkan anggur putih padanya. Tapi, Jane sedikit mabuk
karena telah menyesap beberapa teguk tadi sebelumnya, ditambah dengan pria
idaman yang ada di hadapannya ini maka keseimbangan gerakan dan hati Jane
semakin tidak karuan, Jane terhuyu
ng dan malah terjatuh
ke dalam pelukan Hendra.
“Kak Hendra …” ujar Jane dengan wajah yang memerah sambil memegangi tubuh
Hendra, menjadikan tubuh Hendra sebagai tumpuan agar dirinya tidak terjatuh.
Jane dan Hendra saling
bertatapan, Hendra dengan reflek memegangi tubuh Jane juga, agar tidak
terjatuh. Keduanya sekilas terlihat sedang saling menggoda dan saling memeluk.
Jantung Jane berdegup
dengan kencang, kakinya merasa semakin lunglai, seperti tidak menyentuh lantai.
Jane semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Hendra.
“Kak Hendra …” panggil
Jane lagi dengan lirih pelan.
Jika jantung Jane berdegup dengan kencang, maka lain hal dengan Hendra yang
merasa biasa saja, tidak tergetar sama sekali. Baginya wanita yang benar-benar
bisa membuat jantungnya berdegup kacau tak berirama hanyalah Khansa saja.
Karena itu Hendra
mati-matian berusaha untuk mengembalikan Khansa ke sisinya, Khansa juga sudah
seperti racun bagi Hendra, racun yang sudah menjalari dan meracuni pikiran dan
hatinya, Jihan memang wanita yang saat ini ada di sisinya, namun itu hanya
sebatas karena Hendra membutuhkan kebutuhan bilogis saja, tidak lebih dari itu.
Bagi Hendra masalah
dengan Jihan, 99% selalu dapat diselesaikan dengan uang, dan 1% nya lagi
bisa diselesaikan dengan uang yang lebih banyak lagi.
Jadi wanita seperti
Jihan dan Jane, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Khansa. Hendra
sudah terbiasa dikelilingi oleh wanita yang selalu saja ingin naik ke atas
ranjangnya.
….
Jihan keluar bersama Khansa, Jihan penasaran sebenarnya apa yang ingin
dikatakan Khansa padanya. Tadi sebelum mengajak Jihan keluar ruangan VIP, Hendra
mengirimkan pesan lagi jika dirinya sudah hampir tiba.
Khansa menebak jika
Jane pasti menyukai Hendra, pria tampan dari keluarga kaya berkuasa, adalah
tipe yang akan diimpikan oleh wanita seperti Jane, itu sangat mudah ditebak.
Dengan segelas anggur
di tangan Jane, dan pria idaman di dalam ruangan, maka Khansa berharap akan ada
tontonan yang bagus. Untuk itu Khansa langsung saja mengajak Jihan keluar dan
meninggalkan Jane di sana.
Melihat kadar cinta
Jihan yang sangat akut berat kepada Hendra, sudah pasti akan membuat Jihan
cemburu berat meski Hendra dan Jane tidak melakukan apa-apa. Dan Khansa dengan
pintarnya membaca situasi ini, lalu segera saja berinisiatif memanfaatka
keadaan.
“Sebenarnya kau
mengundangku kesini karena ada hal apa?”
"Apakah hanya ingin
memamerkan perhiasanmu itu? tanya sarkas Khansa kepada Jihan.
“A-aku …. tidak! tidak
seperti itu,” jawab asal Jihan.
“Dan kau! Meminta ku
bicara diluar denganmu karena apa?” tanya balik Jihan.
“Tidak ada hal penting
apa-apa,” jawab Khansa seraya menaikan bahunya dengan sedikit memberikan
senyuman yang meledek.
“Dasar ya kau ini,
memanglah tidak ada hal penting dan bagus yang bisa didengar darimu ini,” tukas
kesal Jihan sambil menunjuk-nunjuk Khansa.
“Jika kau bisa
membohongiku mengapa aku tidak boleh membohongimu,” jawab Enteng Khansa dengan
nada yang membuat Jihan semakin kesal.
Mendengar pengakuan
itu, Jihan sadar rupanya Khansa hanya membohongi Jihan saja, dan hanya
ingin membalasnya dengan membuat dirinya menjadi kesal karena alasan sebenarnya
Jihan memanggil Khansa bermain keluar hanya karena ingin pamer semata.
“Dasar anak tidak
berguna!” hardik kesal Jihan.
“Memang sangat pantas ayah membuangmu, dan mengasingkanmu,” ujar Jihan
bersungut marah.
“Jika karena bukan
kami ingin memanfaatkanmu, maka jangan pernah berharap kami memanggilmu
pulang,” hardik marah Jihan.
Jihan membalikkan
badan dan kembali ke ruangan, “Dasar gadis bodoh,” gumam Jihan merutuki Khansa
lagi.
Khansa pun tertawa
senang, sambil sedikit berjingkrak bertepuk tangan senang. Karena sebentar lagi
pasti akan ada petir menggelegar yang menyambar Jihan. Siapa suruh mereka
berdua tadi terus meneru
s mengejek dan
merendahkannya.
“Biar tahu rasa kau,” gumam Khansa lagi seraya menutup mulutnya dengan kedua
tangannya sambil menahan tawa senang karena berhasil mengerjai Jihan.
Hanya membalas
perlakuan buruk Jihan selama ini dengan lelucon remeh seperti ini, sungguh ini
memberikan warna tersendiri di malam Khansa hari ini. Selama ini mereka telah
menyakiti Khansa dengan sangat dalam, dan dengan cara-cara yang licik.
Sedangkan candaan
Khansa malam ini, bisa di bilang seujung jari kuku untuk membalas perbuatan
mereka pun masih belum ada, belum bisa dibilang pembalasan yang setimpal.
“Kita lihat saja
apakah hatimu akan tahan,” ledek balik Khansa.
Saat Jihan membuka
pintu ruangan dan masuk, Jihan jadi terpaku, luapan emosi memuncak dengan
segera dan Jihan langsung bertanya, “Jane, kamu sedang apa, hah!?”
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 45 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar