PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 64: HADIAH KEJUTAN (2) )
PENGANTIN PENGGANTI ( BAB 64: HADIAH KEJUTAN (2) )
Hendra menatap ponselnya sekali lagi, dan membaca dengan teliti hasil pemeriksaan dari rumah sakit yang tadi baru saja Khansa kirimkan ke ponselnya
“Masih perawan,” gumam
Hendra dengan sedikit limbung.
Raut wajah Hendra
terlihat sangat sulit percaya jika di dalam surat itu berisi tentang keterangan
jika Khansa benar-benar masih perawan, “Kau … ini … apakah ini … hasil tes ini
adalah benar?” tanya Hendra dengan suara tercekat.
“Apa aku terlihat
seperti orang yang suka berbohong?” tanya sekaligus sindir Khansa.
“Tapi bagaimana
mungkin, bukankah waktu itu …” Hendra terdiam dan mencoba menyatukan semua
ingatannya kembali.
“Kau pikir aku gadis
yang seperti apa? Jangan samakan aku dengan Jihan!”
“Jelas aku dan Jihan
berbeda sangat jauh,” tukas Khansa lag dengan marah.
“Tapi ini … bukankah
dulu kau pernah bersama pria lain?” tanya Hendra lagi.
“Pria lain …?” pikir
Khansa.
Ingatan Khansa kembali
ke beberapa tahun yang lalu, ketika dia sedang mengobati seorang pria. Sedari
masa ibunya hidup Khansa sudah tertarik dengan pengobatan herbal dan medis.
Jadi suka sekali mencari-cari dedaunan obat. Waktu itu karena demam pria itu
sangat tinggi Khansa tidak berani meninggalkan pria itu sendiri khawatir jika
pria itu mengalami kejang-kejang hebat, dan juga karena melihat
memar-memar biru di tubuh pria itu.
“Jangan bohong
kepadaku, aku melihatnya dengan mata kepala sendiri,” ujar Hendra seraya
menapuk dagu Khansa.
“Apa yang kau lihat?”
tanya Khansa tak kalah marahnya sambil menghepaskan tangan Hendra.
“Kau sudah tidur bersama pria lain kan?” jawab Hendra masih dengan penuh
keyakinan.
Karena dulu pernah melihat Khansa pernah bermalam dengan seorang pria. Kemudian
Hendra mulai memarahi Khansa.
“Apa masih mau sok
jual mahal di depan aku?” tanya sinis Hendra.
“Aku menyaksikanya
sendiri kau terlelap di sampingnya,” jelas Hendra.
“Jaga lidahmu itu!
Belum pernah ada pria yang menyentuhku!” hardik marah Khansa.
“Aku Khansa Isvara
tidak akan pernah membuat hal yang bisa merendahkan diriku, dan membuat
malu nama ibuku,” tegas Khansa kepada Hendra.
Melihat binar
kemarahan di kedua mata Khansa, hati Hendra pun merasa menciut dan baru
berpikir jika mungkin saja memang dia yang salah menafsirkan selama ini tentang
kejadian itu.
Melihat wajah Hendra
yang terdiam, yang nampak sedang berpikir, membuat Khansa hanya merasa konyol
sekali, suaminya saja belum dia ijinkan untuk menyentuhnya jadi mana mungkin
dia mengijinkan pria asing untuk menyentuhnya.
“Sa!” Panggil Hendra
dengan suara merendah.
Khansa sangat marah lalu menampar Hendra, “Apa Jihan yang mengatakan seperti
itu kepadamu?”
“Mengapa kau ini bodoh
sekali!” hina Khansa kepada Hendra.
“Aku tidak akan
merendahkan diriku, seperti apa yang sudah Jihan berikan kepadamu,” sindi
Khansa kepada Hendra.
Khansa menjelaskan
dengan marah kalau saat itu sedang menolong seorang pria, “Aku tidak mengenal
pria itu, aku hanya menolongnya saja waktu itu. Karena dia terlihat sedang
sakit sangat parah,” jelas Khansa.
“Hanya menolongnya,”
gumam ulang Hendra mencoba mencerna perkataan Khansa.
Seketika saja Hendra
merasa semakin menyesal karena hari itu kemarahannya telah membutakannya, yang
telah menganggap Khansa adalah wanita murahan tanpa bertanya lebih lanjut
kepada Khansa, tentang apa yang terjadi sebenarnya.
“Sa! Jangan seperti
ini kepadaku, aku mohon,”
“Lepaskan aku! Kau
adalah pria yang paling tidak berhak menyentuh aku, meski itu hanya sehelai
rambutku saja,” jelas Khansa dengan masih menatap marah kepada Hendra.
“Sa! Maafkan aku,”
pinta mohon Hendra sekali lagi.
Merasa sudah tidak
ingin ada yang dibicarakan lagi maka Khansa pun ingin bergegas pergi. Namun,
sebelumnya Khansa memberikan sedikit peringatan kepada Hendra.
“Oh ya! Tuan Ugraha,
aku harap kau jangan pernah mendekati aku lagi, apa kau paham?” hardik marah
Khansa.
Hendra berpikir memang
Jihan yang memberitahu tentang itu, namun Hendra mengeceknya sendiri dan malah
melihat pemandangan itu, khansa terlelap di sisi pria itu. Padahal khansa hanya
merasa mengantuk lelah karena harus terjaga hampir semalaman. Terlalu marah,
Hendra pergi tanpa bertanya kepada Khansa.
Khansa melihat Hendra
hanya terdiam, “Mengapa kau lebih mempercayai Jihan daripada aku?” ujar Khansa
dengan suara melemah.
“Sa! Maafkan aku,”
pinta Hendra.
“Sa! Ini masih belum
terlambat, aku bisa membatalkan pertunangan ini!” Jelas Hendra.
“Beri aku satu
kesempatan ya Sa! Kita mulai dari awal lagi” pinta dan bujuk Hendra.
Hendra mengaku salah
dan ingin memulai kembali bersama Khansa. Khansa tersenyum dingin dari balik
cadarnya pada Hendra lalu berpikir untuk meminta penjelasan kepada Hendra
tentang kesaksian Hendra waktu itu.
“Katakan kepada aku!
Mengapa saat itu kau menjebakku dengan mengatakan aku yang mendorong kakek?”
“Mengapa kau berbohong
dan malah mencelakaiku?” tanya serius Khansa.
Hendra menegang ketika Khansa melemparkan pertanyaan itu kepadanya, merasa
bingung harus bagaimana menjelaskannya.
“Itu … itu … bukankah
aku sudah meminta maaf, mengapa kau malah mengungkit tentang ini?” jawab
Hendra.
“Katakan saja dengan
jelas kepadaku! Mengapa kau melakukan itu, memberi kesaksian palsu?” tanya
tegas Khansa lagi.
Hendra mencari alasan
agar tidak menjawab, “Sa! Tidak usah mengingat masa lalu yang pahit ok! saat
ini aku ingin menjadi masa depanmu! Bisakah kita fokus hanya untuk hal ini,
masa depan kita,” pinta Hendra dengan nada penuh harap.
“Masa depan katamu?”
ujar Khansa seraya menaikan satu alisnya.
Sungguh saat ini
Khansa benar-benad ingin tertawa sampai terbahak, merasa karena Hendra tidak
memandanh dirinya yamg sudah menikah ini, dan malah mengajaknya berselingkuh.
Khansa benar-benar merasa lucu karena melihat Hendra yang berpikir jika diri
ini sama seperti Jihan.
“Tuan Muda Ugraha,
dengarkan perkataan aku ini dengan baik-baik! Kau telah menghancurkan masa
depan kita, di saat kau menjebak aku,” hardik Khansa kepada Hendra.
“Dan aku sudah
membuang kau dari dalam hati aku, disaat aku membatalkan perjodohan kita,”
tukas Khansa lagi.
“Jadi Tuan Ugraha,
dengan segala hormat antara kau dan aku, sudah tidak terkait lagi satu sama
lain, dan aku tidak berminat untuk mengulang kembali,” jawab tegas Khansa tanpa
keraguan sedikit pun.
“Apa kau paham?”
Khansa menegaskan perkataannya lagi.
“Sa! Aku benar-benar
menyesal,” jelas Hendra mencoba meyakinkan Khansa agar mau mengulang kembali
dengan mencatat kisah yang baru bersamanya.
Saat ini, Hendra
merasa sangat menyesal, tapi Khansa malah terus menerus mengutarakan rasa
kecewanya terhadap Hendra, kemudian mendorong Hendra, "Apa kau tidak paham
bahasaku! Aku tidak ingin mengulang kisah kembali bersamamu.
“Jadi berhentilah
berharap!” tukas jelas Khansa.
“Di dalam hatiku! Kau
sudah lama aku injak mati.”
Khansa membalikkan badan pergi.
“Sasa,” Hendra
memanggil Khansa dengan suara yang serak, “Apa sudah tidak ada kemungkinan lagi
bagi kita?”
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 64 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.

Komentar
Posting Komentar