PENGANTIN PENGGANTI (BAB 47 : RENCANA LICIK )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 47 : RENCANA LICIK )
Semua orang pun membubarkan diri, tidak berkerumun lagi, ketka mellihat Fauzan membantu Jane berdiri, “bangunlah!”
“Apa kau baru saja bertengkar?” tanya Fauzan.
Jane hanya mengangguk
sambil terisak menangis, Fauzan memapah Jane, lalu meminta Jane
untuk membersihkan diri di kamar hotel yang dipesan oleh Fauzan, “Ini kuncinya,
pergilah ke kamar presidensial suite yang telah aku pesan,”
“Terima kasih Tuan
Isvara,” jawab sopan Jane.
Setelah Fauzan memberikan kunci kamarnyaa, Fauzan pun pergi menghadiri
perjamuan makan bisnis bersama kolega-kolega bisnisnya. Jane merasa Fauzan
tidak banyak bicara dan sopan serta berkharisma. Jane pun pergi ke kamar
presiden suite itu. Kamar presiden suite ini memiliki lift pribadi.
“Liftnya benar-benar
terlihat mewah,” gumam Jane.
Begitu pintu lift
terbuka, Jane lebih terkejut lagi melihat pemandangan yang ditangkap oleh kedua
matanya itu, kesedihan yang tadi dia rasakan karena perlakuan Jihan, sedikit
terobati dengan melihat kemewahan di depan matanya ini.
Kamar presiden suite ini dilengkapi dengan ruang tamu besar dan ada grand
piano yang di letakan di tengah-tengah ruangan.
Tak ketinggalan akses
langsung menuju teras di rooftop. Kamar presiden suite ini begitu megah,
Desain arsitekturnya mengusung tema Mediterania dengan interior bernuansa
kontemporer.
“Ini indah sekali,”
gumam Jane sambil berjalan ke sana kemari menatapi keindahan kamar yang Fauzan
sewa.
Kamar Presidential
Suite ini terdiri dari dua kamar tidur yang dilengkapi gudang anggur pribadi,
fasilitas dapur, ruang makan, taman. Jane dengan wajah senang kagum memasuki
kamar utama, dan mencoba berbaring di ranjang tersebut.
“Benar-benar empuk dan
nyaman,” gumam Jane sambil tertawa.
Jane melirik ke arah
samping, sebuah gantungan jas pakaian ada di letakan di sudut kamar itu.
Terlihat sebuah jas yang rapih licin berwarna hitam tengah tergantung disana.
Jane pun bangkit dari ranjang dan melangkah ke arah jas tersebut.
Jane memegang jas
tersebut, merasakan kelembutan bahan jas tersebut di tanganya lalu mencium
aroma wangi yang menyegarkan dari jas tersebut. Jas itu memang terlihat
sangat rapi, dan bersih.
“Ini pasti jas tuan
Isvara.” ujar Jane seraya menciumi arom maskulin dari jas tersebut.
Jane mengamati detail kamar mewah ini, Kamar yang didominasi oleh warna
putih dan salem, dengan beragam corak pada furnitur.
Dipadu dengan koridor
panjang, lampu gantung, dan jendela-jendela besar, ini menambah tampak
kemewahan dan rasa nyaman tingkat tinggi.
Jane pun keluar dari kamar Fauzan lalu, masuk Ke kamar yang satunya lagi.
Jane belum pernah
tinggal di kamar presiden suite seperti ini, tak berapa lama sekretaris Fauzan
datang dan mengantarkan gaun branded.
Jane pun langsung saja membersihkan diri dan memakai gaun branded yang
diantarkan sekretaris Fauzan ke sana setelah selesai mandi. Jane berkaca dan
mengagumi kecantikan dirinya sendiri, lalu benci karena terlahir di keluarga
miskin.
“Aku adalah wanita
yang cantik, tapi nasibku sangat buruk terlahir di keluarga miskin,” gumam Jane
merutuki dirinya sendiri.
“Menjadi orang kaya
memang benar-benar enak,” gumam Jane sembari mematut-matut dirinya di depan
kaca.
“Jika saja aku bisa
memiliki semua kemewahan ini,” pikir Jane.
Jane teringat dengan
perawakan fauzan tadi Ketika menolongnya, “Sebenarnya juga tuan Fauzan cukup tampan,
meski sudah tidak muda lagi,” pikir Jane lagi.
Jane teringat
perlakuan Jihan tadi yang benar-benar mempermalukannya, lalu mengingt
keluarganya yang miskin, benar-benar membuat Jane merasa tidak puas atas
kehidupannya itu.
Pikiran nakal dan pikiran licik Jane pun mulai menjalari otaknya yang kecil
itu, yang hanya sanggup menampung pemikiran licik dan jahat. Jane memutuskan
mau memiliki Fauzan dan menjadi ibu tiri Jihan dan Khansa.
Darah Jane bergejolak
saat memikirkan hal ini, “Lihat saja! Bagaimana jika nanti jka aku menjadi ibu
tiri kalian, akan aku pastikan untuk menginjak-nginjak kalian seperti keset,”
ancam Jane.
Melihat kemewahan di
depan mata seperti ini ini , benar-benar membuat rasa takut dan rasa malu Jane
pergi menghilang entah kemana, bahkan dirinya pun sudah menyiapkan hati jika
harus berhadapan dengan Maharani, si ratu film. Bagi Jane saat ini, kemewahan
adalah prioritas utamanya.
“Aku akan menggunakan
kesempatan ini, membuat nasi menjadi bubur,” pikir licik Jane.
“Meski tidak bisa
menjadi istri sah, jika hanya menjadi selir pun sepertinya kehidupan aku akan
terjamin mewah,” gumam Jane sambil berpikir dalam-dalam dan sambil merapihkan
rambut panjangnya itu.
“Baiklah begitu saja,
malam ini aku harus bisa naik ke ranjang Tuan Fauzan,” ujar Jane membulatkan
tekadnya demi bisa mendapatkan kemewahan yang dia idam-idamkan selama ini,
tanpa harus bekerja keras, bersusah payah.
Jika bersama Fauzan.
maka dia bisa mendapatkan barang branded yang baru, bukan barang sisaan dari
Jihan. Maka sudah pasti Jane tidak akan membuang kesempatan emas ini.
Jane pun menggunakan
fasilitas pelayan pribadi yang diberikan dari hotel, Jane meminta beberapa
produk kosmetik dan juga parfum yang bisa meninggkatkan ga*rah ****, wangi yang
menggoda.
Jane sudah benar-benar
bertekad untuk menjadi ibu tiri Jihan dan khansa, selain bisa membalas dendam,
Jane juga memikirkan tentang kemewahan yang akan dia dapatkan dari Fauzan.
Menjadi bagian dari keluarga Isvara, adalah sesuatu yang tidak buruk bagi Jane,
meski menjadi wanita simpanan Fauzan.
Jane sudah duduk manis
menunggu kedatangan Fauzan, Jane menciumi aroma tubuhnya lagi, wangi parfum
yang menggoda tengah dibubuhi di beberapa bagian tubuhnya.
“Tuan Fauzan, malam
ini aku akan memberikanmu pelayanan terbaik,” gumam jane sambil tersenyum
licik.
…
Fauzan pulang ke kamar presiden suite setelah selesai dari perjamuan bisnis.
Fauzan mabuk dan langsung terkapar di atas ranjang. Fauzan tidak menjawab
telepon dari Maharani, lalu malah mengeluarkan dompet untuk memandangi foto ibu
Khansa, Stephanie.
Pandangan Fauzan penuh
rasa cinta teringat Ketika dulu Stephanie ada di sisinya. Tidak hanya wajah
Stephanie yang cantik, yang bisa membuat Fauzan jatuh cinta pada
pandangan pertama ketika dia melihat Stephanie perempuan yang ceria. Hanya memerlukan
waktu tujuh detik, senyuman Stephanie yang ceria bisa membuat Fauzan jatuh
cinta pada pandangan pertama.
Jantung Fauzan
berdegup dengan kencang Ketika membayangkan Stephanie tersenyum kepadanya,”Aku
merindukanmu,” gumam Fauzan merengek seperti anak berusia lima tahun.
Jane memperhatikan
postur tubuh Fauzan yang sedang berbaring di ranjang besar di kamar
presidensial suite tersebut, merasa tubuh fauzan cukup menggoda juga. Jane
membenarkan gaun yang dipakainya itu , lalu berjalan perlahan ke arah Fauzan.
Jane duduk di sisi
ranjang dan perlahan menaikan tubuhnya ke atas ranjang besar itu. Fauzan
mengusap setiap inchi dari foto Stephanie dengan penuh kasih sayang, dan
bergumam, “Steph… Steph…”
Saat ini Fauzan
merasakan ada tangan yang hangat sedang menyentuh dirinya. Fauzan menahan
tangan itu, “Siapa?”
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 47 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang lain,
kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar