PENGANTIN PENGGANTI (BAB 5 : SIASAT)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 5 : SIASAT)
Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.
“Maaf, gimana kalau …
kamu cium balik, supaya kita impas?”
Khansa melihatnya
dengan tatapan tajamnya. “Kurasa … aku seharusnya menamparmu!” tukas Khansa
seraya mendorong tubuh Leon agar lebih menjauhinya.
Leon mengangkat sudut
bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang
muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir
Leon.
“Sungguh menyenangkan
hati,” gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.
Khansa membuka pintu
mobil kursi penumpang depan. “Aku pergi dulu.”
"Ingat namaku
Leon!” ujar suaminya itu.
Khansa tidak berpikir
banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya,
yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.
Bahkan ketika dia
sampai dia belum diijinkan menemui kakeknya itu, jika sudah resmi menikah
dengan keluarga sebastian barulah Fauzan mengijinkan Khansa untuk bertemu
dengan kakek Isvara.
Fauzan sengaja
menjadikan kakek Isvara sebagai jaminan agar Khansa tidak lari dari pernikahan.
“Iya, tahu, sampai
jumpa, Tuan Leon.” Khansa berdiri di luar mobil sambil melambaikan tangan
mungilnya ke arah Leon.
Hari ini Khansa memakai
sebuah sweater merah, saat melambaikan tangan, bagian bawah sweater terangkat
ke atas dan menampakkan pinggang munggilnya, Leon menggesekkan jemarinya yang
berada di atas setir sejenak, di dalam hati Leon berpikir apakah pinggang
kecilnya itu cukup untuk dia genggam?
“Aku ada rapat nanti,
jadi agak malam baru kujemput.”
“Tidak perlu…”
Saat Khansa menolak,
mobil mewah berjenis mini cooper itu telah melaju pergi dengan cepat. Leon
pergi tanpa mendengarkan perkataan Khansa.
……
Adegan ini kebetulan dilihat oleh Jihan dari lantai atas. Jihan merasa Khansa
terlihat lugu dan baik di luar, tapi tak disangka di hari kedua menikah dia
malah sudah menggoda pria lain di belakang suami penyakitannya itu.
Khansa naik ke lantai
atas dan disindir oleh Jihan bahwa dia memelihara sugar baby.
“Baru menikah, sudah
berani bawa pacar muda,” sindir Jihan.
Khansa, “…”
Khansa teringat pada
postur tubuh dan wajah Leon, dia tidak tahu harus menjawab apa terhadap
penilaian sugar baby yang Jihan sematkan ke Leon, tapi dia sedang malas
meladeni Jihan, tujuannya pulang adalah untuk menjenguk kakek.
Kakek adalah
satu-satunya orang yang paling menyayanginya di keluarga Isvara.
Sepuluh tahun yang lalu, saat Khansa berumur sembilan tahun, Ibunya meninggal,
suatu hari saat terbangun dia menemukan dirinya sedang berbaring di depan
tangga, dan kakeknya terbaring di dalam genangan darah di lantai bawah.
Semua orang di rumah
yakin kalau dia lah yang mendorong kakek. Kemudian datang seorang peramal yang
mengatakan kalau dia adalah pembawa sial, siapa pun yang bersamanya pasti akan
dalam masalah.
Oleh karena itu,
Fauzan mengirim Khansa yang baru berusia sembilan tahun ke desa dan tidak
mengurusinya lagi bahkan sekali pun tidak pernah menjenguk Khansa.
Tak lama kemudian
ayahnya itu menikahi Maharani dan membawanya tinggal di rumahnya, menjadikan
Maharani Nyonya Besar di rumah keluarga Isvara. Kepulangan Khansa kali ini
adalah untuk menyelidiki kebenaran waktu itu.
Khansa menjenguk
kakeknya sendirian. Rasa haru menyelimuti hati Khansa, ini adalah Kakeknya yang
tidak di lihat selama bertahun-tahun.
Khansa berjalan dekat
ke ranjang Kakek Isvara, karena pendarahan otak dan cedera kepala berat
benaran mempengaruhi kesehatan kakek Isvara. Khansa mendekati kakek Isvara,
lalu dia memeriksa denyut nadi kakek dan memeriksa kesehatan tubuhnya.
Khansa mengatakan pada
kakek bahwa dirinya pasti akan menyembuhkan kakek. “Kakek aku kembali,” ujar
Khansa dengan suara tercekat menahan tangis.
Khansa bersimpuh di
sisi ranjang Kakek Isvara, lalu meletakan kepalanya di dada Kakek Isvara dengan
manja seperti dulu waktu dia kecil. “Aku pasti akan menyembuhkan kakek,” janji
Khansa.
Khansa mengangkat
kepalanya, duduk di sisi Kakek Isvara lalu mengambil tangan Kakeknya itu dan
mulai memijat-mijat tangan kakek Isvara, Khansa memberikan pijat refleksi.
Pijat tangan ini
sering dilakukan untuk menghilangkan pegal dan membuat tubuh agar terasa lebih
segar. Khansa melakukan pijat refleksi di bagian tangan kakek Isvara
karena pijatan ini dipercaya dapat memberikan efek relaksasi dan
mendeteksi berbagai gangguan pada organ tubuh.
Khansa mulai menekan
titik tertentu di bagian tangan, yang berdasarkan pengetahuannya, titik itu
terhubung dengan organ dalam tubuh.
Dengan memberi tekanan
di bagian tersebut, dipercaya dapat memberikan efek kesehatan seperti
mengurangi nyeri dan membuat tubuh lebih rileks.
Sementara itu, Di
dalam dapur, ibu tirinya sedang sibuk memasak sarang walet, dia akan
memasukkan obat ke dalam sup sarang walet untuk mengerjai Khansa.
Maharani meneteskan
sepuluh tetes cairan obat bius, lalu dia mengaduk hingga obat tercampur dengan
air secara merata.
Sebenarnya lima tetes
saja sudah cukup, namun Maharani sangat membenci Khansa, karena itu memberinya
sepuluh tetes, berharap obat itu akan segera bekerja lebih cepat.
Maharani menambahkan
obat bius cair yang bisa bekerja ampuh dalam hitungan menit. Cukup
sekali minum langsung bisa membuat pingsan. Obat bius cair kategori liquid s*x
ini bakhan bisa membuat orang pingsan berjam-jam lamanya.
Seseorang akan terbius
dalam arti tertidur dengan mudah setelah menggunakannya. Tak sampai tiga puluh
menit, pengguna akan pingsan selama berjam-jam setelah meminum minuman yang
sudah tercampur liquid s*x ini.
Maharani mencampurkan
ke menu masakan sarang walet tadi karena cairan ini tidak berbau maupun berasa.
Pada umumnya
kebanyakan obat bius mempunyai rasa dan bau salah satunya yang paling banyak
adalah rasa pahit dan bau yang menyengat jika tercium oleh hidung.
Maharani akan meminta
Khansa menghabiskan menu sarang walet ini. Lalu dengan bantuan Jihan,
mereka hendak memberikan Khansa kepada seorang pria tua bernama Pak Arman yang
telah lama menginginkan Khansa.
Ketika waktunya tiba,
dia akan mengambil beberapa foto asusila Khansa untuk mengancamnya.
Khansa meminum sup itu
dengan patuh, dia juga berterima kasih kepada Maharani dengan bodohnya, setelah
pingsan dia dibawa ke dalam kamar.
Tak lama kemudian Pak
Arman datang, dia terlebih dahulu menjanjikan investasi dana kepada Grup
Isvara, Mendengar dan membayangkan berapa banyak pundi-pundi uang yang akan dia
dapatkan nanti dengan hanya sekali menjual khansa kepada Pak Arman, itu membuat
hati Maharani serasa ingin keluar dari tempatnya sangking merasa
senangnya.
Setelah itu Maharani
baru
memperbolehkannya naik ke lantai atas. Di dalam kamar, Pak Arman hampir
meneteskan air liurnya ketika melihat Khansa yang terbaring di atas ranjang,
dia bergegas melepaskan pakaiannya dan menerjang ke atas ranjang.
“Hai cantik, aku
datang!”
Untuk membaca novel PENGANTIN PENGGANTI bab berikutnya
silahkan klik navigasi bab dibawah ini.
Kamu juga bisa menginstall atau mendownload aplikasi novel kesayangan
kamu. Misalnya novelku, noveltoon
dan aplikasi innovel. See u di bab
selanjutnya....muachh..

Komentar
Posting Komentar