PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 52 : PANGKUAN LEON )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 52 : PANGKUAN LEON )
“Sini!” perintah Leon sembari menepuk-nepuk pahanya, meberi tanda kepada Khansa agar duduk dipangkuannya.
Khansa menatapi Leon
sambil mengernyitkan alisnya, “Apa yang mau dia lakukan? Apakah otaknya baru
saja tersepak keledai,”
“Ayo, sini! Apa masih
tak mengerti juga,” ujar Leon seraya menggigit bibir bawahnya sendiri karena
terlalu gemas kepada Khansa.
“Hisiih,” gerutu
Khansa.
Dengan mata yang
memicing, Khansa pun bangkit berdiri, lalu Khansa duduk di atas paha
Leon. Leon sangat puas karena sudah menang, tidak mengijinkan Khansa menang,
tidak mau mengalah meski Khansa adalah istrinya. Dan Leon tidak menyesali
keegoisannya itu, karena kegoisannya itu malah Leon mendapatkan durian runtuh,
Khansa sekarang duduk dalam pangkuannya.
Simon memberikan tanda
kepada pelayan agar menuangkan wine ke gelas bertangkai tinggi yang ada
di atas meja, lalu Khansa mengambilnya dan mendekatkan gelas wine ke tepi
bibir Leon, menyuapi Leon minum wine dengan perlahan.
Leon menyesap wine itu dengan perlahan sangat menikmati setiap tegukannya,
yang tiba-tiba saja terasa menjadi dua kali lipat lebih nikmat.
Saat minum wine, Leon
masih memandangi Khansa, “Begini baru sangat manis, jadi anak gadis itu harus
lembut, jangan sedikit-sedikit ajak gelut” nasehat Leon kepada Khansa.
Wajah Khansa sampai
memerah karena merasa sedang melakukan hal yang memalukan. Khansa bergumam,
“Pria ini benar-benar deh, menggoda di depan banyak orang. Apa kepalanya ini
baru saja kemasukan air,”
“Apa kau baru saja
tersedak? Tuan Muda?” ujar tanya Khansa.
“Tersedak?” tanya
sekaligus jawab Leon.
“Sejak kapan kau
menjadi genit?” tanya Khansa dengan suara pelan dan bernada sedikit meledek.
“Genit katamu!? Akan aku tunjukan apa itu genit?” ujar Leon balik ingin meledek
Khansa.
Leon mulai
merangkulkan lagi kedua tangannya di pinggang ramping khansa. “Bagaimana?
Begini sudah genit belum?”
“Pria ini memang
benar-benar tidak bisa di provokasi,” pikir Khansa.
“T-tuan Leon, di sini
banyak yang melihat, apa tidak malu?” khansa mencoba mengalihkan perhatian
Leon.
Karena merasa malu,
Khansa mau berdiri, tapi Leon malah memeluk erat pinggang Khansa yang ramping
itu, agar Khansa tidak sembarangan bergerak, Khansa malah dipeluk oleh Leon
dengan erat.
“Duduk! Diam-diam,
patuh! Jangan melawan!”
Leon tidak suka dengan
sikap Khansa yang datang dan pergi sesuka hati. Leon bertengkar sebentar dengan
Khansa, “Apa kau ini polisi, mengapa suka sekali ingin semua patuh kepadamu?”
protes Khansa.
“Aku bukan polisi! Apa
kau lupa aku ini suamimu,” bisik Leon ke telinga Khansa,
Ketika berbisik itu
terlihat, Leon seperti sedang mencium Khansa. Sontak saja para wanita yang
datang karena ingin melihat Leon, kompak menggerutui Khansa.
[Gadis itu benar-benar
menyebalkan]
[Dia pasti tadi
sengaja kalah, agar bisa berdekatan dengan tuan muda kita]
[Benar-benar gadis
tidak tahu malu! Licik! Mencoba menggoda tuan muda kita dengan berbagai cara]
[Wajah dibalik
cadarnya itu pasti sangat jelek]
[Ya! Pssti sangat
jelek, maka dari itu dia menutupi wajahnya yang jelek itu dengan cadar]
Tiba-tiba saja Khansa
seperti dihujani aneka bentuk belati yang berjatuhan kepadanya, para wanita yang
ada di sana menatap iri dan dengki kepada Khansa karena telah berhasil
mendapatkan perhatian tuan muda kaya, tampan, idola mereka dengan mudahnya,
sementara mereka selama ini telah mengeluarkan uang banyak untuk bisa masuk ke
klub mewah mahal, bar 1949 ini. Namun tetap saja tidak bisa mendekati tuan
muda, idola mereka itu.
Saat ini Leon
mengarahkan pandangan ke cadar milik Khansa yang berkilau, Leon ingin
melepaskan cadar itu, Leon sangat pensaran dengan wajah Khansa, “Wajah seperti
apa yang ada dibalik cadar ini.”
Dulu sudah beberapa
kali Leon ingin melepaskan cadar Khansa tapi ditolak dan Leon tidak memaksa,
jika Khansa tidak siap untuk melepasnya, maka itu bukan masalah besar bagi
Leon.
Tapi kali ini berbeda,
Leon harus melepas cadar yang dipakai Khansa. Leon sudah tidak bisa menahan
rasa inginnya lagi, Leon harus bisa melihat wajah istrinya ini.
Khansa mengernyitkan
alisnya, memaknai tatapan Leon kepadanya, “Tatapan ini mengapa terasa aneh.”
Khansa menaikan
tingkat kewaspadaannya, seakan bisa memahami keinginan terpendam Leon hanya
dari tatapannya saja yang sedari tadi menatapi ke arah cadarnya.
“K-kau mau apa?” tanya
Khansa dengan sedikit tergugup dan terlihat malu-malu.
“Kau sudah kalah! Buka
cadarmu!” perintah Leon dengan berbisik lagi di telinga Khansa.
Saat ini, berbicara
dengan berbisik di telinga Khansa sudah menjadi kesenangan bagi Leon, sementara
Khansa malah merasa selalu merinding di setiap kali Leon berbisik dengan suara
baritonnya di telinga Khansa.
“Bukankah aku bilang,
aku akan melakukan apa pun jika aku sanggup. Tapi, jangan memintaku
membuka cadar ini,” jawab Khansa.
“Bosnya! Di sini
adalah aku? Apa kau lupa?” tukas arogan Leon.
“Mengapa kau arogan
sekali?” tanya kesal Khansa.
Leon, “…”
Menghela napas
panjang, Leon pun berkata, “Mengapa kau suka sekali berdebat?”
“K-kau …” ujar Khansa
tanpa melanjutkan kata-katanya, karena merasa perkataan Leon ada sedikit
betulnya juga.
Khansa menatapi kedua
mata Leon, Khansa melihat tekad yang bulat dalam pandangan Leon dan tersenyum
menyeringai, Khansa ingin menjahili Leon, menggoda Leon dengan mengatakan
kalau wajahnya ini sangat jelek.
“Tuan Muda! Aku
beritahu ya! Aku memakai cadar ini karena wajah aku sangat jelek!” jelas
Khansa.
“Di wajahku ini ada
tompel yang sangat besar, yang bahkan orang lain pun akan sangat-sangat jijik
jika melihatnya,” sambung jelas Khansa lagi.
"Jadi aku tidak
ingin membuat Tuan muda
merasa jijik lalu
muntah, karena melihat wajah jelek aku ini," tukas Khansa berharap
jika Leon terpengaruh dengan perkataannya itu.
“Kesepakatan adalah
kesepakatan, jangan ingkar janji!” jawab ringan Leon. Namun, dikelilingi oleh
Aura pemimpin yang sangat berwibawa.
Leon tidak peduli,
Khansa pun akhirnya mau tak mau menyerah dengan kemauan suaminya itu, baru kali
ini mendapatkan lawan yang sepadan di dalam berdebat dan bernegosiasi. Karena
Khansa sudah setuju untuk melepaskan cadar, Khansa melihat ke semua orang yang
ada di ruangan itu, memahami tatapan mata Khansa, lalu Leon melihat Simon
sekilas.
Memahami tatapan Leon,
lalu Simon segera mengusir semua orang keluar dari ruangan, “Tuan-tuan!
Nona-nona, pestanya kita usaikan sampai di sini dulu, ok!”
“Kelak, aku akan
mengundang kalian lagi,” janji Simon.
kini hanya tersisa
Khansa dan Leon saja di dalam. Hati keduanya terasa berdegup kencang, yang satu
akan membuka cadar untuk pertama kalinya di depan orang lain, yang satunya akan
melihat pertama kali wajah istrinya, yang selama ini selalu bersembunyi dibalik
cadar.
Khansa menggerakkan
jemari kecilnya yang ramping dan putih, melepaskan cadar yang dipakainya dengan
perlahan. Ini pertama kalinya Leon melihat wajah Khansa yang indah.
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 52 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar