PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 54 : KUPU-KUPU AKU )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 54 : KUPU-KUPU AKU )
Sementara itu, akhirya bus yang akan Khansa naiki pun tiba. Dengan cepat Khansa menaiki bus tersebut. Dari kejauhan Leon melihat Khansa telah menaiki bis. Leon pun mempercepat jalan mobilnya untuk mengejar Khansa.
“Hissh … tidak ada
kursi kosong,” pikirnya sambil mencari-cari tempat posisi berdiri yang pas.
karena di dalam bus
sangat padat dan tidak ada tempat duduk, Khansa pun berjalan kesamping jendela,
Khansa ingin berdiri menyandar di samping jendela agar bisa melihat
pemandangan yang berlalu di luar jendela.
Khansa merasa asyik
memandangi siluet lampu-lampu jalan yang terlihat seperti sedang kejar
mengejar. Khansa sedikit terhibur dengan pemandangan sederhana itu.
Lamunan Khansa terbuyarkan oleh ramai perbincangan orang-orang yang ada di
dalam bus. Khansa mencoba menyimak tentang hal yang sedang ramai mereka
bicarakan itu.
“Mengapa ribut
sekali,” pikirnya sembari memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Saat ini Khansa merasa
sangat aneh karena penumpang di atas bus, terutama para gadis sedang
membincangkan mobil sport yang sedang mengejar bus ini.
[Eh! Lihat itu, apakah
mobil sport itu sedang mengejar kita]
[Kita? Tapi sepertinya
mobil itu sedang mengejar bus ini]
[Iya, ya maksud aku
mengejar bus ini]
[Mana … mana aku ingin
melihatnya]
[Aku juga … aku juga]
[Ya Tuhan! Mobil mewah
itu benar-benar mengejar kita]
[Iya, mobil itu sedang
mengejar bus ini]
“Mobil mewah? sedang
mengejar bus ini,”
“Mobil mewah apa?”
pikir Khansa sembari melihat ke arah luar.
Ada beberapa gadis
yang hampir menjerit. Khansa mengikuti arah pandangan mereka. Ikut merasa
penasaran karena sepertinya para gadis-gadis itu terdengar heboh,
sampai-sampai pembicaraan mereka terasa seperti memekakan telinga Khansa.
Khansa memperhatikan lalu melihat memang ada mobil sport mewah yang sedang
mengejar bis yang sedang dia naiki ini. khansa memperhatikan mobil yang sedang
mengejar bus yang sedang dia naiki.
"Mobil itu …?
ujar Khanss seraya mencoba mengingat-ngingat karena seperti pernah melihat
mobil itu di suatu tempat.
“Dimana aku pernah
melihat mobil itu ya?” pikir Khansa.
“Astaga!” gumam Khansa
dengan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
“Leon,” gumam Khansa.
Para gadis yang
melihat mobil sport mewah tersebut pun terkagum-kagum dengan mobil yang sedang
membuntuti mereka itu. Meski tidak memahami jenis-jenis mobil mewah, namun
mereka memahami jika mobil yang sedang mengejar bis yang mereka tumpangi saat
ini adalah, mobil super mewah yang harganya pasti sangat mahal, dan hanya bisa
dimilki oleh orang-orang yang mempunyai kekayaan dan kekuasaan tingkat tinggi.
Mobil mewah yang
dipakai Leon saat ini adalah mobil mewah yang langka. Sebab mobil ini
hanya diproduksi tiga unit saja di dunia. Jadi benar-benar produksi terbatas.
Tidak mengherankan jika harganya bikin sesak nafas, yakni Rp72 miliar per unit.
Mobil ini dibekali
beragam fitur kekinian dengan kabin super mewah dan nyaman. Mesinnya juga
sangat buas. Mobil ini bisa diajak mengebut hingga 408 kilometer perjam.
Mobil sport mewah
itu pun semakin mendekat, para gadis di dalam bus semakin menjadi histeris
ketika melihat jika yang mengendarai mobil mewah tersebut ternyata adalah
mahluk yang sangat tampan yang sangat enak dipandang.
Leon membuka kaca
jendelanya sehingga gaya menyetirnya saat ini terlihat dengan sangat jelas.
Leon terlihat duduk santai bersandar ke kursi. Satu tangan berada di sisi atas setir,
dengan membentuk arah jam dua.
Kebanyakan pria dengan
gaya seperti ini punya sikap yang cenderung dominan. Posisi tangan di bagian
atas setir dan posisi duduk santai menunjukkan kalau ia punya kendali penuh
atas mobilnya. Pria dengan gaya menyetir seperti ini juga termasuk pria dengan
ego tinggi yang membuatnya ingin punya kendali atas cinta, sering bersikap
sedikit memaksa untuk mencapai apa yang diinginkannya.
Meski melajukan
mobilnya dengan cepat. Namun, Leon masih bisa menjaga kefokusannya. Khansa
memperjelas tatapannya, dan sungguh membuat Khansa tersentak ketika melihat
mobil yang sedang mengejar bisnya itu, adalah benaran Leon sebagai
pengendaranya.
“Leon,” gumam Khansa
lagi.
Khansa terkejut karena
melihat Leon benar-benar tidak melepaskannya dan mengejar kemari dengan mobil
sport, “pria itu benaran mengejar aku,” gumam Khansa panik dengan suara
pelan.
“Hissh! Dia ini mau
apa sih,” gumam Khansa lagi.
“Aduh …” pikir Khansa
kebingungan harus apa,
Khansa merasa bagai telur di ujung tanduk, benar-benar mati gaya.
Khansa bingung dengan
kelakuan Leon. Saat ini bus berhenti dan mobil sport itu juga berhenti,
Leon keluar dari mobil sportnya itu lalu berjalan perlahan dengan mantap
dan menaiki bus itu.
Supir bus dan juga semua penumpang di bus itu pun merasa heran, melihat Leon
malah masuk ke dalam bus mereka. Terlebih lagi supir bus yang merasa tidak
pernah memililki kenalan orang berkuasa, lalu melihat pria dengan Aura seperti
Leon menaiki busnya, jelas membuat supir bus itu sedikit gemetar, merasakan
seketika saja hatinya menciut.
“Tuan! Ada apa ini?”
tanya supir itu membernaikan diri meski nada suaranya terdengar gemetar.
“Kupu-kupu aku ada di
sini,” jawab ringan Leon.
“Kupu-kupu?” gumam
supir itu kebingungan.
Supir itu memanangi
Leon dari atas sampai bawah, “Tampan tapi aneh,”
“Mana ada kupu-kupu di
bus nya ini,” pikir si supir yang merasa ini kan bus, bukan taman bunga.
Leon masih berdiri di depan, di dekat supir. Sudut-sudut mata Leon tengah
mensisiri tiap sudut bus itu, mencari keberadaan Khansa. Sementara Khansa
mencoba menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh-tubuh orang lain.
“Aku tidak terlihat!
Aku tidak terlihat,” gumamnya pelan.
“Kau tidak dapat
melihat aku! Kau tidak dapat melihat aku,” gumamnya lagi sambil berharapa dia
menjadi manusia transparan sehingga Leon tidak melihatnya. Namun, mata Leon
begitu tajam, betapa pun Khansa mencoba bersembunyi, Leon dengan mudah
menemukannya.
“Itu dia! Si gadis
nakal,” gumam Leon.
Semua menatapi Leon
yang mulai masuk berjalan lebih masuk lagi ke dalam bus, Banyak
sekali penumpang di bus dan mereka semua memberi jalan bagi Leon.
Di pandangan para
penumpang terutama dipandangan para gadis-gadis, Leon ibarat pria macho yang
elegan yang baru turun dari kayangan, Leon berhenti di hadapan Khansa dan
menggendong Khansa tanpa basa basi, “Kenapa tidak menjawab teleponku? Tunggu
saja hukuman dariku!”
“Eh ini! Pria ini
apa-apaan sih,” pikir malu Khansa.
Khansa mencubiti
pinggang kuat Leon. Namun itu tidak menganggu Leon sama sekali, bagi Leon
cubitan tangan lentik Khansa terasa seperti gelitik-gelitik kecil, alias tidak
terasa sama sekali.
…
Leon membawa Khansa kembali ke Bar 1949, Khansa dibawa Leon ke sebuah kamar
presiden suite. Leon tersenyum tipis dan mendorong Khansa hingga terjatuh ke
atas ranjang yang empuk. Leon mulai melepaskan celana, Khansa sangat ketakutan,
“Leon, jangan mendekat!”

Komentar
Posting Komentar