PENGANTIN PENGGANTI (BAB 57: MENGGODANYA )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 57: MENGGODANYA )
Leon mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, di kamar presiden suitenya itu. Leon mengetuk pintu kamar mandi, “ini pesananmu.”
Khansa membuka sedikit pintu kamar mandi dan bersembunyi di balik pintu lalu mengeluarkan tangan, “Tuan Sebastian, terima kasih. Serahkan padaku.
Tiba-tiba saja hatinya
Leon terdorong keras, Leon tidak mau melepaskan pegangannya, melihat jari-jari
lentik Khansa, tangan indah putih, lembut yang sedang disentuhnya ini.
Hati Leon sedikit tidak rela untuk melepaskannya. Sungguh tangan mungil imut
itu telah mengguncang hatinya. Dalam pandangan Leon, tangan Khansa ini terlihat
sangat seksi.
Teringat wajah cantik
Khansa yang ada di balik cadar, membuat Leon semakin enggan melepaskan
genggamannya. Leon dan Khansa tarik menarik bungkusan itu, Khansa terlihat akan
marah. Namun, Leon tersenyum sambil belum mau melepaskan pegangannya.
“Tuan Sebastian! Apa kau akan berebut dengan aku!”
“Apa kau juga sedang
datang bulan ? Seperti aku?” ujar Khansa yang mulai merasa kesal.
"Mengapa kau
tidak sopan sekali, siapa yang memberikanmu keberanian untuk begini, "
“Ambil yang benar!
Jangan mengambil pembalut ini dari balik pintu!” protes Leon.
“Hisssh … kau ini
mengapa mudah sekali tersinggung, nanti lekas tua!” ujar Khansa lalu membuka
pintu kamar mandinya itu.
“Sini! Kemarikan!”
ujar Khansa agar Leon memberikan pembalutnya.
“Jika aku menjadi
cepat tua, itu karena istri seperti dewi perang, sedikit-sedikit terlibat
masalah” tukas Leon yang merasa istrinya ini memiliki nama tengah ‘masalah’
“Issh …. mengesalkan
sekali,” jawab Khansa.
“Mengapa dia
menganggap aku dewi perang?” pikir Khansa.
“Mau kasih tidak?”
ujar Khansa
Melihat istri
sepertinya akan merajuk, maka Leon pun berhenti menggoda, “Ini! Pakailah
sepuasmu.”
Khansa menerima
pakaian dan pembalut dari Leon dan segera menutup pintu. Khansa merasa
wajahnya memanas dan merah, "Leon itu memang terlalu nakal!
“Sangat-sangat
berbahaya jika ingin bermain-main dengannya.”
Khansa membuka tas
belanjaan itu, lalu melihat di dalam tas itu ada beberapa pembalut merk sayap
yang dia pinta “Mengapa membeli sebanyak ini?” pikir Khansa.
“Aku hanya membutuhkan
satu saja. Tapi, dia malah membelikan sepuluh pack.”
“Memangnya dia kira
darah menstruasi itu sebanyak apa,” gumam Khansa.
“Hisssh …”
“Ah sudahlah!” gumam
Khansa.
Tadi ketika Leon
membeli dan membayar, Leon berbalik ke mini market lagi dan memutuskan untuk
membeli banyak, merk yang diminta Khansa. Karena setahu Leon merk pembalut yang
ada di kamar mereka bukan merk ini. Karena itu Leon memutuskan untuk membeli
banyak.
Leon tahu tentang ini, karena melihat ada benda yang sama di lemari mereka,
pelayan yang menyiapkan. Namun karena bukan merk kesukaaan istrinya karena itu
Leon memutuskan membeli banyak.
…
Leon membuka pintu kamar presiden suitenya itu, lalu keluar ke teras balkon
kamar itu. Leon berdiri di samping jendela sambil merokok. Leon masih
menormalkan jantungnya yang baru saja dipaksa untuk senam oleh Khansa.
“Gadis ini,
benar-benar telah menjalari aku dengan racunnya, benar-benar seperti virus. Tak
terlihat lalu tiba-tiba sudah masuk ke dalam tubuh,” pikir Leon yang
mengibaratkan Khansa seperti virus, karena diam-diam sudah masuk kedalam
hatinya.
Khansa keluar dari
kamar mandi. Leon menoleh, Khansa mengangkat rambutnya tinggi-tinggi dan
menyangul asal rambutnya itu, gerakan tangannya terlihat anggun.
Beberapa helai rambut
Khansa, terjatuh ke samping telinganya, Leon menelan salivanya ketika melihat
leher indah Khansa dan tulang selangka Khansa, cadar yg Khansa pakai kali ini
tidak sampai menutupi lehernya, hanya menutupi bagian dagu Khansa.
Pakaian yang Khansa
pakai pun semakin menambah tingkat keeleganan Khansa sekaligus kepolosannya.
Model baju yang Khansa
pakai adalah model baju tidur kimono. Baju tidur kimono berupa atasan dengan
tali yang terletak di sisi pinggir baju dan dengan panjang selutut. Model
ini memberi kesan manis dan stylish ketika dipakai oleh Khansa.
Khansa mengambil body lotion yang ada di atas meja, mencium wanginya dan
merasa itu harum. Maka Khansa pun langsung memakainya, Khansa duduk di tepi
ranjang dan m
ulai membalurkan ke
tangan dan kakinya.
Pandangan Khansa tertuju pada wajah Leon yang tampan, lalu teringat ketika Leon
memukul kaca kamar mandi mereka dan menghancurkannga. Khansa lalu berjalan ke
arah Leon untuk memeriksa tangan Leon yang terluka beberapa hari yang lalu.
Leon semakin menelan salivanya, ketika melihat Khansa berjalan mendekatinya
“uhuk, uhuk,” batuk
Leon untuk mengusir kecanggungannya.
“Merokok tidak baik, lihat
saja itu sampai membuatmu terbatuk,” nasehat Khansa.
Mendengar perkataan
Khansa, Leon segera menekan-nekan ujung rokoknya di asbak. Melihat itu, Khansa
pun tersenyum dan langsung saja menanyakan kondisi tangan Leon.
“Apakah Lukanya sudah
membaik?” tanya Khansa.
“Lumayan,” jawab
ringan Leon sembari menyembunyikan kegugupannya.
“Sini aku lihat!” ujar
Khansa.
Dengan malu-malu mau,
Leon pun memberikan tangannya untuk di periksa oleh Khansa. Dengan pengamatan
yang tajam Khansa pun memperhatikan luka di tangan Leon.
“Luka ini telah
mengering dengan baik, sudah mulai tertutup oleh jaringan baru,” jelas Khansa
memberitahu pengamatannya.
Khansa memperhatikan
warna kemerahan pada area sekitar telah memudar, lalu berkata, “Apakah sudah
mulai merasakan gatal?”
“Iya,” jawab Leon.
“Jika begitu bagus,
ini menandakan jika luka akan segera sembuh, ini adalah proses yang normal,”
jelas Khansa.
“Jangan kau garuk,
nanti malah akan terluka berdarah lagi, pakaikan saja salep,” jelas Khansa
lagi.
“Emm …” Leon pun
mengangguk paham.
Leon berpikir, mengapa
istrinya bisa sepintar ini, mengetahui tentang dasar -dasar kesehatan seperti
ini, menganalisa penyakit.
“Mana salepnya? Sini
aku pakaikan,” ujar Khansa.
“Di sana,” jawab Leon sembari menunjuk nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
Khansa pun masuk ke
dalam dan mengambil kotak obat tersebut, lalu duduk di bangku teras kamar
presiden suite tersebut, membukanya dan mengambil salepnya.
“Sini! Duduk,”
perintah Khansa.
Leon pun menurut
seperti anak usia lima tahun, Khansa mengambil tangan Leon dan meletakannya di
atas meja. Lalu Khansa mulai dengan telaten memakaikan salep, dan meniup-niup
tangan Leon.
Ini terasa manis di hati Leon, selama ini tidak pernah ada gadis yang berani
seperti ini kepadanya, bertengakar, berdebat, lalu bersikap imut seperti
sekarang kepada dirinya.
“Sudah! ini sebentar
lagi sembuh,” ujarnya lagi.
Khansa menengadahkan kepalanya, dan langsung saja bertemu dengan wajah Leon
yang sedang menatapinya.
Kedua mata Leon dan
Mata khansa saling bertemu dalam satu tatapan, mereka terdiam sesaat tanpa
berkata, karena saling memuji dalam hati, betapa cantiknya wajah yang sedang
mereka pandang itu.
Khansa teringat tentang wanita yang menjawab panggilan teleponya waktu itu.
Khansa akhirnya
bertanya, “Saat kamu dinas kemarin itu, siapa wanita yang mengangkat
teleponmu?” Leon mengernyitkan alis karena tidak tahu kejadian itu.
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 57 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar