PENGANTIN PENGGANTI (BAB 63 : HADIAH KEJUTAN (1))
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 63 : HADIAH KEJUTAN (1))
Lelucon Khansa benar- benar membuat suasana semua orang seperti naik roller coaster. Namun, Fauzan dapat menanganinya dengan baik sehingga para tamu bisa kembali fokus kepada acara besar putrinya ini.
“Silahkan Tuan dan
Nyonya, saatnya acara dimulai,” ajak Fauzan kepada para tamu untuk menikmati
pesta ini.
“Maafkan
ketidaknyamanan ini, silahkan dilanjutkan pestanya, nikmati pestanya,” ujar
Fauzan lagi.
Mendengar perkataan
Fauzan, semua tamu yang tadi berkerumun pun, membubarkan diri dan mulai untuk
memperhatikan Tuan muda Ugraha yang sudah berlutut untuk melamar Jihan Isvara,
pemandangan itu terlihat sangat romantis.
Hendra jadi terlihat
tidak fokus melamar Jihan. Jihan pun merasa sangat kesal, tapi dia tidak ingin
terjadi hal yang tak diinginkan, takut jika Hendra berubah pikiran, Jihan
segera mengeluarkan tangannya, “Kak Hendra, aku bersedia menikah denganmu.”
Untuk beberapa saat,
Hendra tidak mendengar perkataan Jihan, karena tenggelam dengan rasa dan
pikirannya sendiri. Berharap apa yang tadi baru di dengar olehnya adalah nyata,
bahwa dia dan Khansa bisa menjadi pasangan yang serasi.
“Kak Hendra! Apa kau
tidak mendengar aku!” panggil Jihan membuyarkan lamunan Hendra.
“Kak Hendra!” panggil
Jihan lagi seraya menarik tangan Hendra.
“Aku bersedia,” ujar
Jihan lagi dengan memperjelas senyuman di wajahnya.
Sentuhan Jihan
mengembalikan kesadaran Hendra. Para tamu pun mulai bertepuk tangan ketika
melihat Hendra mengambil sebuah kotak cincin dari saku jasnya. Hendra membuka
kotak cincin tersebut dan mengeluarkan cincin pertunangan yang telah
disiapkannya.
Saat Hendra mau
menyematkan cincin berlian di jari manis Jihan, Hendra mendapat sebuah pesan di
ponsel, Hendra memasukan kembali cincin pertunangannya, karena mendengar nada
khusus yang dia buat untuk membedakan panggilan masuk atau pesan masuk dari
Khansa, dan segera membuka pesan itu untuk dibaca.
Raut wajah Jihan sudah
mulai terlihat tidak enak, ketika melihat sikap Hendra ini, terlebih lagi
ketika melihat Hendra terpaku diam sambil memandangi ponselnya.
Hendra jadi tiba-tiba
terpaku lalu menoleh ke arah Khansa. Hendra langsung berdiri dan
melangkah menuju ke arah Khansa lalu dengan impulsifnya menarik Khansa ke
lantai atas, “Kita harus bicara serius.”
Dari balik cadarnya,
Khansa hanya bisa tersenyum sinis kepada Jihan, “kado terbaik dari aku akan
segera meluncur kepadamu,” gumam Khansa dalam hati.
Semua tamu melihat
tontonan menarik ini, pria yang tadi terlihat berlutut untuk melamar. Tapi,
malah berdiri dan saat ini membiarkan Jihan berdiri sendiri. Jihan baru saja di
tinggalkan, dicampakan oleh Tuan Muda Ugraha. Para tamu ada
yang bersimpati dan ada yang senang karena baru saja mendapatkan tontonan
skandal dari salah satu keluarga berkuasa. Beberapa dari mereka bahkan berani
berkata dengan suara keras.
[Ini benar-benar
sebuah skandal!]
[Iya, sayang sekali
pesta semewah ini telah menjadi rusak, karena calon mempelai pria malah pergi
menarik tangan wanita lain]
[Kakak beradik
memperebutkan satu pria, wow benar-benar sebuah skandal besar]
[Wow! Tontonan yang
lebih menarik daripada menonton sebuah film]
Tak ingin pesta
pertunangannya ini gagal, maka Jihan mengejar Hendra sambil menarik gaun
indah yang dipakai itu, Jihan mengejar sambil berteriak agar Hendra jangan
mencampakkan dirinya. Karena baju gaun yang panjang dan berat gaun yang Jihan
pakai, sampai-sampai Jihan hampir kehilangan keseimbangan dan melepaskan sepatunya
lalu membuang ke lantai dengan begitu saja.
