PENGANTIN PENGGANTI (BAB 56 : PEMBALUT )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 56 : PEMBALUT )
Saat ini Khansa menghadang Leon dan mengingatkan kalau dirinya sedang haid, “Tunggu dulu! Kau mau apa lagi!?”
“A-aku sedang datang
bulan,” jelas Khansa.
Leon, “…”
Leon sedikit kesal kenapa Khansa menggoda dirinya kalau sedang haid, “Kau ini
benar-benar tidak bertanggung jawab.”
“Tanggung jawab apa?”
tanya polos Khansa.
“Sudah menggoda aku,
lalu membiarkan, mengabaikan aku,” jawab Leon.
“Bukankan ini namanya
perbuatan yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
“Hei! Ini … sejak
kapan malah pria meminta pertanggung jawaban kepada seoarang wanita,”
tukas Khansa dengan sedikit meledek Leon.
“Apa kau ini sudah
berubah menjadi seorang wanita Hah!? Mengapa sensitif sekali,” ledek Khansa
lagi seraya sedikit memukul bahu Leon.
“Hissh …,” jawab Leon
dengan memasang wajah cemberutnya.
Khansa merasa tidak
tega melihat suaminya ini terus merajuk, Khansa pun berinisiatif untuk
menghibur hati suaminya itu, Khansa menjelaskan keadaannya agar Leon tidak
kesal, menjelaskan kalau perutnya memang-benar sedang tidak nyaman, bukan
karena ingin mengerjai Leon.
“Apa kau tahu, jika
wanita sedang datang bulan biasanya ada yang akan merasakan sakit di tingkatan
sakit dengan level tertentu,” jelas Khansa.
“Apa? Rasa sakit
karena menstruasi memiliki tingkatan-tingkatan seperti itu?” tanya Leon sedikit
bingung.
“Tentu saja, karena
ketika menstruasi wanita akan mengalami perubahan hormon saat menstruasi,”
jelas Khansa.
Leon mengernyitkan
alisnya, pria tidak mengalami menstruasi jadi mana paham tentang hal-hal yang
terkait menstruasi. Khansa menjelaskan lebih lanjut lagi. Jika ketika
menstruasi hal yang lumrah terjadi adalah Gejala berupa perubahan suasana hati,
nyeri p**udara, mengidam makanan, kelelahan, lekas marah, dan depresi.
“Sampai seperti itu?”
tanya Leon sedikit tidak percaya.
“Iya, bahkan ada yang
sampai pingsan karena tidak kuat menahan sakitnya,” cerita Khansa lagi.
“Benarkah?” tanya Leon
lagi.
“Emm …” jawab Khansa
sembari mengangguk.
“Hiish … mengapa itu
menjadi begitu mengerikan,” ujar Leon bergidik.
“Apakah itu
benar-benar sesakit itu?”
“Ya bagi beberapa
orang?” Jelas Khansa.
Tiba-tiba saja Leon
manatapi Khansa dengan penuh arti, memikirkan apakah istrinya ini akan
mengalami hal-hal yang seperti tadi sudah dijelaskan. Tatapan Leon terlihat
sangat teduh penuh kasih sayang ketika menatapi istrinya itu.
Saat ini Khansa sadar
tidak menyiapkan pembalut, Khansa membujuk Leon membantu dirinya membeli
pembalut. Awalnya Leon menolak, tapi akhirnya pergi juga.
“Baik, baiklah aku
akan pergi membelinya,” jawab Leon.
Khansa pun tersenyum,
jerih payahnya menjelaskan panjang lebar tadi tentang wanita dan menstruasi
memang bertujuan untuk ini, agar Leon mau membantunya membelikan pembalut.
Leon pun terbujuk rayuan Khansa, karena takut jika Khansa nekat membeli
pembalut sendiri, jika tiba-tiba Khansa pingsan di jalan bukankah malah nanti
itu akan merepotkan dirinya.
Leon sampai di mini
market, lalu melihat bingung deretan pembalut ada begitu banyak, “Haissh … ini
harus pilih yang mana,” pikirnya.
“Mengapa begitu banyak
merk,” gumam Leon dengan putus asa menatapi susunan rak pembalut ini dari ujung
ke ujung sambil mengusap-usap tengkuknya.
Leon mengambil ponselnya,
lalu melakukan video Call dengan Khansa. Melihat nama yang tertera adalah nama
suaminya, Khansa pun segera menjawabnya.
“Ini harus pilih yang
mana?” tanya Leon dengan wajah bingung dan terlihat latar belakang deretan
rak susun pembalut-pembalut.
Khansa mengigit-gigit
bawah bibirnya, dan mencubit pahanya agar tidak tertawa terbahak-bahak, “Coba
kau ambil merek ‘sayap’ yang berwarna oranye.”
“Sayap? Berwarna
Oranye?” gumamnya.
“Hissh mengapa harus
warna tertentu, merepotkan sekali!” pikir Leon sembari memandangi aneka merk
pembalut, dan mencari bungkus pembalut yang berwarna orange. Leon
menelisik satu persatu nama merek pembalut yang ada.
“Sayap,” baca Leon
dengan mata berbinar.
“Dapat,” ujarnya
dengan nada senang.
Tiba-tiba saja Leon,
merasa menjadi sangat jago, seoranh mulittalenta karena sudah berhasil
menemukan pembalut tersebut, pembalut yang diingini oleh istrinya.
“Tuan muda yang lain
belum tentu bisa sejago aku?” puji Leon pada dirinya sendiri.
“Yang ini bukan?”
tanya Leon dalam video Callnya, sambil menunjulan merk sayap, berawarna oranye.
“Iya yang itu! Kau
pintar sekali,” puji Khansa.
Mendengar istri memuji
pintar kepada dirinya, rasa-rasanya itu membuat Leon ingin langsung salto
berkali-kali. Leon pun mematikan panggilan video callnya, lalu tersenyum samar
dan pergi ke kasir untuk membayar.
“Apakah ada tambahan?”
tanya kasir itu.
Leon menggeleng, namun
kasir itu bertanya kembali, “Apakah sekalian isi pulsanya.”
Leon menggelengkan
kepalanya lagi. Tapi malah kasir itu bertanya, “Apakah mau tebus murahnya,
pasta gigi up close ini yang tadinya harga Rp.50.000, bisa tebus murah
dengan harga Rp.20.000 saja.”
Leon menggelengkan
kepalanya dengan menurunkan topinya, agar menutupi wajahnya yang sudah
tersamarkan oleh jaket hoodienya itu.
“Total semua Rp. 48.000!
Sudah dengan kantong belanjanya Apakah Rp.200-nya bisa disumbangkan?” tanya
kasir tersebut.
“Ya, ya ambil saja,”
jawab Leon yang sudah tidak sabar ingin segera pergi ,lalu meletakan beberapa
lembar uang kertas lagi.
“Ini untuk sumbangan
lagi,” ujar Leon dan meminta tas belanjanya, Kasir itu pun memberikan kepada
Leon.
“Terima kasih tuan!”
ujarnya senang walau sedikit limbung, hanya meminta sumbangan 200 perak, tapi
pria yang di depannya itu malah memberikan Rp.200.000.
Leon dengan cepat
keluar dari mini market tersebut, lalu melongok ke kantong belanja, “hissh
pembalut,” gumamnya.
Sepanjang hidupnya,
menjadi raja bisnis tapi malah diminta membelikan pembalut oleh istri.
Jika saja pesaing bisnisnya mengetahui tentang hal ini, maka 100% bisa
dipastikan mereka akan sangat-sangat mentertawai Leon.
Jika bukan karena
Khansa yang membujuk dirinya agar membelikan pembalut ini, maka dia bisa dengan
mudahnya menyuruh orang untuk membelinya. Namun jika seperti itu, Leon merasa
menghiamati perintah istri, alhasil akhirnya dia memutuskan untuk pergi membeli
sendiri keperluan istrinya itu.
…
Di depan pintu, Simon dan Hansen sedang bergosip tentang kejadian di ruangan
tadi. Hansen baru pulang dari dinas dan langsung datang ke Bar 1949. Saat ini
Leon baru pulang dari membeli pembalut, dan berpapasan dengan mereka.
Simon dan Hansen
melihat tas belanja yang ditenteng Leon dan menggoda Leon, “Ini pembalut, kan?”
“Sejak kapan kau
mengalami d atang bulan?” goda Hansen.
“Berisik! Cerewet
sekali kalian ini!” gumam kesal Leon.
Mereka berdua mulai
menggoda Leon lagi, “kak ini benaran kau yang membeli ini sendiri?” tanya Simon
menyelidik.
“Memangnya kenapa! Ada
yang salahkah?” jawab Leon.
Leon merasa sangat
kesal dan naik ke atas. Simon dan Hansen menilai, merasa jelas sekali kalau
Leon sudah menyukai Khansa. Jika tidak mana mau Leon turun tangan sendiri hanya
untuk membeli pembalut.
…
Leon kembali ke kamar presiden suite, Khansa sudah masuk ke kamar mandi dan
sedang mandi.
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 56 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar