PENGANTIN PENGGANTI (BAB 66 : MEMBAWA PULANG )
PENGANTIN PENGGANTI (BAB 66 : MEMBAWA PULANG )
Khansa memilih naik taksi, namun tidak menuju ke Villa Anggrek. Leon memperhatikan sampai taksi yang Khansa naiki menghilang dari pandangannya, sudah jelas-jelas tadi begitu khawatir kepada Khansa sampai-sampai Leon segera bergegas melajukan mobilnya dengan cepat untuk datang ke tempat acara pertunangan Jihan dan Hendra. Namun, malah hanya bisa memandanginya dari jauh saja.
Melihat istri kecilnya
itu sangat tangguh meski selalu ditindas banyak orang, rasa khawatir Leon pun
sedikit berkurang. Leon pun melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor.
Setelah ambulans
membawa Jihan pergi, Fauzan dan Maharani kembali ke dalam, lalu mereka
berdua nampak tengah sibuk mengantarkan para tamu pulang, dan meminta
maaf berkali-kali karena ketidaknyamanan di pesta yang mereka selenggarakan
ini.
“Sekali lagi kami
mohon maaf ya, jika kami mengundang di lain waktu, kami mengharapakan
kehadiranya lagi lho,” ujar Maharani dengan sedikit berbasa basi busuk. Fauzan
hanya bisa mengamini sembari memaksakan senyuman di wajahnya.
Khansa lebih dulu ke
rumah sakit untuk menjenguk bibi Fida, tapi melihat bibi Fida masih saja belum
tersadar, malah membuat hatinya semakin tidak enak.
“Bibi! Cepatlah sadar!
Hanya kau yang benar-benar menyayangiku,” gumam sedih Khansa.
“Temani aku bermain
nanti, aku rindu disuapi oleh bibi,” gumam sedih Khansa lagi.
Mengingat masa-masa
bahagia Khansa ketika dulu bersama ibunya dan bibi Fida, itu benar-benar
membuat Khansa menjadi menangis dengan derasnya sampai tubuh Khansa gemetaran.
“Bibi! Lekas sembuh,
aku kesepian,sangat kesepian,” ujar lirih Khansa mengadu.
Khansa merasa sangat
kesepian semenjak ibunya pergi dan terpisah dari bibi Fida, meski selalu
berusaha bersikap tegar, namun tetap saja dirinya adalah manusia biasa, yang
rentan terhadap rasa sakit dan trauma.
Khansa masih memandangi
bibi Fida dengan tatapan sedih. Setelah tinggal beberapa saat untuk menjenguk
bibi Fida, lalu Khansa memutuskan untuk pulang. Khansa kemudian pulang ke Vila
Anggrek.
“Bi, khansa pulang
dulu ya, nanti Khansa akan datang lagi,” janjinya.
Sesampainya di Villa
Anggrek, Khansa membersihkan dirinya, berendam agak lama di bath up, dengan
aroma vanilla kesukaannya dan dengan diiringi musik klasik. Khansa bersandar,
memejamkan matanya seraya menenangkan diri dan membiarkan busa-busa lembut dari
sabun menempeli tubuhnya sambil sedikit memikirka nasibnya yang malang
ini.
Merasa sudah cukup
berendam, Khansa mengambil handuk kimononya, mengambil handuk kecil dan mulai
mengeringkn rambutnya di depan cermin yang sudah di ganti baru karena waktu itu
Leon telah meninjunya sampai hancur.
Khansa menatapi
wajahnya di cermin, mendapati matanya sedikit menjadi bengkak karena menangis
tadi, Khansa hanya bisa mengehela nafas panjang. Khansa melangkah ke lemari
untuk mengambil piyama tidurnya dan juga cadar baru yang bersih. Setelah
memakainya Khansa melangkah ke ranjang besarnya.
Khansa membaringkan
tubuhnya di atas ranjang besarnya itu. Mencoba memejamkan mata untuk tidur.
Namun, malah Khansa tidak bisa tidur karena hari ini merasa sangat tidak
bahagia. Mood khansa hari ini benar-benar sudah hancur oleh sepasang suami
istri penghamba uang itu.
Memikirkan bagaimana
ayah kandungnya berusaha menjual dirinya kepada kolega bisnisnya hanya demi
mendapatkan keuntungan investasi besar untuk Isvara Grup, sungguh terlihat
sangat menjengkelkan.
Hari ini terlalu
banyak mendengarkan perkataan yang tidak enak didengar dan perkataan yang
menyakiti hati. Jika saja itu dari orang lain maka Khansa akan biasa saja, tapi
ini adalah ayah kandungnya sendiri yang berkata kejam. Meski dalam hati sudah
mengetahui ayahnya itu pria seperti apa, namun tetap saja kata-kata yang fauzan
lemparkan ke Khansa sangat mengulik dan menyakiti hati Khansa.
“Hufh, pria memang
mahluk egois sedunia,” beginilah pemikiran Khansa, karena selalu saja disakiti
oleh pria.
Khansa terdiam, Saat
ini Khansa tiba-tiba teringat pelukan Leon yang hangat itu. Khansa segera
menghilangkan Leon yang tampan dari pikirannya dan memaksakan diri untuk tidur.
“Astaga!” gumam
terkejut Khansa ketika wajah Leon hadir di kedua pelupuk matanya.
“Hissh …” gumam Khansa
sembari memukul pelan keningnya itu.
“Mengapa wajahnya yang
malah terbayang,” gumam Khansa merujuk pada bayangan wajah Leon.
Khansa menelungkupkan
tubuhnya dan membenamkan wajahnya di bantal ranjang mereka.
“Berhentilah
memikirkan dia, Khansa …” gumamnya sendiri seraya mengingatkan dirinya agar
tidak terlena jatuh ke dalam pesona Leon.
Lambat laun akhirnya
ranjang dan bantal Khansa berhasil membujuk Khansa untuk tidur, terlihat Khansa
terpulas dengan nyeyaknya.
…
Keesokan paginya, Khansa keluar dari kamar dan melihat Paman Indra sedang
mengarahkan para pelayan untuk bersih-bersih. Paman terlihat sangat sibuk
mengatur di sana sini, keluar masuk untuk mengecek segalanya dikerjakan dengan
baik.
Selama tinggal di sini, ini baru pertama kalinya Paman Indra dan para pelayan
terlihat sibuk mendadak seperti ini.
“Ini harus benar-benar
dibersihkan, jangan sampai menyisakan debu sedikit pun!” perintah Paman Indra
sembari mengusapkan jari tangannya mengecek tingkat kekotoran debunya.
“Kau! periksa dapur,
apakah makanan sudah siap!” ujar Paman Indra lagi memberikan perintah.
Khansa melihatnya
dengan tatapan bingung, “Hei! Ini ada apa?” tanya Khansa kepada salah satu
pelayan.
“Kami tidak tahu!
Paman indra hanya meminta kami membersihkan rumah dengan lebih bersih saja,”
jawab mereka.
“Apakah kita akan
kedatangan tamu?” tanya Khansa lagi.
“Kami benar-benar
tidak tahu Nyonya,” jawab mereka.
“Oh! Ya sudah jika
begitu, teruskan pekerjaan kalian,” ujar Khansa.
Meski sudah mendengar
jawaban dari pelayan, namun entah mengapa, di hati Khansa tetap saja merasa ada
yang aneh. Villa anggrek sudah sangat bersih, lalu tiba-tiba diperintahkan
untuk membuatnya menjadi lebih bersih lagi.
“Hmm … apakah Villa
anggrek akan kedatangan tamu penting,” pikir Khansa.
Leon sebelumnya telah
menelepon paman Indra dan memberitahu kalau nanti akan membawa tamu VIP pulang
ke rumah, dan meminta mereka bersiap menyambut. Leon juga tidak memberitahu
Khansa lebih dulu.
Saat ini , mobil mewah
model panjang berhenti di halaman, pintu mobil terbuka dan Khansa melihat Leon
turun dari mobil, mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam dari kain
yang berkulitas tinggi. Meski sederhana, tapi karena Leon yang memakainya, itu
terlihat menjadi sangat elegan mahal.
“Tuan Sebastian,” sapa
sopan Paman Indra di depan tamu penting Leon.
“Apakah semua sudah
dipersiapkan dengan baik?” tanya Leon.
“Sudah Tuan, seperti
yang sudah Tuan perintahkan,” jawab Paman Indra.
Kemudian sosok lain
pun muncul, Leon dan seorang wanita turun dari mobil. Wanita itu menggunakan
gaun yang membalut tubuhnya dengan sempurna, riasan yang natural, dengan aksen
lipstik yang tebal di mulutnya sehingga semakin memperlihatkan, mempertegas
tubuhnya yang sudah terlihat menggairahkan itu.
Leon menuntunnya untuk
masuk ke dalam Villa Anggrek, Khansa terpaku di tempat karena tidak menyangka
Leon akan membawa seorang wanita pulang.
Terima kasih
teman-teman telah menyelesaikan bacaan dari novel PENGANTIN PENGGANTI Bab 66 di blog ini, semoga ini menjadi hal yang
menyenangkan dalam mengisi waktu luang kamu. Untuk membaca bab berikutnya, kamu
bisa klik next atau postingan terbaru dari bab ini.
Anda bisa membagikan
link website novel ini kepada teman atau keluarga anda.
Jumpa lagi di bab
berikutnya kakaaakkkk....

Komentar
Posting Komentar