PENGANTIN PENGGANTI (BAB 62 : LELUCON KHANSA )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 62 : LELUCON KHANSA )
Hendra meyunggingkan senyum tampannya, seakan-akan ingin memberitahu Khansa jika sudah membuat keputusan yang salah karena telah menolaknya.
Jihan dengan sangat
bangga memamerkan Tuan Muda Ugraha di depan banyak orang, ingin memberitahu
kepada Netizen Indonesia, jika malam ini dia adalah wanita yang paling
beruntung karena akan bertunangan dengan salah satu keluarga berkuasa, dan
salah satu keluarga terkaya di Kota Palembang ini.
“Hendra!” panggil
Khansa.
Jihan dan Hendra
menoleh kepada Khansa, “Tidak apa kau bertunangan dengan Jihan, aku memberimu
selamat. Tapi, kau jangan mengingat-ingat aku terus lho,” tukas Khansa.
“Tak baik, kau
meminang Jihan. Tapi, masih menyimpan aku dalam hatimu.”
“Keluarkan aku dari
hatimu, dan saatnya kau letakan kehadiran Jihan di hatimu,” nasehat Khansa.
“Sungguh sayang
sekali, padahal sebenarnya bisa saja kita menjadi pasangan serasi,” ujar provokasi
Khansa kepada Jihan sambil berpura-pura menghela napas seperti benar-benar
menyayangkan.
Semuanya terkejut saat
melihat Khansa datang untuk merebut Hendra. Mereka pun mulai berbisik-bisik,
menebak-nebak.
[Sungguh gadis yang
liar, tunangan saudara sendiri dirayunya]
[Apa aku bilang!
Harusnya tidak perlu mengundamg gadis pembawa sial ini]
[Kau tidak bisa
mengharapkan kebaikan dari seseorang yang sudah di kutuk menjadi pembawa sial]
[Sebaiknya kita juga
jangan terlalu dekat berdiri dengannya! Kalau sampai kita tertular sialnya
bagaimana?]
[Memang sebaiknya
gadis ini lebih baik dijauhi saja, mengapa malah jadi diundang datang]
Ekspresi Jihan berubah
ketika mendengar para tamu mulai ramai berbisik-bisik, Jihan pun melangkah ke
arah Khansa dan segera memarahi Khansa.
“Khansa apa! Maksud
perkataanmu,” hardik Jihan dengan kedua bola mata yang terlihat mau keluar dari
tempatnya.
“Apa Kau belum rela
kehilangan Kak Hendra, lalu ingin merebutnya dari aku!” tambah hardik Jihan
lagi.
“Tidak apa! Hanya
sedikit mengenang masa lalu kami saja,” jawab enteng Khansa seperti tidak ada
hal yang terjadi.
“Masa lalu!” hardik
Jihan.
“Kak Hendra ini akan
menjadi masa depan aku, jadi jangan merusaknya dengan kisah masa lalu yang tak
berarti itu!” Hardik Jihan.
“Dasar! Gadis bodoh,”
hina Jihan kepada Khansa.
Hendra sama sekali
tidak menduga Khansa akan berkata begitu dan Hendra menuju ke arah Khansa untuk
memastikan jika dia tidak salah dengar. Hatinya terlalu diliputi oleh
kesenangan ketika mendengar Khansa berbicara seperti itu, sehingga tidak bisa
berpikir dengan jernih, tidak bisa membedakan mana perkataan benar mana
perkataan sindiran dari Khansa.
“Khansa apa kau serius
dengan apa yang kau katakan tadi, kita bisa menjadi pasangan yang serasi?”
tanya Hendra dengan binae mata menyiratkan keterkejutan senang.
Khansa tersenyum dari
balik cadarnya, lalu menepuk-nepuk bahu Hendra, seperti sedang membersihkam
debu, kotoran.
“Kau sungguh
benar-benar percaya perkataan aku kah?” tanya Khansa setengah tertawa.
“Ternyata kau belum
mengenal aku dengan baik,” ujar Khansa.
Rupanya Khansa hanya
bercanda, dan ini membuat wajah Hendra menjadi buruk dan menggelap marah. Tapi,
malah membuat Khansa sungguh ingin tertawa, “Khansa jangan main-main dengan
aku!” gantian Hendra yang menghardik Khansa.
“Tuan Muda Ugraha, kau
sungguh mengira aku akan melemparkan diri aku ke pelukanmu ya?” sindir sarkas
Khansa.
“Khansa! Jangan
menguji kesabaran aku!” tukas kesal Hendra.
“Tuan Muda Uhraha!
Saat itu aku telah membuangmu! Apa yang aku buang tidak akan pernah aku ambil
lagi. Kau yang paling tahu aku bagaimana! Jadi harusnya kau sudah mengerti
bukan?” jelas Khansa.
Khansa melirik Jihan,
Khansa menyindir Jihan yang hampir menangis, membuat Jihan emosi sekali, “Apa
kau datang ke pertunangan aku karena iri dan berniat mengacaukan pertunangan
ini,” hardik Jihan.
“Hei! Aku datang
karena benaran ingin memberimu hadiah terbaik aku,” jelas Khansa.
“Acara pertunangan
semewah ini, mana bisa aku hanya memberikan hadiah biasa kepada kalian,” ungkap
Khansa.
Suasana menjadi sangat
canggung dan Fauzan muncul sambil berkata sudah waktunya acara dimulai, barulah
mencairkan suasana yang canggung.
Fauzan sesikit
menenangkan Jihan, agar tidak terpancing oleh provokasi Khansa, “Ini
adalah hari besar dan penting untuk keluarga Isvara, jadi jangan merusaknya,”
bisik nasehat Fauzan kepada Jihan.
Perkataan Fauzan
mengembalikan kesadaran Jihan, lalu Jihan pun menenangkan dirinya. Saat ini
Jihan belum menjadi Nyonya Ugraha, “lihat saja nanti, disaat aku sudah menjadi
Nyonya Ugraha maka jangan harap bisa lolos dari pembalasanku,” ancam Jihan.
Fauzan menoleh melihat
kepada Khansa dengan marah dan memperingati Khansa dengan suara rendah,
“Khansa! Jangan membuat keributan disini, Jihan sedang menjalankan tugasnya
untuk menjaga dan membesarkan nama keluarga Isvara,” jelas Fauzan.
“Kau jangan merusak,
Keluarga Ugraha adalah aset untuk keluarga Isvara,” gumam Fauzan lagi.
“Setidaknya jangan membawa kesialan untuk Jihan, keluarga Ugraha akan menopang
nama besar keluarga Isvara, jadi kau jangan merusaknya!” Tukas Fauzan.
“Kau ini meski menikah
dengan keluarga sebastian. Tapi, apa yang bisa kau berikan untuk membesarkan
nama keluarga Isvara, jadi jangan merusak kesempatan baik ini, jangan ganggu
pertunangan Jihan dan Tuan Muda Ugraha!” jelas Fauzan sekli lagi.
Khansa memandangi pria
yang dikatakan sebagai ayah kandungnya ini, berpikir mengapa yang ada di kepala
ayahnya itu hanyalah kedudukan dan harta. Khansa membantah dengan berani.
“Membuat kacau!?” ujar
Khansa dengan nada marah sedikit menghina.
“Aku tidak membuat
kacau, aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja,” jawab Khansa penuh percaya
diri.
“Tuan Muda Ugraha
masih sangat menyukai aku!” ujar Khansa sambil berbisik.
Tuan Isvara semakin
mengernyitkan alisnya, “Pelankan suaramu itu, perkataanmu itu tidak pantas jika
sampai di dengar oleh para tamu.”
“Jelas-jelas Tuan
Ugraha selalu mengejar aku, dulu atau pun sekarang, Tapi tenanglah aku tidak
akan mengambil apa yang telah aku buang. Kerena itu hanya akan mengotori tangan
aku.”
“Jaga bicaramu, jangan
sampai di dengar oleh orang lain, lalu membuat malu keluarga Isvara.”
Hati Khansa berdentum
dengan kencang ketika mendengar Fauzan isvara mengatakan hal-hal tentang
itu. Dirinya difitnah dan diasingkan, sementara ayah kandungnya membawa masuk
selirnya kedalam keluarga Isvara begitu ibunya meninggal. Khansa berpikir
sesungguhnya siapa yang tidak bisa menjaga martabat keluarga, dan membawa aib
masuk kedalam keluarga Isvara. Tapi malah ayahnya ini menganggap dirinyalah
pembawa sial dan aib malu untuk keluarga Isvara.
Setelah suasana bisa kembali ditenangkan, maka acara puncak pertunangan pun
dimulai. Khansa pun tersenyum sinis membandangi dua sejoli yang memang pantas
untuk saling berdampingan, karena mereka saling melengkap dalam keburukan.
Saat ini Hendra berlutut
di hadapan Jihan, pada akhirnya Jihan adalah tokoh utama di acara pertunangan
yang indah ini. Bagaimanapun Jihan harus menjadi nyonya keluarga Ugraha.
Barulah bisa memiliki cara untuk memberi pelajaran pada Khansa setelah menikah
dengan Hendra
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 62 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar