PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 60 : SIASAT LEON )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 60 : SIASAT LEON )
“Tuan, Chief Susan ada di luar. Membawakan sup kesehatan untuk Tuan,” lapor asisten Gery.
Leon masih terdiam,
otaknya seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu Leon pun malah senyum-senyum
sendiri.
“Aku tidak ingin
bertemu siapa-siapa, tidak ingin menerima tamu!” jawab Leon.
“Baik Tuan,” ujar
Gery.
Leon sudah tahu
tentang maksud hati Chief Susan dan meminta Asisten Gery untuk memberitahu
Chief Susan untuk pulang saja.
Pintu kamar presiden
Suite tersebut terbuka lagi, “Jadi bagaimana?” tanya Chief Susan kepada
Gery.
“Direktur tidak ingin
menerima tamu, karena harus beristirahat,” jawab Gery.
“Apa kau tidak bilang
aku membawakan sup kesehatan yang baik untuk tubuhnya?” tanya Chief Susan
lagi.
“Sudahlah! Jangan
memaksa, dari dulu kita tahu Direktur Sebastian ini orang yang seperti apa,”
jelas Gery.
“Orang yang sulit
untuk didekati!” ungkap Gery.
“Jadi saran aku,
sebaiknya kau pulang saja dan
istirahat baik-baik di rumah,” ujar Gery lalu bergegas pergi meninggalkan Chief
Susan berdiri sendirian di depan pintu kamar presiden suite yang Leon tempati.
Chief Susan memandangi
pintu kamar yang tertutup rapat itu. Lalu memandangi semangkuk sup yang ada
ditangannya. Hati Chief Susan sedikit merasa kesal, “Akan ada lain kali
untuk aku,” gumam Chief Susan menghibur diri sendiri.
Di kamar presiden
suite satunya lagi, Khansa memperhatikan pintu kamarnya itu, “sepertinya tidak
ada tanda-tanda dia akan kembali ke kamar ini,” gumam Khansa seraya melihat jam
di dinding yang memperlihatkan sudah akan menjelang dini hari.
“Ah sudahlah, dia
bukan anak kecil yang akan tersesat tidak tahu jalan pulang,” gumam Khansa
dengan sedikit menggerutu.
Khansa berjalan ke
ranjang besar di kamar itu, “Malam ini ranjang besar dan bagus ini adalah milik
aku.”
Khansa sedikit
bermain, berguling-guling ke kanan dan ke kiri, lalu berhenti karena teringat
ketika tadi Leon menggelitikinya.
“Hisssh …” gumam
Khansa, lalu mengambil bantal besar yang ada di ranjangnya dan menutupi semua
wajahnya dengan itu.
Malam ini lagi-lagi
mereka tidur terpisah, keesokan paginya sinar matahari memasuki ruang kamar
yang Khansa tiduri, menyapa lembut di papa Khansa dan di pelupuk mata Khansa
yang sedang terpejam itu.
Leon pagi-pagi sekali
sudah pergi untuk mengurus bisnis. Namun, tak lupa untuk memberi perintah agar
Nyonya Sebastian dilayani dengan baik.
“Aah … sudah pagi,”
gumam Khansa seraya membuka matanya.
Khansa bangun, dan
melihat sarapan ringan sudah ada di kamarnya. Khansa membukanya.
Sajian roti dan telur, tersaji nikmat beserta roti yang dipanggang, salad sayur
yang segar yang diatasnya ditabur oleh telur yang dipotong kecil-kecil, serta
sebotol jus jeruk yang baru saja diperas.
Telur ayam yang
dihidangkan untuk Khansa ini bukan sekadar telur rebus biasa saja . Telur ini
direbus dengan perebusan telur yang dibubuhi cuka. Lalu di lengkapi
dengan hollandaise sauce, dengan ditambah keju leleh, juga tumisan jamur serta
roti panggang, juga ada omelet gaya prancis.
“Mengapa semua
sarapannya berbahan telur semua,” pikir Khansa.
“Seperti sarapan orang
diet saja,” pikir Khansa sambil melihat-lihat bentuk tubuhnya sendiri.
“Tidak gemuk,”
gumamnya menilai tubuhnya sendiri.
Khansa pun menarik
kursi dan mulai mengambil satu roti panggang tersebut dan memasukannya kedalam
mulutnya.
“Eh! Tapi ini enak
juga,” pikirnya.
Lalu Khansa mencicipi
satu persatu makanan yang disediakan dan menghabiskannya di tutup dengan
menyesap jus jeruknya. Kahnsa juga melihat ada sebuah kotak diatas meja tamu.
Khansa mengambil dan melihat isi kotak itu.
“Baju,” gumam Khansa
seraya mengeluarkan baju tersebut dari dalam kotak.
Mengetahui ini pasti
pengaturan dari Leon, maka Khansa pun tersenyum dengan sedikit kecut sambil
berpikir, “Apakah wanita itu juga dibelikan baju juga seperti aku,”
Khansa pun merapihkan
dirinya, untuk pulang ke rumah utama. Di lobi seorang pelayan menyapa
Khansa, "Nyonya, silahkan, kami sudah menyiapkan mobil untuk mengantar
Nyonya pulang.
“Ah iya, terima
kasih,” jawab Khansa.
Di dalam mobil, di
dalam perjalanan pulang Khansa berpikir lagi, “Apakah Leon juga berlaku semanis
ini dengan wanita itu,”
…
Sesampainya di rumah utama, Khansa baru saja masuk namun paman Indra sudah
menunggunya, “Astaga Paman Indra, kau mengejutkan aku saja.”
“Ini ada undangan
untuk Nyonya,” ujar Paman Indra seraya memberikan undangan tersebut.
“Pesta pertunangan
Jihan,” gumam Khansa.
Pesta pertunangan
Jihan dan Hendra akan diadakan malam ini. Baru saja undangan di pegang di
tangan, ponsel Khansa terdengar berdering. Khansa melihatnya, nama Jihan
tertera di layar ponsel.
Khansa pun menjawab
panggilan tersebut.
Jihan dengan bangga meminta Khansa untuk hadir demi menyaksikan kebahagiaan
dirinya, “Jangan tidak hadir lho ya, bagaimana pun juga kau ini adalah keluarga
isvara jadi tidak ada salahnya ikut merayakan kebahagian aku bersama Kak
Hendra.”
Khansa mengiyakan
dengan senyum karena sudah menyiapkan hadiah yang besar untuk Jihan, “Tentu
saja aku akan datang, dan tenang saja aku pasti akan memberikan hadiah yang
pantas untuk kalian berdua.”
Sambungan telpon itu
hanyalah formalitas yang berisi dengan basa basi busuk dari Jihan, karena itu
Khansa enggan berlama-lama menjawab sambungan telpon itu dan segera saja
menutupnya.
Saat ini nenek
Sebastian mencari Khansa, “Di mana Khansa?” tanya Nenek Sebastian kepada Paman
Indra.
“Ada di kamarnya?”
Jawab Paman Indra.
Nenek sebastian pun
pergi mengetuk pintu kamar Khansa, “Nenek,” sapa Khansa ketika membuka pintu,
lalu mengajaknya masuk dan duduk di sofa kamarnya.
“Nenek akan pergi
sebentar,” ujar Nenek Sebastian.
Nenek Sebastian akan keluar untuk pergi berdoa agar Khansa dan Leon cepat
memberikan cicit untuknya.
Nenek Sebastian meminta
Khansa memberitahu Leon, “Sudah lihat undangan dari Jihan Isvara kan?”
“Sudah Nek,” jawab
Khansa.
“Katakan kepada Leon
untuk hadir datang, jangan sampai lupa untuk menelponnya ya,” pesan Nenek
Sebastian.
Khansa mengangguk
dengan hati yang sedikit terpaksa, “Ya Nek,” jawab Khansa.
Sebenarnya Khansa
enggan menelepon Leon, sejak kejadian di kamar presiden suite itu, Khansa dan
Leon tidak saling bicara lagi. Tapi, Khansa tak berdaya karena nenek Sebastian
sudah berpesan. Khansa menelepon Leon.
Setelah mengantarkan
kepergian Nenek Sebastian, Khansa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Leon.
Di kantor, di ruangan kerja Leon sedang ada Chief Susan. Leon melihat ponselnya
berdering dan melihat ada nama Khansa yang tertera di layar ponselnya.
Leon segera menjawabnya,
tepat ketika Chief Susan sedang melapor tentang pekerjaan. Khansa dapat
mendengar suara Chief Susan. Leon sengaja bicara lemah lembut dengan Chief
Susan untuk memprovokasi Khansa. Khansa marah lalu menutup telepon.
“Wanita itu lagi,”
gumam Khansa yang masih mengenali nada bicara dan suara wanita itu.
Khansa berusaha memejamkan mata untuk melupakan hal ini, Khansa mau pergi ke
pesta pertunangan Jihan dan Hendra.

Komentar
Posting Komentar