PENGANTIN PENGGANTI (BAB 50 : TARUHAN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 50 : TARUHAN)
Khansa berkata, “Aku sudah bilang aku bukan gadis yang menemani kalian minum-minum, tapi baiklah kalau kalian ingin aku melakukannya, ayo kita bertaruh dengan sebuah permainan. Biarkan aku pergi kalau aku menang, kalau aku kalah, sesuai dengan taruhan kita.”
“Nah begini baru
manis,” puji bos tua tersebut karena Khansa bersikap patuh.
“Aku akan memegang
janjiku, tidak akan ingkar. Dan kau juga harus pegang janjimu ya jangan
mengingkari,” ujar bos tua tersebut.
“Ayo! Kita bermain,”
ajak Khansa.
Khansa dan bos tua itu
pun mulai memilih permainan, “Aku yang akan memilih permainannya!” Jelas
Khansa.
“Silahkan saja!” ujar
bos tua itu dengan senang hati.
Khansa langsung
membuat para pria ini menjadi penasaran, kira-kira hal apa yang akan dia
mainkan. Kira kira gadis kecil, imut itu akan memberikan tontonan yang seperti
apa, dan memiliki kepintaran yang seperti apa. Para pria itu pun mulai
berbisik-bisik.
[Kita lihat apakah
keberanian gadis itu dapat memberikan peruntungan yang baik untuknya]
[Ya, meski imut namun
aku acungi jempol untuk keberaniannya itu, sungguh besar]
[Ya menginjak kaki bos
tua itu, benar-benar bukan keberanian yang kerdil]
Tiba-tiba saja dalam
waktu singkat, Khansa sudah memiliki penggemar tersendiri, penggemar yang
mengangumi sikap berani Khansa untuk mempertahankan dirinya.
Khansa berjalan dengan
elegannya, gaun selutut yang Khansa pakai benar-benar menaikan level kemanisan
Khansa, gaun itu memperlihatkan betis indah Khansa yang terlihat putih mulus
itu. Sepatu teplek yang Khansa pakai malah membuatnya semakin manis dan imut.
Khansa mungkin
satu-satunya wanita yang pergi ke klub malam dengan dandanan manis menggemaskan
dan unik seperti ini, terlihat sangat polos dan lugu. Tapi, karena hal itu
malah semakin membuat pria-pria yang ada di ruangan tersebut penasaran dengan
Khansa, apakah sudah ada yang pernah memiliki Khansa sepenuhnya. Para pria itu
pun semakin kagum dengan Khansa, si wanita imut yang pemberani.
Khansa langsung
memilih duduk di sisi Leon, Leon sama sekali tidak bicara dari tadi. Leon hanya
merokok dengan elegan. Bos tua itu sedikit kecewa ketika Khansa memilih duduk
di sebelah Leon. Tapi, Leon adalah raja di dalam ruangan ini dan bos tua tadi
membiarkan Khansa berhadapan dengan Leon dalam taruhan ini, karena tak ingin
menyinggung Leon, si raja bisnis.
Para wanita yang ada di
sana merasa iri dan marah ketika melihat Khansa duduk dengan santainya di
sebelah Leon, tapi Leon terlihat biasa saja, tidak mengusirnya dan tidak
terlihat merasa terganggu. Sementara, mereka yang selama ini berusaha duduk di
dekat Leon. Namun, malah gagal terus, mereka pun berbisik-bisik.
[Siapa wanita itu,
percaya diri sekali duduk bersebelahan dengan tuan muda tampan kita]
[Lihat saja jika dia
kalah nanti, kita harus memberi dia pelajaran]
[Ya betul, kita beri
dia pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan]
[Benar-benar Tidak
tahu diri sekali dia]
[Ya betul! Gadis kecil
itu harus benar-benar kita ajari dengan baik, untuk tidak berharap pada tuan
muda kita]
Khansa
mengabaikan tatapan iri para wanita sosialita, jika mereka tahu kebenarannya
maka niscaya mereka akan menangis meraung-raung karena iri hati dan dengki.
khansa
memperhatikan sekelilingnya sekali lagi, lalu melihat ada papan lempar panah,
lalu Khansa menunjuknya “kita bermain itu saja! Lempar panah papan,”
Beberapa bos lainnya
di dalam ruangan penasaran dan mengelilingi kemari, mereka melihat dan
berkomentar tentang Khansa.
[ Gadis ini
kecil-kecil cabai rawit, sungguh pedas. Tingkat keberaniannya tinggi sekali]
"Wow, sepertinya
ini akan menjadi permainan lempar panah yang paling menarik]
[Ya! Gadis kecil ini
benar-benar menarik]
[Aku bertaruh gadis
kecil ini akan mengalami kekalahan]
[Ha ha ha ha]
“Siapa yang berani
melawan gadis ini?” tanya Simon.
Tidak ada yang mau
maju, lalu khansa bertanya, “Apa kau ingin melawan aku? Tuan?” tanya Khansa seraya
menoleh kepada Leon.
Sebenarnya pertanyaan
yang dia tujukan itu adalah kata kiasan dari seorang istri yang sedang marah
terhadap suaminya. Leon pun berdiri dan malah menyambut ajakan bermain dari
Khansa.
Leon meletakan
rokoknya di asbak yang ada di atas meja, Leon sedikit menyeringai ketika
mendengar tantangan yang datang dari istrinya itu. Merasa jika Khansa datang
bukan untuk berbaikan tapi malah datang menantangnya, tentu Leon dengan senang
hati akan menyambut permainan istrinya ini.
Tanpa menjawab
tantangan Khansa dengan kata-kata, Leon pun berdiri, lalu Leon mengambil salah
satu anak panah dari tangan Simon, dan melemparkannya dan tepat sasaran
dengan mudahnya. Lemparan Leon mengenai tanda bulat merah di
tengah, itu artinya nilai sempurna. Leon mendapatkan poin 50.
“Wow nilai sempurna,”
puji Simon yang disambut dengan tepukan tangan orang-orang yang ada di dalam
ruangan tersebut.
“Nah saatnya giliranmu
Nona manis!” ujar Simon sedikit menggodai Khansa.
Khansa terlahir pintar
dan permainan ini perlu teknik. Khansa belajar dengan cepat, melihat jika
berhasil mengenai tanda merah maka itu adalah nilai tertinggi. Khansa mengambil
anak panah tersebut dari tangan Simon.
“Giliran aku!” ujar
Khansa.
Giliran Khansa untuk
melempar, Khansa melompat-lompat sebentar, mengambil nafas lalu
menghembuskannya sampai dengan tiga kali, lalu mulai berkonsentrasi unruk
melempar anak panahnya, namun itu malah melesat ke bagian dengan nilai terkecil
yakni 18 .
“Hmm …” hela Khansa
kecewa berat karena dirinya mendapatkan poin kecil.
“Sungguh sial sekali,”
gumam Khansa merutuki nilai kecilnya itu.
Sementara Leon,
lawannya lebih beruntung anak panahnya melesat ke point triple ring yang
memberikan nilai kemenangan telak sebanyak 54 poin.
Giliran Khansa
kembali, hatinya berdegup dengan kencang 90 melawan 18, sungguh Khansa telah
ketinggalan sangat jauh. Kali ini Khansa benar-benar merasa telah menceburkan
diri ke dalam masalah.
Khansa menatap sesaat
kepada Leon, lalu Khansa mencoba berkonsentarsi, membidik papan panahan dengan meluruskan
anak panahnya, lalu melemparnya dan itu mengenai tepat di tengah, di bagian
hijau. Ini artinya dia mendapatkan nilai poin sebanyak 25.
Meski nilai poin
Khansa lumayan tapi Leon adalah pemain handal dan tentu saja ini membuat Khansa
tidak berkesempatan untuk menang.
Semua yang melihat permainan ini pun bertepuk tangan ketika melihat Leon
menang. Leon sangat handal bermain permainan lempar panah ini, jadi
sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, sepandai-pandainya
Khansa pasti tetap akan dikalahkan oleh Leon, suaminya.
“Aaaah sepertinya aku
baru saja membunuh diriku sendiri!” gumam Khansa merajuk.
“Hissh …” gumam Khansa
sambil menghentakan kakinya ke lantai karena kesal.

Komentar
Posting Komentar