“Kak Hendra! Kau mau
kemana?” teriak Jihan.
“Mengapa? Kau membawa
Khansa!” teriaknya lagi dengan suara yang terdengar sudah mulai menangis.
Namun, malah diabaikan oleh Hendra.
“Kak Hendra!” teriak
Jihan dengan suara tangisnya.
Penampakan Jihan sudah mulai tidak enak dipandang, dengan seketika saja
terlihat kusut dengan tangan yang sedang menarik gaun yang menjuntai indah tadi
menjadi sebuah kepalan gulungan yang terlihat mengasal.
Kemudian terjadi hal
yang sangat memalukan, semua orang mulai bergosip, ada yang kasihan dan ada
juga yang menertawakan Jihan sambil memfoto-foto Jihan.
[Nah kan! Apa kataku,
Jihan akhirnya terkena sial]
[Tapi setelah di
pikir-pikir, Jihan memang pantas mendapatkan kesialan ini, melihat jika dia
sering sekali sombong dan selalu mudah merendahkan orang]
[Yang aku dengar malah
sahabatnya sendiri pun tak luput dari caci dan maki Jihan]
[Anggap saja ini
hukuman baginya karena selalu bersikap sombong! Karma]
Saat ini Maharani
datang menyelamatkan Jihan dan meminta semuanya pergi, hatinya mana rela
melihat putri kesayangannya ini mendapat malu dan digunjingkan seperti ini.
“Berhenti mengambil
foto!” hardik Maharani.
Para tamu mengabaikan teriakan Maharani, ada skandal hebat yang bisa dibagikan,
tentu saja mereka tidak akan melewatkannya untuk tidak merekamnya.
“Hentikan aku bilang!”
Pekik Maharani lagi seraya memeluki putrinya itu.
“Pergi! Kalian, jika
datang hanya ingin memperolok putriku,” hardik marah Maharani sambil terus
memeluk Jihan.
“Bu! Kak Hendra …
khansa …” ujar Jihan dengan suara yang tercekat.
“Aku tahu … aku tahu …
tenang saja ok!” Hibur Maharani kepada Jihan.
Maharani tidak
menyangka akan ada begitu banyak hal yang tak terduga yang terjadi di pesta
pertunangan ini. Dalam angan-angan Maharani, pesta pertunangan Jihan ini akan
menguatkan posisinya di kalangan lingkaran pertemanannya dengan kaum sosialita
elite. Tidak akan di pandang rendah oleh teman-temannya. Tapi, malah menjadi
kacau seperti ini karena permainan Khansa.
Maharani berusaha
menenangkan putrinya itu. Kepala dan hatinya juga terasa ingin pecah, urusan
dengan Fauzan belum diselesaikan, sekarang sudah harus menangani kejadian
tak mengenakan di acara pertunganan putrinya ini.
“Tenanglah! Aku akan
berusaha agar pertunangan ini tidak batal,” hibur Maharani kepada Jihan.
“Aku tidak bisa
kehilangan Kak Hendra,” gumam Jihan sambil menangis.
Jihan mulai
menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya, Maharani langsung saja
menarik lengan Jihan agar menghentikan kemarahannya.
“Tenanglah!” Tegas Maharani lagi.
“Aku juga tidak akan
membiarkan Khansa merebut Hendra darimu!” jelas Maharani.
“Kak Hendra! Mengapa
kau seperti ini,” tangis Jihan lagi.
Awalnya Maharani ingin
mengundang Khansa kemari untuk mempermalukan Khansa, siapa tahu akhirnya Khansa
malah menghancurkan pesta pertunangan Jihan ini.
“Dasar anak sial!”
hardik Maharani merutuki Khansa.
“Kau tidak akan bisa
lepas dari ini semua!” ancam Maharani kepada Khansa.
…
Hendra menarik Khansa ke lantai atas, lalu masuk ke dalam sebuah kamar dan
menguncinya. Hendra langsung saja mendorong tubuh Khansa ke dinding. Hati dan
otaknya seperti menjadi tidak sinkron ketika melihat pesan dalam bentuk foto
yang Khansa kirimkan kepadanya tadi.
Hendra mencengkram
pundak Khansa yang indah, “Apa maksud pesan yang kamu kirimkan ini?”
“Apa kau sedang
membuat lelucon kepadaku?” tanya Hendra dengan suara kesal penuh rasa ingin
tahu.
Pandangan Khansa
berbinar dan tersenyum dingin, “Kamu tidak bisa baca laporan pemeriksaan dari
rumah sakit, ya?
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 63 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar