PENGANTIN PENGGANTI (BAB 48 : SAKIT HATI)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 48 : SAKIT HATI)
Jane sedikit tegang karena tidak menyangka Fauzan masih tersadar, “Fa-fauzan …” panggil jane melirih.
Fauzan bergumam
sendiri, “Steph, kamu sudah kembali?” Fauzan memeluk Jane dan menindihnya…
…
Khansa mendengar kabar tentang Jihan memukuli Jane dan sudah memperkirakan hal
itu dari awal, Khansa merasa puas. Mendengar ribut-ribut pengunjung berbisik
tentang perkelahian maka Khansa pun merasa ingin melihat badai besar yang baru
saja dia ciptakan.
Khansa ingin melihat
keadaan Jane, tapi saat ini Hendra malah menemukannya, “Khansa!” panggil
Hendra.
“Hendra!” gumam
Khansa.
Melihat Hendra datang
melangkah ke arahnya, Khansa pun bebalik pergi ingin menjauhinya. Namun
langkah Hendra yang panjang dengan mudahnya mengejar langkah Khansa.
“Sa! Tunggu,” ujarnya
sambil mencegat langkah khansa.
“Kau mau apa
lagi! Mengapa senang sekali mengganggu aku!” tukas marah khansa.
Hendra menarik tangan
Khansa untuk membawanya menemui seseorang, “Kali ini kau akan berterima kasih
kepada aku,” ujar Hendra dengan penuh percaya diri.
“Ikut aku! Ada yang
harus aku tunjukan kepadamu.” ujar hendra lagi.
“Lepaskan aku! Kau mau
membawa aku kemana?” hardik Khansa.
Hendra pun
tersenyum dan terus saja menarik Khansa memasuki sebuah ruangan VVIP di club
itu, “Sasa, lihatlah sendiri!”
Mereka berdua masuk ke
dalam sebuah ruangan mewah yang dipenuhi asap rokok, di dalam ruangan itu ada
para anak orang kaya di Kota Palembang ini dan juga beberapa wanita cantik
dengan pakaian yang sangat minim, yang memperlihatkan lekuk tubuh mereka.
“Apa maumu
sebenarnya?” hardik Khasna.
“Lihat saja di sana
ada siapa?” jawab Hendra.
Khansa memperhatikan
desain ruangan yang unik itu, Desain lantai memikat membuat suasana ruang
terasa lebih luas. Tinggi langit-langit yang tidak pendek juga menambah
sensasi bebas luas, nyaman. Ruangan tersebut diisi oleh sofa dan
furniture yang terlihat sangat mewah, lampu kristal yang tergantung
dengan indah.
Meksi setengah
remang-remang namun mata Khansa masih dapat menangkap semua keadaan di dalam
dengan sangat baik. Khansa dapat melihat baik pria dan wanita yang ada di dalam
sana, dan Salah satunya adalah Leon Sebastian yang tampan.
“Leon!” panggil lirih
Khansa dengan suara sedikit tercekat.
Khansa memperhatikan
Leon duduk terpisah, sementara para wanita terlihat ingin sekali bisa merebut
perhatian Leon. Hati Khansa seperti baru saja tertancap belati dan merasa hatinya
seperti baru saja berdarah banyak. Melihat jika suaminya itu tidak pulang
berhari-hari, lalu malah menemukannya ada di sini, di kelilingi oleh
wanita-wanita dan hingar bingar musik yang berdentum kencang.
“Jadi dia sudah
menemukan hiburan yang menyenangkan hati? Karena itu sudah tidak ingat pulang
lagi,” pikir kesal Khansa.
Khansa menasehati
dirinya sendiri, mengingatkan kembali jika pernikahan mereka hanyalah
pernikahan kesepakatan yang bertujuan untuk saling menguntungkan, jadi tentang
Leon mau menghabiskan malamnya dengan siapa, itu sama sekali bukanlah
urusannya. Mata Khansa mulai terasa sedikit perih, karena mencoba menahan air
matanya agar tidak terjatuh.
Khansa menatapi
tajam ke arah tubuh Leon yang masih duduk dengan santainya, “Dia bahkan tidak
mengkhawatirkan dirinya sendiri dan malah bersenang-senang di sini,” pikir
Khansa.
Baru saja, Khansa
merasa bodoh karena telah mengkhawatirkan jika saja sakit Leon kambuh ketika
suaminya itu berhari-hari tidak pulang ke rumah. Tak ingin berlama-lama memandangi
pemandangan yang membuat mata dan hatinya itu terasa sakit, Khansa pun
memutusak bergesa pergi.
Khansa berlari pergi
dan tidak ingin melihat hal itu lagi, Hendra mengejar Khansa dan bertanya
apakah Khansa menyukai Leon, “Apakah kau benar-benar jatuh cinta kepada pria
itu?”
“Sa! Apa kau
benar-benar menyukai pria itu?” tanya Hendra lagi.
Melihat Khansa tidak
menyangkal, Hendra pun merasa patah hati lagi. Namun, tidak kehabisan akal,
Hendra terus menjelekkan Leon untuk merubah perasaan Khansa pada Leon.
“Sudah lihat sendiri
kan? Dia tidak pantas untukmu, dia tidak cukup baik untuk menjadi pria
kesukaanmu Sa!” ujar Hendra.
“Lalu menurutmu pria
seperti apa yang harus aku sukai?” tanya sarkas Khansa.
“Apakah pria
seperttimu!? Hah! Jangan bercanda dengan aku,” tukas Khansa seraya menyeringai
dengan senyuman menghina.
Merasa tidak puas
dengan jawaban khansa, ini pun memancing rasa marah di hati Hendra dan akhirnya
membuat Khansa dan Hendra mulai bertengkar.
“Sa! Apa kau ini
bodoh. Mengapa kau masih saja menyukainya hah!” tukas Hendra dengan nada marah
sembari menarik lengan Khansa.
“Kau menyakiti aku,
lepaskan!” tukas Khansa.
Mendengar jika genggaman tangannya menyakiti Khansa, hendra pun segera
melepaskan tangannya dari lengan Khansa, “Sa! Kali ini dengar apa kata
aku ya!” pinta Hendra dengan lembut.
“kembalilah ke sisi
aku! Hanya aku saja,” ungkap Hendra.
“Hentikan! Kau, dia
dan mungkin semua pria-pria lain di sana sama saja, Munafik!” Hardik Khansa.
“Jadi jangan ajari aku
mana pria baik dan mana pria yang tidak baik! Percayalaah aku sangat-sangat
mengetahui tentang semua itu,” ungkap Khansa.
“Dan jangan pernah
mencoba untuk menguasai hati aku!” Khansa memberikan jawabannya dengan
melemparkan seluruh kemarahannya kepada Hendra.
Saat ini hati Khansa
begitu sakit, ini sudah keberapa kalinya Khansa dikecewakan oleh orang
terdekatnya, Meski sudah berusaha menjaga hati untuk biasa saja, tidak ingin
mentautkan hatinya kepada Leon. Namun, tetap saja itu terasa sakit Ketika
melihat suami sendiri sedang duduk berkumpul, bersenang-senang dengan
sekumpulan wanita lain, seperti tidak ada beban, terlihat seperti sudah
melupakan pertengkaran hebat mereka di malam itu.
Hati Khansa bertambah
sakit, Ketika mengingat waktu itu dengan suara parau Leon membisikan jika
dia menginginkannya, Khansa merasa bersyukur ketika menolak keinginan Leon di
malam itu, Jika menurutinya bukankah itu sama seperti habis manis sepah
dibuang, Ketika sudah mendapatkan maka dengan seenaknya bisa dibuang kapan
Ketika leon mau membuangnya.
Khansa pergi begitu
saja dengan membawa tatapan kemarahannya kepada Hendra dan juga kepada Leon.
Hendra lalu menyerah untuk mendapatkan Khansa. Tapi, kali ini Hendra pun
menyeringai senang karena merasa puas jika siasatnya sudah berhasil, bisa
membuat Khansa melihat pria yang dia sukai saat ini adalah oria yang tidak
setia.
Khansa tergesa untuk
pergi keluar meninggalkan klub ini. Khansa tidak mengerti kenapa Leon bisa
membuat dirinya sakit hati, “Dasar sial,” gumam Khansa merutuki semuanya,
Khansa menghentikan langkahnya, menarik nafas dalam-dalam dan menghapus air
matanya.
“Tidak boleh jatuh
cinta! Tidak boleh jatuh cinta,” gumam Khansa memperingati dirinya sendiri.
Saat ini manajer bar
datang dan mengira Khansa adalah pelayan yang mengantar minuman. Khansa
langsung didorong masuk kembali ke dalam ruangan mewah tempat Leon dan yang
lainnya berada tadi. Salah satu pria di dalam mendongak dan matanya berbinar
saat melihat Khansa, “Wah, ada wanita cantik!”
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 48 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar