PENGANTIN PENGGANTI (BAB 55 : BINAR GAIRAH )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 55 : BINAR GAIRAH )
“K-kau mau apa? Jangan! Tidak mau,” teriak Khansa ketakutan.
“Jangan mendekat!”
pekiknya lagi.
“Berhenti!”
Khansa menarik selimut
di ranjang besar itu lalu membalut semua tubuhnya dengan selimut itu,
membungkusnya rapat-rapat.
“Jangan mendekat!”
Khansa mengulangi perintahnya lagi dengan nada keras.
“Hish … kau ini
mengapa mudah GR sekali,” ujar Leon.
“Tinggi sekali percaya
dirimu itu,” gumam Leon lagi.
Saat ini Leon baru
menjelaskan kalau Khansa sudah mengotori celananya, “Ini tadi kau meninggalkan
noda di celana aku, waktu kau duduk di pangkuanku,”
Leon menjelaskan
seraya memperlihatkan warna merah yang menodai celana panjangnya itu, “Lihat
saja sendiri.”
Khansa memincingkan
matanya untuk melihat lebih jelas, Khansa mengernyitkan alisnya, “Astaga!”
pekiknya.
“Sudah lihat kan!?”
ujar Leon.
“Jadi aku harus
mengganti celana ini bukan?”
“Ah ya Tuhan!” gumam
Khansa yang tiba-tiba saja ingin membenamkan diri ke dalam lubang karena merasa
malu.
Khansa baru sadar
kalau sedang haid. Ini terlalu canggung. Leon mengganti celana di hadapan
Khansa, dan masa periode Khansa datang, dan malah Leon yang lebih dulu yang
menyadarinya, benar-benar keadaan momen yang membuat jadi tidak nyaman bagi
seorang gadis.
Khansa memperhatikan
gerakan Leon yang tanpa canggung berganti pakaian di depannya itu, Khansa
kembali memperhatikan pinggang kuat Leon yang tadi dia cubiti itu. Dalam hati
Khansa sebenarnya mengakui jika suaminya ini memang sangat tampan. Bukan hanya
tampan dalam standar biasa. Tapi, memang sangat-sangat tampan. Lalu Khansa
teringat dengan tamu-tamu wanita tadi.
Hati Khansa seperti
sedang dikerumuni oleh semut ketika memikirkan wanita-wanita yang ada di ruang
VVIP Bar 1949 ini. Mengingat Para wanita yang sedang mendambakan suaminya
itu, membuat hati Khansa sedikit terasa seperti sedang di cubit-cubit
oleh keremunun semut.
Khansa melirik ke
pinggang kuat Leon yang terlihat, karena Leon sedang mengganti baju di depanya
itu. Khansa menutup matanya dengan kedua tangannya. Namun membuka sela-sela
jarinya untuk mengintip tubuh Leon.
“Astaga,” gumam pelan
Khansa.
“Ya Tuhan!” Gumam
pelannya lagi.
Kansa menutup kedua
matanya lagi. Namun merenggangkan jari-jarinya lagi dan mengintip lagi.
“Pinggangnya benar-benar kuat sih,” pikir Khansa yang tadi sedikit merasa
kesulitan ketika jari-jari lentiknya mencoba mencubit pinggang Leon itu. Tak
ingin terbuai dengan tubuh indah Leon yang menantang, Khansa mencoba
mengalihkan perhatiannya pada hal lain.
Khansa memperhatikan
sekeliling kamar presiden suite ini. Kamar yang sangat bersih dengan
lampu kristal indah menggantung dan pencahayaan yang bagus, terdapat juga
beberapa dekorasi vas bunga mawar yang dirangkai dengan indah. Khansa
mmeperhatikan tidak ada jejak wanita di sini. Hati Khansa tiba-tiba saja merasa
lega.
“Baguslah,” gumamnya
sambil tersenyum samar.
Khansa juga melihat
ada pakaian Leon yang tergantung di dalam lemari, “sepertinya Leon tinggal di
sini selama dua hari ini,” pikir Khansa.
“Tidak tidur di rumah,
apa kau tinggal di sini?” tanya Khansa kepada Leon dengan sedikit nada
menyelidik.
Leon memberitahu
Khansa Bar 1949 ini adalah bisnis milik keluarga Simon, “Ya, Simon yang
mengaturnya, kelak ini akan menjadi bisnis milik Simon.”
“Ah begitu,” gumam
Khansa yang berpikir pantas saja tadi Simon berani mengusir semua tamu-tamu
sosialita kaya tersebut dengan begitu mudahnya, ketika dia mau membuka cadar
yang di pakai untuk Leon.
Leon telah berganti
pakaian, Leon menoleh kepada Khansa, lalu melangkah perlahan menuju ke ranjang.
Lalu duduk di sisi ranjang mereka.
“Mau sampai kapan
membungkus dirimu seperti itu?” tanya Leon.
“Ah … ini … aku …”
ujar gugup Khansa seraya menatapi selimut yang sedang menggulung tubuhnya itu.
“Apa kau ini sedang
bermain Cosplay menjadi lontong?” tanya Leon meledek.
“Hish! Sembarang sebut
saja kau ini, mana ada cosplay, kostum lontong,” ujar Khansa bersungut.
“Lagipula jika ada
siapa juga yang mau memakai kostum model lontong,” cibir Khansa semakin
bersungut.
“Ada,” jawab Leon
sedikit menyeringai.
“Ada? Siapa?” tanya
Khansa penasaran.
“Pocong!” jawab
sembarang Leon.
“Astaga … mengapa kau
sebut-sebut nama itu!” hardik Khansa.
“Kenapa? Memang benar
kan, lihat saja bentuknya jika sudah diikat-ikat. Bukankah itu hampir sama
dengan pocong,” jawab ringan Leon lagi sembari tertawa.
Khansa melepaskan
selimut berwarna putih yang menggulung di tubuhnya itu, lalu segera ke arah
Leon dan menutup mulut Leon dengan kedua tangannya.
“Sudah! Jangan sebut
mahluk itu lagi!” tukas Khansa.
Leon memandangi
Khansa, saat ini yang terasa dari keduanya hanyalah hela napas yang berbau
cinta yang akan bersemi.
Beberapa saat terdiam,
tiba-tiba Leon menjulurkan tangan ingin melepaskan cadar milik Khansa
lagi, Leon merasa masih belum puas karena tadi hanya melihat wajah cantik
Khansa sebentar saja. Padahal baru sebentar melihat, tapi langsung membuat
Leon, sudah benar-benar terbius, dan seketika saja mencandu ingin melihat wajah
Khansa lagi dan lagi.
Khansa menolak, “Tuan
Leon! Kesepakatanya sudah berakhir, dan aku sudah memenuhi kesepakatannya,”
“Aku tadi sudah
membuka cadar aku di depanmu! Jadi mengapa kau terlihat ingin meminta
lagi.”
Leon menatapi mata
indah Khansa, Leon tidak memaksa Khansa, jika memang Khansa tidak
menginginkannya. Namun, Leon malah membaringkan Khansa di atas ranjang. Merasa
gemas, Leon mulai menggelitiki Khansa sebagai hukuman untuk Khansa karena sudah
bersikap nakal malam ini, berani menggodai dirinya sampai seperti ini, membuat
dirinya seperti hilang akal dan hilang akan kepengendalian diri.
Khansa dan Leon
bercanda ria di atas ranjang, mereka tertawa senang, “Aw … aw … Tuan Muda
sebastian! Ampun, aku minta ampun,” teriak khansa.
“Mengaku salah
tidak!?” tanya Leon.
“Salah! Memangnya aku
melakukan apa?” jawab Khansa.
“Astaga … gadis ini,
sudah sebegitu keras menggodai aku, lalu pergi meninggalkan aku begitu saja.
Namun masih menganggap dirinya tidak bersalah,” pikir Leon.
“Karena Nyonya
Sebastian nampaknya lupa akan kesalahannya, maka suami akan terus
menggelitiki,” gumam gemas Leon.
“Oh ya Tuhan! Ampun
Tuan sebastian. Hentikan! Iya! Iya aku mengaku salah,” ujar Khansa sembarang
agar Leon mau menghentikan hukumannya.
“Jika lain kali nakal
lagi, maka aku akan menggelitikimu dengan lebih keras lagi,” ujar Leon sambil
tertawa senang.
“Paham tidak?” ujar
Leon menegaskan.
“Tidak janji!” balas
Khansa sedikit menggodai Leon lagi.
“Hiiish … kau ini
betul-betul ya! Minta dihukum lagi,” ujar Leon sembari mulai menggelitiki
Khansa lagi.
“Aaah … Tuan Leon,
hentikan! Hentikan! Ampun,” gumam riang Khansa.
Aura dalam kamar
presiden suite itu tercium manis, tercium aroma napas penuh cinta.
Mereka berdua saling melempar tawa, tubuh mereka terasa rileks ketika berbaring
dan berbagi ranjang seperti ini. Tidak lama kemudian, Leon kembali serius,
Khansa juga berhenti tertawa, ada binar gairah yang terpendam di dalam
pandangan Leon, Leon ingin membuka pakaian Khansa.
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 55 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar