PENGANTIN PENGGANTI (BAB 46 : BENAR - BENAR MEMPERMALUKAN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 46 : BENAR - BENAR MEMPERMALUKAN)
Jane terkejut sampai segera melesat berdiri dengan benar dan keluar dari pelukan Hendra, “Ini tidak seperti apa yang kau lihat,” Jane mencoba menjelaskan.
“Brengsek!” pekik
Jihan kepada Jane.
“Apa yang sedang
kalian berdua lakukan dibelakang aku!?”
“Jane apa kau sedang
menggoda Kak Hendra aku, selagi aku tidak ada, tidak melihat!?”
Jihan sangat marah
melihat gambaran yang tadi dia lihat dengan kedua matanya. Jihan segera
menghampiri mereka berdua untuk meminta penjelasan. Namun, nampaknya Hendra
malah tidak peduli dengan pertengkaran yang akan terjadi dengan Jane dan
Jihan.Hendra juga merasa malas untuk memberi penjelasan kepada Jihan.
Hendra sudah berdiri
dengan ekspresi datar, sudah banyak wanita yang memeluk dirinya dan Hendra
tidak selalu memperdulikan mereka, bahkan tidak ingat dengan nama dan wajah
mereka. Hendra hanya terobsesi dengan Khansa dan kedatangannya ke Bar 1949
bukan untuk bertemu Jihan dan berdebat dengannya.
Bukannya menjelaskan
dan menenangkan Jihan, Hendra malah menanyakan keberadaan Khansa pada Jihan,
“Apa kau bersama dengan Khansa?”
“Dia sudah pergi!”
Jawab Jihan dengan ketus karena bertambah marah ketika mendengar
pertanyaan Hendra tadi.
“Untuk apa kau
mencarinya?” tanya Jihan dalam marahnya.
Merasa malas meladeni
Jihan, dan malas melihat pertengkaran Jihan dan Jane, maka Hendra pun
memutuskan pergi untuk mencari Khansa.
“Kak Hendra!” teriak
Jihan memanggil Hendra yang sudah menghilang dibalik pintu. Di dalam ruangan
pun hanya tersisa Jane dan Jihan.
Jihan kembali menoleh
kepada Jane yang sedang menatapinya dengan ketakutan. Kepada Khansa yang masih
terhitung keluarga saja, Jihan mampu berlaku kejam, apalagi kepada dirinya yang
hanya seorang teman. Jane pun bergidik memikirkan tentang apa yang akan dilakukan
oleh Jihan.
“Kau … kau akan
melakukan apa?” tanya Jane dalam takutnyan dan dengan nada gemetaran.
Kali ini Jihan sangat
perhitungan dengan Jane, “Kau ini teman macam apa!?” hardik Jihan seraya
menampar pipi Jihan karena merasa sangat marah.
Pipi Jane terasa
sangat kebas dan terlihat jejak merah yang Jihan tinggalkan di pipi putih
Jane. Sambil memegangi pipinya yang kebas, Jane menatapi Jihan dengan
mata yang memerah.
“Hendra itu tunangan
aku, tapi kau malah menggodanya tepat di depan mata aku!” hardik Jihan dengan
nada suara yang tinggi.
“Dasar wanita
murahan!” hina Jihan kepada Jane.
“Apa kau ini sudah gila, kau kemanakan otakmu itu hah!” pekik Jihan.
“Tidak! Tidak
kejadiannya sungguh bukan seperti yang kau lihat,” Jane mencoba menjelaskan.
“Kau harus percaya
kepada aku!” pinta Jane memelas.
“Itu sudah sangat
jelas buat aku! Kau sedang menggoda tunangan aku!” ujar Jihan yang menaikan
satu level tingkat kemarahannya ke level yang lebih tinggi.
Ketika melihat, jane
dan Hendra saling merangkul peluk, sungguh terasa seperti ada petir yang
menggelegar menyambar Jihan, dan itu benar-benar menyulut kemarahan di hati
Jihan.
“Sini kau!” hardik
Jihan.
“Dasar wanita tidak
tahu diuntung!” gumam marah Jihan lagi.
Jihan menarik,
menyeret paksa Jane untuk keluar dari ruangan VIP, dan segera melemparkan tubuh
Jane ke lantai bar tersebut, sengaja mempermalukan Jane di depan umum.
“Dasar! Tak tahu
malu,” hardik Jihan sambil menunjuk-nunjuk kepada Jane.
Jane masih
mencoba menjelaskan dalam keadaan posisi terduduk. Tapi, Jihan tidak mau
mendengar penjelasan, Jihan lalu malah sengaja berteriak mengeraskan
suaranya di dalam club itu untuk menarik perhatian orang banyak dan
mempermalukan Jane di depan umum.
Semua yang
menyaksikan kejadian itu pun mulai berbisik-bisik :
[Itu, bukankah mereka
adalah teman baik? Mengapa malah saling menyerang]
[Jika tunangan aku
digoda sahabat sendiri, aku juga akan melakukan hal yang sama seperti yang
sedang dia lakukan sekarang]
"Ih … benar-benar
wanita yang tidak tahu malu, hanya karena naksir, lalu rela mengorbankan
sahabat baik]
[Benar-benar tidak
tahu malu]
Melihat banyak yang
memihaknya maka Jihan pun meneruskan kebrutalannya terhadap Jane. Kata-kata
buruk dan kutukan dilemparkan semua kepada Jane.
“Kau ini aku sudah
berlaku baik kepadamu selama ini, bajumu! Sepatumu! Tas! Semua itu pemberian
aku!” ungkap Jihan di depan umum dengan menghina dan merendahkan.
“Bahkan aku sering
memberimu uang jajan,” ungkap Jihan lagi.
“Tapi apa balasanmu,
kau malah berani menggodai tunangan aku! Dasar ******,” hardik Jihan
bertubi-tubi kepada Jane.
“Jika bukan karena aku
maka jangan harap kau bisa makan makanan mewah dan bermain ke tempat mewah
seperti sekarang ini,”
“Kau ini hanya dari
kalangan Jelata, jika bukan karena aku maka kau hanya akan bermain di emperan
saja,” hardik keras Jihan lagi.
Jihan benar-benar
memperlakukan Jane seperti hewan peliharaan yang selama ini dia beri makan dan
hewan yang setia menggonggong di sampingnya.
“Kau ini adalah hewan
peliharaan aku, jadi jangan pernah lupa posisimu itu apa!”
“Apa kau paham!?”
tukas Jihan.
Suara Jihan sangat
keras sekali ketika menghina Jane, sehingga banyak mengundang perhatian
pengunjung Bar 1949. Banyak orang yang mengelilingi Jane dan Jihan karena
penasaran ada keributan apa. Dan hal ini tentu saja membuat Jane hanya bisa
tertunduk menahan malu karena dipandangi oleh banyak orang, dan dihakimi oleh
banyak. Orang.
Jane pun menangis lalu
minta maaf dan minta ampun pada Jihan, “Maafkan aku, itu tidak sengaja, aku
benar-benar tidak menggoda Kak Hendra,” jelas Jane lagi.
“Kau harus percaya
kepada aku!” pinta Jane melirih sambil terisak.
“Ampuni aku!” pinta
Jane dalam tangisnya.
Namun, seperti orang
yang tengah kerasukan iblis, Jihan terus memukuli Jane, “Jihan aku mohon
hentikan!” pekik teriak Jane sambil menahan sakit ketika Jihan menarik,
menjambak rambut Jane dan menendang Jane seperti sebuah tumpukan sampah yang
menjijikan.
Suara tangis Jane pun
terdengar memilukan, menahan sakit dan menahan malu. Semua orang tengah
memperhatikan keributan ini. Dan Jane benar-benar telah dianiaya, dipermalukan
besar-besaran oleh Jihan, sampai-sampai Jane tidak berani menatapi wajah-wajah
yang ada di kerumunan itu. Jane benar-benar merasa sudah di hancurkan oleh
Jihan lahir dan batin.
Jihan mengambil
segelas anggur dari nampan pelayan yang sedang terdiam memperhatikan
pertengkaran itu, lalu menuangkannya ke atas kepala Jane. Lalu Jihan membanting
gelas itu ke lantai sampai pecah. Jihan menatapi Jane masih dengan tatapan
marah dan jijik.
“Pergi ke neraka saja kau! dasar ******,” teriak hinaan Jihan kepada Jane
sambil menendang Jane lagi.
Jihan pergi
meninggalkan Jane yang meringkuk di atas lantai. Jane ketakutan sampai menangis
terisak-isak, saat ini ada yang memakaikan mantel ke badan Jane, Jane mendongak
dan itu rupanya Fauzan. Fauzan melihat Jane, “Bukankah kamu ini sahabat baik
Jihan? Kenapa bisa jadi begini?” Semua orang akhirnya bubar setelah melihat
kedatangan Fauzan.
Bagaimana menurut kamu kisah cerita dalam novel PENGANTIN PENGGANTI bab 46 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar