PENGANTIN PENGGANTI (BAB 58 : WANITA MANA? )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 58 : WANITA MANA? )
“Wanita mana?” tanya bingung Leon sambil mengernyitkan alisnya.
“Katakan sekali lagi!
Wanita mana yang kau maksud?”
“Tentu saja wanita
simpananmu!” jawab Khansa sambil memasukan salep dan menutup keras-keras kotak
obat yang ada di tangannya itu.
“Mengapa jadi tidak
mau mengaku?” ujar Khansa dengan nada dingin menyindir.
Khansa menyeringai
dingin dan jujur mengatakan kalau mengira wanita yang mengangkat telepon Leon
itu adalah simpanan Leon.
“Wanita apa katamu,
wanita simpanan aku?” tukas Leon lagi.
“Iya! Wanita yang
mengatakan bahwa kau sedang mandi,” jawab dingin Khansa.
“Mengapa Tuan Muda
Sebastian cepat sekali menjadi lupa?” sindir Khansa.
“Apa karena sudah
terbiasa?” Sindir Khansa lagi.
“Perjalanan kemarin
memang benar- benar perjalanan bisnis aku,” jawab tegas Leon.
“Tidak ada kencan
dengan wanita!” ujar Leon menegaskan perkatannya lagi.
“Hmm … perjalanan
bisnis ya?” Khansa mengulangi perkataan Leon dengan nada tidak percaya.
“Ah ya, mana ada sih
pencuri mengaku. Jika iya ada! Maka penjara akan penuh, bukan,” jawab sindir
Khansa sambil meletakan kotak obat di atas meja dengan sedikit kasar.
Khansa memasang wajah
cemberut, Leon masih bingung dengan maksud Khansa dan mereka berdua malah jadi
bertengkar, karena Leon merasa memang tidak tahu jika Khansa
menghubunginya. Dan sebaliknya, Khansa merasa jika Leon benaran berkencan
dengan wanita lain dibelakangnya.
“Apa sih maksudmu
ini,” ujar Leon seraya bangkit dari duduknya yang semakin tidak paham.
Melihat Leon tidak mau
mengaku, padahal Khansa sudah terang-terangan mengatakan bahwa benar ada wanita
yang menguasai ponselnya di waktu itu, malah semakin membuat Khansa kesal.
“Watak pria hampir
semua begitu, jika tertangkap basah, maka mereka akan berpura-pura bodoh
dan terus saja menyangkalnya,” gumam Khansa.
Leon pun pergi masuk
ke kamarnya, Leon segera mengeluarkan ponsel dan memeriksa riwayat panggilan,
Khansa sungguh menelepon Leon beberpa kali saat itu. Leon teringat kalau hari
itu ada Chief Susan dan Gery di kamarnya, lalu berpikir pastilah Chief Susan
yang menerima telepon dari Khansa tanpa seijinnya.
“Ah ya! Pasti waktu
itu dan pasti karena itu makanya dia menjadi marah,” pikir Leon.
Leon berjalan keluar
teras lagi, membayangkan nampaknya wajah istrinya itu pasti saat ini
sedang cemberut dengan mengembungak kedua pipinya.
Leon menyandarkan tubunya di pagar balkon teras kamar presiden suite
mereka.
Pandangan Leon
dipenuhi aura dingin yang menusuk, “Jujurlah padaku! Nyonya Sebastian,
kamu cemburu?”
Khansa segera
menyangkal, “Hah! Cemburu katamu!” ujar penyangkalan Khansa.
“Jika tidak cemburu,
lalu mengapa marah?” tanya Leon.
“Bukan apa-apa!” jawab
ketus Khansa.
“Jika tidak cemburu maka
berani tidak katakan di depan wajah aku!” pinta Leon.
“Aku tidak cemburu!”
ujar Khansa seraya berdiri dari kursinya tanpa memandang Leon dan ingin segera
masuk kembali ke dalam kamar mereka.
Leon menarik tangan
Khansa lalu memaksa Khansa bertatapan dengannya, “Coba! Katakan sekali lagi,
jika kau tidak cemburu,”
“Tuan Sebastian,
mengapa jadi pemaksa seperti ini. Apa kau ingin menindas istri sendiri?” ujar
Khansa seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Leon dari tangannya.
Leon menatapi istri
kecilnya ini lagi, kupu-kupu imut tadi sekarang telah berubah menjadi landak
yang tengah mengeluarkan duri-durinya untuk melindungi diri.
Leon merasa Khansa
sangat keras kepala jika soal berdebat. Sementara, Khansa juga tidak menyangka
Leon akan se arogan ini.
“Menindas katamu!”
Jawab Leon dengan suara baritonnya itu.
Leon menarik Khansa
untuk masuk ke dalam pelukannya, “Nyonya Sebastian, apakah sesulit itu untuk
mengaku cemburu?” tanya Leon dengan berbisik di telinga Khansa.
Leon menatapi kedua
mata indah istrinya itu, mencari jejak-jejak cemburu di antara kedua matanya.
Khansa mencoba mengalihkan perhatian Leon, khansa mencubit Lengan Leon yang
tidak sekeras punggung kuat Leon.
“Jangan besar rasa,”
tukas Khansa.
Memikirkan tentang
kontrak pernikahan mereka, Khansa benar-benar menguatkan hati untuk tidak jatuh
cinta dengan Leon. Khawatir akan ada luka yang baru, Khansa benar-benar ingin
melindungi hatinya. Terlalu banyak pedih yang sudah di rasakannya karena
kehilangan.
Khansa menganggap
dalam setiap percintaan tak selalu manis terasa, meski begitu Khansa tetap tak
mau merasakan sakit hati karena cinta. Jadi pilihan untuk membatasi hati, bagi
Khansa sudah pilihan yang paling tepat.
“Tuan Sebastian apa
kau lupa status pernikahan kita yang sebenarnya, pernikahan yang saling
menguntungkan,” jelas Khansa.
“Jadi bukankah
menurutmu sebaiknya kita tidak main hati,” Jelas Khansa lagi.
“Tidak main hati
katamu,” ujar Leon seraya menaikan satu alisnya.
“Begitu ya?”
“Lalu kau anggap aku
ini apa!” tanya serius Leon.
“Emm … pria tampan,”
jawab polos Khansa.
Leon menyipitkan mata
dan memandang Khansa yang ada di pelukannya ini, Khansa selalu membuat hati
Leon penasaran. Istrinya ini memang selalu saja pandai dalam memberikan
kejutan. Setelah tadi dipuji pintar dan sekarang dipuji tampan. Tapi masih
belum mau mengaku jika cemburu, dan masih saja menyangkal rasa di hati.
Selain pandai
memberikan kejutan. Namun, juga sangat pandai memancing kesal dihati Leon.
Leon terus saja menggodai Khansa untuk tidur di kamar itu, “Pria tampan yang kau
suka kan?”
“Hissh … mana ada,”
jawab Khansa Malu-malu.
Khansa malu dan
memarahi Leon, “Kau ini besar kepala sekali,”
“Jika begitu kita
harus saling latihan sepertinya,” usul Leon.
“Latihan apa?” tanya
Khansa.
“Latihan untuk bisa
tidak main hati,” jawab Leon.
“Caranya?” tanya
Khansa.
“Hmm … malam ini kita
tidur bersama di sini,” jawab Leon.
“Bagaimana?” tanya
Leon sedikit menggodai Khansa lagi.
“Eh! Latihan macam apa
itu, Hah! kau ini sungguh mengada-ada,” jawab Khansa sambil sedikit tertawa
meledek.
Khansa menginjak kaki
Leon yang hanya memakai sandal kamar itu, “Kali ini aku yang bilang ‘tinggi
sekali percaya dirimu itu’ Tuan Muda Sebastian,” gumam Khansa.
“Aw … hish,” gerutu
Leon sambil memegangi tapak kaki yang baru saja Khansa injak.
“Gadis ini benar-benar
deh, bar bar tapi manis,” pikir Leon dengan sedikit menyeringai tertawa.
Melihat tembok
pertahanan Khansa masih belum runtuh, Leon merasa cinta di antara mereka masih
belum bisa untuk tumbuh dengan pesat, usia Khansa masih sangat belia, merasa
waktunya Khansa memang belum tepat untuk merasakan semua hubungan dalam bentuk
pasangan dewasa pada umumnya, istrinya ini masih terlalu lugu untuk soal yang
itu.
Leon pun tak ingin
menggodainya lagi, memahami jika hubungan ini akan memakan waktu jika ingin
menjadikannya berhasil.
Tiba-tiba saja hati
Leon, terasa manis karena dirinya adalah dan hanya akan menjadi satu-satunya
pria untuk Khansa. Leon berpikir nanti akan menggunakan cara lain untuk
mengetes hati Khansa dan membuat Khansa sadar akan perasaannya.
Leon tidak ingin
memperpanjang perdebatan dengan istrinya itu, Leon tidak menghibur Khansa dan
sungguh pergi dari sana.
Bagaimana menurut kamu
kisah cerita dalam novel PENGANTIN
PENGGANTI bab 58 ini, apakah bisa memberi inspirasi dalam kehidupan
sehari-hari. Oh ya bila kamu ingin membaca novel populer dengan judul yang
lain, kamu bisa menemukan di aplikasi membaca novel gratis populer. Contohnya innovel dan noveltoon. Bisa langsung unduh langsung aplikasinya gaessss

Komentar
Posting Komentar