PENGANTIN PENGGANTI (BAB 6 : MELAWAN BALIK)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 6 : MELAWAN BALIK)
Tepat pada saat ini, Khansa membuka matanya. Pak Arman terkejut dia sudah bangun secepat ini.
“K-kau sudah sadar?”
ujar pak Arman terbata bingung.
Khansa menunjukkan
senyum murni dan nakal, dia mengatakan dirinya akan melewatkan pertunjukkan
bagus jika belum bangun. “Jika aku tidur, maka aku akan melewatkan kesenangan
ini bukan?”
Khansa mengayunkan
tangannya, Pak Arman menghirup aroma wangi dan kemudian lemas seketika. Tadi
sebelum Khansa memakan habis masakan sarang walet ibu tirinya itu, Khansa sudah
lebih dulu menelan TCM Corydalis Relaxe, ini adalah obat penghilang nyeri.
Pernah memiliki pengalaman buruk ketika kecil, maka kali ini Khansa sudah
bersiap diri.
Khansa memutuskan
meminum obat terlebih dahulu, untuk berjaga-jaga jika ada yang membiusnya
seperti dulu lagi ketika di masa kecilnya dia. Mengetahui jika obat bius
terutama jenis perangsang ketika diminun berbarengan dengan obat-obatan lain
maka itu akan membuat obat perangsang itu tidak bekerja dengan efektif.
Karena itulah Khansa
masih dalam keadaan terjaga, idealnya setelah meminum obat jika ingin meminum
sejenis obat lain maka harus ada jeda waktu tiga jam, agar obat dapat bekerja
secara efektif. Pak Arman sudah melemas, Khansa segera saja mengikat
tangan dan kaki Pak Arman.
Pak Arman mengira
gadis cantik ini ingin bermain spesial dengannya, mencoba gaya nakal yang
eksotis. Khansa menyuruh Pak Arman melihat barang yang ada di
tangannya sendiri, dua buah tulang besar telah ada di genggamannya.
“Ini indah bukan!?”
tukas Khansa menyeringai sedikit meledek dengan sedikit memainkan tulang-tulang
yang sedang di pegang itu.
“Masih ingatkan di
teras belakang rumah ini ada apa? Hewan peliharaan kami,” imbuh Khansa.
“Mereka itu
sangat-sangat menyukai tulang lho,” celoteh jahil Khansa dengan nada
mengintimidasi.
kedua mata Pak Arman
terbelalak ketakutan ketika menyadari, Khansa menggunakan dua buah tulang besar
untuk menarik perhatian dua ekor anjing serigala yang dipelihara keluarga
Isvara di halaman untuk menggigit Pak Arman.
Pak Arman segera saja
berusaha melepaskan ikatan yang sengaja tidak diikat kencang oleh Khansa.
Sementara, Khansa memperhatikan dengan senyum kecutnya. Pak Arman pun kabur
tergesa-gesa sambil memakai pakaiannya, serta mengatakan akan cari perhitungan
dengan Maharani. Sungguh hari ini Pak Arman benar-benar telah merasa dipermainkan
dan dipermalukan oleh Keluarga Isvara.
Khansa turun dari
lantai atas tanpa berpura-pura lugu lagi, dia beradu mulut dengan Maharani.
Khansa sengaja berpura-pura pingsan tadi untuk melihat apa yang ingin
dilakukan Maharani, rencana jahat apa yang akan dibuatnya itu.
“Jangan biarkan dia
pergi! Ikat dan bawa kembali ke kamar!” Maharani memanggil pengawal untuk
mengikat Khansa ke atas ranjang untuk meminta maaf pada Pak Arman, sementara
dia akan mencoba mengejar Pak Arman dan meminta maaf.
Beberapa orang
pengawal melangkah maju, Khansa sudah siap untuk melawan. Tiba-tiba Leon muncul
dan langsung saja menumbangkan para pengawal keluarga Isvara hanya dengan
beberapa tendangan dan pukulan. Bagi Leon ini seperti sedang menepuk nyamuk
saja.
Khansa terkejut dengan
kedatangan suaminya itu, “Ini bukannya dia bilang akan menjemput di malam
hari?”
Leon meyeringai seraya
bersedakap," sepertinya aku hampir-hampir saja melewatkan sebuah
pertunjukkan bagus!"
Maharani memandangi
Leon lalu teringat dengan perkataan Jihan padanya tadi, dia menanyakan pada
Khansa apakah Leon adalah sugar babynya.
“Apakah pria ini
simpananmu!?” hardik dan tanya Maharani.
Leon mengerutkan
keningnya dan melihat ke arah Khansa. Dengan tatapan acuh tak acuh Khansa
menaikan bahunya seraya mengatakan jika dia tidak pwrnah mengatakan apapun
tentang istilah sugar baby itu.
Ketika beberapa
pengawal keluarga Isvara ingin maju lagi, Leon memberikan tatapan provokasinya,
itu adalah tatapan membunuh ciri khas Leon. Tatapan Leon ini pun membuat para
pengawal keluarga Isvara menjadi lari terbirit-birit, kemudian Leon begegas
membawa Khansa pergi dari sana.
Sebelum pergi, Khansa
berkata dengan nada pelan namun mengintimidasi sekaligus meledek saat melewati
Maharani. “Lain kali jangan hanya main trik kotor, kutunggu lho ya, tapi jangan
buat hal konyol seperti ini lagi, Ibu tiriku tersayang!” ujar Khansa dengan
nada memprovokasi.
Leon melihat
keberanian Khansa dan memuji dalam hati. “Istriku ini boleh juga.”
Kontan saja perkataan
Khansa menyulut kemarahan di hati Maharani. “Lihat saja! Tunggu bagaimana
aku membereskanmu nanti,” ancam Maharani seraya membanting vas bunga kristal
yang ada didekatnya itu.
Di dalam mobil, Leon
bertanya pada Khansa apa yang akan dia lakukan jika dirinya tidak datang.
Khansa mengatakan dia sudah siap melawan, dia bisa mengatasi orang-orang itu.
“Hah! Hanya melawan
segerombolan cacing kremi apa susahnya, beri saja obat cacing, maka mereka akan
lumpuh dan mati semua,” jawab sarkas Khansa sambil tertawa meledek.
Leon, “…”
Leon teringat akan
informasi tentang diri Khansa, dia dibesarkan di desa dan hidup susah. Leon
berkata: “Anak gadis tak baik bertengkar, itu urusan laki-laki, lain kali jika
ada hal seperti ini maka hindari saja.”
Khansa berkata, “Aku
hanya tak suka bergantung pada orang, tapi Tuan Leon, terima kasih banyak untuk
yang tadi ya.”
Leon mengernyitkan
keningnya saat melihat tatapan tulus Khansa, “Cuma gini aja?”
Khansa tercengang,
“Lalu mau bagaimana?” tanya polos Khansa.
Tatapan Leon berpindah
dari mata Khansa yang indah ke bibir merahnya yang ada di balik cadar, “Kamu
benaran tak ngerti cara wanita berterima kasih pada pria?“
“Apa?” tanya polos
Khansa lagi.
“Haiish,” ujar Leon
meledek Khansa.
Leon merasa istrinya
ini benaran polos, sampai-sampai tidak paham apa maunya. Sedikit masam namun
terasa manis di hati. Itu artinya dirinya adalah pria pertamanya dan hanya
satu-satunya. Tiba-tiba saja Leon seperti baru saja mendapatkan gunung emas dan
seketika merasa jika kekayaannya baru saja bertambah berlipat-lipat dari
sebelumnya.
Leon menghela nafas
panjang dan mencoba menjelaskan lagi dengan sedikit menggodai Khansa. “Itu lho
hal yang sering dilakukan seoasang kekasih,” cetus Leon memberi sedikit
petunjuk kepada istrinya itu.
“Jika bicara itu yang
jelas!” sahut Khansa.
“Ini adalah sesuatu
yang hanya bisa di praktekan, akan sulit jika aku mengajarkannya dengan
kata-kata,” terang Leon dengan sedikit tertawa.
“Mengapa jadi begitu
sulit, bukankah kau ini pintar. Di usia belasan tahun sudah pandai berbisnis,
lalu mengapa hanya menerangkan hal kecil kau pun menjadi bingung,” pungkas
Khansa sedikit bersungut.
“Ayo! Cepat bilang,”
ujar Khansa lagi dengan nada tidak sabaran.
“Lain waktu aku akan
mengajari caranya Ok!” tutur Leon seraya tetap melajukan mobil mewahnya itu
dengan santai.
“Apa maksudnya?” tanya
penasaran Khansa lagi.
Leon, “…”
Hati Leon semakin
menggemas. Namun, tetap berusaha tenang dan tetap terus melajukan mobil
mewahnya itu di jalan raya.
“Eheem …” Leon pun
menoleh kepada Khansa.
“Apa maksudnya?” tanya
Khansa lagi.

Komentar
Posting Komentar