PENGANTIN PENGGANTI (BAB 65 : TIDAK ADA JALAN)
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 65 : TIDAK ADA JALAN)
Khansa menghentikan langkah kakinya dan menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pegangan pintu kamar, khansa mengambil nafas panjang-panjang dengan tidak menoleh sedikit pun kepada Hendra, sambil berkata, “Hendra, jangan kembali lagi kalau kau memang sudah menentukan jalan hidupmu, karena aku juga tidak memberi jalan bagimu untuk kembali.”
“Sa! jangam begitu
kejam terhadapku!” pinta Hendra.
“Jangan bicara temang
siapa yang kejam kepadaku,” tukas Khansa.
“Dewasalaha! Aku harap
kau bisa menerima kenyataan ini,” tambah ucap Khansa lagi.
Khansa membuka pintu
dan bertemu Jihan yang sedang mengepalkan tangan sambil melihat Khansa. Jihan
menarik lengan Khansa, “Apa yang baru saja kalian lakukan di dalam, kau bersama
Kak Hendra kan di dalam tadi?” tanya Jihan bertubi-tubi.
“Periksa saja sendiri,” jawab Khansa dengan acuh tak acuh.
“Masuklah, aku harap
kalian tidak bertengkar ya,” khansa berkata dengan sedikit menggodai
Jihan yang sedang diserang oleh cemburu akut.
“Kau ini memang
benar-benar j*lang!” hina Jihan dengan tatatapan penuh kebencian.
“Bukankah aku sudah
bilang, aku sudah menyediakan hadiah terbaik untuk kalian! Jadi selamat
menikmati ya,” jelas Khansa sambil bertepuk tangan.
“Kalian sangat pantas
menerima hadiah ini,” gumam Khansa dengan nada sedikit menghina kepada Jihan.
Khansa hanya ingin
mereka merasakan sakit atas apa yang telah mereka perbuat kepada dirinya,
Khansa berpikir harus bisa melindungi dirinya, jadi sebelum diserang lebih baik
dia memulai mematahkan serangan itu lebih dulu demi keamanan dirinya dari
ancaman bahaya.
Pandangan Jihan penuh amarah yang dia arahkan kepada Khansa.
Hari ini Jihan telah
menjadi bahan tertawaan dan bahan gosip semua orang, saat ini Jihan benar-benar
ingin membunuh Khansa.
Karena Khansa adalah penyebab dari semua olok-olok dan tertawaan yang dia
dapatkan hari ini dari para tamu semua karena Khansa.
Khansa penyebab
kehancuran pernikahan impian Jihan yang selangkah lagi akan terlaksana., “Dasar
wanita j*lang sialan!” Hardik Jihan dengan segala umpatan kemarahan hatinya.
“Kau memang bermaksud
mengacaukan pertunangan aku kan? Kau merasa sangat iri dengan aku kan?” tanya
Jihan bertubi-tubi.
“Iri? Maaf, untuk apa
aku iri pada sampah dan tempat sampah,” jawab sarkas Khansa.
Khansa mengatakan
kalau Jihan sendiri yang mengundang dirinya kemari, ini adalah hadiah besar
untuk pertunangan Jihan darinya, “semoga suka dengan hadiah aku ya!”
“Pergi kau!” hardik
Jihan sambil mencoba mendorong-dorong tubuh Khansa, mengusirnya.
“Memang benar-benar
wanita sial!” teriak Jihan dengan marah.
“Hah! Kau mengatai aku
apa? Bukankah hari ini kau yang sedang mengalami kesialan!” sindir Khansa
sambil sedikit tertawa sambil menghempaskan tangan Jihan.
“Ini semua karenamu,
wanita J*lang, kau memang berniat ingin menghancurkan kehidupan sempurna aku
kan?” hardik marah Jihan seraya ingin memukul Khansa.
Khansa menahan tangan
Jihan, “kau pikir aku anak berusia lima tahun, yang bisa seenaknya terus kau
tindas.”
“Kau ini benar-benar
bodoh, terus saja tinggal dalam dunia ilusi yang ibumu ciptakan itu! Dasar
gadis manja, cengeng!” tukas Khansa mengatai Jihan.
“Jangan bermain trik
dengan aku, kalau kau masih berlindung dibalik bayangan ibumu itu,” tukas
Khansa lagi.
“Lihatlah Karma sedang
berlaku kepadamu, ingin menghancurkan kehidupan orang lain, tapi malah berbalik
menghancurkanmu,” ungkap Khansa.
“Lain kali berpikirlah
sebelum bertindak, karena karma itu nyata,” tukas nasehat Khansa kepada Jihan.
Keduanya bertengkar
lalu Khansa turun ke bawah, “Dasar anak sial! harusnya kami membunuhmu waktu
itu, bukanya malah mengasingkanmu,” teriak marah Jihan.
Jihan merasa pusing
dan pingsan karena adrenalin dalam tubuhnya meningkat dan tidak dapat menahan
daya stres yang menyerangnya dengan sangat kencang.
Saat ini Maharani
berlari ke sana dan memeluk Jihan, Maharani meminta Fauzan menelepon ambulans.
“Sayang!” panggil
Maharani kepada Jihan dengan suara gemetaran, kahwatir, panik.
“Jihan sudah pingsan
begini dibuat oleh Khansa, kau cepat hubungi Ambulans. Cepat lihatlah wajah
putri kita yang memucat ini,” ujar maharani dengan mulai menangis.
“Jihan … jihan …”
panggil Maharani lagi.
Fauzan mengeluarkan
ponselnya dan memanggil ambulans, setelah menempatkan Jihan di ruang kesehatan
sambil menunggu ambulans datang, Maharani menarik Fauzan untuk mengejar dan
mencari Khansa, untuk membuat perhitungan dengannya.
Khansa bergegas ingin
pergi meninggalkan tempat terkutuk itu, namun Maharani dan Fauzan dengan cepat
mengejar Khansa untuk memarahinya. Maharani dan Fauzan sama-sama memarahi
Khansa dengan keras dan dengan tidak berperasaan. Lidah mereka sangat tajam dan
lihai jika menyangkut memarahi dan menghina Khansa.
“Khansa!” panggil
teriak marah Fauzan.
“Sini!” teriak marah
Fauzan.
“Bukankah sudah aku
peringatkan! jangan mengacau di acara pertunangan ini!” hardik Fauzan.
“Apa kau ini tuli?”
tanya marah Fauzan lagi.
“Kau baru saja
mengacaukan aset kekayaan keluarga isvara,” ujar Maharani yang juga ikut
memarahi Khansa habis-habisan sambil menunjuk-nunjuk wajah Khansa dengan
kemarahan yang meletup-letup.
“Kau ini benar-benar
pembawa sial ya!” Hardik marah Maharani.
“Apa kau baru puas
jika melihat keluarga Isvara bangkrut, jatuh miskin!?” teriak Maharani.
“Mengapa suka sekali
membuat onar untuk keluarga sendiri!” sindir marah Maharani.
“Dasar anak tidak tahu
aturan!” bentak Fauzan kepada Khansa.
“Dasar kau ini,
memang benar-benar anak pembawa sial! harusnya kami mengirimmu ke tempat
yang lebih jauh lagi, dan tidak pernah memanggilmu pulang,” ungkap Maharani
lagi.
“Apakah di kepala
kalian ini semua, hanya terisi oleh pemikiran uang, uang dan uang saja?” tanya
marah Khansa.
“Kalian ini
memperlakukan uang seperti akan dibawa mati saja,” hina Khansa kepada keduanya.
“Apakah Tuhan kalian
sudah kalian ganti dengan uang?” tanya Hina Khansa.
“Khansa tutup mulutmu
itu,” hardik marah Fauzan lagi.
“Khansa!” panggil lirih
Fauzan.
“Akan lebih baik jika
kau tidak terlahir ke dunia ini, jika hanya untuk menentangku terus menerus,”
ungkap Fauzan.
Mendengar perkataan
ayah kandungnya yang menyakitkan itu, benar-benar membuat hati Khansa terasa
seperti berdarah, seperti baru tertancap belati tajam. Itu terasa sangat
menyakitkan, lebih sakit ketika mereka sekeluarga menuduh Khansa adalah sebagai
anak pembawa sial.
Khansa berpikir jika
bisa memilih, maka dia akan menolak kerasa Fauzan Isvara menjadi ayah baginya.
Khansa balik memarahi
Fauzan, “Harusnya ayah membunuhku di hari ibu meninggal!” Khansa lalu berlari
keluar sambil menahan tangisnya.
Khansa berjenti sejenak ketika sudah di luar, mengatur nafasnya dan menghapus
air matanya.
“Yang paling sial itu
adalah aku, karena memiliki keluarga seperti kalian,” Khansa merutuki Maharani
dan Fauzan.
Setelah merasa sedikit
lebih tenang, khansa pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Khansa tidak
tahu kalau saat ini ada sebuah mobil mewah model panjang yang sedang parkir di
tepi jalan, Leon menurunkan kaca mobil dan sedang melihat Khansa yang semakin
menghilang.
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 65 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar