PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 59 : SEMANGKUK SUP)
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 59 : SEMANGKUK SUP)
Leon memesan kamar presiden suite lainnya, Leon mandi dan keluar dengan memakai pakaian tidur. Leon memakai piyama berwarna putih, bak pangeran sebelum tidur. Memakai baju tidur berbahan sutra seharga tiga juta rupiah, membuat Leon nampak seperti pangeran Asia. Leon duduk dengan elegannya di sofa.
Hansen juga ada di
sini dan memberikan segelas wine pada Leon, Hansen tidak pernah melihat mood
Leon yang seperti ini. Semenjak menikah dengan Khansa, Leon terlihat selalu
mudah kehilangan fokusnya jika sudah menyangkut tentang istri kecilnya itu.
Seorang Tuan Muda yang tidak pernah ditolak kehadirannya, sekarang telah
bertemu dengan lawan yang sepadan.
“Apakah Tuan Muda kita
sudah ditaklukan?” ledek tanya Hansen.
Leon menjawab hanya
dengan menyeringai lalu menyesap wine yang ada di tangannya itu.
Hati Leon memang menjadi mudah naik dan mudah turun jika sudah bicara
tentang Khansa. Itu terlihat seperti Leon sudah mengeluarkan hatinya lalu dia
letakan di tangan Khansa. Jika Khansa sedang *******-***** hatinya, maka itu
akan sangat mempengaruhi suasana hati Leon.
Hansen ingin tahu
kenapa Khansa bisa sangat mempengaruhi suasana hati Leon, “Apa istri kecilmu
itu membuat ulah lagi?”
“Ulah … hmm … ya
begitulah,” jawab Leon dengan nada sedikit senang dan menyunggingkan senyum di
wajahnya.
“Dia membuat ulah,
lalu mengapa kau tampak terlihat senang?” tanya Hansen dengan penasaran lagi.
Leon tersenyum dan
mengakui kalau sekarang dia sangat senang karena Khansa cemburu hebat karena
sebuah telepon, dan membuat mereka menjadi bertengkar.
“Sedang bertengkar!
Mengapa malah menjadi senang,” celoteh Hansen lagi.
“Kau sudah benar-benar
jatuh cinta padanyakah?” tanya serius Hansen.
Leon menatapi
gelas wine yang sedang di pegangnya itu, mengernyitkan alisnya sambil
memikirkan perkataan Hansen.
“Ah sudahlah! Aku
jelaskan juga kepada kau juga tidak akan paham,” kilah Leon sembari
menyesap wine yang ada di tangannya itu.
Leon sedang merasa bangga karena, dia menjadi satu-satunya pria yang memiliki
Khansa, si kupu-kupu unik, yang selalu saja ingin terbang ke sana kemari.
Leon mengangap Hansen
dan Simon ini tidak jauh beda. Tidak akan memahami apa yang sedang dia
rasakan sekarang, karena mereka tidak memiliki wanita seperti Khansa yang
berada di sisinya. Yang selalu membuat hatinya gemas dan sesekali tergelitik
karena kesal. Leon mulai menyukai letupan-letupan kejutan yang selalu Khansa
berikan kepadanya. Khansa bagai pelangi yang datang setelah hujan, indah
dipandang mata.
Leon mengambil
ponselnya dan meminta Gery datang ke kamarnya. Leon ingin mengetahui kejadian
yang sebenarnya di hari itu. Asisten Gery buru-buru datang karena Leon
meneleponnya.
“Tuan,” ujar Gery
sembari berdiri dengan kaku dihadapan Leon.
Leon menanyakan
kejadian saat dinas itu, “Gery!" panggil Leon dengan nada tidak senang dan
tatapan mata yang dingin.
"kenapa kamu
tidak memberitahu hal itu padaku?”
“Maaf Direktur,
beritahu tentang apa?” tanya Gery.
“Khansa ada
menghubungi aku waktu itu!” ungkap Leon lagi.
“Mengapa kau tidak
memberi tahu aku!” tanyanya lagi.
“I-itu, a-aku …
karena,” Gery tidak berani
menyebutkan
pendapatnya yang ingin mengatakan bahwa dirinya berpikir jika Leon menganggap
Khansa tidak penting.
“Maafkan aku Tuan, aku
telah salah,” ujar assiten Gery.
Gery merasa ketakutan,
tidak disangka Leon akan peduli dengan hal begini. Selama ini, Direkturnya ini
mana peduli terhadap wanita-wanita yang mencoba mendekatinya. Jadi Gery
menyangka jika Direkturnya itu tidak akan mempedulikan panggilan telepon itu.
Hansen yang melihat
asisten Gery, mulai panik, dan sedikit gemetar. Hansen Membuka suara untuk
membela Gery.
“Hei Tuan Muda
Sebastian, jangan terlalu tegang,” ujar Hansen.
“Lain kali pasti
assiten Gery tidak akan mengulangi hal yang sama,” ujar bela Hansen untuk Gery.
“Bukan begitu Gery?” ujar Hansen.
Hansen meminta Leon
untuk berhenri menakuti Asisten Gery dengan tatapan dinginnya itu. Lalu
Hansen menjelaskan pada Asisten Gery jika Leon dan Khansa bertengkar karena
kejadian itu, “Nyonya Muda jadi memarahi Direktur kita karena hal itu.”
Asisten Gery
benar-benar terkejut mendengan penjelasan Hansen, selama ini mana ada wanita
yang berani membantah Tuan Mudanya ini, bahkan lawan bisnisnya pun hanya
sedikit yang memiliki keberanian untuk mengajak ribut-ribut kepada Tuan Mudanya
ini. Tapi, malah Nyonya Mudanya yang imut itu berani dengan lantangnya untuk
mengajak tengkar Tuan Mudanya ini.
Diam-diam dalam hati
asisten Gery mulai menganggumi Nyonya Mudanya itu, “wanita tangguh,” pikir
asisten Gery.
“Maafkan aku, lain
kali akan sangat memperhatikan tentang ini,” ujar asisten Gery.
Merasa karena sikap
Gery ini juga, sehingga berhasil mematik cemburu besar di hati Khansa, Leon
diam-diam berpikir seharusnya malah dia yang berterima kasih kepada Gery.
Hanya saja sedikit
menjadi marah, karena itu juga membuat Khansa jadi mengabaikan dia, mendorong
dia untuk menjauhi Khansa.
Interogasi Leon, terganggu karena terdengar bunyi pintu bel, Leon memberi tanda
kepada Gery agar melihat siapa yang datang.
Bel pintu kembali
berbunyi, Chief Susan datang membawa sup untuk Leon, “Apakah Direktur sudah
datang?” tanyanya.
Gery menatapi Chief
Susan yang sedang memegang semangkuk Sup dengan menggunakan gaun seksi, yang
seakan ingin mencuri perhatian dengan lekuk tubuh seksinya itu, “Ini dia mau
menggoda siapa dengan pakaian minim seperti ini,” pikir Gery.
Chief Susan
benar-benar tampil berani dengan balutan gaun seksinya, gaun hitam yang ketat.
Gaun tersebut disempurnakan dengan detail rumbai yang menjuntai pada bagian
rok. Pulasan make up malam yang halus, menambah kecantikan Chief Susan.
Meski Chief Susan
memang cantik, namun nampaknya Tuannya malah tidak tertarik sama sekali dengan
wanita seperti Chief Susan ini.
Gery tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi, dengan inisiatifnya sendiri
Asisten Gery meminta Chief Susan untuk menunggu di depan pintu, dia masuk untuk
meminta izin pada Leon.
“Tunggu di sini saja
dulu, akan kutanyakan dulu kepada Direktur apakah mau menemuimu atau tidak,”
jelas Gery yang sudah paham dengan jelas siapa wanita yang sedang ditaksir oleh
Direkturnya itu.
Gery pun kembali
masuk, dan mengatakan jika Chief Susan ada diluar, dan ingin bertemu
dengan Leon, membawakan semangkuk sup.
Hansen tersenyum, merasa Chief Susan punya maksud lain sampai datang mengantar
sup untuk Leon malam-malam begini.
“Chief Susan ini
sangat perhatian sekali kepadamu,” ujar Hansen.
“Sedikit-sedikit ingin
membantumu terus, mulai dari menjawab panggilan telpon sampai mengantarkan sup
malam-malam,” sindir Hansen sambil tertawa kecil mentertawai Leon.
“Mengapa malam ini kau
terlihat berisik!?” ujar Leon.
“Apa usaha keluarga
sedang berjalan tidak baikkah?” ledek Leon gantian menggodai Hansen.
“Hissh …” gumam
Hansen.
Hansen merasa Khansa
tidak sembarangan cemburu. Kelihatannya Chief Susan sudah lama menaruh perasaan
pada Leon. Saat ini Chief Susan masih berdiri di depan pintu dengan memegang
semangkuk sup…

Komentar
Posting Komentar