PENGANTIN PENGGANTI (BAB 51 : SUAPI AKU)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 51 : SUAPI AKU)
Braak!!! Leon memukul meja dengan keras. ruangan mewah yang tadinya ramai dengan suara tepuk tangan dan tertawa gembira karena Khansa kalah langsung saja menjadi hening. Wajah Leon terlihat tidak baik. Itu terlihat seperti wajah yang ingin melahap orang hidup-hidup.
Wanita-wanita yang ada
di ruangan itu, yang melihat Leon seperti tadi pun merasa terkejut sekaligus
kagum, itu terlihat seperti film action yang sangat keren di mata mereka,
mereka pun berbisik-bisik kagum.
[dia pasti akan sangat
keren Ketika di ranjang]
[yang menjadi
wanitanya pasti akan sangat beruntung]
[Jika aku menjadi
wanitanya maka aku akan selalu menempel padanya seperti perangko]
[Ya Tuhan dia begitu
macho, tipe aku sekali]
[Aku ingin satu pria yang seperti dia]
Ketika Leon marah
seperti tadi. Khansa juga sama terkejutnya melihat suaminya memukul meja
seperti tadi, “Jika belum pernah melihat dia sakit, maka aku tidak akan percaya
jika ada yang bilang pria ini sakit parah,” pikir Khansa.
“Benar-benar pria yang
selalu ingin mendominasi,” pikir Khansa lagi.
Ketika melihat
kelakuan bos tua itu kepada Khansa, Jelas saja Leon marah, dirinya saja tidak
pernah menyibak cadar Khansa meski sangat ingin. Tapi, Leon masih bisa menahan
tangannya untuk tidak menyibak cadar Khansa.
Ini pria yang
kedudukan dan kekayaannya yang seperti apa, berani menyibak cadar Khansa di
depan dirinya dan juga di depan orang banyak. Ini sama saja seperti
membangunkan singa lapar yang sedang tertidur, sungguh itu sangat berbahaya.
Leon berdiri dengan Aura membunuh yang keluar dari sekujur tubuhnya, Bos tua
itu pun menatap Leon dengan sedikit gemetar. Namun, rasa inginnya untuk bisa
memiliki Khansa, membuat bos tua itu memberanikan diri untuk berbicara di depan
Leon.
“Bukankah wanita ini
sudah kalah?” ujar bos tua itu.
“Kita semua tadi telah
menyaksikan itu, gadis ini telah dikalahkan olehmu!” ujar bos tua itu.
“Jadi sesuai
kesepakatan, wanita ini akan ikut aku,” ujar bos tua itu dengan tat tahu malu
meski pun suaranya terdengar gugup namun masih terdengar sangat berharap.
Beberapa pria di sana
yang melihat adegan itu pun ikut berbisik-bisik, karena melihat kelakuan bodoh
si bos tua tersebut yang tidak bisa membaca situasi dengan baik, jika tuan muda
kaya yang ada di depannya itu sudah terlihat jelas sangat tertarik dengan
Khansa.
[Apakah dia buta?]
[Bodoh sekali bos tua
ini, tidakkah dia harusnya melihat dengan jelas jika tuan muda ini menyukai
gadis imut itu]
[Bos tua ini
sepertinya ingin mencari mati]
[Sudahlah pak tua,
jangan banyak berharap jika kau masih ingin berbisinis di kota ini]
Pria-pria yang lebih
muda ini sangat mengerti, jika Tuan muda kaya ini tidak bisa di singgung, jika
ingin bisnismu lancar maka jangan punya masalah dengannya,lebih baik menghindar
untuk kebaikan bisnis mereka, jangan mencoba-coba menyulut perang dengannya.
Leon berdiri dengan
memasukan, kedua tangannya di saku celananya, gerakan sederhana Leon itu nampak
terlihat elegan, melihat tatapan Leon dan senyuman yang menyeringai, Bos tua
itu mengira Leon marah. Tapi tak pernah sangka jika Leon
malah mau membawa Khansa untuk bermain ke tempat lain.
Saat ini Leon menatap
bos tua itu dan masih diam, tapi pandangan Leon sangat dingin dan menusuk
seperti es, itu terlihat seperti tatapan yang sedang menyampaikan pesan,
“apa kau mau berebut dengan aku,” tatapan mata Leon sekaan baru saja
menyampaikan pesan itu kepada bos tua yang sedang sedikit gemetaran
memandanginya.
Bos tua itu pun
berkeringat dingin, semua orang bisa melihat kalau Leon tertarik pada Khansa.
Siapa pun tidak berani merebut wanita yang disukai oleh Leon. Salah seorang
pria muda yang merasa kasihan dengan bos tua itu, memberanikan diri
mendekatinya lalu berbisik ke bos tua itu, membujuknya untuk menghentikan
niatnya kepada Khansa demi kebaikan diri dan kebaikan bisnis bos tua tersebut.
“Bos! Sudahlah,
lepaskan saja gadis imut ini demi kebaikanmu!” nasehat pria itu.
Bos tua itu
mengernyitkan alisnya, “Maksudmu? Bukankah gadis imut ini sudah kalah taruhan
jadi sesuai kesepakatan dia akan ikut dengan aku,” jelas bos tua itu lagi
dengan suara pelan sambil berbisik ke telinga pria tadi.
“Tidak! Mana bisa
begitu, gadis cantik di depan mata dan sudah kalah taruhan, tapi malah dipinta
untuk melepaskan begitu saja,” pikir si bos tua itu.
Pria muda itu pun merangkul bos tua itu, seakan bisa mengerti dan bisa membaca
pikiran bos tua itu yang masih enggan melepaskan niatnya, pria muda itu pun
tetap kembali membujuknya.
“Sebaiknya bos cari
gadis lain, jika ingin selamat, jika kau masih menyayangi bisnismu maka
dengarkan aku,” ujar nasehat pria itu lagi.
“Nanti aku akan
membantu bos untuk mencari gadis yang sama imutnya dengan gadis pelempar panah
ini,” janji pria itu yang bersedia membantu bos tua itu untuk mencari gadis
pengganti.
Bos tua itu
mencoba mencerna perkataan pria yang sedang menasehatinya ini, Lalu mellihat
pandangan Leon kepada Khansa, itu seperti tatapan ingin memiliki Khansa hanya
untuk dirinya saja tidak rela berbagi. Bos tua itu pun terdiam meski belum mau
mengurungkan niatnya untuk memiliki Khansa.
Dirinya benar-benar
tertarik dengan Khansa, gadis bercadar yang misterius, dan sedikit tidak rela
jika harus melepaskan Khansa yang sudah ada di depan matanya itu, Bos tua itu
masih sangat menginginkan Khansa, namun tidak bisa berbuat banyak.
Khansa saat ini sedang
mengasihani dirinya sendiri, Melihat keadaan dirinya yang sudah kalah telak,
dikalahkan oleh suaminya sendiri, membuat Khansa kehabisan energi. Pada
awalnya Khansa mengira jika suaminya itu akan memberinya muka dengan mengalah
untuk kalah. Tapi siapa sangka malah Leon tidak ingin kalah.
Saatnya mengakui
kekalahan, Khansa pun mengehela nafas dan siap menerima hukuman, Khansa
mengernyitkan alis, “CEO Sebastian, aku sudah kalah. Katakanlah
keinginanmu dan aku akan berusaha penuhi itu sesanggupku, kecuali melepas cadar
ini.”
Entah mengapa hati
Leon terasa tergelitik senang mendengar perkataan Khansa tadi, perkataan
bernada menyerah. Leon sangat memahami jika istri kecilnya ini sangat keras
kepala, dan sekarang mendengar dia melunak seperti ini dihadapannya otomatis
membuat hati Leon senang, terasa indah seperti taman bunga yang sedang
berbunga-bunga dan dipenuhi dengan kupu-kupu yang terbang ke sana kemari, sangat
indah.
Leon mendekati Khansa
lalu merangkul pinggang Khansa yang ramping itu dan menarik Khansa ke
sisinya. Telinga Khansa jadi memerah, Khansa ingin berdiri dan saat ini Leon
berkata lembut di telinga Khansa, “Suapi aku.”
Khansa tercengang
sekali dan menatap Leon dengan kebingungan, permintaan macam apa ini?
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 51 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar