PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 49 : MENGANGGAPNYA ORANG ASING)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 49 : MENGANGGAPNYA ORANG ASING)
Rupanya Simon yang berteriak, Leon baru akan menyalakan rokok malah mendongak. Leon melihat Khansa sedang terpaku berdiri limbung, karena baru didorong oleh manajer Bar. Leon memutar-mutar rokok di tangannya, sambil menatapi Khansa, berpikir sedang apa istrinya itu berada di sini.
Mata Khansa dan mata
Leon saling bertatapan, rumus rasio emas ketampanan memang sangat pantas
disematkan kepada Leon Sebastian. Leon memiliki wajah yang simetris, bentuk
hidung sempurna, memiliki mata yang indah dan juga memiliki dagu yang
mempesona. Tidak heran banyak wanita yang berhayal ingin duduk di pangkuan Leon
dan menjadi wanita yang berdiri di sisi Leon.
Leon masih menatapi
Khansa seraya berpikir, "Apa dia datang untuk mencari aku?"pikir Leon
sedikit senang.
Khansa merasa canggung
karena ditatapi seperti itu oleh Leon, Khansa juga merasa serba salah
karena tadi didorong masuk dengan paksa. Khansa dan Leon saling bertatapan
lagi, dan itu semakin membuat Khansa merasa dalam kecanggungan tingkat tinggi.
“Mengapa hari ini bisa
sesial ini?” pikir Khansa.
Saat ini ada beberapa
pria yang mengira Khansa adalah gadis yang akan menemani mereka minum-minum,
Leon tidak bicara apa-apa untuk menghentikan mereka dan Simon malah hanya
mengamati ekspresi Leon.
“Hei! Apakah ini
layanan baru dari bar ini? Pelayan bercadar,” ujar mereka.
“Wow bukankah pelayan
ini terlihat sangat misterius cantik,” ujar salah satu anak kaya yang ada di
dalam ruangan tersebut.
“Pelayan bercadar!”
ujar mereka sambil bersiul dan bertepuk tangan senang.
“Wow ini benar-benar
layanan yang langka,” ujar salah satu dari mereka lagi.
“Ayolah! Kemari,
temani kami bermain,” ujar mereka menggodai Khansa.
Mereka memuji betapa
bagusnya pelayanan fasilitas terbaru ini, membiarkan mereka bisa bermain dengan
wanita misterius. Simon diam-diam tersenyum dan pura-pura tidak mengenal
Khansa, Simon pun memanggil Khansa. Simon ingin menggodai Leon, dan mulai
ikutan menggodai Khansa.
“Hei! Kamu,
cepat tuangkan anggur itu untuk kami!" pinta Simon.
Melihat Khansa hanya
terdiam, tidak memenuhi panggilannya, simon pun berceloteh lagi, kenapa tidak
tahu aturan sih?”
Tiba-tiba seorang bos
tua berdiri, “Biarkan aku yang memberikannya pelajaran, bagaimana cara
bekerja dengan baik,” ujar bos tua tersebut.
“Gadis cantik
kemarilah, datanglah kepada papa!” ujarnya.
“Datang! Kepalamu,
Hah!” gumam Khansa merutuki pria tua genit tersebut.
Bos tua tersebut juga
tertarik dengan kecantikan misterius yang ada di balik cadar Khansa. Bos tua
tersebut mulai ingin menyentuh Khansa, dia ingin menyibak cadar di wajah
Khansa, dan tak sabar ingin melihat wajah Khansa tanpa di tutupi cadar.
Khansa menghindar dan memarahi bos itu
“Aku bukan pelayan
kalian!” hardik Khansa seraya menepis tangan bos tua itu dari cadarnya.
“Perhatikan tangan
kotormu itu, jangan menyentuh aku sembarangan!” hardik marah Khansa.
“Kau ini hanya pelayan! Mengapa begitu sombong!” tukas bos tua tersebut.
“Aku tadi melihatmu
didorong oleh manajer klub ini, jadi jangan berbohong!” ujar bos tua itu lagi.
“Detik ini juga! Aku
bisa dengan mudah meminta kepada manajer klub ini agar sehera memecatmu!
Karena tidak menjalankan tugasmu dengan baik?” ancam bos tua tersebut.
“Aku tidak mengenal
orang itu, dan aku bukan pelayan!” jawab Khansa marah.
“Dan aku tidak ingin
berurusan dengan kalian,” ujar Khansa lagi.
“Jadi jangan ganggu
aku!” tukas Khansa dengan ketus.
Kemarahan Khansa sudah
benar-benar meletup-letup bak lava panas yang akan segera menyembur ke
permukaan bumi. Melihat pria tua yang genit, lalu melihat suami yang menatapnya
bagai orang asing, ini benar-benar membuat Khansa kesal setengah mati.
“Benar-benar sial bisa
bertemu dengan pria genit sepertimu,” tukas Khansa.
Khansa ingin pergi,
Tapi, bos itu malah menahannya dan tidak percaya dengan penjelasan
Khansa, “Hei! Kau ini mengapa masih saja munafik,” ujar bos tua itu.
“Gadis cantik, jika
kau ikut dengan aku maka aku akan menjamin hidupmu akan bahagia,” janji bos tua
tersebut.
“Kau pasti menyukai
barang-barang mewah bukan? Aku bisa dengan mudah memberikannya kepadamu!”
janjinya lagi.
“Aku juga bisa
memberikanmu tempat tinggal yang mewah,” bujuk bos tua itu lagi kepada Khansa.
“Tinggal katakan
berapa uang yang kau mau, maka aku akan segera memberikannya kepadamu,”
iming-iming bos tua tersebut kepada Khansa.
“Aku akan menjamin
seluruh keperluanmu, kebutuhan hidupmu. Mau yah jadi sugar baby aku!”
pinta si bos tua itu lagi.
“Ciih … dasar tua-tua
keladi, ssmakin tua semakin jadi” gumam Khansa merutuki bos tua tersebut.
Bos tua itu semakin
menggemas karena sepertinya Khansa sulit ditaklukan, boa tua tersebut malah
ingin memeluk Khansa, namun Khansa malah menginjak kaki bos tua tersebut.
“Dasar tak tahu malu,”
hardik Khansa.
“Bisa lepaskan aku
tidak!” ujar marah Khansa seraya menghempaskan tangan bos tua tersebut
yang terlihat ingin memegangi Khansa sedari tadi.
“Tunggu dulu cantik!”
ujar bos tua itu menenangkan Khansa yang sudah terlihat bar bar dan sambil
menahan sakit di kakinya.
“Bagaimana jika kita
membuat kesepakatan,” ajak bos tua itu memberikan penawarannya.
Khansa, “…”
Bos tua itu malah
mengajak Khansa untuk bertaruh “Aku akan melepaskanmu jika kau bisa menang
memainkan suatu permainan. jika kau kalah, maka kau harus mau
melepaskan cadar yang sedang kau pakai itu dan ikut dengan aku."
“Bagaimana? Setuju
tidak?” tanya bos tua itu penuh harap.
“Mau tidak?” tanya bos
tua itu lagi.
Hari ini Khansa
berpakaian sangat cantik, jadi mana rela bos tua itu melepaskan Khansa dengan
begitu mudahnya. Meski Khansa menggunakan motif sederhana, Tapi karena
Khansa pandai memilih warna yang sesuai dengan kulit tubuhnya yang
semakin memperlihatkan kulit putihnya dengan lebih jelas lagi dan itu malah
menambah kecantikan Khansa yang terlihat semakin misterius dengan cadar yang
hanya menyisakan kedua mata Khansa yang tajam dan bulu matanya yang lentik, dan
juga alis yang seperti pohon willow.
Leon sama sekali tidak
ingin melihat Khansa, ekspresinya datar dan dingin. Leon mulai mematik api
untuk membakar rokoknya.
Malam ini Leon
hanya menganggap Khansa seperti orang asing, menganggap Khansa seperti udara.
Ada dan tiada, bisa kau rasakan namun tidak bisa kau sentuh.
Khansa mengalihkan
pandangannya dari Leon, lalu menatapi bos tua tersebut. “Baik aku setuju! Kita
taruhan,” jawab Khansa.
Bos tua itu merasa
sangat senang, dan saat ini, bos tua tadi kembali mau menyibak cadar Khansa
karena penasaran, “Nona cantik, taruhan sudah kita sepakati, ayo perlihatkan
wajah indahmu dibalik kain ini.”
“Ayo! jangan
malu-malu, bukalah cadarmu itu!” pinta bos tua itu lagi, dengan tidak sabaran.
“Tunggu sebentar,”
ujar Khansa dengan cepat menahan gerak si bos tua tersebut.
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 49 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar